KKN

KKN
BAB 5.5 - KEHANGATAN



Pak Agus menerima panggilan dari seseorang yang ia namai Pak Drajat. Ia berjalan menjauh sambil mengangkat teleponnya.


"Halo Pak?" salamnya.


"Bagaimana anak-anak pilihanku, Agus? Beruntung sekali kan bisa menemukan anak seunik mereka?" Terdengar suara pria yang berat namun lembut.


"Beruntung bagimu, tapi aku yang harus menghadapi cobaan ini." keluhnya membuat Pak Drajat tertawa.


"Begitulah aku dulu saat menghadapimu, Agus. Kamu hanya menuai apa yang sudah kamu tabur, ya kan?" ledek Pak Drajat.


"Bisa hentikan kebiasaanmu itu! Mentang-mentang sudah pensiun, seenaknya bapak menguping pembicaraan penting."


"Hahahaa... Apapun yang terjadi di sekolah, aku wajib tahu. Aku juga tahu kamu sampai kewalahan karena harus nangkap mereka 2 kali." Pak Drajat tertawa geli.


"Iya iya... Seperti yang bapak bilang. Aku juga tidak menyangka kalau diantara mereka masih berpikir untuk menyerang meski sudah diikat dan dikurung seperti itu." Pak Agus teringat kembali kejadian di ruangannya.


"Ikhsan masih bisa bercanda, Eni hanya diam mendengarkanku. Prity dan Lea masih bisa bertengkar. Eva masih bisa tersenyum dan Rini lebih takut hantu daripada situasinya saat itu. Aji dan Adi juga tidak menunjukkan ketakutan sedikitpun. Afi masih bisa berdebat denganku dan Fernan tak bisa ku baca sama sekali." Lanjutnya. Pak Drajat tak mengatakan apapun karena ia tahu semua perkataan Pak Agus benar-benar sesuai dengan yang ia alami.


"Itulah kenapa aku memintamu yang mendidik mereka. Guru biasa yang memiliki kehidupan positif tidak akan bisa mendidik anak-anak yang memiliki kehidupan negatif karena mereka tak pernah masuk ke dalamnya. Guru yang berhasil merubah kehidupan negatifnya menjadi positif lah yang dibutuhkan mereka. Guru yang bisa memahami rasanya sakit dan menguatkan mereka. Dan guru seperti itu hampir tak ada di dunia ini." Sendunya.


"Jadi itu kenapa Bapak memintaku untuk menjadi seorang guru?"


"Aku hanya memberi saran padamu, jika kau ingin kehidupan yang menantang maka jadilah guru. Dan Bapak bersyukur walaupun terlambat, kamu akhirnya menjadi guru seperti yang ku katakan." Jawabnya begitu lembut. Meski tak bisa melihat wajahnya, Pak Agus tahu ada senyum bangga tersemat di bibir pria itu. Tanpa sadar, dirinya pun ikut tersenyum.


"Tapi aku bersyukur aku tidak langsung jadi guru. Karena menghadapi anak KKN sangat menguras tabunganku." Keluhnya memicu gelak tawa Pak Drajat.


"Hahahaha... Gak papa, aku tetap akan menggajimu."


"Walau di gaji pun tetap tak cukup. Ya ampun... Kenapa gaji sekolah itu sedikit sekali?" Keluhnya lagi. Pak Agus mudah mengeluh ketika bicara dengan Pak Drajat yang dihormatinya.


"Kau sudah jadi Kepala Sekolah tapi masih banyak mengeluh seperti anak-anak. Jangan sampai anak-anak melihatmu mengeluh!" Tegasnya.


"Tidak. Mereka sedang sibuk di ruangan masing-masing." Pak Agus menatap dari jauh ruang klub yang lampunya masih menyala terang itu. Terdengar suara berisik dari ruangan laki-laki.


*****


Sementara itu, di ruangan laki-laki. Ikhsan, Aji, Adi dan Fernan menyusun kamar mereka sesuai dengan yang mereka mau. Ikhsan mulai jahil melempar bantal ke Adi, Adi pun membalas. Aji ikut-ikutan sementara Fernan yang menata semuanya. Ikhsan melempar bantalnya tepat di wajah Fernan, membuatnya sangat terkejut.


"FERNAN, AYO MAIN PERANG BANTAL!!" ajak Ikhsan dengan senyum lebar di wajahnya. Fernan tak percaya Ikhsan akan mengajaknya meskipun dirinya memiliki wajah yang menakutkan dan badan yang besar. Namun saat ini ia bingung bagaimana menolaknya tanpa menyakiti hati Ikhsan.


"Fernan.... Belum... Pernah.... Main... Perang.... Bantal..." Jawabnya terbata-bata sambil menyibukkan diri dengan merapikan benda-benda sekitarnya.


"Belum pernah main bukan berarti gak boleh main, Fernan." sahut Aji berusaha mengajaknya.


"Tapi... Fernan..." Fernan semakin bingung harus menolak bagaimana lagi. Ia bisa melihat mata berbinar-binar Ikhsan dan bisa jadi lebih berbinar jika ia menerima ajakannya.


"Kamu cuma perlu lempar bantal ke wajah lawanmu. Kalo kena kamu dapat 1 poin." jelas Adi sambil menunjukkan caranya. Fernan langsung drop.


"HAH! Fernan tidak bisa!" Fernan menggelengkan kepala dan tangannya sangat cepat. Wajahnya menunduk karena takut melihat wajah kecewa Ikhsan.


"Heee-h! Kenapa gak bisa?" tanya Ikhsan bingung.


"Fernan... Takut... Membuat... Orang lain... Terluka..." Jawabnya dengan ketakutan. Fernan juga tak berani menatap wajah siapapun bahkan Ikhsan, Aji dan Adi sejak awal mereka bertemu. Tampaknya Fernan makin takut jika tidak ada Afi di sekitarnya.


Di saat ini pula, Ikhsan, Adi, dan Aji menyadari Fernan tak sekuat tubuhnya yang kekar. Ia mudah takut ketika dirinya sendiri.


Tiba-tiba Ikhsan mengangkat tangannya. Semua mata tertuju padanya.


"Tidak akan! Coba lempar padaku! Aku akan menahannya." ucap Ikhsan percaya diri.


"Ini anak cari mati." Bisik Aji.


"Bener cari mati." Sahut Adi.


Meskipun Ikhsan terus memaksanya ikut, Fernan masih tidak mau mengikuti kemauannya.


"Fernan, tidak apa-apa. Kalau dia mati itu salahnya sendiri." Aji meringankan Fernan tetapi Fernan malah semakin berat melakukannya.


"Fernan, 100% aku akan membelamu di persidangan kematian Ikhsan." Sahut Adi.


"HEI!!!.... KENAPA KALIAN MENGIRA AKU AKAN MATI GARA-GARA MAIN PERANG BANTAL?!" teriak Ikhsan tersinggung.


"Fernan... Tidak... Bisa... Melakukannya..." Badan Fernan gemetar karena semua tekanan dalam dirinya. Fernan merasa dipaksa melakukan tindakan kriminal yang tidak diinginkannya.


Ikhsan dan Fernan bagaikan semut yang kecil dan gajah yang besar. Namun percaya diri mereka tampak tertukar dengan ukuran tubuh mereka. Ikhsan begitu berani menantang maut namun Fernan takut untuk berdiri sendirian.


"FERNAN! AKU TIDAK AKAN MATI SEMUDAH ITU! PERCAYA DEH! LEMPAR SAJA!" Dengan percaya diri sebesar gunung, Ikhsan merentangkan tangannya. Ia tunjukkan badannya yang kurus di hadapan Fernan.


Rasa percaya diri Ikhsan menyentuh keberanian Fernan. Fernan bersiap melempar bantal di tangannya pada Ikhsan yang juga siap menahan lemparan bantalnya. Aji dan Adi menonton dari pinggir dengan antusias. Dengan aba-abanya sendiri, Fernan melempar bantal itu dengan mengurangi tenaganya.


Namun bantal melesat cukup cepat menuju Ikhsan. Tiba-tiba Ikhsan menyingkir dari lintasan bantal itu. Bantal menghantam pintu ruangan yang tertutup. Semua terdiam sejenak. Tiba-tiba Aji dan Adi memukuli Ikhsan di tempatnya dengan bantal berkali-kali.


"KENAPA LU MALAH MENGHINDAR, IKHSAN PAYAH??!!!!" ledek Aji masih terus memukulinya.


"MANA KATAMU "AKU BISA MENAHANNYA!" LU MALAH MENGHINDAR KAYAK CEWEK!!" sahut Adi ikut memukulinya. Fernan jadi panik menghentikan mereka meski wajahnya tak mampu memperlihatkan ekspresinya.


"KALIAN GILA YA! SIAPAPUN BAKAL PINGSAN KALAU DIHANTAM SECEPAT ITU!!" Ikhsan membela dirinya.


"KALAU BEGITU BIAR AKU YANG MELEMPARMU DAN KU BUAT KAU PINGSAN SELAMANYA!!!" ancam Aji sambil meremas bantal sangat keras.


"AAAA!! JANGAAAAANNN!!" teriak Ikhsan minta ampun. Ikhsan langsung melepaskan diri dari Adi dan Aji. Mereka mengejarnya dan berusaha menangkap nya lagi.


"ADI, FERNAN! SEKARANG KITA MAIN POLISI. KITA BERTIGA JADI POLISI YANG NANGKAP IKHSAN SEBAGAI PENCURINYA. SIAPA YANG GAK MAU MENANGKAPNYA AKAN DIANGGAP PENCURI JUGA." Fernan langsung shock. Ia hanya bisa menerima suruhan Adi.


"CURAANG!! MAIN KEROYOKAN ITU GAK ADIL!" protes Ikhsan. Namun baik Adi, Aji dan Fernan tidak mempedulikannya. Ikhsan hanya bisa menghindari sergapan mereka di ruangan sempit itu.


******


Dari ruangan sebelah Prity, Eni, Eva, Lea, dan Rini duduk berkumpul di tengah kumpulan kasur yang telah dibentangkan sementara Afi duduk di pojok kasur yang berbatasan langsung dengan tembok sambil membaca buku.


"KALIAN BERISIK BANGET!!" teriak Prity dari ruangan sebelah.


"Kelihatannya mereka lagi main-main." Sahut Eva.


"Ya ampun.. kenapa anak laki-laki kenalan harus main-main dulu?" ledek Prity.


"Aku pernah dengar dari Icchan, katanya laki-laki tidak berkenalan lewat obrolan seperti perempuan tapi lewat pertandingan atau permainan olahraga." Jelas Rini.


"Memangnya hanya dengan cara seperti itu mereka bisa saling kenal dengan mudah?" tanya Eva.


"Karena laki-laki tidak pandai bicara dengan kata-kata makanya mereka bicara lewat permainan laki-laki. Jika mereka bisa kompak selama bertanding, mereka bisa dekat dengan mudah." Lea menambahkan.


"Laki-laki memang aneh ya! Harus repot-repot bertanding dulu." ledek Prity.


"Prity kan payah soal cowok, pantesan dia diselingkuhi terus.. hahahaha.." Lea meledek Prity terang-terangan. Prity melempar bantal ke wajah Lea.


"Kita tidak perlu membicarakan laki-laki, kita juga punya ritual sendiri soal berkenalan ya kan?" Ujar Prity.


"Ritual apa?" tanya Rini bingung.


"Ritualnya adalah...." Prity pelan-pelan membocorkan jawabannya membuat mereka tambah penasaran.


"CERITA CINTA!!" Ucap Prity bangga. Namun tak ada reaksi terkejut atau apapun seperti yang Prity harapkan.


"Ppffftt... Ahahahahaa!!!" Lea tertawa terbahak-bahak membuat Prity marah meskipun ia tak tahu kenapa. Tapi baginya, apapun yang membuat Lea tertawa itu tidak bagus baginya.


Prity jadi shock berat. Kata payah melayang-layang di pikirannya. Meski jengkel, tapi ucapan Lea bukanlah kebohongan. Semakin Lea larut dalam tawanya, semakin Prity kehilangan rasa percaya dirinya. Rini dan Eva mulai cemas.


"Ka-kalau begitu ayo kita bicara tentang cinta." Eva berusaha menghibur Prity.


"KAMU MAU? JADI KAMU SEDANG MENYUKAI SESEORANG, EVA?" Prity langsung bersemangat mendekat Eva sambil memegang pundaknya.


"CEPAT SEKALI BERUBAHNYA!" sahut Lea kaget.


"Siapa orangnya?" Prity penasaran dengan orang yang Eva cintai.


".... Red?" jawabnya. Prity terdiam mendengarnya.


"RED ANJING ITUU??!!" teriak Prity kaget.


"Red selalu menemaniku setiap istirahat. Dia imut sekali ketika aku mengelus-elus badannya. Dia juga menolongku dari murid yang menyergapku saat disergap dulu-"


"Sebenarnya bukan cinta itu yang ku maksud. Tapi cinta lawan jenis...." pikir Prity tak mampu mengatakannya karena Eva terlanjur larut dalam cerita sendiri.


"RINI, KAMU BAGAIMANA? KAMU DEKAT BANGET KAN SAMA IKHSAN? APA KALIAN PACARAN?" tanya Prity langsung memegang tangan Rini mengharapkan balasan yang dia inginkan.


"Ichan? Bukan Prity. Ichan adalah temanku waktu SMP. Ichan sangat sering kelaparan jadi aku membuatkannya bekal untuk dimakan bersama di sekolah." Rini menjelaskan hubungannya dengan Ikhsan.


"JADI BEGITU! AKU BISA MELIHAT ALUR CERITANYA!!.... Dengan dalih Ikhsan yang selalu kelaparan, Rini membuatkan bekal untuk Ikhsan supaya bisa makan berdua saja dengan Ikhsan. Disitulah rasa cintamu menguat dan akhirnya kamu ingin banyak belajar tentang masakan supaya bisa terus memasak untuk Ikhsan dan bermimpi akan menikah dengannya suatu hari nanti, ya kan? Ya kan? AAAA!!! INDAHNYA!!" Ucap Prity yang sudah jauh tenggelam dalam pemikirannya.


"Siapa saja tolong bawa gadis halu ini ke Rumah Sakit Jiwa!" sindir Lea.


"Aku punya kartu pengenal salah satu dokter jiwa kenalan ayahku, kamu bisa hubungi dia." Ucap Eva sambil memberikannya pada Lea.


"KENAPA KAMU BISA PUNYA INI?!!!" terkejut Lea.


"Tidak Prity, sebenarnya aku memang sudah lama ingin menjadi koki yang berpengalaman. Alasan kenapa aku selalu membawakan bekal untuk Ikhsan sejak SMP karena Ikhsan selalu mengambil makanan teman sekelasnya dan aku yang harus bertanggungjawab karena duduk di sampingnya dan dekat dengannya." jawab Rini rendah diri.


"APAAN ITU? KASIHAN SEKALI!! " ucap Prity shock.


"Nafsu makan Ikhsan memang banyak, ku dengar Ibu kantin sampai kewalahan karena Ikhsan terus meminta makanan gratis. Bahkan dia tidak masalah meskipun makanan kemarin." Lea menjelaskan.


"Apa ini? Kenapa cerita cinta yang mendekatkan gadis-gadis jadi seperti ini?" gumam Prity mulai was-was.


"AFI, KAMU CUKUP DEKAT DENGAN FERNAN, APA KALIAN PACARAN?" Prity bertanya sangat keras dan cepat.


"HAH? PACARAN? KAMI BUKAN KAYAK ORANG RENDAHAN YANG MELAKUKAN HAL GAK GUNA KAYAK PACARAN." jawab Afi dengan tegas dan cepat. Prity tambah drop lagi.


"ENI, KELIHATANNYA KETUA OSIS MENYUKAIMU. KENAPA GAK PACARAN AJA?" Prity bertanya dengan wajah berharap.


"Aku lebih baik mati daripada berpacaran dengan manusia kotor itu." Ucap Eni tegas. Meski Eni jarang bicara, jika itu mengenai Prima si Ketua OSIS ia membencinya dengan tegas.


Harapan Prity sudah hilang. Tak satupun gadis disini memiliki kisah asmara dalam hidupnya. Lea bisa melihat Prity yang semakin menunjukkan aura gelap.


"Kalau mau, aku akan memberitahu kisahku padam-"


"Aku tidak butuh." potong Prity berjalan sempoyongan seperti mayat hidup.


"TUNGGU! PERLAKUKAN AKU SEPERTI YANG LAIN DONG! PADAHAL AKU SUDAH BERBAIK HATI!" protes Lea.


"Sepertinya anak laki-laki sudah tenang dari tadi. Bagaimana kalau kita tidur juga?" Ucap Eva menguping dari pembatas ruangan.


"Iya ayo kita tidur....." Prity menjatuhkan dirinya di kasur. Eva, Rini, Eni dan Afi bersiap untuk tidur pula. Dengan wajah kesal, Lea juga bersiap untuk tidur dan mematikan lampu.


******


Tepat di saat kedua lampu ruangan telah mati, Pak Agus masih berbicara intens dengan Pak Drajat.


"Pak..." panggilnya lirih.


"Ada apa, Agus? Kenapa sedih begitu?" tanya Pak Drajat melihat perubahan dari nada suaranya.


"Jika data yang kamu berikan tentang anak-anak itu adalah benar. Bukankah itu berarti akan ada satu orang yang takkan bisa melanjutkan pendidikan dari sekolah ini?"


Pak Drajat masih serius mendengarkan.


"Bahkan aku masih ragu jika semua anak KKN bisa benar-benar melanjutkan hidup mereka lebih baik. Aku tidak bisa membayangkan mereka yang menghadapi ini di usianya yang masih muda. Apakah dengan pengalaman yang ku dapat cukup untuk membuatku mengerti mereka. Bagaimana kalau nanti aku tak bisa mengajari mereka dengan baik?" Ujar Pak Agus ragu.


Mengingat baru satu tahun ia menjadi guru biasa. Ia harus menjadi Kepala Sekolah dan mengajar murid paling nakal. Bebannya begitu terasa nyata. Ia merasa lebih terbebani dibandingkan pekerjaan lamanya, membuatnya jauh lebih khawatir.


"Agus..." Tiba-tiba Pak Drajat memanggilnya lembut. Pak Agus langsung diam mendengarkan.


"Jangan memikirkan apakah kamu bisa atau tidak nanti... Tapi pikirkan apa yang bisa kamu lakukan sekarang supaya bisa lebih baik nanti. Menjadikan dirinya teladan dan memastikan supaya anak bisa berkembang lebih baik, itulah tugas seorang guru..."


Mata Pak Agus melebar. Kata-kata Pak Drajat bagaikan angin yang mengalir lembut menghapus tekanan berat dalam hatinya. Bahkan suaranya yang lembut menenangkan detak jantungnya yang tidak sama dengan aliran nafasnya.


Sedikit demi sedikit.... Mulai melegakan...


"Tidak perlu merasakan berat bebannya, tapi rasakan bebannya meringan seiring kamu berusaha yang terbaik. Tak ada yang tahu bagaimana masa depan tapi selama kamu berusaha lebih baik masa depan tidak akan menjadi lebih buruk...."


Pak Agus mengingat kembali saat ia masih diajari oleh Pak Drajat. Ketika dia nakal, dia dipukul dengan buku. Namun ketika dia baik, dia mengusap kepalanya dan berkata "Anak pintar." dengan senyum di wajahnya.


Kenangan yang begitu sederhana tapi juga begitu berharga...


"..... Aku tidak memilihmu hanya karena kamu anak didikku. Aku sudah melihat prestasimu menjadi guru yang di favoritkan anak-anak di sekolah lamamu. Kamu pasti akan baik-baik saja." nasehat Pak Drajat menggugah hati Pak Agus.


Kata-kata itu menentramkan hati Pak Agus. Senyum kembali mengisi wajahnya yang tampan meski sudah berumur kepala 3 itu.


"Bapak, aku akan... menengok anak-anak. Jadi aku akan menutup telponnya."


"Oh.. benar. Sudah malam juga. Kamu jangan sampai terlambat bangun." ujar Pak Drajat.


"Benar Pak."


"Kalau begitu, semoga berhasil besok ya!" Pak Drajat menyemangatinya.


"Iya Pak.......... Terima kasih banyak." jawab Pak Agus sambil menutup teleponnya cepat. Pak Agus kembali ke ruangan dimana mereka akhirnya tertidur. Pak Agus mengintip dari balik jendela.


"Baguslah jika mereka bisa akur." Pikir pak Agus.


BROTT!!! Ikhsan mengeluarkan gas sangat kencang. Adi, Fernan dan Aji langsung batuk-batuk.


"WOII!! KENTUT SIAPA INI??!!!" teriak Prity dari balik ruangan.


Bau gas Ikhsan masuk ke ruangan perempuan melewati celah sekat di antara ruangan.


"Icchaaann.. kamu gak lupa buang air sebelum tidur lagi kan?" tanya Rini agak sempoyongan karena terbangun.


"S***! Gara-gara Ikhsan gw gak bisa tidur!" protes Adi.


Ikhsan tidak menghiraukan makian mereka yang terganggu oleh kentutnya. Ia tetap tertidur pulas bahkan mengorok.


"Gak merasa bersalah, dia malah pules lagi." Aji menunjukkan kekesalannya


Pak Agus beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju mobilnya.


"Kayaknya bakal lama deh!" keluhnya sambil menyandarkan kepalanya yang botak di setir mobilnya.