
“Ju?”
Ketukan pintu bertubi-tubi menggetarkan pintu rumah Ju. Si pemilik rumah yang tengah merapikan rambutnya berdecak kesal. Itu adalah kesepuluh kalinya tatanan rambut Ju berantakan. Ju yang merasa jengkel memutuskan untuk membukakan pintu terlebih dahulu. Dengan tidak sabar diempaskannya kursi yang tengah didudukinya hingga terpental beberapa meter ke belakang.
Ju membuka pintu dengan kasar, membuat Binar yang terkejut mundur beberapa langkah. Lelaki itu tampak segar dengan celana jins hitam, kemeja yang dibalut sweter moka, dan sepatu kets berwarna coklat. Ju menyilangkan lengannya di dada.
“Bisa nggak lebih sopan dikit saat di rumah orang?”
“Maaf, gue pikir lo masih ngambek.”
Ju menghela napas dan kembali beberapa saat kemudian dengan sebuah shoulder bag hitam yang tergantung di bahunya. Ia tampak sibuk dengan arloji di pergelangan tangan kirinya. Penampilannya yang kasual menjadi poin plus tersendiri bagi Binar. Celana jins, kaus oblong hitam, dan kemeja bermotif kotak-kotak yang tidak dikancingkan menonjolkan aura boyish Ju. Sepatu kets putih menjadi pilihan untuk melengkapi penampilannya.
“Gue udah siap … hmmm? Kenapa lo ngelihat gue dengan tatapan concupiscent*?”
Wajah Binar seketika memerah.
“A-ah, nggak! Bukan … bukan itu, anu. Ah, sudahlah! Nih, buruan.” Binar menyodorkan sebuah helm kepada Ju. Bukannya menerima helm itu dan menggunakannya. Ju malah terkejut dan menaikkan sebelah alisnya.
“Lo naik motor, Bin?”
“Memangnya lo mau jalan kaki ke sana? Ini semua demi menghibur hati lo yang mau hujan itu. Ya … meskipun harus sedikit uring-uringan dengan kakak gue, sih. Sudahlah, itu nggak penting. Buruan naik, woi!”
Ju memakai helm yang diberikan Binar dan naik di jok belakang motor matic “milik” Binar. Kedua anak manusia itu meluncur menceburkan diri ke dalam lautan kendaraan di jalanan sore Jakarta. Matahari yang mulai condong ke barat seolah menyapa setiap pengendara yang lewat. Ju tersenyum dan mencuri pandang ke arah Binar dari spion.
“Lo mau nonton apa, Bin?” tanya Ju sembari melihat papan jadwal yang terpampang di tembok.
“Terserah lo aja. Gue film apapun suka.”
“Oke, terserah, ya.”
Ju berjalan ke arah kasir dan memesan kursi untuk dua orang. Binar tidak tahu film apa yang telah Ju pilih untuk mereka. Ia hanya mengikuti alur yang Ju buat dan tidak berusaha untuk melawan. Tidak sampai dirinya mengetahui fakta bahwa Ju memilih genre film yang paling dibencinya. Film horor. Namun, Binar tetap berusaha untuk terlihat kuat di depan Ju.
“Wah, filmnya keren!” seru Ju sambil melakukan peregangan.
Ju melirik Binar yang tidak bersuara sejak film diputar tadi. Wajah lelaki itu pucat dan saat Ju menyentuh tangannya, hanya dingin yang terasa.
“Bin, lo nggak apa-apa? Sakit?”
“Ha? Oh, nggak, nggak! Hanya saja, AC-nya tadi kekencengan, gue agak kedinginan. Yuk, cabut. Kita cari makan malam, udah jam segini soalnya.”
Ju melihat Binar yang pergi bahkan tanpa menunggu jawaban darinya. Ia terkikik geli dan mengikuti Binar dari belakang. Binar yang merasa terintimidasi segera menarik lengan Ju dan membawanya ke sebuah restoran Jepang.
Mata Binar menangkap sebuah tempat strategis di ujung ruangan. Dengan beberapa kali tepukan di pundak Ju, lelaki itu berkata, “Lo duduk di sana dulu, ya, keburu diambil orang. Gue yang akan mengantre.”
Ju menurut tanpa syarat. Ia meletakkan tasnya di atas meja dan mengeluarkan ponselnya. Sesaat setelah Ju mengambil ponselnya, sebuah panggilan masuk menggetarkan benda itu. Ju yang terkejut lantas melempar ponsel itu di meja. Kemudian, ia teringat kata-kata Binar tadi.
“Pada akhirnya, lo akan mati dimakan harimau itu karena nggak mampu melawan.”
Ju memantapkan hatinya. Dengan keyakinan dan tekad yang bulat sebulat takoyaki kesukaannya, ia menyambar kembali ponsel itu dan menekan tombol ‘jawab’.
“Halo?”
Ju hanya diam.
“Halo, Mama nggak bicara sama orang bisu, kan?”
“Dan gue juga nggak bicara sama perampok, kan?” balas Ju sinis.
“Mama nggak akan bahas soal omongan kasarmu jika kamu menuruti perkataan Mama, Ju. Segera telepon Papa kamu untuk meminta uang dan transfer malam ini juga, atau kamu akan terima konsekuensinya.”
“Konsekuensi?” Ju tertawa sinis. “Kedengarannya, kok, gue yang salah, ya, di sini? Lo bisa nggak, berhenti mengganggu hidup gue? Kenapa lo nggak minta uang sendiri saja sama ‘kucing’ lo itu?”
“Ju, kamu nggak bisa, ya, bicara lebih sopan dengan Mama?”
“Sayangnya, nih, gue nggak pernah nganggap lo sebagai sesosok Mama di hidup gue. Dan lo juga sebaiknya berhenti nganggap gue sebagai anak.”
“Ju!”
“Kenapa? Karena gue nggak akan pernah bermain Cinderella untuk lo.”
Ju segera menjauhkan ponsel itu dari telinganya, bertepatan dengan kembalinya Binar dari meja pemesanan. Lelaki itu membawa senampan besar makanan yang masih mengeluarkan asap tipis kemudian meletakkannya di hadapan Ju.
Gadis itu tertarik dan memandangi makanan-makanan yang bejejer di atas nampan.
“Mantap, nih. Ada teh hijau, ramen, sushi, dan yang terpenting … takoyaki!” seru Ju seraya mengabsen makanan yang membuat Binar tertawa kecil.
Binar menyatukan tangannya dan melirik jahil ke arah Ju.
“Itadakimasu,” ucap Binar yang membuat Ju tertawa.
“Bin, gue mau ke sana, dong,” rengek Ju sambil menunjuk arcade game tembak-tembakan. Binar menurut.
“Bin, kayaknya itu seru, deh,” ujar Ju sambil berjalan menuju meja bilyar. Binar menurut.
“Bin, gue mau coba yang itu!” seru Ju bersemangat sembari berjalan menuju tempat bowling. Binar menurut.
“Bin, game itu banyak player-nya, bisa aliansi, nih.”
“Bin, boneka Slendermannya lucu!”
“Wah, Bin, lihat! Gue bisa top up diamond gue di sini!”
Akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk beristirahat di salah satu bangku yang ada di sana. Ju tampak sangat puas dengan agenda yang dibuat Binar. Ia memandang angkasa yang dipenuhi dengan bintang-bintang.
Binar tersenyum melihat tingkah Ju.
“Sudah merasa lebih baik?” tanya Binar sambil mencoba melakukan hal yang sama dengan Ju.
Gadis itu mengangguk pelan.
“Andai nggak ada lo, Bin, mungkin gue hari ini akan berakhir di tali yang tergantung atau mata pisau dapur,” Ju tertawa masam. “Tapi tenang, gue nggak akan berencana untuk melakukan itu lagi. Jadi, lo nggak perlu berpikir macam-macam.”
“Berjanjilah lo nggak akan pernah berniat melakukan hal itu.”
Ju tersenyum dan mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Binar.
“Gue janji.”
“Oh, iya, ngomong-ngomong besok ulangan Biologi, lo udah belajar?”
“Mau belajar gimana, lah lo malah ngajak gue keluar sedangkan lo sendiri tahu kalau besok ada ulangan.”
“Tapi, Ju, kabar baiknya, nilai ulangan Biologi lo selalu tertinggi di kelas. Bahkan—gue jujur, nih—gue selalu merasa tersaingi saat ulangan.”
Ju membentuk huruf L dengan jari-jarinya dan menempatkannya di dagu.
“Karena gue suka BAB Reproduksi.”
“Lo memang nggak berubah, ya, Ju.”
Binar tertawa diikuti dengan Ju. Binar memandang orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Hatinya merasa tenteram, namun tidak sampai tatapannya berfokus pada seseorang yang dirasanya sangat familiar di tengah-tengah lautan orang asing yang ada.
“Ju, bukankah itu Juna?”
Ju meliukkan kepalanya ke arah yang ditunjuk Binar.
“Juna? Juna anak baru itu?”
Binar mengangguk.
“Sepertinya, iya.”
“Jun …! Oi!” seru Binar seraya berlari menghampiri orang tersebut tanpa sedikitpun merasa takut akan salah orang. Ju tergopoh-gopoh membuntuti larinya yang secepat orang kebelet dari belakang.
“Bin, woi!”
“Nah, ini dia! Kebetulan banget kita bisa bertemu di sini, iya, kan, Jun?” ujar Binar semangat sambil menepuk pundak orang tersebut. Orang itu menoleh membuat Binar terkejut. “E-eh, waduh?”
“Iya, nama saya memang Junaedi. Tapi … kamu siapa, ya?”
Binar seketika salah tingkah.
“Aduh, m-maaf, saya … anu, salah orang! Maaf …!” Binar langsung berlari terbirit-birit meninggalkan orang yang kebingungan tersebut. Ia merasa sangat malu. Binar berlari melewati Ju yang langsung ditahan lajunya oleh gadis itu. Langkah Binar terdorong sedikit ke belakang.
“Lo ini apa-apaan, sih? Malu-maluin tahu, nggak? Dipanggilin juga, bukannya berhenti, eh, malah makin kenceng larinya. Ini, nih, baru Juna yang lo maksud tadi,” terang Ju sambil menunjuk seorang lelaki di sampingnya. Binar mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Ini … Juna asli, kan?” tanya Binar yang masih terlihat syok sambil memegang kedua pundak lelaki tersebut dan mengguncangnya.
“I-iya, saya Juna. Kamu bukannya yang memberikan bangku untuk saya tadi?”
Binar tertawa mendengar kekakuan Juna. “Iya, itu gue. Jangan formal banget, lah. Pakai ‘lo-gue’ aja, lah, jangan kaku-kaku gitu. Oh, ya, kita belum sempat kenalan, ya, tadi. Nama gue Binar Anggara, panggil aja Binar.”
Binar mengulurkan tangannya yang disambut canggung oleh lelaki itu.
“Kalau gue Ju, Litha Juwitaningrat. Maaf atas ketidaksopanan gue pada lo sebelumnya.”
“I-iya.”
Ju dan Binar saling melempar pandang. Binar mengerutkan alis pada Ju yang disambut putaran bola mata oleh gadis itu.
“Aaa … ah, jangan kaku begitu, dong! Sudah gue bilang pakai ‘lo-gue’ saja, biar kedengaran akrab. Masa sesama teman pakai ‘saya-Anda’? Formal banget bukan?”
Pada akhirnya, Juna tertawa geli mendengar perkataan Binar, entah karena apa. Ju dan Binar kembali saling melempar pandang. Namun kali ini, mereka ikut tertawa bersama Juna.
“Ayo, sepertinya sebuah ide hebat baru saja melintas di kepala gue. Wuhu!” seru Binar seraya merangkul kepala Juna. Mereka bertiga berjalan masuk ke dalam mal diiringi candaan di tengah hiruk pikuk Jumat malam.
___________________________________________
*concupiscent\= mesum (Perancis)
Maafkan saya karena keterlambatan update, teman-teman T_T. Karena beberapa pekan terakhir saya sibuk persiapan lomba. Maaf, ya~ huhu. Sebab itu, hari ini saya akan update banyam untuk mengganti hari-hari update yang terlambat, mohon pengertiannya, ya.
Oia, kalau ada typo atau salah dalam penggunaan tanda baca, konjungsi, kata depan, dan lain-lain, beritahu saya, ya! Jangan sungkan.
Support me with: like, comment, and vote if you like this novel. Please, leave an advice or criticsm below.
See me on Instagram: @dernatasw or @nataderaswa
Hope you enjoy it!