Loop

Loop
Empat



“Jangan lupa BAB IV nanti dipelajari untuk ulangan harian besok, ya. Sekian dari saya, selamat siang,” ujar Bu Astu sesaat setelah bel pulang berbunyi sembari merapikan tas jinjing dan buku-buku beliau. Guru Biologi yang ramah itu menebar senyum sebelum benar-benar meninggalkan ruang kelas yang gaduh oleh suara gesekan tas dan buku.


“Siang, Bu!” jawab anak-anak kompak.


“Lo mau langsung balik apa gimana?” tanya Binar yang tiba-tiba muncul di sebelah Ju dan menemaninya menyusuri koridor sekolah.


“Hmmm, niatnya mau mampir ke mana dulu gitu, sih. Mungkin ke bakery atau pâtisserie, biasa … lo tahu, kan, gue ngapain biasanya di sana,” jawab Ju tanpa mengalihkan pandangan dari gawainya.


“Numpang ngadem padahal cuma beli sebiji donat. Nice.”


Ju memasukkan ponsel ke dalam saku roknya sambil tetap berbincang ringan. Ketika sampai di gerbang, ponsel Ju berdering kencang. Awalnya, Ju mengabaikannya karena berpikir itu hanya telepon salah sambung yang sering memenuhi kotak keluar panggilannya. Ju yang merasa risih akhirnya memutuskan untuk mengecek si penelepon.


“Duh, berisik banget, deh!”


Ju meliuk-liukkan tubuhnya saat menjangkau saku roknya yang sempit dengan satu tangan. Biar ikut meringis melihat apa yang dilakukan Ju.


Ju berhasil mendapatkan ponselnya. Namun, ia malah dengan cepat menyodorkan ponsel itu kepada Binar yang tidak tahu apa-apa. Binar yang kebingungan lantas melihat layar ponsel Ju. Layar itu berkedip-kedip dan menampilkan si penelepon di bagian atas, yang dinamakan “Bij” oleh Ju.


Binar menatap Ju dan ponsel itu bergantian. Ia ingin mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya. Namun, melihat ekspresi dan reaksi Ju yang ketakutan mengurungkan niat Binar untuk melakukannya.


“Ju?”


Dengan gelengan dan senyum yang dipaksakan, Ju mengambil kembali ponsel di genggaman Binar. “Maaf, lo pasti kaget.”


Ju menekan tombol ‘jawab’. Setelah beberapa detik, terdengar sapaan ramah yang sangat dibuat-buat dari seberang.


“Ju, ini Mama.”


Ju tidak menjawab.


“Bagaimana kabar kamu, Ju? Sehat?”


“To the point aja, nggak perlu basa-basi,” sahut Ju ketus sambil memegangi jidatnya.


“Bagus, anak Mama semakin pintar. Kamu tahu harus apa, kan, jika Mama menelepon, anak Mama yang cantik?”


“Gue bukan anak lo,” desis Ju tajam. “Lagipula, kapan lo pernah nganggap gue anak dan kapan gue pernah nganggap lo orangtua?”


“Ju, sopanlah!”


“Untuk apa? Kenapa gue harus sopan kepada orang asing yang telah membuang gue dengan kata kasar, tamparan, dan siraman air? Gue nggak habis pikir …. Bisa-bisanya lo dengan tanpa rasa malu melakukan hal ini pada gue. Memangnya lo nggak bisa cari uang sendiri apa?”


“Ju, Mama menelepon bukan untuk mendengar kata-kata kasarmu!”


“Cukup! Jangan pernah menelepon gue lagi, dan lo bukan Mama gue!” Ju dengan kasar menarik telepon dari telinganya. “Berengsek!”


Ju membanting ponselnya di trotoar yang dengan sigap ditangkap oleh Binar sebelum benar-benar terjatuh dan menghancurkannya berkeping-keping. Binar memandang ponsel Ju dan pemiliknya secara bergantian.


Ju pergi begitu saja tanpa menghiraukan Binar yang memanggil-manggil namanya. Ju merapatkan genggamannya pada selempang tas ranselnya. Ia menambah kecepatan berjalannya saat Binar semakin mendekat ke arahnya.


“Ju! Ju, sebentar!”


Ju tidak menghiraukan panggilan Binar. Hati kecilnya menyuruh untuk berhenti dan memenuhi panggilan Binar. Namun, pikirannya bertolak belakang. Ju tetap berjalan tanpa tujuan di sela-sela orang ramai di trotoar.


“Ju, berhenti!”


Perhatian orang-orang mulai tersita oleh teriakan terus menerus dari Binar yang tidak digapai oleh gadis berjarak sepuluh meter darinya. Tidak sedikit dari orang-orang itu yang mulai berbisik-bisik dan menggosip tidak jelas.


“Ju!” bentak Binar pada akhirnya.


Ju membalikkan tubuh dengan keras dan hampir menabrak Binar yang berada tepat di belakangnya. Napas lelaki itu terengah-engah. Ia menundukkan kepala dan terkejut melihat mata Ju yang memerah.


“Kenapa?” tanya Ju sambil menahan tangisnya.


“Maaf,” ucap Binar dipenuhi rasa bersalah. “Maaf telah membentakmu tadi.”


Ju hanya terdiam, membiarkan ucapan Binar menguap di udara dan menyisakan kecanggungan pada lelaki itu. Pada akhirnya, tidak ada yang berani membuka pembicaraan.


“Bin,” ujar Ju mengagetkan Binar.


“I-iya?”


“Maaf, Bin. Hari ini … gue nggak ingin ke mana-mana dulu.”


Binar menghela napas dan memegang pelan pundak Ju. “Tapi gue antar pulang, ya?”


Ju memegang tangan Binar seraya menurunkannya dan tersenyum tipis kepadanya. “Makasih sudah repot-repot, Bin.”


Ju mengambil kunci yang teronggok estetik di atas batang tanaman bugenvil yang terletak tepat di samping pintu keluar-masuk tempat tinggal Ju. Pintu itu terbuka dan terpampanglah ruang tamu yang rapi. Tidak ada yang istimewa dari tempat tinggal Ju. Tempat tinggal itu hanyalah sebuah apartemen sederhana.


Binar mendudukkan diri di sofa besar. Tidak lama kemudian, Ju ikut mendudukkan diri juga di salah satu dari dua sofa kecil yang berseberangan dengan sofa besar. Kini, posisi mereka duduk berhadapan.


Ju masih menunduk. Rambutnya yang dikuncir jatuh menutupi wajahnya. Tidak ada hal yang menyiratkan bahwa gadis itu sedang baik-baik saja. Binar dengan hati-hati mencondongkan tubuhnya ke depan dan menyatukan jari-jarinya.


“Ju,” ujar Binar penuh kelembutan. “Gue nggak akan maksa lo untuk cerita. Tapi, menyimpan masalah sendiri juga nggak baik.”


“Gue bingung, Bin,” ucap Ju yang mengundang antusias Binar. “Gue nggak tahu harus gimana lagi. Gue terlalu pengecut untuk membuat keputusan. Beri gue saran, Bin.”


“Nangis.”


“Nggak, gue nggak akan nangis!”


“Nangis sekarang, ada gue di sini.”


“Sudah gue bilang, gue nggak akan nangis!”


“Nangis!” bentak Binar pada akhirnya.


Ju menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tidak lama, terdengar suara sesenggukan yang semakin lama semakin keras. Air mata Ju mengalir melalui sela-sela jarinya. Binar menatap Ju nanar. Ia memberikan waktu bagi gadis itu untuk menyelesaikan semuanya sementara.


Tangan Binar menepuk-nepuk punggung Ju pelan. Perlahan, isakan Ju mulai berkurang hingga akhirnya benar-benar berhenti. Ju mengelap-ngelap wajahnya sambil tertawa canggung.


“Maaf, lo jadi lihat pemandangan merusak mata kayak gini. Gue akan cerita.”


Ju membenarkan letak duduknya. Setelah mengusap wajahnya beberapa kali dan merasa lebih baik, ia mengambil satu napas besar.


“Sebenarnya, yang nelepon gue tadi … Mama Tiri gue.”


Binar yang tersulut segera mengambil tindakan.


“Tolong dengarkan gue dulu,” ujar Ju menghentikan rekasi Binar. “Lo pasti tahu, kan, kenapa dia menelepon gue. Gue lelah diginiin, Bin. Wanita ****** itu mengambil semuanya dari gue. Keluarga, harta, bahkan kasih sayang orangtua. Kurang berkorban apa lagi gue, Bin? Gue bingung, gue … gue takut. Takut.”


Binar menyentuh tangan Ju lembut. Ju kembali sesenggukan.


“Kalau lo memang nggak mau minta uang dari Papa lo buat dia, lo harus tegas, Ju. Lo nggak akan keluar dari lubang masalah jika lo nggak berani memutuskan. Jangan menghindari masalah, Ju. Ibaratnya begini,” Ju mendongakkan kepala untuk melihat apa yang akan Binar lakukan. “Lo sedang terjebak di sebuah lubang yang dalam dan gelap. Lo hanya mampu bertahan dengan keberanian yang lo miliki, sekecil apapun itu. Lalu, sebuah harimau masuk ke dalam lubang itu—anggap saja harimau ini sebagai masalah yang sedang lo hadapi. Lo menghindarinya karena takut. Tapi, apakah lo berhasil keluar? Kenapa alasannya?”


Ju menggeleng. “Nggak, karena gue hanya akan berputar-putar di dalam lubang dan yang bisa membuat gue keluar atau bertahan di lubang, hanyalah keberanian.”


“Bingo! Pada akhirnya, lo akan mati dimakan harimau itu karena nggak mampu melawan. Jadi, sekarang lo tahu apa yang harus lo lakukan?”


Ju mengangguk mantap.


“Janji lo nggak akan menghindari masalah lagi?”


“Gue janji.”


“Janji lo akan berani saat ada yang menindas lo lagi?”


“Gue janji.”


“Janji lo akan tetap menjadi Ju yang periang dan penuh semangat seperti dulu lagi?”


“Gue janji!” seru Ju yang mulai jengkel.


“Berarti lo nggak akan sedih lagi, kan?”


“Ya.”


“Nggak akan mewek lagi, kan?”


“Ya!”


“Nggak akan cengeng kayak anak kecil lagi, kan, kan, kan?”


“Ya! Ya! Ya!”


“Bagus! Kalau begitu lo juga janji sore ini akan menemani gue jalan-jalan dan nonton di Plaza Senayan, kan?”


“Iya, gue janji! Eh,” pekik Ju spontan sambil menutup mulutnya. Binar tersenyum penuh kemenangan.


“Nah, Ju, karena mengingkari janji adalah perbuatan yang tidak baik, kamu nggak boleh berkata ‘nggak’. Gue balik ke rumah dulu. Nanti kalau gue udah siap, gue samperin lo. Oke?”


Ju mengantar Binar sampai di ambang pintu. Ju membalas lambaian tangan Binar yang menjauh. Ia tutup pintu rumahnya dan berjalan menuju kamarnya. Tangannya terulur dan meraih sebuah foto wanita dengan bingkai foto kayu ukir yang cantik. Ibu jari Ju membelai kaca bingkai foto tersebut.


“Ma …,” ujarnya pelan sambil tersenyum sedih. “Ju nggak tahu harus bagaimana lagi tanpa Mama. Hidup Ju terasa hambar. Ju takut, Ma. Ju takut dengan apa yang akan Ju hadapi di masa depan. Tapi yang pasti, Ju akan berusaha yang terbaik untuk menghadapinya. Doakan Ju, ya, Ma.”


___________________________________________


Maafkan saya atas keterlambatan update dikarenakan kondisi kesehatan saya yang sedang menurun. Dimohon untuk menjaga kesehatan teman-teman semua, jangan seperti saya, hehe.


NB: KOMENLAH KALIAN PARA NETIJEN JAN DIEM-DIEM BAE, SEPI NEH.


Support me with: like, comment, and vote—uhuk—if you like this novel. Please, leave—uhuk—an advice or criticsm below.


See me on Instagram: @dernatasw or @nataderaswa


Hope you enjoy it! Hatchooo!


Thanks for reading~