
“Sampai sini saja, Bin. Sekarang udah malam, keburu dimarahi sama nyokap lo nanti.”
“Santai …. Palingan kakak gila itu nanti yang akan ceramahin gue habis-habisan. Bokap dan Nyokap gue, mah, kalau denger nama kamu nggak bakalan marah. Yah, paling-paling, sih, cuma nanya, ‘Ngapain aja tadi kamu? Anak orang nggak kamu apa-apain, kan?’. Gitu.”
Ju tertawa kecil.
“Ya, sudah. Terima kasih banyak, ya, Bin, untuk hari ini.”
“Nggak usah berterima kasih segala, lah. Terus lain kali, jangan sungkan kalau mau minta apa-apa sama gue. Lain kali juga, kalau ada masalah, cerita selama lo tidak keberatan untuk berbagi masalah yang sedang lo perjuangkan untuk hadapi, termasuk ulangan harian besok.”
Tiba-tiba, Ju menepuk keras jidatnya.
“Mati gue … astaga! Gara-gara challenge coklat tadi sampai lupa belajar. Oke, oke, santai Ju. Besok ulangan Biologi, bukan Fisika.”
Binar tertawa-tawa sendiri seperti orang gila.
“Oke, lah. Kalau gitu gue pamit dulu, ya. Sampai jumpa di sekolah besok Ju.”
“Hati-hati di jalan, Bin!”
Sorot lampu motor Binar menerangi jalan di depan rumah Ju yang agak suram. Dengan satu lambaian tangan yang dibalas oleh Ju, Binar pergi menembus jalanan malam yang semakin sepi setiap menitnya.
Tangan Ju membuka kenop pintu rumahnya, masuk ke dalamnya, menutup pintunya kembali, kemudian menguncinya. Lampu ruang tamu yang sebelumnya bersinar terang kini padam oleh aliran listrik yang diputus oleh sakelar. Ju memasuki kamar mandi untuk mengganti semua setelan bajunya yang membuatnya gerah menjadi piyama. Sekarang, ia merasa lebih baik.
Saat Ju tengah menata rambutnya sebelum tidur, ia dikagetkan oleh sebuah notifikasi pesan dari ponselnya. Gadis itu meraihnya. Tangan kirinya menyibakkan seluruh poninya ke belakang sementara tangan yang lain digunakan untuk memegang ponsel. Ju kembali merasa harinya buruk ketika melihat pengirim pesan singkat tersebut.
“Dona … mau apa lagi, sih, dia?”
Sejenak, Ju merasa malas untuk menanggapi pesan itu. Namun, rasa penasaran Ju lebih besar dari hanya sekedar mengabaikan. Ia memutuskan untuk membuka dan membaca isi pesan itu terlebih dahulu.
[Eh, lo sudah nggak punya otak sama hati, ya? Tega-teganya lo nyakitin ibu gue dengan kata-kata kasar seperti itu. Nggak usah songong, deh, lo. Mentang-mentang anak kandung Papa. Awas aja, ya, lo. Kalau ketemu gue, gue akan pastikan lo mampus.]
“Hah? Mampus?” Ju tertawa sinis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Oh, iya. Kan, Dona belum tahu kalau gue ini preman di sekolah. Paling-paling … dia yang mampus kena hajar Gatot dan kawan-kawan.”
Ju berniat ingin membalas pesan dari saudari tirinya tersebut. Sejenak, ia berpikir. Sebenarnya, Ju tidak benar-benar ingin menggunakan kata kasar untuk menjawab pesan yang menjengkelkan tersebut. Tapi entah dari mana, sebuah dorongan untuk menjawab dengan kata kasar mulai menguasai pikiran Ju. Hingga akhirnya, gadis itu tidak dapat mengendalikan emosinya lagi.
[Bacot.]
Ju segera mematikan ponselnya dan meleparkannya begitu saja di sebelah bantalnya. Ia merebahkan dirinya di atas kasur dan menarik napas dalam-dalam. Langit-langit kamarnya tiba-tiba terasa memikat malam ini.
“Sejak kapan sarang laba-laba di sana menjadi begitu indah? Sejak kapan debu yang bergelantungan di sana menjadi lebih panjang? Dan sejak kapan …,” Ju mengulurkan tangannya ke atas lalu merentangkan jari-jarinya. “Sejak kapan sejak gue terakhir kali membersihkan rumah?”
Ju tersenyum. Ia memiringkan tubuh dan pikirannya mulai bergelayut ke mana-mana. Sebuah film seperti diputar di kepalanya, menampilkan seluruh detail kejadian hari ini. Ju merasa bersyukur. Meskipun kehidupan keluarganya tidak dapat disebut layak, ia masih memiliki banyak orang baik di sekelilingnya. Ia bersyukur masih bisa bernapas dan hidup normal hari ini.
Pak Harjo dengan kegalakannya yang dapat mengalihkannya dari kehidupan pahitnya, Binar yang selalu ada dan siap sedia di segala situasinya, Winda, Gatot, serta kawan-kawan satu geng yang membuat Ju paham apa arti pertemanan sesungguhnya, dan Juna. Lelaki polos yang baru ditemuinya hari ini, yang membuatnya menyadari seberapa pentingnya bersyukur di setiap hal kecil dalam kehidupannya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Ju merenungkan banyak hal. Tidak pernah sebelumnya ia merasakan hal seperti ini. Mungkin kehidupannya dulu yang serba mewah dan berkecukupan membuatnya buta akan banyak hal, sampai ia menyadari segalanya telah direnggut oleh satu orang. Hari itu juga, ia merasa hancur dan hampa. Namun dari kehampaan itu, Ju menjadi lebih memaknai kehidupan. Segalanya tidaklah abadi. Tidak ada yang perlu disombongkan. Karena sewaktu-waktu, segalanya dapat hilang maupun berubah begitu saja.
“Selamat malam, Mama, Binar …,” mata Ju benar-benar tertutup, “dan Juna.”
“Selamat malam juga, Ju,” jawab Binar sembari memandangi jendela kamarnya. Dan entah muncul dari mana, keyakinan akan Ju yang mengucap “selamat malam” padanya mengambang di permukaan. Binar tersenyum, dan mengambil posisi di atas tempat tidurnya. Ia berharap, tidak akan ada lagi hal buruk yang akan menimpa teman masa kecilnya itu.
“Dia sudah cukup menderita. Dia sudah banyak melewati hari-hari terberat dalam hidupnya. Dia tidak bersalah, tapi kenapa orang-orang memandangnya dengan tatapan yang seakan jijik dan mengintimidasi itu? Entahlah, mungkin memang bukan Ju yang salah, melainkan pemikiran orang-orang tersebut.”
Pada akhirnya, Binar tidak dapat tertidur karena terlalu banyak hal yang memenuhi isi kepalanya. Ia bangkit lalu menyambar gitar akustik yang ada di sudut kamarnya.
“Karena untukku … kamu lebih penting … dari egoku ….”
Binar mulai memainkan gitarnya sambil bernyanyi dengan suara pas-pasan, ditemani cahaya bulan dan gemerlap bintang malam. Lagu Mawar De Jongh yang berjudul “Lebih dari Egoku” menjadi pilihan untuk menumpahkan segala hal yang bahkan dia sendiri tidak tahu ia rasakan untuk siapa.
Lelaki itu tiba-tiba mengingat sesuatu—yang menurutnya—tidak penting. Mamanya pernah berkata, bahwa nama Binar diambil dari dua kata, bintang bersinar. Itu karena Binar lahir pada tengah malam yang cerah, saat gemerlap bintang bersinar dengan terangnya. Kebetulan, wanita yang menyandang titel “ibu” itu sangat menyukai pemandangan malam. Sekarang, kegemaran Mamanya melekat dalam diri lelaki itu. Tidak seperti kakaknya yang penikmat senja, Binar menyukai kegelapan malam dan segala sesuatu di dalamnya.
Binar membayangkan dirinya tengah berada di sebuah padang rumput dengan satu-satunya bulan sebagai penerangan. Di sana, ia tengah memainkan gitar dan bernyanyi. Hatinya terasa sangat damai, sampai sebuah teriakan menghancurkan segalanya.
“NYANYI TERUS, SUDAH TAHU MALAM JUGA!” seru kakaknya sambil menggedor pintu kamarnya.
“Kaget gue, woi! Biasa aja kenapa, sih?”
Tidak lama kemudian, terdengar bunyi senar putus yang sangat keras diikuti suara tawa menggelegar dari balik pintu kamar Binar.
“Rasain, tuh! Karma ngebangunin gue malam-malam. Dah, dah, gue mau tidur. Awas aja kalau lo nyanyi lagi dengan suara sumbang lo itu.”
“Sialan, lo, Der!”
Sambil tertawa jahat, Deren pergi meninggalkan adiknya yang terus-terusan menggerutu tidak karuan.
Binar menghela napas dan merebahkan dirinya di atas kasur. Kali ini, rasa kantuk mulai menguasai dirinya. Binar melirik jam dinding di atas pintu kamarnya. Sekarang masih pukul sebelas lewat lima belas, tapi kantuknya sudah tidak bisa ia kendalikan. Akhirnya, Binar memutuskan untuk bangkit dan pergi ke dapur, mencari sesuatu yang sekiranya dapat dimakan.
Kemudian, ia teringat telah menyimpan sereal bar di dalam kulkas. Segera saat membuka kulkas, ia merasa sangat terkejut dan kecewa. Sereal bar yang sudah disimpannya sebagai “makanan cadangan” hilang tergantikan oleh sebuah catatan kecil.
[Karena lo sudah merusak tidur gue, anggap saja ini sebagai kompensasi. Sekarang, kita sepadan :P]
“DEREN SIALAAAN …!”
“JANGAN TERIAK-TERIAK, BIN! MAMA INGIN TIDUR!”
___________________________________________
Support me with: like, comment, and vote if you like this novel. Please, leave an advice or criticsm below.
See me on Instagram: @dernatasw or @nataderaswa
Hope you enjoy it!