Loop

Loop
Tiga



Sendi-sendi kaki Ju terasa lemas. Tapi kakinya tetap saja berlari, seolah ada mesin yang menggerakannya. Suasana malam hari yang gelap menjadi satu-satunya teman Ju. Cahaya bulan yang menerobos masuk melalui celah pepohonan tidak banyak membantu. Entah bagaimana Ju dapat masuk ke dalam hutan belantara ini.


Ju terus berlari, tak tentu arah. Napasnya memburu. Sesekali ia melihat ke belakang, dengan harapan sosok itu berhenti mengikutinya.


“AAA!”


Teriakan Ju membelah kesunyian hutan. Ia ketakutan setengah mati mengetahui sosok mengerikan itu masih saja mengikutinya.


“Sial, sial, sial, sial! Kenapa gue bisa masuk ke dalam hutan ini, sih?! Gimana ceritanya?”


Kegelapan hutan membuat jarak pandang Ju semakin minim. Ia tidak melihat halang rintang yang ada di depannya. Ju menyandung batu besar hingga membuatnya terjungkal ke depan dan menggelinding tidak karuan. Kini, posisinya hanya beberapa meter dari mulut jurang gelap yang menganga.


Ju segera bangkit dan melupakan semuanya kesakitannya untuk kembali menoleh ke depan. Namun, makhluk itu seperti tidak ada lelahnya mengejar Ju. Dari semak belukar yang disinari cahaya bulan, sosok itu kembali muncul dan dengan perlahan mendekati Ju. Kaki Ju bergetar hebat. Ia tidak bisa bergerak.


“Jangan … gue mohon, jangan ….”


Seringaian seram terbentuk di wajahnya yang terlihat samar-samar. Sosok itu menerjang membuat Ju jatuh telentang.


“Pergi! Pergi dari sini! Menjauh dari gue, enyah lo! Pergi ke neraka sana!” teriak Ju sambil menahan gigitan makhluk mengerikan itu dengan satu lengannya. Kikikan keras memecah keheningan malam membuat Ju kembali berteriak. Lengan yang dipakainya untuk menahan makhluk itu kini hilang.


Tangan Ju mencengkeram mulut jurang untuk menahan rasa sakitnya. Ia menyempatkan diri menoleh ke jurang tak berdasar itu. sepertinya, Ju mulai putus asa dengan segala kemungkinan dan kesempatan untuk lolos. Jika untuk hidup saja Ju akan merasa sangat beruntung, apalah arti lolos dari kejaran makhluk itu.


Ah, sepertinya gue benar-benar akan berakhir di sini


Krak!


Suara retakan itu membuat Ju membulatkan mata. Tempat pijakannya tiba-tiba bergetar dan jatuh meluncur bersama dirinya ke dalam jurang tak berdasar itu.


Ju menjerit sambil gelagapan terbangun. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Ju memegang jidatnya dan berusaha mengatur napasnya. Jantungnya berdetak tanpa irama, mirip seperti gendang yang dimainkan anak kecil.


“Mimpi apaan, sih?”


Ju meraih ponselnya. Fokusnya langsung tertuju pada daya ponselnya. Penuh. Ju tersenyum bangga.


Saat Ju bangkit dan hendak bersiap-siap untuk berangkat sekolah, ia menyadari sesuatu yang janggal pada ponselnya. Ju segera menyambar ponselnya kembali. Sekali lagi, jantungnya berirama tidak jelas seperti detak jantung saat bertemu mantan.


“GUE TELAT!”


Ju melempar begitu saja ponselnya di atas kasur. Layar ponsel itu menampilkan waktu pada saat itu, 06.47 WIB.


Ju menyambar kunci dan tas yang tergantung. Tangannya berputar-putar untuk mengunci pintu rumahnya. Tapi karena panik, pintu itu tidak kunjung terkunci. Ju mendobrak pintu itu karena kesal, mengagetkan ibu-ibu yang lewat di depan rumahnya.


Ibu itu terus memandangi Ju yang mengumpat tidak jelas karena pintu tidak kunjung terkunci.


“Muda-muda gila,” gumam ibu itu kemudian beranjak pergi.


“Nah, akhirnya!” seru Ju setelah berhasil mengunci rumahnya. Dengan gerakan cepat, ia melempar kuncinya pada semak-semak di dekatnya dan berlari kencang menuju sekolahnya. “Sial! Masalah belum selesai sampai di sini.”


Jalan raya utama masih dalam keadaan cukup ramai. Bis-bis yang berlalu lalang, angkot kota yang penuh, dan kendaraan pribadi yang seakan tidak ada habisnya.


Seperti seekor elang sedang mengintai mangsanya, Ju menyapu pandangan ke sekeliling untuk mencari angkot kota yang kosong.


“Mashok! Bang, berhenti, Bang!” teriak Ju lantang.


“Copot! Sini, buruan naik! Kaget gue, Neng.”


Ju segera naik di kursi paling belakang, langganan tempatnya saat sedang naik angkot.


“Maaf, Bang. SMA 76, ya, Bang,” Ju melihat jalan di sekelilingnya. Dirinya tidak melihat satupun anak berseragam yang lewat. “Ngebut bisa, Bang? Saya udah telat soalnya.”


Namun, si Abang Angkot malah mencibir perkataan Ju.


“Lah, salah sendiri. Sudah tahu jam segini, malah baru berangkat. Anak zaman sekarang, mah, ke sekolah telat nyalahin yang nganter, padahal dianya sendiri yang bangun kesiangan. Bener-bener, ya, nyusahin aja!”


“Oh, kalau saya nyusahin Abang, saya turun aja gimana, Bang?” ancam Ju sambil menaikkan nada bicaranya.


“A-ah, ya … jangan, dong, Neng. Maaf, Abang, kan, cuma bercanda, jangan ditanggapi terlalu serius, ya. Jangan turun, ya, Neng,” Abang itu melirik Ju yang melipat lengannya di dada sambil membuang pandangan. “Oh, ya, Neng ini pasti anak teladan di sekolah, ya? Penampilan rapi begitu.”


Seketika, suasana hati Ju membaik.


“Nggak juga, Bang. Saya preman, lho. Abang tahu berita di koran minggu kemarin yang tentang tawuran antarpelajar itu? Saya pemimpin geng dari SMA 76. Beruntung anak buah saya, Bang, punya pemimpin macam saya. Semua anak buah saya lolos dari kejaran aparat keamanan yang turun tangan. Saya gitu, lho.” Ju terlihat bangga dengan perkataannya sendiri.


Kelihatannya, itu bukan sesuatu yang pantas untuk dibanggakan, batin si tukang angkot.


Sepuluh menit kemudian, angkot itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan luas bertuliskan “SMA 76” di gapuranya. Namun, gerbang masuk sekolah itu tertutup rapat-rapat, dengan seseorang berseragam satpam berdiri di balik gerbang itu. Ju yang masih berada di dalam angkot berusaha keras memutar otaknya untuk bisa melewati satpam galak itu.


“Ini, Bang, uangnya. Sama-sama,” ujar Ju sambil dengan cepat turun dari angkot dan menyeberang jalan mendadak, menyebabkan klakson berantai dari para pengguna jalan.


“Woi! Kalau jalan pakai mata, dong!”


“Di mana-mana, kalau jalan, mah, pakai kaki. Entar kalau pakai mata, buta, Bang!” seru Ju mengolok-olok pengendara mobil yang emosian.


Ju menggenggam erat besi gerbang, mengguncangnya beberapa kali, dan berhasil menarik perhatian satpam tersebut. Pria itu membalikkan badan, memberi Ju tatapan seram yang membuat bulu kuduk Ju berdiri.


“Pak, bukain, dong, Pak! Saya mau masuk, Pak. Saya juga mau menggunakan hak belajar saya seperti murid-murid yang lain, Pak,” ujar Ju berakting memelas.


“Ju lagi, Ju lagi,” satpam itu menghela napas. “Dengar, saya nggak akan kemakan akting yang telah kamu lakukan selama lebih dari dua ratus kali.”


Ju terhenyak. Ia terdiam mendengar jawaban satpam yang diluar dugaannya tersebut. Ju kembali memutar otak. Selama beberapa menit ia hanya diam tak berkutik di luar gerbang sekolah yang mengundang perhatian si satpam. Kemudian, sesuatu yang hebat melintas di kepala Ju.


“Ngapain kamu? Mau akting lagi? Nggak, nggak bakal bisa.”


“Siapa juga yang mau akting. Ya, sudahlah, Pak. Kalau nggak boleh masuk, saya mau pulang saja daripada seharian hanya berdiri di luar gerbang kayak orang pengangguran.”


“Ya, sudah, pulang sana. Kalau perlu, nggak usah balik sekalian, ya. Lumayan, beban saya jadi berkurang satu.”


Ju tersenyum licik.


“Enak, beban Bapak berkurang. Kalau saya malah bertambah, Pak.”


Si satpam membalikkan badan dan mengernyitkan dahi. “Bertambah? Bertambah gimana? Bukannya malah berkurang juga, ya. Kan, selama ini, sekolah merupakan beban terberat di hidup pelajar.”


Ju menggeleng. Ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi menyedihkan.


“Bagi saya, nggak, Pak. Sekolah merupakan tanggung jawab yang harus dijalani dan diselesaikan, Pak. Saya tahu, memang berat rasanya. Tapi lebih berat lagi jika kita putus sekolah, dan membawa beban impian orangtua. Kebetulan, orangtua saya sekarang sakit-sakitan yang bertambah parah setiap kali saya memikul beban berat dan ingin saya setidaknya lulus SMA sebelum mereka pergi. Jadi, jika Bapak mengusir saya, bukankah berarti secara tidak langsung Bapak membunuh orangtua saya? Saya … saya …,” Ju mengelap air mata yang keluar dari kedua sudut matanya. Sepertinya, hati satpam itu luluh mendengar penjelasan Ju.


“Ya, Tuhan,” Ju mendongakkan kepala mendengar pekikan lantang satpam tersebut. Ju terkejut ketika mendapati satpam itu menangis dengan ingus yang keluar dari kedua lubang hidungnya. “Ju, maafkan Bapak. Bapak tidak bermaksud begitu. Ayo, silakan masuk mumpung masih belum terlalu terlambat. Jangan mengecewakan orangtuamu. Ayo, sini masuk.”


Mata Ju berbinar-binar. “Be-benar boleh, Pak?”


Si satpam mengangguk.


“Terimakasih, Pak! Saya akan belajar bersungguh-sungguh sampai kecerdasan saya jauh melampaui Albert Einstein. Sekali lagi, terimakasih banyak, Pak!”


Si satpam mengangguk-angguk sambil melambaikan tangannya ke arah Ju yang mulai menjauh.


Di lorong, Ju tidak kuat menahan tawanya hingga akhirnya meledak dan ia jatuh berlutut di lantai. Perutnya terasa kaku sampai dirinya memukul-mukul lantai yang tidak bersalah itu.


“Untung gue ingat kalau satpam itu baperan. Lolos, deh. Lain kali, gue nggak boleh terlambat, atau gue akan benar-benar tidak diperbolehkan masuk ke sini lagi. Dan ngomong-ngomong, persetan dengan orangtua. Gue, kan, tinggal sendiri,” Ju melihat ke arah sebuah jam dinding di sebuah kelas yang masih belum dimasuki pengajar. Pukul 07.13. “Sebaiknya gue bergegas kalau nggak mau dibunuh sama Pak Harjo.”


Suara langkah kaki Ju terdengar jelas menggema di lorong. Hak sepatu pantofel Ju berdecit saat dirinya berbelok dan membuka pintu kelasnya secara mendadak. Seluruh penghuni kelas terlonjak kaget.


“Apa-apaan, sih, lo, Ju?”


“Bikin gue jantungan aja!”


“Sialan lo, Ju!”


Ju terjatuh lunglai di depan pintu. Ia terlalu lega mengetahui bahwa Pak Harjo belum masuk kelas. Binar dengan tawa khasnya yang indah berjalan menghampiri Ju yang duduk bersimpuh di ambang pintu. Ju memandang Binar dengan tatapan sadis.


“Kenapa hari ini lo nggak nyamperin gue?”


“Gue udah lakuin yang lo katakan. Tapi gue pikir, lo hari ini sedang dalam keadaan yang nggak baik. Jadi gue memilih berangkat sendirian.”


“Maksud lo?” tanya Ju sambil berdiri dan melipat lengannya di dada.


Binar menyandarkan tubuhnya di ambang pintu.


Pandangan Ju menerawang. Ia mengingat-ingat mimpinya pagi ini. Masuk ke hutan, dikejar setan, dimakan setan, dan jatuh ke dalam jurang. Ju ingat, kata-kata yang diucapkan Binar adalah kata-kata yang diteriakannya pada setan di mimpinya tadi.


Apa gue mengigau, ya?


“Kayaknya lo salah paham, deh. Ah, sudahlah. Mending kita duduk dulu, sakit kaki gue lari-lari ke sini tadi.”


Tidak lama setelah Ju menaruh tasnya, Pak Harjo masuk ke kelas dengan ekspresi senangnya. Hal itu membuat anak-anak bertanya-tanya.


“Tunggu, tunggu,” ujar Binar tiba-tiba. “Biasanya kalau Pak Harjo pasang ekspresi kayak gitu, ada dua kemungkinan. Pertama, ada kabar baik di kelas kita. Dan kedua, sekolah kita pulang lebih awal—”


“Atau keduanya!” seru Ju memotong perkataan Binar. “Kalau memang keduanya, ya, baguslah. Gue bisa main playstation sampai ketiduran kayak kemarin.”


“Jadi lo telat gara-gara kemaleman tidur karena main PS?”


Ju menyeringai lebar.


Binar menaikkan sebelah ujung mulutnya.


“Anak-anak, mohon perhatian sebentar!” ujar Pak Harjo lantang yang membuat seisi kelas terdiam seketika. “Hari ini Bapak ada berita gembira untuk kelas kita. Kalian pasti sudah dengar rumor anak pindahan itu, kan? Yap, seperti yang kalian duga. Dia akan masuk kelas kita.”


Segera, seisi kelas riuh dengan tepukan tangan dan sorak-sorai. Ju dan Binar saling berpandangan dan melempar senyum.


“Semuanya, harap tenang! Tunggu beberapa menit, Bapak akan bawa anak itu kemari. Ingat, jangan membuat kerusuhan, atau ….” Pak Harjo mengeluarkan ibu jarinya, mengarahkannya ke leher, dan menggerakkannya horizontal. Seisi kelas menelan ludah.


“Bro,” celetuk Ju kepada Binar yang memutar-mutar pensil di antara jari-jarinya.


“Hmmm?”


“Entah kenapa gue punya perasaan anak itu bakal mengenali gue dalam sekali lihat.”


Binar berhenti memutar-mutar pensil. Dengan gerakan dramatis, ia memutar kepala ke arah Ju yang terkejut.


“Jadi anak baru itu cenayang?”


Ju mengeraskan rahangnya.


“Sebenarnya gara-gara lo, tuh! Kemarin setelah lo njatuhin donat gue, lo lari gitu aja kayak orang kerasukan tanpa tanggung jawab. Dan saat gue ngikutin gerakan membelok lo yang menurut gue keren itu, gue nabrak seseorang, tapi gue nggak lihat siapa lalu langsung minta maaf dan pergi begitu saja. Waktu gue toleh lagi, anak yang gue tabrak itu udah dikerumuni banyak orang. Sorenya, gue cerita ke Winda. Ternyata anak baru itu yang gue tabrak.”


Di luar ekspetasi Ju, Binar malah cekikikan yang membuat Ju merengut.


“Kenapa lo tertawa di atas kesalahan lo sendiri?”


“Nggak, bukan itu. Gue tertawa karena membayangkan masa depan anak baru itu yang akan dipenuhi kesialan. Kenapa? Karena—bahkan dia belum menjadi siswa resmi—dia ditabrak oleh pembawa sial yang duduk di sebelah gue ini. Gue benar, kan, Ju? Lo, kan, selalu sial begitu.”


Ju mengepal tangan kanannya kemudian merenggut kerah seragam Binar yang masih tertawa-tawa tidak jelas.


“Binar Anggara, jangan mencoba menguji kesabaran gue atau—”


“Atau apa, Ju?” potong seseorang dari depan kelas.


Ju menoleh dengan cepat. Ia mendapati Pak Harjo berkacak pinggang memandang seram dirinya yang sedang mencengkeram kerah seragam Binar. Segera, Ju melepaskan cengkeramannya dan kembali duduk di bangkunya.


“Pak, saya bisa jelaskan ….”


“Tidak ada yang perlu dijelaskan. Bapak sedang malas berdebat denganmu, Ju. Jadi, tolong kali ini kamu mengikuti alur yang Bapak buat saja, ya. Kita anggap hal yang barusan tidak pernah terjadi,” Pak Harjo membenarkan letak kacamatanya. “Anak-anak, Bapak akan mengenalkan seorang teman baru untuk kalian. Nak, silakan masuk, tidak perlu malu.”


Jantung seisi kelas berdebar hebat. Seluruh pasang mata tertuju ke arah pintu. Sebuah langkah kaki menginjak keset di ambang pintu kelas. Pekikan dan teriakan genit riuh terdengar dari mulut-mulut perempuan. Lelaki itu mengangkat kepala dan terpampanglah wajahnya yang tampan. Rambutnya yang hitam berkilau oleh cahaya matahari yang masuk melalui jendela.


“Perkenalkan, nama saya Arjuna Hardinata biasa dipanggil Juna. Saya pindahan dari SMA Pierre Tandean.”


Huh? SMA Pierre Tandean? SMA favorit itu? batin Ju bertanya-tanya.


“Saya harap, kita bisa berteman baik.”


Pak Harjo menepuk pundak lelaki itu.


“Saya harap juga, kalian bisa berteman baik seperti yang Nak Juna tadi katakan. Tidak akan ada dan tidak pernah ada yang namanya pem-bully-an, kubu-kubuan, atau rasisme. Paham kalian?”


“Paham, Pak!”


“Bagus. Kamu, silakan duduk di sebelah Binar,” ujar Pak Harjo sambil menunjuk bangku Ju.


Ju bagai tersambar petir di siang bolong. Gadis itu langsung berdiri untuk menyatakan protes ketidaksetujuannya.


“Lho, Pak! Kenapa harus saya?’


“Ju, tenanglah. Sudah Bapak bilang, Bapak sedang malas berdebat denganmu, jadi ikuti saja alur Bapak. Sana, pindah di pojok belakang!”


“Kenapa tidak dia saja yang duduk di bangku itu, Pak? Kenapa harus memindah saya?”


“Karena Bapak pikir, jika dia duduk di bangkumu, dia akan lebih mudah bersosialisasi dengan anak-anak lainnya. Ju, tolong, jangan buat Bapak berdebat denganmu lagi,” ujar Pak Harjo saat Ju kembali membuka mulut. “Tolong beri keadilan untuknya.”


“Keadilan?” Ju tertawa sinis. “Di mana keadilan untuk saya, Pak?!”


“Ju, Bapak mohon turunkan nada bicaramu, tidak sopan.”


“Bagaimana saya bisa bersikap sopan ketika seseorang bersikap tidak sopan pada saya?” Ju dengan jengkel menumpuk semua barang yang ada di mejanya sambil sesekali membantingnya keras. “Saya—”


“Biar saya saja yang pindah, Pak!” seru Binar memotong perkataan Ju untuk kesekian kalinya.


Seluruh sorot mata tertuju matanya. Pak Harjo dengan wajah datar kembali membenarkan letak kacamatanya.


“Binar, saya tidak ….”


“Bin, gue nggak bermaksud ….”


“Tidak apa-apa, Pak. Kalau saya yang pindah, akan adil bagi Ju dan … Juna, kan? Tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Masalah selesai,” ujar Binar sambil tersenyum ke arah Ju, Juna, dan Pak Harjo. Dalam tatapannya, muncul banyak ketulusan. Ju yang merasa tidak enak hati hanya mampu untuk diam seribu bahasa. Ia kembali duduk tanpa berkata apapun dan memandang siapapun, sementara Juna yang tidak tahu apa-apa segera mendudukkan diri juga di tempat yang telah Binar korbankan untuknya.


“Baik, jika tidak ada masalah lagi, saya akan lanjutkan kegiatan pembelajarannya. Untuk materi terakhir yang saya sampaikan, maka bisa diperoleh ….”


Dering bel melolong panjang. Ju memandangi punggung satu persatu anak yang keluar kelas untuk membelanjakan uang mereka dengan aneka makanan yang ditawarkan di kantin. Setelah satu helaan napas berat, Ju membenamkan kepalanya di atas meja. Ia pejamkan matanya dalam-dalam karena merasa bersalah sekaligus malu karena mendebat Binar atau Pak Harjo, atau keduanya.


“Ju bodoh, Ju dungu, Ju otak udang,” umpatnya pada diri sendiri sambil mengetuk-ngetukkan ujung jari telunjuknya pada meja.


“Ju gila,” timpal seseorang tiba-tiba. Ju mendongakkan kepala dan seketika memasang wajah sengit kepada seseorang yang mengatainya tadi. “Iya, Ju gila. Gue nggak salah, kan? Mengumpat dan bicara pada diri sendiri, sudah gejala umum.”


“Bin, gue tahu lo itu waras, banget. Tapi nggak usah ngata-ngatain orang, bisa? Jangan buat gue membenci orang yang gue sayang. Nope, jangan salah paham.”


Binar tertawa renyah.


“Kayaknya gue habis lulus SMA mau daftar ke BMKG aja, deh. Perkiraan gue tentang kata-kata dan reaksi lo 100% tepat. Nggak, bercanda, doang. Nih,” Binar menyodorkan sebuah donat beralaskan kertas roti. “Gue tahu, makanan yang satu ini bisa buat lo ceria lagi.”


“Apa ini?”


“Sudah jelas donat masih tanya. Lo ini **** apa gimana, sih?”


“Gue memang ****, kok, Bin. Bisa-bisanya gue mendebat Pak Harjo sekasar itu. Jangan-jangan hati gue hilang dijual di pasar gelap,” Ju tertawa kecut dan menerima pemberian Binar. “Makasih, Bin. Gue jadi nggak enak sama lo.”


“Lha, kan, lo memang nggak enak. Coba, sini gue makan. Paling rasanya asin keasem-aseman karena keringat gitu.”


Ju kembali memasang wajah jijik.


“Memangnya lo pernah jilat keringat?”


Binar mengangguk dan tersenyum jahil ke arah Ju.


“Binar joroook!”


___________________________________________


Support me with: like, comment, and vote if you like this novel. Please, leave an advice or criticsm below.


See me on Instagram: @dernatasw or @nataderaswa


Hope you enjoy it!