
Aara termenung di sudut restoran, memikirkan nasibnya setelah ini. Tadi, pemilik restoran mengadakan meeting dengan para pegawai dan mengatakan jika kemungkinan mereka semua akan di berhentikan.
Alasannya adalah restoran ini akan tutup sebab semakin hari restoran ini semakin sepi akibat kalah saing dari restoran yang tak jauh dari sini. Dan biaya sewa yang dibayarkan pun tertunggak karena penghasilan yang tidak mencapai target.
Alhasil restoran ini terpaksa gulung tikar dan semua pegawai di sini terancam menganggur.
"Sayang sekali jika restoran ini akan tutup." Ujar salah satu temannya yang bergabung.
Aara menoleh dan menanggapinya dengan senyuman, sama halnya seperti dirinya yang sangat menyayangkan restoran ini gulung tikar. Tempat ini adalah tempatnya menggantung hidup, jika bukan dari penghasilan restoran darimana lagi dia akan memperoleh uang untuk biaya sehari-hari.
"Kita tidak bisa berbuat apapun." Sahut Aara.
"Ya, kau benar. Jika aku pemilik restoran ini mungkin aku akan memilih untuk mempertahankan tempat ini. Mungkin aku bisa mencari pinjaman ke bank dan membuat inovasi pada tempat ini agar semakin banyak yang berkunjung."
"Semua orang mempunyai keputusan yang dianggap baik oleh dirinya."
Gadis yang duduk di depan Aara itu mengangguk, membenarkan ucapan temannya. Memang semua orang berhak mengambil keputusan apapun yang dirasa baik. Dan jika seperti itu maka tidak ada gunanya mereka menyarankan hal apapun karena sudah pasti pemilik restoran ini lebih mengetahui apa langkah yang harus diambil meski harus merugikan dirinya dan orang banyak.
Aara kembali ke rumah dan mendapati Yoonji yang tengah bermain dengan bonekanya. Gadis kecil itu memang tidak pernah menangis ketika ditinggal bekerja sendirian. Setiap beberapa jam tetangganya akan menemani anak itu di rumah, bahkan Aara rasanya sangat tidak enak karena terus merepotkan tetangganya.
Gadis seumuran dengannya yang bernama Mi-Soo itu terlihat sangat baik, selalu membantu Aara untuk menjaga Yoonji tanpa mengharapkan imbalan apapun. Mi-Soo hanya mengatakan jika dia menyukai Yoonji oleh sebab itu ia tidak keberatan jika harus mengurus Yoonji. Meski terkadang dia tidak bisa setiap hari sebab gadis itu juga harus berkuliah.
"Kau sudah makan sayang?" Tanya Aara pada putrinya.
"Sudah, Bu. Kak Mi membuatkan ku cumi kering yang sangat enak sekali." Jawab Yoonji senang.
Ah mendengar cumi kering membuatnya teringat pada pria pecinta cumi. Dulu dia selalu membawakan cumi kering masakan ibunya pada Yoongi, dan itupun menurun pada anaknya yang sangat menyukai makanan satu itu.
Cumi kering yang dimaksud bukanlah cumi-cumi yang di keringkan lalu di masak, tapi cumi-cumi dengan baluran tepung yang di goreng kering.
"Benarkah? Kau sudah mengucapkan terimakasih pada Kak Mi?" Tanyanya lagi dan Yoonji mengangguk cepat.
"Kalau begitu bereskan mainan mu dan bersihkan tubuh mu."
"Baik Bu."
Aara membantu putrinya membereskan mainannya, menyimpannya di kotak khusus. Memang tidak terlalu banyak namun Yoonji tak pernah merasa kurang. Mainan itu adalah pemberian kakeknya dan juga Mi-Soo. Bahkan dia pun jarang sekali bisa membelikan putrinya mainan.
Malam harinya, tetangganya yang baik hati datang berkunjung ke rumah. Mi-Soo membawakan Yoonji beberapa boneka dan juga camilan, membuat Aara lagi-lagi merasa sungkan pada gadis itu.
"Aku sudah mengatakan jika tidak perlu membawa apapun untuk Yoonji. Aku tidak mau merepotkan dirimu, dan juga nanti dia akan terbiasa memintanya padamu." Ucap Aara.
"Tidak masalah, lagipula itu hanya hadiah yang aku dapatkan dari mesin capit boneka." Ucap Mi-Soo terkekeh.
Aara menggelengkan kepalanya menanggapi candaan Mi-Soo, memang gadis itu selalu beralasan ketika dia melarangnya untuk tidak terus-menerus memberikan Yoonji mainan. Selain sungkan, Aara hanya tak mau nantinya Yoonji akan bergantung pada tetangganya ini.
"Oh iya, ku dengar restoran tempat mu bekerja akan di tutup?" Tanya Mi-Soo.
"Sudah di tutup, pemiliknya tidak mau melanjutkannya lagi karena pelanggannya semakin lama semakin berkurang dan uang sewa pun menunggak."
"Sayang sekali. Padahal restoran itu pernah menjadi tempat paling laris di Gwacheon. Lalu bagaimana denganmu?"
"Entahlah, mungkin aku akan mencari pekerjaan lain."
"Kau coba saja melamar di perusahaan RJ Corp. Ku dengar perusahaan itu tengah mencari karyawan, siapa tahu keberuntungan mu ada di sana."
"Bukankah itu perusahaan besar? Aku hanya berijazah menengah atas saja apa mungkin bisa masuk kesana?"
"Tidak ada salahnya mencoba."
•••
Dua hari setelahnya, Aara memutuskan untuk melamar pekerjaan di perusahaan yang direkomendasikan oleh Mi-Soo. Meski sedikit ragu namun gadis itu tetap pergi, setidaknya ia harus mencobanya terlebih dahulu.
Aara menghampiri meja resepsionis untuk menanyakan apakah masih tersedia lowongan pekerjaan di perusahaan yang ia pijaki.
Resepsionis yang tengah menyibukkan diri dengan touch up itupun menoleh. Memperhatikan penampilan Aara dari atas sampai bawah, kemudian kembali menepuk wajahnya dengan sponge bedak seolah mengacuhkan Aara.
"Maaf, --"
"Kau tidak lihat jika aku sedang sibuk. Duduk di sana dan tunggu giliran mu." Ketus si wanita resepsionis.
Aara mengangguk kaku lalu memutar tubuhnya hendak bergabung bersama orang-orang yang duduk di kursi lobby. Namun karena pandangannya terus menunduk membuatnya tidak melihat jika ada seseorang yang berjalan kearah nya hingga tak sengaja mereka bertabrakan.
Bugh!
"Akh! Maafkan aku, aku tidak sengaja menabrakmu." Ucap Aara merasa bersalah.
Hal itu membuat resepsionis yang melihatnya menjadi geram, menghampiri Aara dan bersiap memarahinya.
"Kau ini bagaimana? Belum bekerja saja sudah membuat kesalahan. Lain kali perhatikan jalan mu --"
Ekhm!
Gadis resepsionis itu langsung berhenti bicara dan membungkukkan badannya menyapa seseorang yang ada di depannya. Bisa di rasakan jika aura di sekitar mereka mendadak menegangkan.
"Dia memang bersalah, tapi kau tidak berhak memarahinya. Utamakan etika mu jika kau masih ingin bekerja di sini." Ucap sang pria.
"B-baik, Tuan. Saya minta maaf." Ujar gadis itu.
"Kembali bekerja!"
Aara bisa melihat gadis yang tadi memarahinya langsung menunduk ketakutan dan berlari ke mejanya, sementara dia juga merasa takut jika dia juga akan di marahi seperti karyawan itu. Dia bisa menebak jika pria ini pasti memiliki jabatan tinggi di perusahaan.
"Siapa namamu?" Tanya sang pria.
"S-saya Go Aara, Tuan."
"Go Aara? Kenapa namanya seperti tidak asing?" Batin sang pria.
"Perhatikan wajah seseorang yang tengah mengajak mu berbicara."
Aara tersentak dan langsung mengangkat wajahnya, detik kemudian tatapan mata mereka bertemu. Pria tersebut nampak terkejut seolah ada sesuatu pada wajah sang gadis, sebelum akhirnya pria itu kembali bersuara.
"Kau..."
Aara menatap Seokjin polos ketika pria itu nampak terkejut. Dia sendiri tidak tahu kenapa, apa pria ini mengenalnya? Tapi dia tidak pernah melihatnya dimanapun. Apa mungkin pria ini pernah menjadi pelanggannya di restoran sehingga tak asing dengan mukanya.
"Ikut aku." Ucap Seokjin.
Aara mengangguk, meski ia tidak tahu akan di bawa kemana tapi dia tetap melangkah di belakang Seokjin. Mungkin saja pria itu adalah orang yang akan mewawancarainya? Pikir Aara.
Keduanya menaiki lift menuju lantai teratas di RJ Corp, Aara hampir di buat tak bisa bernapas ketika memasuki ruangan yang sangat luas.
"Duduklah." Titah Seokjin.
"Terimakasih."
Pria bermarga Kim itu melepas jas nya dan menggantungnya di stand hanger yang berada di sudut ruangan dekat meja kerjanya. Lalu ia mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya, menghadap gadis yang menurutnya tidak asing.
"Boleh aku bertanya padamu?" Tanya Seokjin.
"Tentu tuan."
Seokjin mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana dan terlihat menekan layarnya beberapa kali. Kemudian dia meletakkan ponselnya diatas meja dan menyodorkan pada sang gadis.
"Kau mengenalnya?" Tanyanya.
Aara yang masih belum tersadar perlahan mengambil benda pipih itu. Netranya membulat saat melihat gambar di layar yang menampilkan pria di depannya dan seseorang. Wajah putihnya sangat kentara sekali jika gadis itu sangat terkejut.