KKN

KKN
BAB 5 - KARMA



"Eni, kamu gak papa?" Suara gadis membangunkan Eni dari pingsannya. Butuh waktu lama bagi Eni membuka mata kala tubuhnya penuh dengan memar dan luka.


"Syukurlah. Kamu sudah bangun!" ucap Eva lega.


"Eva, harusnya kamu biarkan saja pengkhianat ini!" cetus Prity memalingkan wajahnya, tampaknya masih kesal.


"Kamu masih kesal? Padahal kamu sendiri ninggalin Eni!" Ledek Aji


"Huu!!! Pengkhianat!" Ikhsan ikut meledek Prity, membuatnya naik pitam.


"KALIAN JUGA! JANGAN SALAHKAN AKU SAJA!!"


"Sudah sudah.. setidaknya kita impas kan? Eni sudah terluka kayak gini." Semuanya hanya diam menerima bujukan Eva.


"Ini dimana?" tanya Eni.


"Kita masih di rumah Pak Agus." sahut Rini yang duduk di sampingnya.


"Dia melemparmu ke dalam, beneran deh Pak Agus itu gak ada respectnya sama cewek." sindir Prity. Raut wajahnya tegang.


"Gak ada respect sama cewek? Yang ku lihat cuma anak nakal!" Suara dari speaker, Pak Agus menganggu pembicaraan Prity. Rini berlari ke belakang tubuh Ikhsan lagi. Semua mata terfokus pada pengeras suara itu.


"Maaf tapi, bisakah siapa saja nyalakan komputer dan LCD?" Pak Agus meminta tolong.


"HAH? KENAPA KITA HARUS MENGIKUTI SEMUA PERINTAHMU?" berontak Prity.


"Tidak masalah kok, tapi ku harap kalian tidak menyesal karena ada yang ingin ku tunjukkan pada kalian?"


Prity semakin jengkel pada Pak Agus yang terus mempermainkan mereka. Aji menyalakan komputer dan LCD yang berada di ruangan tersebut. Dengan arahan Pak Agus, mereka terhubung ke dalam Video Call yang memperlihatkan sebuah ruangan berlatarkan rak buku. Pak Agus tengah duduk dengan kedua tangan memangku kepalanya sambil menyeringai.


"Selamat malam semuanya, sepertinya Eni juga sudah bangun. Baguslah, pembicaraan jadi lebih cepat."


"GAK USAH BASA-BASI! DAN KATAKAN APA YANG MAU BAPAK TUNJUKKAN!" geram Prity.


"Dasar gak sabaran... kalau kamu terus begitu nanti saat dewasa kamu sudah jadi nenek-nenek lho~."


Pak Agus membalas sindiran Prity tadi. Terdengar suara tawa kecil dari Lea yang memalingkan wajahnya. Bahunya naik turun seirama dengan tawanya yang melengking.


Amarah Prity sudah sampai puncaknya. Ia melepas salah sepatunya bersiap untuk melempar ke layar LCD.


"Tunggu Prity, jangan terbawa emosi! Dia sengaja bikin kamu marah." ujar Aji. Dibantu Adi, mereka menahan Prity dengan memegangi masing-masing tangannya dari belakang.


"JANGAN HENTIKAN AKU! AKU AKAN MENGHANCURKAN SENYUM JAHAT DI WAJAHNYA ITU!!" Prity meluap-luap. Lea masih tidak berhenti tertawa malah ia semakin tertawa lebih keras lagi.


"HENTIKAN! KAMU CUMA JADI TERLIHAT BURUK-" Ucapan Adi terhenti ketika tangannya tanpa sengaja menyentuh dada Prity. Tangan Adi berada di bagian paling lembut dan berbahaya di dunia. Semuanya terbelalak. Amarah Prity pada Pak Agus dialihkan ke Adi seutuhnya.


"ELO YANG TERBURUK!!!" Prity menyikut Adi sangat keras menghantam hidung Adi. Ia jatuh terbaring dengan wajah mimisan yang senang. Rini tampaknya yang paling ketakutan, meskipun dia masih bersembunyi di belakang Ikhsan.


"AAAAA!!! DIA BERDARAAHHH!!!" Rini menggoyang-goyangkan badan Ikhsan sangat kencang hingga ia pusing sambil melantur ingin puding.


"Adu-duh! Adi, duduklah! Aku akan mengambil tisu sebentar." Ujar Eva lembut sambil mempersiapkan alat-alat untuk mengobatinya.


"Habislah! Adi bakal masuk daftar orang yang bakal dia benci selain mantannya." Aji memperjelas.


Lea masih belum berhenti tertawa, ia bahkan memukul tembok berkali-kali saking tak bisa menahan tawanya. Prity membentak kasar Lea. Fernan, Afi dan Eni tidak ingin terlibat dengan keanehan mereka. Begitupun Pak Agus yang cuma bisa menutupi mulutnya yang terus senyam-senyum.


"Baru sehari bersama tapi kalian sudah seramai ini. Harusnya 1 tahun tidak jadi masalah kan?" Pak Agus mengingatkan karantina mereka lagi.


"TUNGGU DULU! BAPAK TIDAK BISA MENAHAN KAMI BEGITU SAJA! JIKA BAPAK TIDAK MELEPASKAN KAMI, AKAN KU LAPORKAN BAPAK KE POLISI!!" ancam Prity sambil menunjuk ke arah Pak Agus.


"Haha.... Ancamanmu tidak akan berhasil karena..... aku sudah mendapat izin dari orang tua dan wali kalian." tegasnya. Ucapannya mengubah suasana menjadi tegang. Pak Agus menunjukkan salah satu lembaran pada mereka.


"Aku tahu menangkap kalian tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan meski sudah ditangkap kalian pasti masih bisa lolos. Tapi berbeda kalau aku mengikat kalian dengan surat persetujuan."


"Surat persetujuan?" ucap Eva.


"Iya, surat persetujuan bahwa orang tua dan wali kalian secara resmi menyerahkan kalian padaku selama 1 tahun ke depan."


Tampak cemas dan ketakutan di wajah mereka. Suasana ruangan menjadi lebih tegang dari sebelumnya. Ikhsan dan Eva yang selalu tersenyum menjadi pucat. Sepatu yang dipegang Prity, terlepas dari tangannya. Tawa Lea seakan hilang bagai ditelan bumi.


********


"Tttt-tunggu, bagaimana bisa? Orang tuaku..." Eni tak bisa meneruskan perkataannya.


"BENAR! ORANG TUAKU TIDAK MUNGKIN SEMUDAH ITU MEMBERIKAN TANDA TANGANNYA PADAMU!!!" sahut Prity tak percaya.


"Bapak tidak bisa berbohong dengan membuat tanda tangan palsu!" Afi ikut menyudutkan. Fernan mengangguk setuju.


"BENAR TUH, BOTAK!" seru Ikhsan.


"Orang tua kami.... sangat menyayangi kami!" ucap Rini memberanikan diri berpendapat.


"Berapa banyak Bapak nyogok keluarga kita, hah?!" Lea semakin menyudutkan Pak Agus.


Mereka menyoraki Pak Agus sementara Adi dan Eva hanya termenung tak memberontak seperti yang lainnya. Eni juga tampak memikirkan banyak hal. Dari tempatnya, Aji memperhatikan mereka.


"Tidak ada kebohongan. Surat ini asli dan tanda tangannya juga asli, bahkan ada materainya." tunjuk Pak Agus.


"Materai hanya untuk surat perjanjian tidak jelas itu?" ledek Lea.


"Terserah jika kamu pikir begitu. Tapi kalau kalian berani melanggar surat ini, kalian gak cuma bakal dicari olehku saja. Tapi juga seluruh murid di sekolah ini..."


"Gak masa-" potong Prity tetapi Pak Agus belum selesai bicara.


"..., juga dicari oleh murid sekolah lain, warga setempat, Kepolisian, Pengguna Sosmed, dan-"


"SAMPAI POLISI? LU JADIIN KITA BURONAN APA GIMANA?!" Prity memotong lagi.


"Karena kalau gak begitu, kalian pasti bakal kabur lagi, kan? Aku juga sudah repot-repot desain poster buronan kalian. Sudah ku pasang foto kalian paling cakep." Pak Agus menunjukkan foto buronan mereka semua.


"CAKEP APANYA??!! ITU FOTO KTP KITA!!!.... KENAPA MALAH PAKAI FOTO YANG UDAH JELEK SEUMUR HIDUP LAGI?" protes Prity.


"Hahahaha... kalian jadi kehilangan niat buat kabur kan?" Ujar Pak Agus.


"Gak cuma galak, tapi juga sadis!" cetus Aji. Tiba-tiba Afi mendekati LCD.


"Bapak yakin bakal nyebarin foto itu? Apa Bapak tahu gimana reaksi Netizen kalau mereka tahu Bapak memperlakukan muridnya dengan kasar? Bukannya hanya jadi senjata makan tuan?"


Afi tampak senang menghasut Pak Agus. Namun gemetar pun tidak, Pak Agus malah menertawakan ucapan Afi yang membuatnya bingung.


"Menurutmu netizen lebih percaya yang mana? Kepala Sekolah baru yang menyiksa 10 murid dalam 1 hari atau 10 murid yang menyiksa seluruh warga sekolah selama 2 tahun?" Ucap Pak Agus membuat Afi kesulitan menjawab. Pak Agus berdiri dari kursinya dengan kedua tangan di saku celananya.


"Kejahatan akan selalu dibalas dengan Kejahatan. Kalian hanya menuai apa yang sudah kalian tabur... Jika kalian masih mau lulus, ikuti peraturan dan belajar perbaiki diri kalian di sisa tahun ini." Lanjut Pak Agus. Anak KKN merenung tak bisa mengatakan apapun.


"Oh dan satu hal lagi,.. Lea!"


Lea terkejut karena Pak Agus memanggil namanya.


"... Mulai hari ini kamu harus berhenti kerja paruh waktu!"


Wajah Lea langsung pucat sepucat-pucatnya.


"Aku tahu kamu bekerja di banyak tempat tapi bisa-bisanya kamu bekerja dengan menyamar sebagai Mbak Sri untuk mendapat uang lebih." (Lihat lagi di Bab 1).


"HAH?! MASA?!!!" ucap Prity dengan suara tinggi.


"YANG BENER? MBAK SRI TUKANG SAPU ITU?" Aji ikut terkejut.


"GOKIL! Gak nyangka kalau kalian orang yang sama." Adi pun sama. Lea jadi merasa disudutkan.


"Mbak Sri yang mana?" Ucap Ikhsan mengejutkan yang lainnya.


"Itu loh Ichan, tukang sapu yang cewek. Kita pernah ngasih dia kue." jelas Rini. Ikhsan berusaha keras mengingatnya.


"OH! YANG-" ucapnya terhenti merasa tidak yakin.


"KALAU GAK INGAT BILANG AJA GAK INGAT! GAK USAH GANTUNG BEGITU!!" cetus Aji mulai kesal.


"HAHAHAHA!!! BERITA INI PASTI BAKAL LAKU!! FANSMU PASTI BAKAL SHOCK.... BWAHAAHAHA!! ADUH, PERUTKU... SAKIT! PANTESAN WAJAHMU KESAL WAKTU ITU!" Prity terus tertawa terbahak-bahak.


"INILAH KENAPA AKU GAK MAU NENEK PEOT INI SAMPAI DENGAR!!" teriak Lea melampiaskan kekesalannya. Pak Agus mengakhiri pembicaraannya.


"Baiklah, itu saja dariku. Aku juga sudah meminta tolong orang tua dan wali kalian untuk membawakan barang-barang kalian ke sekolah. Tampaknya sudah semua-"


"Tunggu!" Eni memotong.


"Oh Eni, tenang saja Eni barangmu sudah ada-"


"JANGAN BOHONG!" teriak Eni mendiamkan Pak Agus dan lainnya.


"Orang tuaku tidak pulang kan? Bagaimana kau bisa mendapatkan tanda tangannya? Mereka juga tidak mungkin yang membawakan barangku. Mereka takkan mungkin pulang hanya karena masalah ini. Bapak sudah jelas berbohong!" Ucap Eni kesal. Yang lain pun tidak bisa mengatakan apa-apa.


"Iya, memang orang tuamu tidak pulang. Tapi aku mengirim suratnya pada mereka dan mereka menandatanganinya. Sudah dipastikan ini asli. Dan soal barangmu,.... Harusnya kamu sudah tahu siapa kan?" Ucap Pak Agus memberi kode tetapi Eni tidak bisa menebak siapa orang yang dimaksud.


"Ketua OSIS lah itu!" Sahut Prity, Eni langsung terkejut.


"Cieee... dapat perhatian lebih dari Ketua OSIS." ledek Lea sambil menyikut jahil bahu Eni.


"Kenapa gak pacaran aja sih? Padahal cocok loh!" Ucap Prity manis di hadapan Eni.


Eni menurunkan pandangannya dan memejamkan mata tapi wajah merah tomat masih bisa dilihat Prity, Lea dan juga yang lainnya dengan mata terbuka lebar.


"Woah!! ENI MALU!! LIAT MUKANYA MERAH BANGET!" Lea berkoar-koar.


"Walaupun kelakuan laki banget tapi pas malu imut banget." Sahut Adi.


"Tidak, Adi! Bagiku, Eni sudah imut sejak pertama kali aku melihatnya." puji Eva. Eni semakin menunduk menyembunyikan wajahnya saking malunya.


"KALIAN SEMUA, HENTIKAN! ENI JADI KEREPOTAN!!" Rini membentak mereka semua demi Eni.


"HAHAHAHAA... MUKANYA KAYAK TOMAT-" ledek Ikhsan terhenti saat Eni tiba-tiba melempar kantung kecil berisi tepung dari tas kecilnya. Yang lain tertawa terbahak-bahak oleh muka Ikhsan yang putih terkena tepung.


"Nah, ini baru Kue Putri Salju." Ledek Prity. Ikhsan mulai melempar sisa tepung ke Eni dan juga yang lainnya. Saling lempar tepung pun terjadi.


Pak Agus menyaksikan mereka dari balik layar dengan senyum lembut.


"Benar apa katamu, Pak Drajat. Ini adalah bibit yang sangat bagus. Pasti 1 tahun ke depan tidak ada masalah." pikir Pak Agus.


"Sudah! Hentikan permainan anak kecil ini! Mulai malam ini kalian tidur di sekolah." Ujar Pak Agus serius.


Pak Agus mengeluarkan mereka dari ruangan dengan tali tambang terikat di pergelangan tangan mereka dan mata ditutupi kain hitam. Satu persatu Pak Agus menuntun mereka ke mobil dan mulai masuk sesuai arahan.


"Bapak gak harus sampai ngiket kita kayak gini. Kita juga gak akan kabur kok." Ujar Prity sambil masuk ke dalam mobil.


"Untuk jaga-jaga saja. Aku takut kalian mencoba kabur saat di mobil." Ujarnya sambil hendak menutup pintu mobil.


"Walaupun Bapak selalu kasar, tapi sebenarnya Bapak melindungi kita kan?" tanya Prity membuat Pak Agus terhenti sejenak.


"Aku gak ngerti apa maksudmu. Kalian semua, jangan berisik sampai ke sekolah!" Ujar Pak Agus sambil membanting pintu mobil cukup keras.


Pak Agus membawa mereka masuk ke dalam sekolah yang semakin gelap dan sunyi. Mereka melepas ikatan dan penutup matanya. Terdengar suara anjing semakin mendekat dari balik gedung sekolah.


"REEDD!!" panggil Eva.


"Siapa Red?" tanya Lea.


"Red itu nama anjing sekolah ini." sahut Ikhsan bangga.


"Oi! Kamu mau memanggilnya sekarang?" Lea mulai panik diikuti Eva yang masih terus memanggil Red. Ikhsan juga membantunya.


Mereka sampai di sebuah 2 Ruang Klub yang masih kosong berada di timur laut diantara toilet dan Kelas Masak.


Bertepatan dengan Red yang akhirnya muncul. Rombongan langsung menjadi kocar-kacir. Rini sembunyi dibalik badan Ikhsan. Prity dan Lea saling berpelukan sampai akhirnya mereka sadar dan melepasnya. Adi dan Aji sembunyi di belakang Eni. Red berlari dan melompat ke pelukan Eva yang sangat bahagia.


"Red, syukurlah kukira kamu kenapa-napa karena tidak berada di dekat gerbang." Eva memeluknya erat dengan air mata berlinang di sudut matanya.


"Sepertinya satpam sekolah lupa membuka kandangnya setelah murid pulang. Kalau begitu kamu bisa memegang tanggung jawab sementara untuk menjaga anjing ini kan?" tanya Pak Agus.


"Tentu saja Pak." jawab Eva.


"OKE! SEMUANYA DENGAR! KALIAN AKAN TIDUR DI RUANGAN INI. LAKI-LAKI YANG KIRI DAN PEREMPUAN YANG KANAN. DARI LUAR KALIAN CUMA BISA MASUK KE TOILET TAPI AKAN KU BERIKAN KUNCI UNTUK MASUK KE KELAS MEMASAK DARI PINTU LUAR..... KEBUTUHAN KALIAN SELAMA SATU TAHUN AKAN DITANGGUNG OLEH KU SEPENUHNYA. TAPI KALIAN CUMA BOLEH BELANJA SETIAP HARI MINGGU DAN HARUS BERSAMAKU.... MENGERTI?!"


"Pak jangan keras-keras, ini udah malam takut ganggu tetangga." Ujar Aji.


"KALIAN NGERTI GAAAAKKKK?!" Kata Pak Agus lebih keras


"IYA NGERTIII!!!" balas KKN sama kerasnya.


"Aku gak tanggung jawab kalo ada tetangga komplain." Aji memperjelas.


"Sekarang kalian boleh tidur. Di kamar ada kasur, bisa dipakai."


"SERIUS?" Ucap Ikhsan kesenengan hingga lari disusul yang lain menuju ruangan untuk melihat kasurnya. Namun tak seperti bayangannya, kasur yang dipilih jauh sangat tipis seakan hanya terbuat dari spons yang tipis dan ada gambar putri di kasurnya.


"Kenapa gambarnya cewek?!" protes Ikhsan.


"Bener tuh! Mana tipis lagi!" Adi membantunya.


"Gak papa kan? Kasur tetap kasur. Grup cewek aja gak masalah." Pak Agus menunjuk situasi di ruangan cewek.


"WAAHHH!! INI PUTRI DUYUNG!" teriak Rini senang sekali.


"Jadi nostalgia, dulu aku pernah punya kasur kayak gini waktu kecil." Ujar Prity.


"Kalau aku punya yang Putri Salju." sahut Eni yang tak disangka ikut dalam pembicaraan.


"Wah bagus dong. Aku malah pingin yang itu." balas Prity.


Dari luar, anak laki-laki terdiam mendengar percakapan mereka.


"Kenapa kalian gak coba bernostalgia soal kasurnya juga?" tanya Pak Agus.


"GAK MUNGKIN LAH!!!" teriak Ikhsan, Adi dan Aji. Fernan tampaknya kesepian karena Afi sudah masuk ke dalam ruangan. Mereka melihatnya, lalu menepuk pundak Fernan, ia terkejut.


"Ayo masuk, Fernan! Kita bakal nostalgia soal Game atau kartun kesukaan kita. Mau ikut?" tanya Ikhsan.


"Tenang aja, kamu gak terpisah dari Afi kok. Justru kamu jadi dekat banget karena sekarang kalian tidur seatap. Ya kan?" goda Adi membuat Fernan tampak senang.


Mereka masuk ke dalam ruangan. Pak Agus menerima panggilan dari seseorang bernama Pak Drajat. Setelah beberapa saat, Pak Agus kembali dimana mereka akhirnya tertidur. Pak Agus mengintip dari balik jendela.


"Baguslah jika mereka bisa akur." Pikir pak Agus.


BROTT!!! Ikhsan mengeluarkan gas sangat kencang. Adi, Fernan dan Aji langsung batuk-batuk.


"WOII!! KENTUT SIAPA INI??!!!" teriak Prity dari balik ruangan.


Ternyata dua ruangan tersebut memiliki sekat diantaranya yang bisa dilipat sehingga ruangan tersebut bisa tergabung menjadi satu ruangan. Bau gas Ikhsan masuk ke ruangan perempuan melewati celah sekat.


"Icchaaann.. kamu gak lupa buang air sebelum tidur lagi kan?" tanya Rini agak sempoyongan.


"S***! Gara-gara Ikhsan gw gak bisa tidur!" protes Adi.


"Gak merasa bersalah, dia malah pules lagi." Aji menunjukkan kekesalannya.


Pak Agus beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju mobilnya.


"Kayaknya bakal lama deh!" keluhnya.