
"Ini adalah satu-satunya hidup saya, jadi apapun itu terserah. Saya harus mencoba menjadi nomor satu untuk sekali." -- Min Yoongi.
+++
Ji-eun menyerahkan surat perjanjian itu pada Yoongi setelah menandatangani nya. Kemudian gadis itu bangkit dan berpamitan.
"Tugas mu belum selesai." Ucap Yoongi.
"Tugas? Maksudmu?"
"Apa ada sesuatu yang terlewat?"
Gadis berambut panjang itu mengerutkan keningnya, merasa tidak ada lagi hal yang dia lewatkan. Bukankah dia datang kemari hanya untuk kontrak kerjasama saja? Apalagi memangnya?
Melihat Ji-eun yang diam saja membuat Yoongi kembali menyerahkan surat yang ia buat, dan Ji-eun menerimanya dengan bingung.
"Kali ini baca dengan teliti." Ucapnya.
Gadis itu mendecak, tak mengerti maksud dari pria di depannya namun tetap menurut. Ia membaca tulisan itu dengan teliti, dan mungkin memang ada yang terlewat.
Matanya seketika membulat ketika mendapati tulisan sang amat sangat membuatnya keberatan. Bukankah tadi tidak ada saat dia membacanya? Kenapa sekarang ada?
"Sudah menemukannya?" Tanya Yoongi yang di balas lirikan mata oleh Ji-eun.
Ji-eun membanting kertas itu ke atas meja dan menatap Yoongi sembari berkacak pinggang.
"Aku tidak mau. Kenapa kau tidak mencari istri saja kalau begitu?!" Seru Ji-eun marah.
Namun Yoongi menanggapinya dengan santai, meski ia sedikit menggeram karena teriakan sang gadis membuat Holly terjingkat dan menggonggong.
"Lalu kau bagaimana? Terus di kejar-kejar oleh pria itu dan mungkin akan berakhir di tangannya." Jawab Yoongi.
Apa yang Yoongi katakan memang benar, kerjasama ini bertujuan untuk membuat Jihyun berhenti mengejarnya. Tapi bukan begini yang Ji-eun inginkan, memang saat membaca satu persatu isi suratnya dia tidak keberatan. Namun catatan terakhir yang terlewat membuatnya sungguh tidak mampu melakukannya.
Harus tinggal di rumah si pria dingin itu selama perjanjian berlangsung? Yang benar saja.
"Aku tidak bisa." Tolak Ji-eun.
"Aku tidak peduli, kau sudah menandatangani nya dan itu artinya kau setuju."
"Aku benar-benar tidak bisa, Tuan. Aku tinggal bersama kakakku disini, apa yang akan aku katakan jika aku tidak pulang ke rumah selama berhari-hari?" Ucap Ji-eun.
Masuk akal, karena memang dia tidak tahu harus mengatakan apa jika nanti Jong-hoon bertanya tentang dirinya yang tidak pulang ke apartemen selama berhari-hari. Meski awalnya mereka akan kembali ke Songjeong-dong jika rekaman sudah berakhir.
Tidak akan mungkin dia mengatakan yang sebenarnya, alasan itu terlalu konyol dan pasti kakaknya itu akan mengatai dirinya bodoh. Siapa yang akan berpikiran baik ketika dua orang berbeda jenis kelamin tinggal satu rumah tanpa ikatan pernikahan?
Meski hal itu wajar saja di negara mereka namun tetap saja pasti Jong-hoon akan menggantung lehernya.
"Bagaimana?" Tanya Ji-eun.
"Aku tidak bisa. Begini saja, bagaimana jika aku datang dua kali selama seminggu?" Tawar Ji-eun.
Yoongi langsung menolak dengan menggelengkan kepalanya.
"Tiga kali?"
"Tidak."
"Ayolah, aku tetap akan tinggal di rumah mu kan. Kalau begitu empat kali, dan aku tidak bisa menawarnya lagi."
Tidak ada pilihan lagi untuk Ji-eun, dengan terpaksa dia harus menerimanya atau dirinya akan berakhir di tangan Jihyun. Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik.
•••
Ji-eun mengedarkan pandangannya meneliti setiap sudut rumah Yoongi, terlihat mewah meski tidak begitu besar. Rumah dengan nuansa seni ini terlihat menenangkan, ruang tamunya terhubung langsung dengan dapur. Sementara ruang tengahnya berada di dalam yang berhadapan dengan kamar tamu.
Di lantai atas ada tiga ruangan ; Kamar pribadi yang berada di samping tangga, lalu mini studio yang biasa digunakan Yoongi untuk membuat lagu dan yang berada paling ujung adalah ruang gym yang terhubung dengan halaman belakang. Serta terdapat tangga yang menghubungkan nya.
"Buatkan makanan untuk nanti malam, teman-teman ku akan datang ke mari." Ucap Yoongi.
Jadi alasannya untuk tinggal di sini adalah untuk di perintah? Dan apa katanya? Memasak?
"Aku tidak bisa memasak!" Ketus Ji-eun.
"Tidak usah beralasan."
"Aku benar-benar tidak bisa memasak. Jika kau mau dapur mu ku buat meledak maka aku akan melakukannya."
Ji-eun berlalu menuju dapur dan membuka kulkas, sejenak dia merasa kebingungan akan memasak apa karena gadis itu benar-benar tidak bisa melakukannya. Dan hal itu tidak luput dari pandangan Yoongi.
"Kau benar-benar tidak bisa?" Tanya Yoongi.
Ji-eun hanya memutar bola matanya jengah, jelas-jelas dia sudah mengatakan tidak bisa kenapa masih saja bertanya. Gadis itu menyingkir ketika Yoongi hendak mengambil beberapa bahan masakan dari dalam kulkas.
Pria itu mengeluarkan beberapa sayuran dan daging, membawanya ke meja dapur dan menyiapkan bahan serta peralatan memasaknya.
"Apa kau juga tidak bisa memotong daging?" Ejek Yoongi.
"Bahkan aku bisa memotong leher mu!"
Ji-eun mengambil ayam utuh tanpa kepala yang berada di dalam baskom dan memotongnya sesuai perintah Yoongi. Meski hasilnya terlihat sangat buruk, karena dagingnya berceceran tak berbentuk.
Pria bermarga Min itu mendesah frustasi, kemudian menuntun tangan Ji-eun untuk memotong ayamnya dengan benar. Dengan menumpukan tangannya di atas tangan Ji-eun, sehingga posisinya seperti memeluk Ji-eun dari belakang.
Ji-eun merasakan jantungnya kembali berdegup kencang, apalagi ketika melihat wajah Yoongi dari jarak yang sangat dekat seperti ini. Membuat pria kulit putih itu terlihat semakin menawan.
"Jika ayam hidup melihat kawannya di potong seperti ini, pasti dia yang akan mematuk mu." Ucap Yoongi.
"Asal bukan kau saja yang mematuk ku."
"Aku tidak memiliki paruh, jadi tidak akan bisa mematuk."
Yoongi melepaskan tangannya saat Ji-eun mulai bisa memotong dengan benar. Pria itu mengawasi dari dekat sembari memotong beberapa sayuran.
"Tapi jika mencium mu aku pasti bisa melakukannya." Celetuk Yoongi.
"Aww-- astaga!" Ji-eun memekik ketika tangannya tak sengaja teriris pisau. Gadis itu langsung memasukkan jarinya kedalam mulut untuk menghentikan darah yang keluar.
Yoongi dengan sigap membawa tangan Ji-eun ke arah wastafel, mencuci jarinya yang teriris pisau. Kemudian pria itu merobek lap bersih yang menggantung di dekat rak piring, mengikatkannya pada jari Ji-eun yang terluka.
Ini semua gara-gara ucapan Yoongi yang membuatnya tidak fokus. Kenapa juga pria itu harus mengatakan hal yang membuatnya membayangkan yang tidak-tidak. Tentu saat Yoongi mengatakan bisa menciumnya, Ji-eun langsung mengingat ciuman mereka di studio dan saat di pulau Jeju.
Tanpa sadar perlakuan Yoongi membuat Ji-eun sedikit takjub, di balik sikapnya yang dingin dan cuek ternyata pria ini sangat perhatian. Bahkan pada hal kecil semacam ini. Lukanya tidaklah seberapa namun Yoongi terlihat mengkhawatirkan nya, meski tetap saja wajah itu terlihat datar.
"Sudah. Lain kali hati-hati, aku tau kau tidak bisa memasak tapi setidaknya kau pasti bisa memotong." Ucap Yoongi.