Love or Obsession?

Love or Obsession?
Penghubung Masa Lalu



Hari ini adalah hari pertama Kim Seokjin terjun ke perusahaan, menggantikan posisi ayahnya yang pensiun. Dia akan menjadi CEO baru di RJ Corp yang berada di Gwacheon, kampung halamannya.


Karena ayahnya yang semakin tua dan juga dirinya yang sudah memasuki kepala tiga membuatnya harus mengambil alih perusahaan keluarga yang sebelumnya di kelola oleh ayahnya. Bisa saja ia meminta sang kakak untuk memimpin perusahaan namun pria itu lebih dulu memulai kerajaan bisnis sendiri ketimbang memegang perusahaan.


Alhasil dirinya lah yang harus berada di sini. Setelah melakukan perpisahan dengan teman-temannya, Seokjin langsung berangkat ke kampung halamannya. Hari ini adalah hari pertama dirinya datang ke perusahaan, tanpa pengenalan ataupun yang lainnya.


Perkenalan dan pengumuman tentang dirinya yang akan mengambil alih perusahaan sudah di atur oleh ayahnya. Karena Seokjin tidak suka menjadi pusat perhatian maka ayahnya melakukan perkenalan tanpa dihadiri olehnya, hanya sebuah foto saja yang menampilkan bagaimana rupa Seokjin agar para karyawan di sana mengetahui atasan baru mereka.


Hari pertamanya datang ke perusahaan disambut dengan kejadian buruk, dimana salah satu pegawai yang ayahnya pekerjakan kedapatan berperilaku buruk. Meski hanya pada calon karyawan tetap saja mereka harus menggunakan tata Krama karena mau bagaimanapun mereka adalah tamu.


Seokjin tidak ingin selama masa kepemimpinannya ada pegawai yang berperilaku buruk. Oleh sebab itu ketika mendapati hal tersebut ia langsung bertindak dan memberi sanksi pada pegawai yang bertugas sebagai resepsionis.


"Kau...?"


Aara menatap Seokjin polos ketika pria itu nampak terkejut. Dia sendiri tidak tahu kenapa, apa pria ini mengenalnya? Tapi dia tidak pernah melihatnya dimanapun. Apa mungkin pria ini pernah menjadi pelanggannya di restoran sehingga tak asing dengan mukanya.


"Ikut aku." Ucap Seokjin.


Aara mengangguk, meski ia tidak tahu akan di bawa kemana tapi dia tetap melangkah di belakang Seokjin. Mungkin saja pria itu adalah orang yang akan mewawancarainya? Pikir Aara.


Keduanya menaiki lift menuju lantai teratas di RJ Corp, Aara hampir di buat tak bisa bernapas ketika memasuki ruangan yang sangat luas.


"Duduklah." Titah Seokjin.


"Terimakasih."


Pria bermarga Kim itu melepas jas nya dan menggantungnya di stand hanger yang berada di sudut ruangan dekat meja kerjanya. Lalu ia mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya, menghadap gadis yang menurutnya tidak asing.


•••


"Jadi kau menikah dengan pria Gwacheon dan menetap di sini?" Tanya Seokjin pada gadis di depannya.


"I-iya Tuan."


"Tak perlu memanggilku Tuan, kau bahkan belum bekerja disini."


Aara menggigit bibirnya, merasa sungkan saja memanggil petinggi perusahaan dengan nama saja. Lagipula mereka tidak saling mengenal secara personal meski Seokjin mengatakan bahwa dia adalah teman dari Yoongi.


Ya, sebelumnya mereka sempat mengobrol karena Seokjin tampak mengenali Aara. Meski dulu melihat hanya melalui foto namun pria itu pasti tidak salah. Karena memang satu tanda yang membuatnya yakin jika itu adalah orang yang pernah dia lihat di lembar foto milik Yoongi.


Tahi lalat yang berada di pipi sang gadis membuatnya mengenalinya, meski tidak hanya Aara yang memilikinya namun pria itu tetap merasa yakin. Hingga saat dia menyinggung tentang Yoongi gadis itu langsung terkejut.


"Kenapa kau ingin bekerja? Maksudku, dimana suami mu?" Tanya Seokjin lagi.


"Dia berada di tempat yang indah setelah mempertahankan negara." Ucap Aara tersenyum seakan tengah mengingat mendiang suaminya.


"Maksudmu,... Ah, ya aku mengerti. Maaf membuatmu bersedih." Ucap Seokjin merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Aku kesini ingin melamar pekerjaan, apa masih ada lowongan untuk itu?" Tanya Aara mengingat tujuannya kemari.


"Sebenarnya itu bukan tugasku karena aku sama sekali tidak mengerti, tapi biar aku lihat dulu persyaratan yang kau bawa."


Aara menyerahkan berkas berisi dokumen tentang dirinya yang diperlukan sebagai persyaratan dan Seokjin menerimanya. Pria itu membacanya dengan teliti namun tetap saja dia tidak mengerti. Maksudnya, dengan pendidikan yang tertulis dia harus menempatkan Aara di posisi apa.


"Emm, begini. Apa kau bisa bekerja dengan baik jika aku menempatkan mu sebagai sekretaris ku?" Ucap Seokjin.


"Tapi, aku tidak berpendidikan tinggi."


"Tidak apa-apa, kau bisa mempelajari pekerjaan sekretaris. Aku juga kurang bisa beradaptasi dengan orang lain."


"Entahlah, mungkin karena kau adalah teman dekat Yoongi?"


Aara spechlees, antara merasa senang atau bingung. Di satu sisi, ia bersyukur karena pria di depannya mau memberikan pekerjaan dengan gaji yang lumayan sehingga ia bisa menghidupi dirinya dan Yoonji tanpa harus bersusah payah. Namun di sisi lain, apa nantinya tidak akan ada yang kecewa mengingat dia hanya lulusan menengah atas saja sementara yang melamar dengan lulusan sarjana pasti tidak sedikit.


Lagipun, dia takut mengecewakan Seokjin sebab dia tak pernah menjadi sekretaris sebelumnya. Apalagi ini adalah perusahaan besar dan tugas sekretaris pasti tidaklah mudah.


"Bagaimana?" Ulang Seokjin.


"Maaf, tapi bukankah sebaiknya aku di tempatkan di posisi yang semestinya? Sebagai office girl pun aku tak masalah."


Seokjin menghela nafasnya, dia tidak semata-mata meminta Aara untuk menjadi sekretaris nya. Mungkin saja ia bisa mengawasi gadis ini dan mengorek tentang informasi yang mungkin saja berhubungan dengan Yoongi. Meski dia juga setuju dengan hubungan pria itu dan Ji-eun, tapi bukankah harus memastikan jika gadis ini tak lagi muncul dan mengacaukan semuanya.


Apalagi Aara dalam keadaan yang sudah tidak terikat dengan suaminya. Siapa yang bisa menebak jika gadis itu tidak akan merecoki hidup Yoongi lagi mengingat gadis itu saja bisa meninggalkan adiknya dengan mudah.


"Begini saja, kau menjadi asisten ku dan kau juga bisa menjadi sekretaris kedua ku. Ini pilihan akhir, atau kau tidak bisa bekerja di sini." Ucap Seokjin sedikit mengancam.


"Tapi,--"


"Ya atau tidak?"


Tidak ada pilihan lain selain mengiyakan. Lagipula sepertinya ini memang rezekinya mendapatkan pekerjaan yang bisa menjamin hidupnya dan juga sang putri.


"Kalau begitu kau mulai bekerja besok."


"Terimakasih, Tuan. Saya permisi."


•••


Sudah beberapa hari ini Ji-eun tidak mendapatkan kabar dari Yoongi, mengingat perjanjian mereka yang menyatakan bahwa dirinya harus tinggal di rumah pria itu selama lima hari.


Meski Ji-eun merasa senang karena tidak bertemu dengan pria menyebalkan itu tapi tetap saja dirinya tidak bisa tenang. Terlebih saat malam kepergiannya meninggalkan masalah bagi Yoongi dan Jungkook.


Pun Jungkook yang tak pernah lagi mengiriminya pesan. Setiap hari Ji-eun pasti akan mendapat pesan dari Jungkook, entah sekedar menanyakan hal yang tidak penting seperti; sedang apa, dimana, dan hal random lainnya.


"Apa aku ke rumah produser saja? Tapi jika dia mengusirku bagaimana?"


Ji-eun benar-benar dilanda kebingungan, bahkan ia menuruti ucapan Yoongi untuk tidak bepergian keluar rumah. Sejujurnya dia merasa bosan namun entah kenapa ia tidak mau mengingkari ucapannya pada Yoongi.


"Baiklah, sepertinya aku akan kesana saja. Setidaknya ada alasan untuk datang."


Jika nanti Yoongi benar-benar tidak mengharapkan kedatangannya maka dirinya akan beralasan mengembalikan mobil. Karena hari itu dia memang pulang mengendarai mobil milik Yoongi, jadi sudah beberapa hari pula mobil pria itu berada di apartemennya.


Ji-eun berpikir bagaimana jika Yoongi hendak bepergian namun tidak ada kendaraan karena setahu gadis itu Yoongi hanya mempunyai satu mobil yaitu mobil yang ia bawa.


Setelah bersiap gadis itu menyambar kunci mobil di atas nakas lalu keluar dari kamar, Ji-eun terkejut ketika mendapati sang kakak di depan pintu kamarnya. Sepertinya Jong-hoon hendak mengetuk pintu karena tangannya masih mengudara.


"Kau mau kemana?" Tanya Jong-hoon.


"Ada urusan. Kau baru saja pulang?"


"Ya, maaf aku pergi terlalu lama."


"Tidak masalah. Ada sedikit kimchi di meja makan, tapi jika kau tidak mau di lemari juga ada ramen."


"Ya."


Ji-eun mengangguk dan berpamitan untuk pergi, untungnya gadis itu sempat memasukkan kunci mobil ke dalam saku Hoodie nya. Jika Jong-hoon melihatnya pasti pria itu akan bertanya hal yang macam-macam.