KKN

KKN
Bab 3 - BALAS DENDAM



Sementara itu, anak KKN yang berhasil kabur terbirit-birit menuju gerbang sekolah. Barang mereka yang tertinggal tak terlintas di pikiran nya, juga tangan mereka yang masih terikat kuat. Hanya kilas balik cara Pak Agus melumpuhkan Eni dalam hitungan detik.


"Icchhaann, aku gak kuat lagi!" kata Rini tertatih-tatih.


"Jangan nyerah, Rini! Gimana kalo Kepala Lampu itu nangkap kita? Kita pasti dihukum push up setiap hari, dikurung dalam sekolah... DAN MAKAN 1 KALI SEHARI CUMA PAKE SAYUR DAUN PEPAYA DOANG!!!" Ikhsan membayangkan dirinya kelaparan setelah satu tahun berlalu.


"Kenapa daun pepaya? Kamu gak suka daun pepaya?" Sahut Aji.


"Daripada mikir itu, gimana caranya kita keluar? Lihat! Murid bahkan satpam mulai mengepung kita di gerbang." Prity menunjuk ke gerbang yang sudah dihadang oleh banyak murid juga satpam.


Tiba-tiba Ikhsan menjerit. Laju larinya menjadi semakin cepat sampai hilang kendali. Satu persatu ia menabrak siapapun yang ada di depannya. Tak peduli murid, guru bahkan satpam sekolah yang sudah bersiap-siap. Mereka yang tertinggal melihat kagum.


"Bagus, Ikhsan!" puji Lea.


"Dia kayak bola bowling." Ledek Adi.


"Syukurlah kita bisa keluar." Eva tersenyum.


"Fernan, ini kesempatan kita! Ayo lari lebih cepat!" Fernan mengangguk pada Afi.


Mereka semuanya berlari lebih cepat kecuali Rini yang mulai melambat!


"IICCHAAAAN...... TUNGGGUUU!!" Rini meneriakinya sesaat lalu terjatuh. Nafasnya tersengal-sengal. Aji dan Prity pun terhenti.


"Woy! Jangan jatuh sekarang!" Aji menyemangati Rini. Mulutnya masih berusaha mengatur nafas. Ia mengangkat tangan sebagai gantinya.


"Cih, Kalau gitu sini gw gotong!" Aji menawarkan tumpangan.


"Heh? Apa ini? Kenapa orang yang omongannya egois kayak Netizen tiba-tiba mau nolongin?" Prity penasaran.


"Habisnya...." Aji terhenti sejenak. Prity makin penasaran.


"Dia mirip banget sama Chika!" Prity tersentak.


Chika adalah salah satu karakter yang terdapat dalam aplikasi yang sedang trend Pacar 2 Dimensi. Aplikasi ini masih sangat baru namun cukup banyak peminatnya terutama bagi kalangan remaja yang anti sosial.


Pelanggan akan memilih karakter yang dia suka dan memilih adegan nembak sesuai yang mereka suka, setelah diterima mereka bisa berpacaran layaknya pacar sungguhan seperti bicara hingga tertidur, membangunkan setiap pagi, dan sebagainya. Karakter yang sudah dipilih tidak bisa dipilih oleh pelanggan lain dengan top up tiap bulan, data pelanggan dijamin kerahasiaannya. Chika memiliki rambut gulung, memakai gaun ala Putri dan badan mungil seperti Rini.


"AJI S****N! KEMBALIIN PUJIAN GW TADI!" Prity mengejar Aji dengan Rini di bahunya.


"KAPAN LU MUJI GW??!!" teriak Aji.


"HUWAAA!!!! TOLONG! ADA NENEK LAMPIR!!!!" Rini menangis ketakutan.


"SIAPA YANG LU BILANG, NENEK LAMPIR!!!!!!"


Prity tambah marah, membuat banyak murid ikut kabur melihatnya. Tak butuh waktu lama mereka semua berhasil keluar dari sekolah.


*****


Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Tak seperti malam biasanya, begitu sepi, gelap dan berkabut. Bulan tertutupi oleh kabut yang pekat, sebuah tanda hujan deras akan turun. Di saat murid lainnya tertidur pulas di ranjang yang hangat dan nyaman, KKN yang tersisa bangun di tengah dinginnya malam di tempat yang aman bagi mereka masing-masing.


Di sebuah rumah yang besar, terdapat banyak pengawal di sekitar gerbang bahkan dekat kamar. Prity dan Aji berada di dalam kamar yang dihiasi warna biru terang yang elegan. Lemarinya berwarna hitam dengan ukiran kayu memberikan kesan dewasa dan artistik. Di meja yang seirama dengan nuansa kamarnya, Aji duduk di hadapan laptopnya. Prity memperhatikan dari jendela dengan rasa cemas.


"Kamu pikir dengan menyuruh banyak bodyguard di sekitar rumah bakalan aman dari Kepala Sekolah itu?" tanya Aji.


"Mana ku tahu! Jangan ngomong aja! Kasih aku info lengkap soal Kepala Bening itu!" Prity membentak namun raut paniknya terlihat jelas.


"Terus juga, kenapa lu bawa dia ke rumah kita?" Lanjut Prity menunjuk Rini yang terbaring pingsan di tempat tidurnya.


"Emang kenapa? Lagian imut juga."


"Lu sadar gak sih, omongan lu barusan nunjukin kalo lu p***f**!" Prity meledeknya.


"Gw bukan p***f**! Dia seumuran sama kita. Artinya DIA LOLI LEGAL!!!!"


"MAU LEGAL ATAU GAK, KALO LU CULIK SAMA AJA ILEGAL!!"


"Aku gak nyulik dia. Aku udah kirim pesan ke ortunya."


"Masa? Kamu bilang apa ke ortunya?"


"Aku bilang, "Aku bakal pulang besok pagi. Jangan cari aku!" gitu!"


"Itu pesan cewek yang mau ngelac*r!" bentak Prity.


"Bercanda, aku cuma bilang dia bakal nginap di rumah temennya untuk tugas sekolah." Aji tertawa kecil. Prity lega.


"Dasar! Sekarang bukan saatnya bercanda."


"Habisnya, mukamu panik begitu. Kalo gak bisa balik kamu bakal jadi nenek bener---" Aji dipukul Prity tepat di wajahnya.


******


Sementara itu, tak terlalu jauh dari rumah Prity dan Aji, sebuah rumah besar gaya Amerika dikelilingi tembok besar yang tinggi. Di dalamnya, rumah tersebut tertutupi oleh pepohonan mahoni yang besar dan lebat hingga tak terlihat dari luar. Jauh di dalam rumah, Afi dan Fernan berdiam diri di loteng. Fernan mengawasi keadaan di luar sementara Afi menerima sebuah berkas yang dibawa oleh pelayan rumahnya.


"Masih tidak ada pergerakan, Afi." ujar Fernan


"Ya sudah. Fernan kemari sebentar!" Afi memanggilnya. Fernan mendekat selagi Afi membaca berkas tersebut dengan hati-hati.


"Ini berkas informasi tentang Pak Agus." Afi membiarkan Fernan ikut membacanya.


******


Adi mengintip dari jendela sebuah apartemen besar setinggi 15 lantai. Apartemen tersebut dijaga oleh satpam yang cukup ketat.


"Katanya udah gak bisa ke sini lagi, karena jauh dari sekolah. Kenapa kesini lagi?" Kata wanita paruh baya yang baru saja pulang dari kantor. Ia perlahan melepas bajunya walaupun Adi ada di dalam.


"Habisnya aku kangen sama bu guru." Adi tersenyum pada wanita tersebut.


"Kamu bohong kan? Kamu ngomong gitu sebab cewek di SMA mu sekarang gak bolehin kamu tinggal lagi kan?" Wanita itu memandangnya dengan tersenyum.


"Ah Ibu Shera ni, tahu aja apa yang Adi sembunyikan!" ucap Adi sambil memeluk wanita itu dari belakang.


"Tunggu, aku belum selesai ganti baju!"


"Kalau gitu, biar aku gantikan, ya bu!" Adi memandangnya dengan mesra. Bu Shera membalas dengan senyuman.


******


Lea duduk di dalam kamar berukuran 3x4 sambil meminum susu kaleng bersama seorang gadis berambut setengah panjang sedang minum kopi.


"Maaf ya, Risky. Karena keadaanku sekarang, aku ijin menginap di tempatmu. Kamu bahkan membelikanku susu kaleng kesukaanku." ucap Lea.


"Tidak papa, Kak Lea. Aku malah sangat bahagia kalau Kak Lea mau menginap di kost ku yang sederhana ini." Jawab Risky merendah.


"Tidak seburuk itu kok. Anu.. Risky. Sebenarnya kenapa sih kamu selalu merendah seperti itu di hadapanku? Kamu juga banyak membantuku memulai debut. Aku jadi tidak enak." Risky berbalik menatapnya lalu tersenyum.


"Itu karena, aku menyukaimu." balas Risky. Lea diam, matanya terbuka lebar. Kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.


"Kamu ini! Aku tahu kamu juga pintar akting tapi berhentilah berakting seperti itu! Aku jadi terkejut." tutur Lea.


"Habisnya reaksimu lucu sekali... Aku membantu mu karena aku suka dengan aktingmu. Saat kamu memainkan peran Putri, aku tersentuh. Jadi aku memutuskan agar kamu bisa debut dan orang-orang akan melihat akting luar biasamu." Ujar Risky.


"Oh iya saat itu juga kamu terpilih jadi pangerannya ya? Kamu jadi bisa melihat aktingku lebih jelas. Jadi nostalgia ya."


"Gara-gara itu banyak cowok yang nembak kamu." Risky mengambil kaleng susu yang habis dan beranjak untuk membuangnya.


"Aaahh iya saat itu benar-benar heboh sekali." ucap Lea menyipitkan matanya.


"Mereka terpesona denganmu, aku pun juga begitu. Mungkin kalau aku cowok, aku juga bisa menembakmu tahu." Kata Risky membuang kalengnya ke dalam keranjang sampah.


"Hah? Sebagus itu kah? Sekarang aku ngerti kenapa Prity benci banget sama aku." Lea membaringkan tubuhnya di lantai.


******


Di hutan kota, Ikhsan tersesat di dalamnya dalam keadaan lapar. Perutnya tak berhenti keroncongan. TAP TAP! Seekor kelinci berdiri di hadapannya, kontak mata pun terjadi. Air liur mengalir dari sudut bibirnya, perutnya makin berisik. Kelinci itu sadar lalu melompat kabur dari Ikhsan. Ikhsan mengejarnya. Kelinci itu terkejut karena Ikhsan mampu menyusulnya dengan sangat cepat. HAP! Kelinci telah tertangkap.


"YEEEE,,, DAPAT KELINCI!! AKHIRNYA BISA MAKAN JUGA!! AKAN KU BUAT SATE KELINCI HEHE!"


Ikhsan mengayun-ayunkan kelinci tersebut dengan senangnya. Kelinci tampak pucat. Tiba-tiba sosok gadis berambut panjang berdiri di belakangnya sambil membawa pisau. Merasa diperhatikan, Ikhsan menoleh ke arahnya.


******


Aji menunjukkan data diri Pak Agus kepada Prity dengan laptopnya. Ia terbelalak.


"Selain karena dia juara karate, riwayat pendidikan nya yang lain biasa saja. Harusnya kita bisa menanganinya." ungkap Prity percaya diri.


"Padahal baru saja kamu ketakutan." Aji meledeknya.


"Karena kita sudah tahu riwayat pendidikannya, aku jadi tenang." Prity menyeringai kala Aji masih berkonsentrasi penuh meneliti berkas tersebut.


******


Pandangan Ikhsan tertuju pada sosok gadis itu. Mereka terdiam sejenak. Tiba-tiba Ikhsan menodongkan kelinci di hadapannya.


"Kamu bisa masak kelinci?" Gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Lalu buat apa kamu kesini, kamu juga siapa?" tanya Ikhsan dengan polosnya.


"Seharusnya aku yang bilang begitu, kamu sedang apa disini, Ikhsan?" Gadis itu berjalan mendekat, sinar bulan menyorot ke wajahnya, ternyata gadis itu adalah Eva.


"Kamu kan.... " Ikhsan berusaha mengingat wajahnya.


".... Haa.. setan di ruang Kepala Sekolah!" tunjuk Ikhsan. Eva tertawa kecil.


"Aku Eva, aku bukan setan. Aku murid sama kayak kamu. Sedang apa kamu disini?".


"Aku kesasar, dan lapar."


"Kalau begitu, aku akan memasakkanmu sesuatu." ucap Eva sambil mengangkat pisau di tangannya.


"Beneran? Kamu mau masak kelinci itu? Wah makasih!!" Kelinci itu terkejut.


"Bukan, bukan. Aku tidak mungkin memasak temanku sendiri." ujar Eva tersenyum sambil menunjukkan kantung plastik berisi bahan makanan di tangan satunya.


"Iya, semua hewan di hutan ini adalah temanku. Mereka tinggal disini."


"Oohh.. apa kau juga tinggal disini?" Eva tertawa kecil.


"Tentu saja tidak. Aku disini karena sepertinya Kepala Sekolah mulai mencoba menangkap kita lagi. Jadi daripada aku pulang lebih baik aku bersembunyi disini malam ini." Eva duduk membuat api kecil dan menyiapkan bahan makanan untuk dimasak. Ikhsan duduk mendekat.


"Bagaimana kau tahu?!"


"Karena dia sudah menangkap Eni, yang paling kuat dari kita semua jadi dia pikir menangkap kita pasti mudah. Aku sendiri juga tidak punya pertahanan diri, aku cuma dibantu teman-teman dan Red?"


"Red?" Ikhsan bingung.


"Anjing sekolah kita, namanya Red?" Ikhsan membayangkan anjing itu dengan bulu warna hitamnya.


"Bulunya hitam kenapa namanya Red?" Eva tertawa lagi.


"Memang bulunya hitam, tapi dia suka apa saja yang berwarna merah. Makanya dia ku beri warna merah." tutur Eva. Ikhsan mengingat kejadian saat ia dikejar anjing itu. Sekarang ia mengerti mengapa anjing itu selalu mengejarnya karena ia selalu memakai baju olahraga berwarna merah.


"Wah hebat ya, kamu bisa mengerti bahasa binatang." Eva tersenyum disanjung Ikhsan.


"Aku tidak mengerti bahasa mereka tapi aku mengerti perasaan mereka." Ikhsan mengerti.


"Kamu sendiri akan melakukan apa supaya tidak ditangkap?" Lanjut Eva.


"Tidak tahu. Tapi saat ini aku ingin makan. Kau bilang mau masak, tapi mau masak apa?"


"Oh iya, memang aku tidak akan masak kelinci atau daging lainnya. Tapi aku punya jamur dan sayur."


"Tidak apa-apa. Walaupun bukan daging, aku senang kalau kau mau berbagi makanan denganku." Eva senang mendengarnya.


"Kalau mau, Ikhsan. Kamu boleh bergabung denganku untuk menghindar dari Kepala Sekolah itu."


"Wah boleh, ide bagus. Aku juga akan membantumu makan, coba saja Rini ada disini, dia pasti akan mengajarimu masak makanan enak." Ucap Ikhsan bersemangat. Eva tertawa kecil.


"Kamu sangat suka makanan ya?" ungkap Eva sambil tertawa kecil.


"Kamu sendiri sangat suka tertawa ya?" lontar Ikhsan membuat Eva tertawa. Tiba-tiba sesuatu melompat ke arah mereka. Belum sempat melihat, mereka sudah jatuh terkapar, seluruh bahan makanan jatuh ke tanah.


*******


Salah satu Bodyguard memberitahu Aji dan Prity lewat walkie talkie. Seseorang telah menyusup ke dalam rumah.


"Oh sudah dimulai kah? Kita lihat siapa yang menang?" tantang Prity.


Aji memeriksa CCTV rumah, ia terkejut.


"Prity, ini bukan Kepala Sekolah." ujar Aji membuat Prity terkejut.


"Lalu siapa yang menyusup?"


"Aku gak tau, dia pakai baju hitam tertutup dan topeng bertudung tapi, badannya ramping dan gesit kayak..."


"EENIII!!!" Mereka bersamaan.


"Heh? Walaupun dia sudah nangkap Eni, dia menghasutnya supaya menangkap kita? SI BOTAK S****N ITU!!!" cetus Eni.


"Gimana ini? Eni mungkin gak kuat tapi dia gesit dan bisa menyerang titik lemah lawannya." Prity berjalan kesana kemari menggumamkan sesuatu.


"Setahuku Eni bukan orang yang bisa dihasut dengan mudah tapi kenapa dia malah menerima hasutan si botak itu? Pasti ada alasannya..."


Sesuatu telah muncul dalam pikirannya, tepat dengan kedatangan Eni ke dalam ruangan mereka. Mereka menoleh sesaat hingga akhirnya mereka dilempar sebuah sapu tangan yang sudah dibasahi oleh obat tidur. Belum sempat menghirup oksigen, bau obat tidur sudah merasuk dalam tubuh mereka, dan akhirnya terkapar.


*******


BYURRRRR!!!!


"DINGGIIINNN!!!" teriak Prity merasakan air membasahi tubuhnya. Ia melihat Aji, Rini, Eva, Ikhsan, Afi, Fernan juga baru terbangun. Di depan mereka, Eni yang memakai baju hitam sedang melihatnya bangun dengan ember di tangannya.


"Sudah ku duga, kamu pelakunya Eni. DAN JUGA BERANINYA KAU MENYIRAMKU DENGAN AIR DINGIN!!" Eni hanya terdiam.


Setelah mereka terbangun, pandangan mereka tertuju pada Adi duduk menghadap tembok di sudut ruangan dalam kondisi telanjang bulat. Merasa diperhatikan, Adi tambah gemetar.


"Jangan melihatku saja! Tolong carikan aku baju!" bentak Adi. Mereka hanya menyipitkan matanya.


"JANGAN MELIHATKU SEPERTI ITU! ITU SALAH ENI KARENA TIDAK MEMBIARKANKU MEMAKAI BAJU DULU SEBELUM DIBAWA KEMARI!!" Eva tertawa kecil.


"Jangan tertawa saja, Eva! Tolong aku!"


"Adi, dalam keadaan seperti ini kamu malah..." Prity berhenti mengatakannya.


"BERISIK! AKU PUNYA ALASAN SENDIRI!!"


"Daripada itu, aku lebih penasaran kenapa Eni membawa kita semua ke tempat gelap dan sempit ini? Apa Kepala Sekolah yang menyuruhmu?" tanya Afi.


"DARIPADA ITU KATAMU! KAU TIDAK LIHAT ORANG INI BISA MATI KEDINGINAN! WALAUPUN KAU CERDAS TAPI KAU TIDAK PUNYA HATI!" bentak Adi merasa tersinggung. Afi ikut tersinggung.


"HAAHH? KENAPA AKU HARUS PEDULI PADA LAKI-LAKI BEJAT YANG MENGHABISKAN HIDUPNYA UNTUK MELAC*R PADA CEWEK?! KAMU BAHKAN TIDAK BISA DIPANDANG SEBAGAI MANUSIA TAPI BINATANG!! TELANJANG MEMANG COCOK UNTUK BINATANG!" kata Afi dengan mulut sadisnya. Tak hanya Adi, yang lain pun ikut tersentak. Eva tertawa kecil oleh reaksi mereka.


"Adi, walaupun mungkin tidak membantu. Tapi kamu boleh pakai jas labku kalau kamu mau." Eva memberikan jasnya, Adi berterima kasih.


"Kamu yakin, Eva? Dia akan menciumi jasmu lho."


"Ya walaupun begitu, tapi melihatnya tanpa busana bukannya lebih kasihan?" Ujar Eva tersenyum.


"Daripada kasihan, aku lebih jijik." Ledek Prity. Adi protes.


"Benar itu, Kalian yang cowok tidak kasihan kah melihatnya tanpa busana begitu!"


"Aji, lepas jaketmu! Berikan pada Adi." Perintah Prity.


"Sorry, bukannya tidak mau tapi aku tidak bisa."


"SUDAHLAH LAKUKAN SAJA! TIDAK AKAN ADA YANG AKAN PEDULI DENGAN PANU YANG ADA DI TUBUHMU!"


"AKU TIDAK PUNYA PANU!!" teriak Aji. Fernan ingin ikut membantu, ia hendak melepas bajunya tapi dihentikan oleh Afi.


"Fernan tidak apa-apa. Kamu gak usah ikut bantu. Bajumu terlalu besar buat dia." ucap Lea. Walaupun Lea tahu sebenarnya bukan itu alasannya mengatakan itu.


"Hei, aku menemukan celana walaupun agak kotor!" Ujar Ikhsan sambil mengayunkan celana training berwarna pink.


"Kenapa pink?" Keluh Adi.


"Sepertinya itu celana training perempuan." Ujar Eva.


"Setidaknya lebih baik daripada tidak ada kan? Pakai saja!" desak Prity.


"Tapi tapi tapi!!"


"Gak usah tapi-tapi! Dan gak usah ngeluh kayak anak kecil! Eva sudah berbaik hati meminjamkan jasnya. Itu lebih baik!" Prity terus mendesak Adi. Tapi harga diri Adi tidak bisa menerima itu.


"Baiklah. Akan ku pinjam kan Hoodie ku jadi pakailah celana itu." Aji memberikan hoodienya. Adi pun memakainya.


"Sebenarnya ini tempat apa? Kenapa bisa ada celana training disitu?"


"Ini kan Gedung Olahraga bekas milik SMA Agung Jaya." ujar Lea.


"Hah? Jadi kita dekat dengan Sekolah?" Prity menatap Eni dengan terkejut. Eni mengangguk.


Gedung tersebut berada di luar kawasan SMA Agung Jaya, sudah ada sebelum dibuat tembok pagar yang mengelilingi sekolah. Gedung ini mengalami kerusakan berat akibat lampu yang konslet sehingga membakar seisi gedung seperti Bola, Net, dan sebagainya menimbulkan korban jiwa. Akibatnya banyak kabar yang mengatakan gedung ini angker sehingga tidak digunakan lagi.


"Sebentar, kamu bilang Gedung Olahraga bekas kan? Kita di dalamnya?" Rini tambah panik.


"Gedung Olahraga?! Terus gimana celana yang gw pake? Kalo penunggunya marah gimana?" Adi ikut panik sementara mereka semua memperhatikan pakaian Adi yang memakai hoodie dan celana pink. Ikhsan tak bisa menahan tawa, yang lain pun ikut tertawa terbahak-bahak. Adi marah-marah untuk menutupi rasa malunya.


"Tidak apa-apa Adi, aku yakin hantunya bahagia melihatmu sekarang." Ledek Aji. Adi semakin jengkel. Eva berusaha menahan tawanya.


"Selain itu, bagaimana kamu tahu keberadaan kami semua, Eni?" Tanya Afi yang tak tertawa sedikitpun, begitu juga Eni.


"Biar ku tebak, Kepala Sekolah?" sahut Aji. Eni mengangguk.


"Kamu kenapa tidak bicara apapun?" tanya Ikhsan bingung.


"Kamu tidak sadar, Ikhsan? Dia diawasi!" Sahut Prity. Eni pun memperlihatkan earphone yang tersambung di telinganya. Mereka terbelalak.


"Kalau begini akan sulit. Aji, bisa lakukan sesuatu dengan itu?" tanya Prity.


"Akan ku ganggu sinyalnya, tapi hanya bisa 5 menit saja." Aji mengeluarkan ponsel di dalam sakunya.


"Itu cukup." Sahut Afi. Aji mencoba yang ia bisa. Tak butuh waktu lama, Aji berhasil mengganggu sinyalnya. Eni pun bicara.


"Oke, aku akan beritahu tujuanku menculik kalian."


"Bukannya karena disuruh Kepala Sekolah?" Ujar Lea.


"Hampir benar. Sebenarnya Kepala Sekolah memang menghasutku untuk menangkap kalian. Tapi aku tidak akan menangkap kalian."


"Maksudmu?" tanya Ikhsan bingung.


"Kepala sekolah memberitahu lokasi kalian dan memintaku mengurung kalian lagi di ruangannya. Aku berpura-pura terhasut dan mengikuti rencananya."


"Sudah ku duga, aku tahu kamu bukan orang yang mudah dihasut." cetus Prity.


"Begitulah. Jadi aku membawa kalian kesini untuk memberitahu rencana penangkapan nya sehingga kita bisa menyerang balik."


"Waahh serangan balas dendam. Keren!!" Sahut Ikhsan.


"Itu juga yang ku pikirkan! Orang botak itu memang harus dikasih pelajaran!" Ujar Prity setuju. Yang lain pun ikut bersemangat dengan rencana balas dendam ini.


"Tunggu dulu, aku tidak ikut!" Sahut Afi mengacaukan suasana. Semuanya terkejut.


Bersambung