
Bukan hanya aku. Almach pun tak berkutik, mulutnya hampir menganga. Aku menggigit bibir bawah bawaku, menelan ludah dan mengusap dahiku yang dipenuhi keringan dingin.
"Wah, sudah parah sekali" bisik suara dari kepalaku. "Aku belum pernah melihat Cerberus berubah seperti itu" lanjutnya malah terkagum-kagum.
Masalah ini terlalu besar, dia tidak akan sanggup melawannya. Suara Auman kembali terdengar. Ugh mengerikan sekali, bulu kudukku langsung berdiri. Dari jauh aku dapat melihat pupil mata Cerberus itu mengecil, bersamaan dengan itu cakarnya juga keluar dan tidak kalah tajamnya.
Cerberus menampakkan gigi-gigi tajamnya yang sepertinya sudah gatal untuk mengoyak sesuatu, sorot mata penuh amarah itu terus memberi aura intimidasi yang kuat. Almach hanya dapat berdiri mematung, tidak bergerak sama sekali. Astaga, bagaimana sekarang?
"Kau takut?" bisik suara di kepalaku.
"Siapa yang tidak takut di saat seperti ini" gerutuku kesal. Melihat makhluk mengerikan seperti itu saja baru pertama kali terjadi pada hidupku.
"Yosh, Inikah waktu bagi Alphard untuk bersinar?!" ujar suara yang mengaku bernama Alphard itu penuh semangat, suaranya terdengar menggema di seluruh kepalaku. Astaga, menyebalkan.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanyaku penuh selidik.
"Meminjam sedikit tenagamu dan mengalahkannya" ungkapnya.
"Apa?" tanya ku tak mengerti.
"Tenanglah kawan, aku hanya meminta beberapa".
Apapun maksud suara itu, tapi aku hanya menganggapnya sebagai omong kosong. Aku mengembalikan perhatianku pada Almach.
Tapi dia tidak berada di tempat dia berdiri mematung tadi, hei kemana dia sekarang?! Mataku mulai mencari sosok itu, nihil aku tidak dapat menemukan nya. Cerberus itu kembali mengaum, dia pastinya kesal sekali.
Sementara itu, dimana Almach berada sekarang?
Ketika perhatianku terfokus dengan mencari sosok Almach, entah dari mana asalnya, sebuah tebasan raksasa dan super cepat melayang ke arah Cerberus. Tanah yang dilalui tebasan itu langsung hancur, menyisakan jejak panjang dan dalam.
Setengah takjub dan setengah takut, begitulah perasaanku. Tapi tunggu, Cerberus itu menghilang. Mataku kembali berputar, mengelilingi setiap sudut tapi aku tetap tidak melihat Cerberus raksasa itu dimana pun.
Astaga, apakah ini yang dirasakan tokoh figuran ketika melihat sang protagonis overpower seperti ini?
"Cih, lagi-lagi dia mendahuluiku " ujar Alphard dengan nada kesal.
"Apa maksudmu?" tanya ku tidak mengerti.
"Apa? Kau masih tidak mengerti dengan keadaan ini? Astaga, yang benar saja" ujarnya malah merendahkanku.
"Lalu apa yang tengah terjadi?" Alisku naik sebelah. Aku mendengus kesal.
"Lihat saja, sebentar lagi mereka keluar dan pertarungan yang terlihat tidak masuk akal ini akan berlanjut"
Dari seluruh perkataan nya, aku hanya bisa mengerti setengah, lebihnya entahlah. Aku sedang muak untuk berpikir saat ini.
DUARRR...
Keadaan yang tadinya tenang kembali ricuh. Baru saja sebuah ledakan besar terjadi, diiringi suara Auman Cerberus yang menghilang dan kobaran api. Asal suara itu dari luar hutan, tempat mayat-mayat hewan itu berserakan .
Dengan cepat tanpa mengurangi kewaspadaan, aku berusaha mendekat untuk melihat hal yang terjadi disana.
Siapa itu? Eh Almach? Sosok berambut panjang dan wajah dengan bekas luka itu kembali, siap dengan pedang dan kuda-kuda nya yang kokoh. Sementara itu, di hadapannya ada Cerberus raksasa yang penuh dengan luka .
Tunggu, apa mungkin tebasan itu berasal dari pedang milik Almach? Ha, semuanya tersusun kembali dalam kepalaku. Aku mengerti sekarang. Dunia mimpi ini di penuhi oleh hal-hal yang mengejutkan, segala kemungkinan sampai yang tidak masuk akal dapat terjadi di sini.
***
Pertarungan terus berlanjut, walau penuh dengan luka Cerberus tidak kehilangan kecepatannya.
Dengan cepat dia berlari maju dan menghindari sabetan yang di lontarkan oleh pedang Almach. Seraya menyemburkan api panas panjang ke hadapan Almach. Astaga mengerikan sekali melihatnya. Aku yang menyaksikannya bahkan sulit untuk bernapas.
Cerberus itu mendekat ke arah nya. Gerakannya semakin cepat dan lincah saat menghindar. Almach terlihat sedikit kesusahan dengan itu, jarak Cerberus tinggal 10 meter lagi dari nya. Almach ingin menghindar tapi dia kalah cepat, semburan api melahapnya.
Aku menelan ludah, astaga apakah dia selamat? Ledakan terjadi setelah itu, tanah bergetar dibuatnya. Keringat dingin terus mengucur, aku tidak tahu apa yang terjadi di sana.
Asap mengepul dari tempat Almach tadi dan samar-samar aku melihat sebuah bayangan. Oi, dia selamat! Asap-asap itu memudar terbawa angin. Aku melihat Almach lagi. Dia masih berdiri kokoh setelah serangan itu.
Aku tak habis pikir, jika aku yang berada di sana pastinya sekarang aku sudah mati hangus terbakar. Tapi bagaimana caranya bertahan dari api itu?
Aku bisa melihat hidungnya bertambah panjang dari sini.
"Bukankah dia juga kuat karena masih bertahan dalam pertarungan tak masuk akal ini?!" ujarku.
"Tentu saja,tapi ini baru kekuatan dasarnya. Jika kau melihat kekuatan sihirnya, kau akan lebih kagum lagi" lanjut Alphard.
"Sihir? Apa sihir juga berlaku di sini?" tanyaku penasaran.
"Ck, apa-apaan kau? Kuno sekali. Zaman sekarang mana ada yang tidak punya sihir, kecuali jika kau penduduk Dheray" ungkapnya menjelaskan.
Ck, mana ku tahu tentang hal itu. Lagi pula aku tidak hidup di dunia antah berantah ini. Dunia ku lebih baik, penuh dengan teknologi canggih.
***
"Wah, sudah lama aku tidak berjuang seperti ini" Almach mengangkat sebelah ujung bibirnya. Tersenyum dengan sedikit semangat.
"Entah apa yang dipikirkan dewa, tapi dirinya mengirimkan banyak hadiah untukku seperti ini. Astaga, anda terlalu baik, sampai-sampai Cerberus dari neraka kau turunkan ke sini" lanjutnya.
Cerberus itu menatap geram, berusaha mendekat pada Almcah dan mencoba menangkapnya dengan gigi-gigi besarnya.
Dia bergerak dengan cepat dan gesit menghindari tebasan yang datang dari pedang. Dua kaki depannya dijadikan tumpuan, lalu Cerberus itu melompat ke arah Almach hendak mencakarnya. Tapi, Almach berhasil bertahan berkat pedangnya yang keren itu.
"Mari sudahi ini kawan besar. Aku tidak suka bermain-main" bisik Almach seraya menahan cakar Cerberus dengan pedangnya. "Dengan sihir atau pun tidak, aku akan mengakhirinya secepat mungkin sebelum hadiah lainnya datang dari dewa menyebalkan itu. Bersiaplah."
Almach mengambil ancang-ancang, memperkuat kuda-kuda dan menggenggam erat pedangnya. Sudah cukup dirinya diremehkan seperti itu.
Almach mengambil napas panjang, lalu berlari dengan cepat ke arah Cerberus itu sambil menghindari semburan api panasnya. Apalagi api yang awalnya merah menyala itu berubah menjadi biru. Benar, itu artinya napas api milik Cerberus ikut berevolusi menjadi yang lebih panah.
Ketiga kepala Cerberus itu terus bergantian menyemburkan api, bagai mengerti cara kerjanya mereka menutupi setiap celah untuk menyerang. Beberapa serangan nya dapat Almach atasi, tapi tidak dengan beberapa lainnya. Api yang menyembur meninggalkan bekas luka bakar ringan pada tubuhnya.
"Ck, Sialan. Apa serangan kalian juga ikut berevolusi?!" Almach terus menghindari serangan mereka sambil mencari celah yang masih terbuka.
Lihatlah matanya yang penuh arti itu, dirinya berhasil menemukan celah. Bagian perutnya tidak terlindungi, ketiga kepala itu tak akan bisa membakar sesuatu yang ada di bawah mereka. Dirinya hanya perlu mencari celah agar bila bergerak ke bawah perutnya.
Beberapa serangan terus di lontarkan. Sampai 5 meter jarak Almach dari mereka, dirinya menambah kecepatan dan berselancar ke bawah tubuhnya. Dalam beberapa detik waktu singkat itu, pedang Almach berdiri vertikal dan menngiris perut Cerberus.
Cerberus tak dapat menyentuh dan menyerangnya dalam keadaan seperti itu. Perutnya koyak dan mengeluarkan banyak darah serta isinya.
Cerberus berdiri terdiam sementara perutnya terus menyemburkan cairan merah. Cerberus tumbang, kepala-kepala itu meronta kesakitan dan dalam beberapa saat Cerberus itu akhirnya mati.
"Ah, terima kasih dewa, hadiahmu menyenangkan sekali."
***
Almach meraih kemenangannya. Tapi, tak lama setelah musuh tumbang, Almach ikut tumbang. Tubuhnya roboh dan terbaring tak sadarkan diri di atas tanah. Setelah melihat keadaan sekitar, aku beranikan diriku untuk keluar dari wilayah pepohonan dan membantu Almach.
Setelah itu aku menyeret-, ah maksudku membawanya dengan baik kembali ke hutan yang teduh lalu menyandarkan di salah satu pohon.
Aku menghela napas, ikut bersandar dan meluruskan kaki. Terlalu banyak kejadian aneh tapi keren yang terjadi hari ini. Sampai-sampai aku lupa dengan tujuanku sebenarnya. Astaga, sampai sekarang aku masih berpikir tentang tujuanku terjebak dalam mimpi ini dan mengalami hal seperti tadi.
"Hmm..kau benar. Melihat seluruh ingatanmu membuatku ikut berpikir keras tentang hal itu" Suara Alphard mengejutkan ku. Dia muncul dan terus muncul tiba-tiba seperti itu.
"Apa yang kau lihat dalam ingatanku?" tanyaku dengan nada setengah tidak percaya. "Kau melanggar privasiku karena melihatnya tanpa izin."
"Gadis itu, dia imut sekali" ungkapnya tiba-tiba.
"..Ya, dia memang imut" ujarku dengan nada datar sambil tersenyum tipis ikut mengingatnya, dia benar-benar bisa melihat ingatanku.
"Hah..sudahlah, aku tak ingin membahasnya. Ngomong-ngomong ada satu hal yang harus kujelaskan" ujar Alphard mengalihkan topik.
"Apa?" tanyaku.
"Tentangku dan Almach" ujarnya dengan nada mendramatisir.
"Apa?! jadi kau punya hubungan dengan Almach?" tanyaku meledeknya, meletakkan telapan tanganku didepan mulut, ikut mendramatisir.
"Iya, tapi bukan hubungan seperti itu. Aku serius, karena itu dengarkan aku baik-baik, nak" berlagak seperti orang tua, aku memilih diam dan mendengarkan seluruh ceritanya.