Loop

Loop
Dua



Ju menatap kosong jendela kelas yang berada di sampingnya dengan bertopang dagu.. Taman sekolah bermandikan cahaya pagi matahari memberikan kesan tersendiri bagi Ju. Ia tidak ingin sedetikpun dilewatkannya untuk memandangi tumbuh-tumbuhan di luar sana. Seberkas senyum Ju muncul.


“Yo. Tumben datang pagi,” sapa seseorang tiba-tiba membuat Ju menoleh. Didapatinya Binar berdiri di ambang pintu sambil memasang ekspresi aneh.


“‘Yo’? Apa-apaan, tuh, ekspresi?”


Binar tertawa dan mendudukkan diri di samping Ju.


“Nggak boleh, ya? Senyum dikatain, nggak senyum dimarahin.”


“Jadi itu tadi senyum?” tanya Ju sembari melepas topangan dagunya. Gadis itu berdiri dan menyambar sebuah spidol papan tulis. Binar menatap dengan geli Ju yang sedang menggambar beberapa stickman di papan itu.


“Lo ngapain, sih?”


“Gini,” ujar Ju setelah menyelesaikan gambarannya. “Smile is important, but sometimes, it could be creepy. Nah, jadi gini, Binar gue yang paling tampan. Senyum itu ada tekniknya, nggak boleh asal senyum. Kalau nggak, ya bakal jadi kayak lo tadi. Nggak masalah, sih, kalau senyum sama gue atau anak seumuran kita. Tapi kalau anak kecil sampai lihat, bukan nggak mungkin dia akan kebayang-bayang sampai tujuh turunan.”


Binar tertawa kecil mendengar penjelasan Ju. Lelaki itu hanya tersenyum saat mendengar penjelasan Ju tentang “Tata Cara dan Seni untuk Tersenyum”. Fokus Binar hanya berpusat pada Ju, seolah hal di sekelilingnya sirna begitu saja.


“Kira-kira hanya itu, paham Bin?” tanya Ju sambil mempraktikkan manners senyuman yang diajarkannya. Entah kenapa, tiba-tiba wajah Binar memerah.


“Pa-paham.”


“Hmmm, begitu, ya. Oh, ya, satu lagi. Setelah kita mencoba memperagakannya pada orang terdekat kita, maka kita akan—”


Penjelasan Ju terpotong mendengar suara pintu kelas yang terbuka. Secara bersamaan, Ju dan Binar melayangkan pandangan ke arah pintu kelas. Mereka mendapati seorang anak laki-laki jangkung setinggi Binar berdiri dengan tatapan canggung. Lelaki itu tampak asing di mata Ju dan Binar.


“Kamu … siapa?” tanya Ju sambil melipat lengannya di dada.


“O-oh, maaf. Permisi.” Setelah mengucapkan itu, anak itu pergi begitu saja. Ju dan Binar saling berpandangan.


“Apaan coba? Setelah buka pintu lalu tiba-tiba pergi gitu aja, nggak jelas banget.”


Binar tertawa. “Lanjutkan pelajaranmu tadi.”


“Ah, iya.”


Ju menjelaskan panjang lebar, hingga satu persatu bangku di kelas itu mulai terisi. Bel berbunyi keras membuat Ju menghentikan penjelasannya. Ia menaruh kembali spidol pada meja guru tepat satu menit sebelum Pak Harjo masuk membawa setumpuk kertas tebal. Ju hanya mampu menahan napas.


“Anak-anak,” Pak Harjo membenarkan letak kacamatanya, “hari ini—”


“Pak, tolong jangan ulangan, Pak! Saya nggak kuat!” teriak Ju memotong pembicaraan Pak Harjo yang membuat seluruh pasang mata mengarah kepadanya.


“Ju, sebentar. Hari ini—”


“Pak, jangan dilanjutkan! Ah, telinga saya berdarah!”


“Ju, bapak nggak pernah bilang kalau kita akan ulangan, tolong diamlah, jangan memotong pembicaraan bapak terus!”


Aduh, Pak Harjo marah, batin Ju.


“Ma-maaf, Pak.”


“Baik, Bapak lanjutkan. Hari ini Bapak tidak bisa mengajar, karena sebentar lagi Bapak akan ada satu atau dua urusan dan kemungkinan besar baru akan selesai pada sore nanti, maka Bapak minta kerja sama kalian. Bapak akan beri tugas tentang materi persamaan kuadrat kemarin, dikumpulkan, ya. Selama tidak ada Bapak, mohon jaga ketenangan kelas dan jangan berkeliaran ke mana-mana. Ketua kelas, setelah ini tolong kertas dibagikan. Ada pertanyaan? Kalau tidak ada, sekian dari Bapak, selamat pagi.”


“Sebentar, Pak!” seru Ju sambil mengacungkan tangannya ke udara. “Untuk kelas tambahan nanti, libur, tetap berjalan, apa bagaimana, Pak?”


Pak Harjo mengelus dagu dan menyipitkan matanya. “Karena suasana hati Bapak sedang baik, libur saja. Jangan buat saya berubah pikiran, oke? Sekian, selamat pagi.”


“Pagi, Pak!” jawab anak-anak kompak dan keras.


Binar tiba-tiba berdiri dari duduknya yang membuat rasa penasaran Ju terpancing.


“Mau ke mana?”


“Membagi tugas. Wah, jangan-jangan lo lupa kalau gue ketua kelas?”


Ju pura-pura berpikir keras. “Apa iya?”


Mereka berdua akhirnya tertawa.


Dua jam berlalu. Semua tugas yang selesai telah terkumpul di meja, kecuali satu nama, Litha Juwitaningrat. Gadis itu tampak kehabisan tenaga mengerjakan soal berjumlah empat puluh butir tersebut. Binar dengan senyuman menghampirinya.


“Lo kenapa, dah? Muka, kok, ditekuk kayak mahasiswa akhir bulan.”


“Bro, rasanya nyawa gue di ambang kematian. Lo mending ngasih gue hukuman lompat kodok sepuluh kilo daripada ngerjain soal berjumlah sepuluh. Hangus otak gue, Bin.”


Binar tertawa.


“Lebay lo. Sini gue bantu,” tawar Binar sambil menggeret kursinya ke samping bangku Ju. “Yang mana, bro? Oh, ini. Nah, jadi karena si -10 di ruas kanan, jika kita pindah ke ruas kiri, maka akan jadi positif. Tinggal ditambah, deh. Setelah disubtitusikan, maka hasilnya bisa langsung dikali dengan ….”


Ju memperhatikan dengan saksama segala hal yang Binar terangkan. Meskipun sedikit, Ju mulai paham dengan materi yang disampaikan Binar. Sesekali, Ju mencuri pandang ke arah Binar yang sedang mendengarkan. Namun sepertinya, kesialannya kemarin masih mengikutinya hingga hari ini. Binar memergoki Ju yang sedang mencuri pandang ke arahnya.


“Oi, diterangin malah fokus ke hal lain. Ngelihatin apaan, sih, lo? Apa ada serbuk spidol yang nempel di pipi gue?”


Ju menggeleng gugup. “Ng-nggak, nggak ada apa-apa. Lanjutkan saja.”


Bel istirahat berbunyi bersamaan dengan selesainya tugas Ju. Ia meregangkan otot lalu menyambar kertas tugasnya dan mengumpulkannya bersama kertas-kertas lain.


“Makasih, Bin. Lo memang teman gue yang paling baik.”


“Biasa aja, lah. Kalau lo memang nganggep gue teman, nggak perlu berterimakasih atau meminta maaf, nggak usah tanya kenapa!” sekali lagi, Ju menutup kembali mulutnya yang terbuka. “Waduh, perut gue keroncongan. Mau ke Mbak Jinar? Katanya dia punya menu baru, mie ayam mangkuk pangsit, mau coba?”


Ju terdiam dan menunduk.


“Kayaknya … nggak dulu, deh, Bin,” jawab Ju lirih yang membuat Binar menyatukan alisnya.


“Kenapa? Sakit lo? Kalau sakit, gue antar ke UKS.”


Ju menggeleng pelan. “Nggak, nggak sakit. Ya … cuma memang lagi nggak mau aja. Kalau lo mau ke sana, silakan, Bin. Gue absen dulu.”


“Lo kenapa, sih? Ada masalah? Jujur, cerita sama gue.” Binar kembali meggeret kursinya kembali ke sebelah bangku Ju.


“Ada, Bin.”


“Silakan.”


“Gue …,” satu kata meluncur dari mulut Ju, membuat Binar memperhatikan dan mendengarkan gadis itu dengan seksama. “Gue … gue kemarin belum bayar utang Mbak Jinar, Bin. Makanya gue cabut dulu, takut ditagih.”


Seketika, Binar memasang ekspresi konyol.


“Aelah, didengerin serius juga, ternyata soal utang kemarin. Gitu aja sok dramatis lo.”


“Ya, jangan tersinggung gitu, dong, Bin. Gue jadi merasa bersalah, nih. Siapa suruh juga gue ngomong jujur tadi, nyesel, kan?”


“Ah, gitu aja dipikir berat. Kalau begitu, ke koperasi aja, yuk. Kan, aman nggak ada Mbak Jinar,” ujar Binar menawarkan.


“A-apa yang lo lakukan, Ju?”


Ju hanya menanggapi Binar dengan tawa kecil tanpa melepaskan rangkulannya pada tubuh Binar. “Nggak boleh? Biasanya gue lihat sesama teman saling ngrangkul gitu, jadi wajar aja, kan? Toh kita juga teman dari kecil, dekatnya sudah melampaui saudara. Boleh, kan, Bin?”


Binar terdiam. Ia tidak berani menjawab.


“Memangnya … lo nggak takut sama rumor yang bakal kesebar?”


Ju meludah namun tanpa ludah. “Persetan dengan rumor. Mungkin itu hanya sekumpulan orang yang iri nggak punya teman atau nggak ada yang perhatian. Jangan kemakan rumor, Bin. Sakit.”


Binar tertawa.


Mereka berdua sampai di koperasi yang mulai dipenuhi anak-anak kelaparan. Ju mengambil sebuah donat dan sekotak kecil jus jeruk. Setelah membayar semua barangnya, Ju dan Binar berniat untuk kembali ke kelas.


Ju membuka jusnya dengan satu tangan, dan meminumnya sambil jalan di bawah tatapan tajam Binar.


“Oi, minum, tuh, sambil duduk. Lo mau ginjal lo nggak berfungsi hanya karena sekotak jus jeruk? Konyol, woi. Mati, tuh, harus keren.”


Ju melayangkan tatapan sadis kepada Binar. Ia kemudian berjalan ke arah bangku marmer yang berada di sepanjang koridor sekolah.


“Iya, nih, gue duduk. Puas lo sekarang?”


Binar tertawa dan ikut mendudukkan diri di sebelah Ju. Lalu lalang anak-anak yang kelaparan semakin membanjiri koperasi siang itu. Ju memandang donatnya yang masih utuh. Ia merasa sayang jika memakan donatnya sekarang.


“Ah, gue gigit sedikit sajalah.”


“Ju, kemarin pulang sekolah, gue ikut mancing bokap gue ke penangkaran ikan milik kakek gue.”


“Hmmm, terus?” tanya Ju antusias dan bersiap hendak menggigit sebagian kecil donatnya.


“Gue dapat ikan yang gede … banget!”


Binar membuka tangannya, berusaha menggambarkan sebesar apa ikan yang berhasil ditangkapnya kemarin. Ju tertawa. Namun sedetik kemudian, tawanya berubah menjadi amarah saat tangan Binar menyenggol donatnya.


Dan menjatuhkannya.


Binar hanya menatap dengan syok kue bulat-bolong-di-tengah yang terjatuh menyentuh lantai itu. Ju terdiam.


“Bin.”


“Y-ya?”


“Lo tahu, kan, konsekuensi kalau buat gue marah?”


“Ju, Ju, maaf. Gue … gue beneran nggak sengaja.” Binar berusaha membela dirinya.


“Nasi sudah basi, nggak bisa dimakan. Donat sudah wafat, nggak bisa dimakan juga. Jadi kali ini …,” Ju menaikkan lengan seragamnya. Binar bergidik ngeri melihat perangai Ju yang berangasan mulai berkuasa. “Gue minta maaf kalau lo kenapa-napa.”


“Ju, ampun!” seru Binar sambil meloncat dan berlari menjauh dari Ju.


“Sialan, lo, Bin!”


Kejar-kejaran di antara mereka berlangsung seru. Binar yang ketakutan setengah mati membuat langkah kakinya cepat bak turbo. Terkadang, kekuatan manusia yang sesungguhnya baru akan muncul saat manusia itu berada di ambang kematian, begitu juga Binar.


Koridor sekolah terlihat damai dan normal. Kakak kelas yang berjalan sok berwibawa di depan adik kelasnya, siswa yang caper membaca buku agar di-notice oleh gebetannya, pasangan yang beruntung bisa merasakan cinta masa muda mereka, dan siswa yang duduk-duduk tidak jelas di bangku marmer sepanjang koridor sekolah.


Namun, segala kedamaian itu berubah. Bukan karena negara api menyerang, tapi karena keributan yang membuat semua fokus tertuju di ujung koridor sekolah.


“Gawat! Itu Ju si Preman Sekolah!”


Koridor yang damai dan normal itu berubah menjadi kacau balau seketika oleh teriakan dan gemuruh langkah kaki yang berlarian kesana kemari.


“Binar! Ke sini, lo!”


“Ju, gue minta maaf! Gue nggak sengaja, sumpah!”


Ujung sepatu Binar berdecit saat berbelok mendadak. Tangannya bertumpu pada tembok dan membuat tubuhnya berputar mulus dengan ujung sepatu sebagai porosnya. Ju mencoba melakukan hal yang sama untuk menyeimbangi kecepatan berlari Binar. Namun sekali lagi saudara-saudara, tampaknya kesialannya kemarin masih mengikutinya hingga hari ini. Ju kehilangan keseimbangan. Tubuhnya limbung ke depan dan menabrak sesuatu.


Ju memegangi kepalanya yang membentur terlebih dahulu. Ia meringis menahan sakit sementara Binar berlari semakin jauh darinya.


“Aduh, gue minta maaf,” ujarnya tanpa melihat siapa atau apa yang ditabraknya. “Binar sialan!”


Ju mengambil langkah untuk kembali mengejar Binar. Ia meninggalkan kerumunan heboh yang mengerubungi orang yang ditabrak Ju. Gadis itu hanya fokus untuk memberi Binar pelajaran dan acuh tak acuh dengan keadaan di sekitarnya.


Kemudian, gadis itu menyadari sesuatu yang terlambat.


Aroma ini … aroma yang sama di Ruang BK kemarin lusa!


~oOo~


Pandangan melamun Ju jatuh terfokus pada pemandangan di luar jendela kelokan tangga, tempatnya biasa ‘rapat’ dengan anggota gengnya. Sebuah tepukan mendarat di pundaknya, membuatnya tersadar dari lamunan tidak bergunanya. Ju menoleh dan mendapati Winda, salah satu teman satu gengnya tersenyum manis pada dirinya.


“Galau, nih, ceritanya?”


Seketika, Ju memasang ekspresi jijik. “Galau karena apaan?”


“Ya, siapa tahu,” Winda mendekat dan ikut berdiri melihat pemandangan luar sekolah di samping Ju. “Keren, ya. Semuanya terlihat oranye karena sinar matahari sore. Oh, iya, Ju.”


“Hmmm?” tanggap Ju dengan malas.


“Aku tadi nggak sengaja dengar dari anak-anak perempuan yang suka gosip, kamu tadi nabrak Juna, ya?”


“Hah? Juna siapa?”


“Calon anak baru di angkatan kita. Anaknya tinggi dan tampan.”


Apa jangan-jangan yang dibicarakan Binar kemarin itu, ya? Yang mana, sih, orangnya?


Ju bertopang dagu. Sikunya bertumpu pada celah sempit di jendela. “Gue memang nabrak orang, sih, tadi siang. Gara-gara Binar, tuh. Tapi gue nggak ngelihat apa atau siapa yang gue tabrak. Jadi anak yang lo bicarain itu, ya, yang gue tabrak. Dan tunggu, tunggu. Dari mana lo tahu kalau dia calon anak baru itu?”


“Satu angkatan sudah tahu, kali.”


“Bukan, kayaknya bukan itu yang mau gue tanyakan. Ah! Dari mana lo tahu kalau namanya Juna?”


Winda terdiam lalu tersenyum.


“Zaman begini … semua orang bisa jadi stalker, tahu.” Winda menempelkan telunjuk pada bibir tipisnya. Ju bergidik ngeri.


“Pelanggaran hak privasi bisa kena pidana, lho. Kelihatannya sebentar lagi gue bakal dapat titel ‘Teman si Kriminal’. Reputasi gue …,” Ju berjalan turun melewati tangga meninggalkan Winda. “Sudah, gue mau pulang.”


Winda hanya memandang tubuh bagian belakang Ju yang mulai menjauh darinya sebelum akhirnya benar-benar menghilang ketika melewati anak tangga menuju lantai satu. Winda tersenyum misterius. Gadis itu ikut turun, namun dengan arah yang berlawanan.


“Marcie, sepertinya kali ini aku agak kelewatan.”