
Jungkook terus terdiam saat Ji-eun bergabung dengan mereka, yang paling heboh adalah Seokjin. Pria itu senang bukan main ketika mengetahui adik sulungnya itu memiliki kekasih. Setidaknya dia tidak mengira jika Yoongi itu belok.
Dan juga, pasti pria itu bisa melupakan masa lalunya. Meski Seokjin sendiri tidak tahu bagaimana awal hubungan mereka, dia hanya berharap jika Ji-eun benar-benar membuat Yoongi melupakan Aara.
Sekarang mereka semua berkumpul di halaman belakang yang lebih luas, sehingga mereka leluasa untuk bercengkrama dan bersenda gurau. Ditemani beberapa kotak pizza dan juga minuman beralkohol.
"Apa?" Tanya Seokjin ketika Jungkook akan membuka botol Soju.
"Aku ingin meminumnya." Lirih pemuda Jeon.
"Tidak, bukankah aku sering melarang mu?"
"Ku mohon Hyung, hanya malam ini." Pinta Jungkook.
"Tidak--"
Taehyung menyentuh pundak Hyung nya agar tidak melarang Jungkook mabuk kali ini saja. Sebab pria itu terlihat murung, dan dia tahu bahwa Jungkook memang tengah dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Seokjin akhirnya pasrah, mengizinkan si bungsu itu mengkonsumsi alkohol. Entah itu untuk yang pertama kali atau tidak karena selama ini dia memang selalu melarang Jungkook untuk mabuk, tapi dia tidak tahu jika tidak ada dirinya.
Meski pria itu mengizinkannya tetap saja Seokjin mengawasi. Memastikan agar pemuda itu tidak mabuk terlalu parah.
Sementara Taehyung mengalihkan pandangannya pada si tuan rumah, Min Yoongi. Ada hal yang membuatnya merasa penasaran dan ia juga harus membuat alasan agar Ji-eun berbicara berdua dengan Jungkook. Biar bagaimanapun Jungkook pernah berusaha mendekati gadis itu, dan pasti sekarang hatinya merasa sedih.
"Hyung, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Taehyung pada Yoongi.
"Bicaralah."
"Aku ingin bicara berdua, emm tentang musik. Yah, aku ingin bertanya tentang itu."
Yoongi tidak menjawab, pria itu langsung berdiri dan berlalu masuk kedalam yang bisa dipastikan pria itu akan masuk kedalam mini studio nya.
Sebelum menyusul Yoongi, dia membisikkan sesuatu pada Hoseok untuk meninggalkan Jungkook dan Ji-eun hanya berdua. Awalnya Hoseok tidak setuju karena takut Yoongi akan marah, namun Taehyung mengatakan jika mereka bisa mengawasi dari kejauhan. Akhirnya Hoseok beralasan jika mereka harus membantu dirinya membereskan ruang makan.
Menitipkan Jungkook pada Ji-eun yang kebingungan, namun gadis itu tetap mengangguk tanpa rasa curiga.
"Jung?" Panggil Ji-eun. Namun Jungkook tidak menyahut, mungkin pemuda itu sudah mabuk.
"Jung, kau baik-baik saja?"
Sebuah tepukan pelan di tangannya membuat pemuda Jeon tersentak dan menoleh. Bayangan di depannya terlihat buram, namun dia berusaha memperjelas nya dengan mengerjapkan mata dan menggeleng beberapa kali.
"Dimana yang lain?" Tanya Jungkook ketika menyadari mereka hanya berdua.
"Mereka pergi ke dalam." Jawab Ji-eun.
Jungkook terdiam sebentar, memegangi kepalanya yang terasa pusing. Pandangannya menatap lurus kedepan namun tidak terfokus pada apapun alias kosong.
"Bagaimana bisa?" Tanyanya.
Ji-eun mengerutkan keningnya, memahami pertanyaan Jungkook. Bagaimana? Maksudnya bagaimana seperti apa?
"Maksudmu?"
"Bagaimana bisa kau menjadi kekasih Yoongi-hyeong?"
Gadis bermarga Lee itu tertegun, sebenarnya apa yang terjadi dengan Jungkook. Apa pria itu terlalu mabuk sehingga berbicara ngelantur? Tapi, rasanya Jungkook masih sedikit sadar dan bisa menimpali ucapannya.
"Aku tidak mengerti maksudmu, Jung."
"Dia merebutmu dari ku. Dia tahu aku menyukai mu sejak pertama kali, dan dia merebutmu. Dia tidak membiarkan mu dekat dengan ku." Racau Jungkook.
"Apa yang kau bicarakan? Kau menyukai ku?"
"Ya! Aku menyukaimu dan berusaha mendekati mu. Tapi dia merebutmu bahkan sebelum aku mendapatkan mu. Dia membenciku! Dia tidak membiarkan aku bahagia! Yoongi membenciku!" Teriak Jungkook dan hal itu membuat Ji-eun terlonjak.
Begitupun dengan ketiga orang yang mengintip dari jendela ruang makan, meski sedikit jauh mereka bisa mendengar semua ucapan Jungkook. Dan mereka tahu jika ternyata ini yang Taehyung maksudkan.
"Jung, tenangkan dirimu. Kau mabuk." Ucap Ji-eun.
Jungkook tersenyum sinis, bahkan ia tak merasa mabuk sedikitpun meski kepalanya sedikit pusing. Dia merasa tidak adil, kenapa semua orang memperlakukannya seperti bayi?
"Jangan menyentuhku!" Teriak Jungkook ketika Ji-eun hendak menyentuhnya.
"Apa kita harus menyusulnya?" Tanya Jimin.
"Tidak perlu, dia sudah dewasa. Pria itu harus berlatih menghadapi masalahnya sendiri." Jawab Seokjin.
"Kau benar." Timpal Hoseok.
"Aku baru melihatnya seperti itu. Dia benar-benar membentak seorang gadis." Sambung Jimin.
"Itulah mengapa aku memperlakukan dia sebaik mungkin. Lihat? Gara-gara Taehyung yang mengizinkan bayi itu mabuk dia jadi berbuat kasar pada wanita." Ucap Seokjin.
Sebenarnya mereka merasa tak tega, apalagi Jungkook yang menganggap bahwa Yoongi membencinya dengan merebut gadis incarannya. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari bersaing dengan kakak sendiri. Meski mereka tidak ada hubungan darah, namun persahabatan mereka sangatlah erat.
Sementara di lantai atas, Yoongi di buat kesal sebab dirinya merasa di bohongi dan dijebak. Apalagi ketika ia melihat Ji-eun dan Jungkook hanya ditinggal berdua dan melihat pemuda itu membentak kekasihnya. Dia tidak tahu apa yang di bicarakan mereka di bawah karena studionya kedap suara jadi dia tidak bisa mendengar.
"Apa tujuanmu, Hyung?" Tanya Taehyung untuk yang kesekian kalinya.
"Tidak ada urusannya denganmu."
Taehyung tertawa sinis, seolah meremehkan ucapan Hyung nya. Jelas ini ada urusannya dengan dia dan yang lain. Taehyung hanya tak mau persahabatan mereka renggang karena wanita. Bukankah sangat menjijikan? Memperebutkan satu wanita dan mengorbankan persahabatan yang sudah terjalin lama.
"Aku tidak memintamu untuk menjauhinya, tapi jika kau menyayangi Jungkook pasti kau tahu apa yang harus kau lakukan."
Selepas mengatakan itu Taehyung langsung meninggalkan studio, bahkan meninggalkan kediaman Yoongi untuk menyusul Jungkook yang sudah pergi dari sana. Mereka datang berdua menggunakan mobilnya, jadi bisa di pastikan jika Jungkook masih berada di mobilnya. Atau mungkin pergi dengan berjalan kaki sebab disini jarang di lalui oleh taksi.
Yoongi menuruni tangga dan melihat ketiga temannya tengah berkumpul di depan jendela, menyadari suara langkah kaki ketiganya langsung menoleh dan memasang raut wajah yang berbeda-beda.
Ketiga pria itu bahkan tidak bisa menebak apa yang terjadi dengan Yoongi dan Taehyung di atas sana. Perkumpulan yang biasanya dipenuhi canda tawa kini malah berakhir sangat canggung.
Sementara Yoongi hanya menatap mereka dingin, dan berlalu tanpa mengatakan apapun. Pria itu menghampiri Ji-eun yang masih duduk di halaman belakang sendirian.
"Kau boleh pulang." Titah Yoongi.
Ji-eun tidak tahu harus mengatakan dan berbuat apa. Sepertinya kehadirannya di sini membawa masalah yang dia sendiri tidak tahu kenapa. Memang seharusnya dia melawan Yoongi dan mendekam di kamar saja sehingga kejadian ini mungkin tidak akan terjadi.
Yoongi melempar kunci mobilnya pada Ji-eun dan meminta gadis itu pulang dengan membawa mobilnya karena dia tidak akan mengantar.
"Jangan temui aku sebelum aku yang meminta, cepat pulang dan jangan kemana-mana." Ucap Yoongi.
Pria itu langsung meninggalkan Ji-eun, masuk kedalam rumahnya dan melewati ketiga orang yang berada di ruang makan. Tanpa di suruh pun mereka akan pulang, karena memang besok mereka harus meninggalkan Seoul.