
Sudah dua hari ini Jungkook berada di rumah Taehyung. Biasanya pria itu selalu mengunjungi rumah Yoongi bersama Jimin jika tidak ada acara, namun sekarang tidak ada niatan untuk kesana. Bahkan mengingatnya saja sudah malas.
Memang terasa aneh ketika biasanya dia selalu bermanja dengan Yoongi namun sekarang harus bermusuhan seperti ini. Jungkook hanya merasa kesal pada Yoongi yang tega merebut Ji-eun, meski keduanya belum menjalin hubungan tetap saja Jungkook marah.
Seharusnya Yoongi tahu jika dirinya sedang berusaha mendekati Ji-eun, sebagai kakak yang baik seharusnya pria kulit putih itu mendukungnya bukan malah menikung. Entah alasannya apa yang jelas Jungkook berpikir jika Yoongi membencinya.
Bagaimana tidak berpikir seperti itu. Jungkook bisa melihat dengan jelas jika Yoongi maupun Ji-eun tidak memperlihatkan ketertarikan satu sama lain, lalu apa alasan mereka untuk menjalin hubungan.
"Sudahlah Jung, jangan hanya gara-gara wanita kau jadi membencinya." Ucap Taehyung.
"Aku tidak membencinya, aku hanya kesal. Kenapa harus Ji-eun noona yang menjadi kekasihnya?"
"Kenapa tidak kau tanyakan langsung saja. Lagipula mereka pasti punya alasan untuk itu, mereka hanya tidak mau kau berkencan dan dibutakan oleh cinta. Kau ini masih kecil."
"Aku sudah besar, Hyung!"
"Tapi kau adalah bayi kami."
"Aku bukan bayi! Aku sudah berumur dua puluh lima, kenapa kalian selalu begitu? Memperlakukan aku seperti bayi, tidak boleh mabuk, tidak boleh berkencan, tidak boleh ini, tidak boleh itu. Lalu apa bedanya dengan kau? Kita hanya selisih satu tahun saja. Kau sudah berpacaran sejak seusia ku, bahkan sekarang kau sudah bercinta dan mereka tidak memarahi mu."
"Apa itu isi hati mu?"
Jungkook menghembuskan nafas kasar, dia merasa kesal sekesal-kesalnya. Rasanya ingin sekali dia meninju siapa saja yang berada di depannya, termasuk Hyung nya ini. Kenapa semua orang menyebalkan?
•••
Ji-eun sudah berada di depan rumah Yoongi, sedikit ragu apakah ia harus masuk atau tidak. Ji-eun takut menganggu waktu pria itu dan membuatnya kembali di usir karena jujur saja dia merasa kesal saat di usir begitu saja.
Bukan ingin berharap hanya saja mereka masih terikat kerjasama, jika sewaktu-waktu Jihyun datang dan mengganggunya saat Yoongi tengah bermasalah apa Yoongi akan tetap membantunya?
Dan ya, ada sedikit kekhawatiran yang dia rasakan.
Akhirnya dengan modal nekat dia turun dari mobil, membuka gerbang lalu memasukkan mobilnya. Ji-eun kembali ke gerbang dan menekan tombol di samping pilar gerbang yang membuat gerbang itu otomatis tertutup.
Sejenak ia kembali ragu untuk mengetuk pintu, tapi sepertinya mereka memang harus bertemu karena bertepatan dengan itu Yoongi membuka pintu depan.
"Hai." Sapa Ji-eun gugup.
Yoongi hanya menatap Ji-eun datar, seperti biasa. Ia meletakkan kantung sampah yang hendak ia buang di tepi pintu lalu berlalu masuk tanpa mempersilahkan Ji-eun masuk.
Gadis itu agaknya harus belajar membaca pikiran Yoongi agar dia tidak kebingungan ketika menghadapi pria itu. Yoongi tidak mempersilahkan nya masuk namun pria itu duduk di sofa ruang tamu seolah tengah menunggunya.
Karena terus di tatap akhirnya Ji-eun masuk dan menghampiri Yoongi, menyerahkan kunci mobil pada pemiliknya. Pria Min itu hanya menatap kunci itu tanpa menerimanya lalu menatap sang gadis yang masih berdiri di depannya.
"Duduk." Titah Yoongi.
"Aniya! Aku hanya ingin mengembalikan ini dan pulang. Maaf mengganggumu."
Alih-alih mengambil kunci justru tangan Ji-eun yang ia tarik, membuat gadis itu terjatuh menimpa tubuh Yoongi. Bertepatan dengan itu dua orang datang dan langsung melihat adegan yang membuat hati salah satu pria memanas.
Ji-eun segera menarik diri dan mengambil posisi sedikit jauh dari Yoongi, membuat pria itu menggeram kesal.
"Ada apa?" Tanya Yoongi pada sang pria.
"Apa kami mengganggu?" Tanya Taehyung.
Yoongi hanya memutar bola matanya malas, dan tidak di pedulikan oleh Taehyung. Pria itu duduk dan menyuruh Jungkook untuk ikut duduk di sampingnya.
"Sepertinya aku harus pergi, --"
"Tidak! Duduk dan jelaskan padanya."
Ji-eun hendak izin pamit karena merasa ini ada sangkutannya dengan malam kemarin lusa. Namun Yoongi tidak mengizinkan, bahkan memintanya untuk menjelaskan sesuatu. Apa yang di maksud?
Taehyung mengangguk meminta Ji-eun menuruti perintah Yoongi, memang pada awalnya Taehyung ingin mempertemukan mereka bertiga dan kebetulan sekali jika Ji-eun berada disini jadi dia tidak perlu memaksa Yoongi untuk menyuruhnya datang.
"Cepat bicara." Ucap Yoongi.
"Kau tahu kedatangan ku kemari." Sahut Taehyung menarik punggungnya agar bersandar pada sofa.
Jungkook benar-benar tidak betah berada disini, jika bukan karena paksaan dari Hyung nya maka dia tidak mau berada disini. Pria itu memintanya untuk membicarakan hal ini dengan Yoongi sementara semuanya sudah jelas, apapun alasannya tidak akan merubah kenyataan jika mereka sepasang kekasih.
Dan Jungkook merasa muak dengan hal itu.
"Apa yang kau pikirkan tentangku, hah?" Tanya Yoongi pada Jungkook.
"Dia mengatakan jika kau membencinya karena telah merebut Ji-eun. Bukan begitu Jung?" Sahut Taehyung.
Jungkook mendelik tajam pada Taehyung, temannya ini sengaja atau bagaimana menempatkan dirinya di keadaan seperti ini. Meski Jungkook mengatakan membenci Yoongi namun jika terlalu jujur dia juga sedikit takut sebab Yoongi itu sulit di tebak. Bagaimana jika Hyung nya itu memutus persahabatan mereka, meski kemungkinan besar itu tidak akan terjadi.
"Aku ingin kau yang mengatakannya." Ucap Yoongi tetap berbicara pada Jungkook.
"Aku tidak membenci mu, aku hanya kesal."
"Karena kau menyukainya?" Ucapnya melirik Ji-eun.
Jungkook tak membalas, pemuda itu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Bukankah Hyung nya itu sudah tahu, kenapa masih saja bertanya dan seolah-olah tidak mengetahuinya.
"Jelaskan." Kini Yoongi berucap pada Ji-eun.
"Apa?" Tanya sang gadis tak mengerti.
Namun Yoongi tidak menjawab, membuat gadis itu benar-benar bingung. Apa yang harus dia jelaskan? Ji-eun menatap Jungkook, berusaha memahami apa yang terjadi. Ya meski sudah jelas jika Jungkook marah pada Yoongi karena dia menjalin hubungan dengan Yoongi sementara Jungkook menyukainya. Tapi Ji-eun bahkan tidak tahu isi hati pemuda Jeon, apa dia harus merasa bersalah?
"Jung.." panggil Ji-eun.
Jungkook tak menoleh, hanya terdiam sembari menahan sesak di dadanya. Sungguh rasanya kesal sekali, ingin dia pergi dari sana namun pasti Taehyung akan mengumpatinya habis-habisan.
"Maaf membuatmu merasa kesal, tapi .." Perkataan Ji-eun yang menggantung membuat Taehyung dan Jungkook merasa penasaran. Sementara gadis itu melirik Yoongi seolah meminta izin.
"Kami bukan pasangan kekasih yang sesungguhnya." Sambung Ji-eun.
Yoongi menghela nafas kasar, sebenarnya ia tidak ingin siapapun mengetahui kerjasama ini. Namun bayi besarnya itu membuat perkara dengan mencemburui nya, dan membesarkan masalah ini. Mungkin jika Jungkook tenang dan memintanya penjelasan maka dia akan menjelaskannya, tanpa orang lain ikut campur.
Benar-benar masih bertingkah seperti bayi.
"Maksudmu?" Tanya Taehyung yang penasaran.
"Kami hanya bekerjasama saja. Aku meminta Produser Min untuk membantuku terlepas dari teror mantan kekasih ku, karena dia beberapa kali menolongku. Itu saja." Jelas Ji-eun.
Taehyung menganggukkan kepalanya beberapa kali seolah mengerti duduk permasalahannya, jadi ini hanya masalah kesalahan pahaman dan semua berakar dari Jungkook. Mungkin pria itu terlalu kesal sebab gadis yang ia incar itu lebih memilih orang lain.
"Kau mengatakan itu hanya untuk menenangkan ku kan? Kalian pikir aku akan percaya dengan rencana kalian?" Sahut Jungkook.
Yoongi benar-benar di buat geram oleh bayi besarnya ini, sudah diberitahu yang sebenarnya tapi masih juga merasa kesal. Ya, Yoongi paham sekesal apa Jungkook padanya tapi apakah akal sehatnya tak bisa digunakan sedikit saja.
Pria itu tetap berusaha tenang, menghadapi Jungkook yang sejatinya memang bayi, mereka memang perlu sesuatu yang lembut. Jika di bentak atau di marahi maka pemuda itu akan semakin terluka, anggap saja ia benar-benar menghadapi seorang balita.
"Apa ada alasan aku membencimu Jung? Apa kau pernah mendapat kemarahan dariku? Apa aku pernah melarang mu untuk melakukan hal yang kau sukai? Apa aku pernah menyembunyikan sesuatu dari mu? Apa yang menjadi alasan aku membenci dan tidak menginginkan kebahagiaan mu?" Cecar Yoongi dingin.
Jungkook terdiam. Benar, tidak ada alasan untuk Yoongi membencinya. Bahkan penjelasan Ji-eun dirasa masuk akal dan mungkin saja mereka memang tidak berniat memberitahu sebab mereka memang tidak bersungguh-sungguh menjalani hubungan ini. Apa dia sudah keliru?
"Bukankah aku selalu memanjakan dirimu? Kenapa kau berpikir jika aku membencimu?" Ucap Yoongi.
"Aku.."
"Jika aku memang membencimu, aku tak pernah Sudi untuk tetap berada di sampingmu, Jung. Diantara kalian semua. Kau tahu aku akan melakukan apapun hal yang aku sukai, dan jika aku membencimu maka aku benar-benar melakukannya."
Keadaan mendadak terasa mencekam, memang tidak ada perdebatan namun semua kata-kata yang Yoongi ucapkan seolah mampu membungkam semua mulut yang ada disana. Meski nada bicaranya terdengar tenang dan santai, tapi tetap terasa jika pria itu tengah menahan amarahnya.
"Sebenarnya aku benci mengatakan ini, tapi kau harus tahu jika kau, kalian semua, itu sangat berharga untukku. Jangan menilai ku seolah kau baru pertama kali bertemu dengan ku, Jung."
Yoongi menghela nafasnya, dia bukanlah sosok yang romantis sehingga meski dengan adik-adiknya dia tetap tidak bisa mengatakan bahwa dia menyayangi semua teman yang sudah dia anggap sebagai adik dan keluarga.
Dia lebih suka membuktikan dengan perilaku. Dan rasanya berteman selama hampir sepuluh tahun pun cukup untuk mengetahui karakternya.
"Lakukan apa yang kau inginkan, Jung. Aku tidak akan pernah melarangnya, dan aku akan tetap mendukungmu."
"Hyung, aku.. "
"Aku ingin beristirahat, silahkan kalian pulang."
Setelah mengucapkan itu, Yoongi benar-benar berlalu menuju kamarnya. Meninggalkan tiga orang yang masih termenung di ruang tamu.
Jungkook paling merasa bersalah, dia telah salah menilai Yoongi hanya karena kecemburuannya. Mungkin memang benar apa kata Taehyung bahwa dirinya masih lemah soal apapun, terbukti dari hal ini. Dia cemburu tak terkontrol sehingga nyaris membuat persahabatan yang terjalin cukup lama ini terputus.
Dia mengabaikan semua kebaikan Yoongi hanya karena dibutakan oleh rasa cemburu yang tidak berdasar, bahkan dia baru dalam tahap menyukai. Bagaimana jika nanti dia benar-benar menjadi budak cinta dan kehilangan cintanya?