
Binar menggiring kedua temannya ke sebuah kedai coklat. Ju mengerutkan kedua alisnya sementara Juna hanya tertawa riang untuk menghilangkan kesan canggung.
“Er … kita mau apa?” tanya Ju terlihat skeptis.
“Diam dan ikutilah!” seru Binar kembali sambil menggeret mereka ke sebuah bangku di pojokan kedai. Binar menunjuk sebuah papan berukuran sedang yang tergantung dan terletak tepat di sebelah daftar menu. Ju dan Juna memicingkan mata.
“‘Ikutilah tantangan kami dan menangkan hadiah besar! Berlaku sampai akhir bulan ini.’” ucap Juna membaca kalimat pada papan itu. “Hmmm, kedengarannya boleh juga.”
“Wah, kelihatannya bagus, tuh!” timpal Ju. “Tapi apa tantangannya? Nggak sampai bertaruh dengan nyawa, kan?”
“Oh, ayolah, Ju! Positiflah sedikit, jangan membuatku, hahaha ….” Binar tertawa geli bahkan sebelum sempat menyelesaikan perkataannya. Alhasil, ketiga orang tersebut tertawa terbahak-bahak hingga mengundang perhatian seluruh penjuru kafe.
“Tantangannya …,” Binar berkata terputus-putus karena masih geli dengan perkataan Ju tadi. “Kita harus makan satu sendok makan penuh coklat bubuk dari kafe ini dan menahannya di mulut selama lima menit. Kemudian, setelah lima menit berlalu, kita tidak boleh minum air, makan, atau apa pun selama lima menit juga. Jadi, total waktu kita melaksanakan challenge ini adalah sepuluh menit. Gimana, mau coba? Hadiah utamanya, voucher sebesar 250 ribu untuk bebas makan dan pilih menu apa saja di kafe ini.”
“Kok, lo … tahu semua itu dari mana?” tanya Ju penasaran.
“Tanya Mbak-Mbak yang ada di sana.” Binar menunjuk seorang pelayan yang berada di ujung kafe. Tidak lama kemudian, pelayan itu datang menghampiri mereka.
“Gimana, Mas? Jadi ikut tantangannya?”
Binar melirik ke arah kedua temannya dan mengangkat kedua alisnya. Ju dan Juna saling melirik hingga akhirnya mereka berdua ikut mengangguk. Binar tersenyum lebar mengetahui jawaban kedua temannya.
“Sebentar, saya ambilkan, ya,” ucap pelayan itu ramah lalu pergi.
“Memangnya seberapa pahit bubuk coklat di kafe ini sampai mengadakan tantangan semacam itu segala?” tanya Ju dengan nada sedikit meremehkan.
Binar menggebrak meja, mendekatkan wajah ke arah kedua temannya, dan menatap tajam matanya. “Jangan pernah meremehkan kehebatan bubuk coklat di kafe ini. Sekali kalian memasukkannya ke dalam mulut, rasa pahitnya tidak akan hilang, bahkan bisa bertahan sampai seminggu bagi orang lemah.”
Ju menelan ludah. Ia lalu melirik ke arah Juna yang berwajah tegang. Kemudian, ia tertawa karena merasa konyol dengan ekspresi yang dipasang Juna.
“Eh, lo ngapain masang muka kayak mau perang begitu?” tanya Ju sembari tertawa dan meninju pelan lengan Juna. Segera, sebuah fakta bahwa Juna sensitif terhadap sesuatu yang mengejutkan terungkap. Ia berteriak begitu Ju meninju pelan lengannya karena ia sedang melamun.
“AAA … AI WANT SOMETHING JUST LIKE THIS!”
Ju, Binar, dan beberapa orang di dalam kafe menatap Juna yang salah tingkah dengan reaksinya barusan. Tidak lama kemudian, suara tawa pecah menggelegar di dalam kafe. Juna meringis dan menggaruk pipnya yang tidak gatal.
“Apa-apaan reaksi lo itu? Aduh … aduh … astaga, perutku kram, tolong!” Binar tertawa kencang sambil memegangi perutnya yang terasa kaku. “Jun, ternyata lo orangnya asyik juga, ya. Maaf, nih, sebelumnya. Gue nggak nyangka kalau orang sepertimu bisa seru begini. Jangan tersinggung, oke?”
Hanya suara tawa yang keluar dari mulut Juna.
“Sekarang, gue tahu kelemahan lo,” ujar Ju sok dramatis sambil menyilangkan kedua lengannya di dada dan mengangkat kepalanya.
“Ini, Mas, silakan. Nama saya Dina, saya sebagai time-keeper di sini. Saya harap, semuanya bisa melakukan tantangan secara sportif baik dari peserta maupun panitia,” terang pelayan tersebut seolah-olah sudah sangat profesional dalam membawakan acara. “Baik, saya akan bacakan peraturannya. Pertama, peserta wajib menandatangani berkas pertanggungjawaban dari pihak kafe. Kedua, peserta boleh bekerja sama namun harus tetap sportif. Ketiga, alat dan bahan untuk tantangan semuanya harus dari kafe ini. Keempat, peserta yang sudah pernah mengikuti tantangan ini dan menang, dilarang kembali berpartisipasi. Ada pertanyaan?”
Ketiga orang itu menggeleng pelan.
“Jika tidak ada, saya akan lanjut ke bagian teknis pelaksanaan. Pertama, peserta harus memasukkan semua bubuk coklat yang telah disediakan ke dalam mulut tanpa menyemburkan maupun menyisakannya sedikit pun. Kedua, lima belas menit sebelum pelaksanaan tantangan, peserta tidak diperkenankan memakan atau meminum apa pun. Teman-teman tadi nggak makan atau minum, kan?” tanya pelayan tersebut yang disambut anggukan pelan dari ketiga sahabat itu. “Bagus. Yang terakhir, peserta harus menahan bubuk coklat di dalam mulut selama lima menit. Kemudian jika lima menit sudah berlalu, peserta harus menelan bubuk coklat. Setelah menelan bubuk coklat, peserta tidak boleh meminum atau memakan apa pun selama lima menit ke depan. Jadi, total pelaksanaan tantangan ini adalah sepuluh menit sejak teman-teman memasukkan bubuk coklat itu ke dalam mulut. Jika peserta gagal memenuhi teknis pelaksanaan yang pertama, maka dianggap gugur. Bagaimana? Ada pertanyaan? Bisa dimulai sekarang?”
“Bisa, bisa. Aduh, nggak sabar, nih. Kemarin, kakak gue ikut tantangan ini dan gagal. Gue mau tahu, seberapa sulit sebenarnya tantangan ini. Oke ….” Binar menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Ju dan Juna melihatnya sambil terkekeh.
“Baik, kalau begitu, silakan!”
“Satu …,” Binar memberi aba-aba kepada ketiga temannya sembari mengangkat sendok dan satu tangan lainnya untuk membentuk angka. “Dua … tiga!”
Ketiga orang itu langsung memasukkan bubuk coklat ke dalam mulut mereka. Seketika, Juna terbatuk hebat dan menyemburkan coklat. Dia dianggap gagal menyelesaikan tantangan sementara Ju dan Binar masih bertahan.
“Buset, pahit bener!” serapahnya sambil meminum air yang disediakan oleh pelayan tadi. Ia hanya mampu melongo melihat kedua temannya yang tahan menghadapi kepahitan bubuk coklat yang setara dengan kehidupan.
“Ayo, ayo, ayo!”
Hampir seluruh orang di kafe memandang ke arah mereka sambil bersorak-sorai. Sesekali, Binar memukulkan tangannya di atas meja karena tidak tahan dengan rasa pahit bubuk coklat itu. lima menit berlalu. Mereka berdua mulai menelan bubuk coklat itu dengan susah payah. Sesnsasi pahit menjalar ke seluruh penjuru mulut mereka, bahkan semakin parah. Juna ikut memberikan semangat kepada mereka.
“Ayo, wuhu! Kalian pasti bisa!”
Tiga menit berlalu, itu berarti dua menit lagi tantangan mereka akan segera selesai. Teriakan penonton makin riuh. Juna yang merasa bersemangat bertepuk tangan seperti anak sekolah dasar. Tidak berapa lama, Binar terbatuk hebat dan segera menyambar segelas air yang berada di depannya. Seluruh orang di sana terkejut, tidak terkecuali Ju.
“Hin! Ho ngahahain?!” pekik Ju yang terhambat karena tidak diperkenankan membuka mulutnya.
“Satu menit lagi!”
Binar meneguk airnya, lalu melambaikan telapak tangannya ke arah Ju. “Gue nggak kuat, Ju. Maaf, gue ngecewain lo dan Juna.”
“Hahi, kang, kukhang hedhikhit hagi!”
“Gue tahu, Ju. Gue memang pengecut.”
“Tiga puluh detik lagi!”
“Juna benar, Ju. Karena itu …,” Binar menepuk pundak Ju dan menatap sepasang bola mata coklatnya dalam-dalam. “Jangan menyerah sekarang. Hanya lo satu-satunya yang dapat bertahan, hanya lo satu-satunya harapan kita sekarang. Jika lo menyerah sekarang, maka perjuangan gue, Juna, dan lo akan sia-sia.”
“Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh ….”
“Hin ….”
“Gue tahu, Ju. Gue tahu.”
“Empat, tiga, dua, satu! Selesai!”
Ju segera menyambar segelas air di hadapannya dan menghabiskannya dalam beberapa teguk saja. Ia mengempaskan gelas plastik itu di atas meja keras-keras seolah-olah baru saja meminum segelas penuh bir.
“Lo ngomong kayak gitu bikin gue eneg, sumpah. Lo berkata seolah-olah ‘apa’ gitu padahal lo sendiri menyerah. Nggak, bukan bermaksud apa-apa dan no offense! Gue cuma aneh aja ngedenger kata-kata itu keluar dari mulut lo, itu saja.”
“Selamat! Mbak adalah orang ke-47 yang berhasil menyelesaikan tantangan ini!” seru pelayan itu sambil memberikan papan kecil yang bertuliskan “Congratulations! You’ve passed the challenge!”.
“Eh, jadi bukan yang pertama?”
“Jadi, Mbak berhak mendapatkan voucher sebesar 250 ribu yang berlaku mulai hari ini, tanggal 23, sampai tanggal 23 bulan depan. Terima kasih sudah ikut berpartisipasi dalam tantangan ini. Saya Dina selaku perwakilan dari seluruh pelayan yang ada di kafe ini pamit undur diri. Selamat menikmati!”
“Terima kasih, Mbak.”
Pelayan itu hanya melambaikan tangannya ke arah Ju.
“Hore …! Gue dapat voucher!” seru Ju berniat pamer kepada kedua temannya. Ju melirik Binar dengan jahat. Ia lalu mengarahkan papan kecil itu ke wajah Binar sambil berteriak, “Gue dapat voucher!”
“Diam!”
Seketika, Ju cemberut. Ia kemudian melirik ke arah Juna yang takut-takut.
“Gue dapat voucher …,” ujarnya sambil tetap mengangkat papan itu. Juna hanya tertawa kecil.
“K-kita pulang, yuk. Sudah malam soalnya.”
Ju dan Binar melirik ke arah jam dinding kafe. Keduanya terkejut bukan main.
“Sudah jam sepuluh?!”
“Gue balik duluan, ya. Makasih banyak untuk hari ini.”
“Sebelum lo pulang, bentar-bentar,” Binar menjabat tangan Juna. “Welcome to the team, bro. Nggak ada acara pakai sungkan lagi mulai sekarang.”
“Oke, selamat bergabung, Jun,” ujar Ju sambil tersenyum.
“Terima kasih. Gue balik duluan, ya!” seru Juna sambil berlalu dan melambaikan tangannya ke arah Ju dan Binar.
“Hati-hati di jalan, ya!” balas Ju dan Binar.
Mereka berdua berjalan menuju area parkir. Ju mengambil helm dan memakainya, sementara Binar sedang mengeluarkan motornya dari jajaran sepeda motor lain yang ada. Setelah menyalakan motornya, Ju menaiki bagian belakang sepeda motor dan mereka berdua menembus jalanan malam yang penuh warna-warni.
“Bin.”
“Ha?” balas Binar yang suaranya tertelan angin.
“Gue boleh … peluk lo?”
“E-eh? K-kenapa tiba-tiba?”
Ju hanya terdiam. Kemudian, dia menjawab, “Nggak apa-apa. Gue cuma ingin meluk sesuatu malam ini. Boleh … kan?”
Mereka berdua terdiam. Entah kenapa, suasana tiba-tiba menjadi canggung.
“Bo-boleh.”
Tanpa menunggu lama, Ju segera melingkarkan tangannya di sekitar pinggang dan perut Binar. Tanpa diketahui oleh Ju, wajah di balik helm Binar memerah. Malam ini, angin terasa dingin menusuk tulang. Tapi entah kenapa, mereka berdua malah merasa malam ini udara begitu hangat.
___________________________________________
Support me with: like, comment, and vote if you like this novel. Please, leave an advice or criticsm below.
See me on Instagram: @dernatasw or @nataderaswa
Hope you enjoy it!