KKN

KKN
BAB 4 - SISI GELAP PAK AGUS



"Memangnya Kenapa, Afi?" tanya Prity bingung. Semua mata tertuju pada Afi yang menatap Eni sinis.


"Maaf saja Eni, aku masih tidak percaya padamu. Kukira dengan kamu berpura-pura menangkap kami itu sudah cukup. Kenapa kamu mengajak kami supaya menyerang balik? Itu sama saja bunuh diri. Kamu kan bisa kabur setelah ini. Kenapa masih meminta kami menyerangnya? Kenapa tidak kau sendiri yang menyerang?" Afi meminta penjelasan. Fernan hanya terdiam mendengarkan Afi yang terus menerus menyudutkan Eni. Tanpa gentar, Eni mulai menjawab.


"Apa aku belum bilang? Pak Agus tahu dimanapun kita berada. Dia memberitahuku lokasi dimana aku bisa menemukan kalian. Walaupun lokasinya acak tapi dia sudah tahu kemana kita akan pergi. Dia bahkan tahu jelas kau di dalam rumah bagian mana."


"Kalau begitu, setidaknya kamu bisa kan menculikku di saat aku masih memakai bajuku!" protes Adi. Eni menyipitkan matanya.


"Aku hanya diberitahu kau ada dimana bukan kau sedang apa?"


"Apa jangan-jangan dia menanamkan alat pelacak pada tubuh kita?" Rini memegangi sekujur tubuhnya dengan panik.


"Alat pelacak cuma buat murid bandel kayak kita? Coba pikir berapa dana yang dia keluarkan, dia cuma Kepala Sekolah dan masih baru. Apa dia bakal menghamburkan uang semudah itu?" Adi meragukannya.


"Sebenarnya dia rela membayar 1 juta rupiah untuk murid dan guru yang berhasil menangkap kita. Aku yakin dia berani menghamburkan uang hanya demi menangkap kita." Aji menambahkan.


"Aku jadi ragu apa dia benar-benar hanya seorang Kepala Sekolah." Kata Lea bingung.


"Sekarang kamu paham kan, Afi? Tak peduli aku kabur kemanapun pasti akan dia temukan." Eni melirik Afi yang tampak masih ragu.


"Menurutku jika dia menanam pelacak pada kita, kita pasti sudah tahu lebih dulu karena ada perubahan di tubuh kita. Bagaimana kalau ponsel? Ponsel selalu kita bawa. " Ujar Lea.


"Aku tidak punya ponsel." Sahut Eva.


"Heeh? Kamu tidak punya, Eva?" Adi kelihatan terkejut dan kecewa.


"Aku punya tapi hanya ponsel lama." Ujar Ikhsan sambil menunjukkan ponselnya yang masih berlampu hijau, memiliki tombol besar dan tebal (mirip N*kia). Mereka terbelalak dengan mulut menganga.


"Wah.. baru pertama kali aku melihat hp seperti ini!" Ujar Prity kagum. Aji malah lebih terkejut mendengar keluguan Prity yang lahir di keluarga bisnis seharusnya bisa mendapatkan apapun.


"Aku gak nyangka bakal lihat hp ini lagi di jaman modern begini. Lu yakin masih 17 tahun?" tanya Adi dengan nada meledek.


"Sekarang udah jaman internet, kamu masih pake hape jadul begitu?" Tanya Lea.


"Kenapa? Padahal aku suka hp ini! Ayahku membelikan hp ini untukku saat kecil." Ikhsan membangga-banggakan ponselnya.


"Oh jadi kamu terus memakainya karena itu pemberian ayahmu?" tanya Rini.


"Aku memakainya karena alarmmya kencang jadi aku bisa bangun pagi."


Ikhsan selalu menaruh hpnya di rak gantung yang berada di dinding belakang tempat tidurnya. Ketika alarm berbunyi, hp itu akan bergetar dan jatuh menimpa kepalanya sehingga ia bisa mudah bangun.


"JADI ITU MAKSUDNYA?! TERUS HUBUNGANNYA SAMA AYAHMU APA?" Aji meledak.


"Sekarang gw tahu kenapa otak lu kadang gak normal!" Ledek Adi. Eva, Lea dan Rini tertawa.


"Itu berarti, Pak Agus gak ngelacak kita pakai Hp." Afi semakin kebingungan.


"Walaupun dia tahu dimana saja kalian tapi selama penculikan kalian, dia memintaku memotret apa saja yang ku lakukan." Ucap Eni membuat Afi sadar.


"Jadi begitu, dia hanya tahu kemana kita biasanya pergi. Dia pasti sudah mencari tahu tentang kita sebelum dia dilantik menjadi Kepala Sekolah. Artinya dia tidak benar-benar melacak kita!" Afi meluruskan hasil pemikiran bersama.


"Hah? Maksudmu Si Botak itu stalking kita? Brrr.. setelah tahu itu, aku jadi jijik."


"Tidak pantas kalau kamu yang bilang." Prity memukul kepala Aji seperti biasanya.


"Tinggal 3 menit lagi, Eni. Sebaiknya selesaikan bicaramu!" Desak Aji saat melihat jamnya.


"Kalau begitu kita bisa melanjutkan rencananya."


"Masih ingin menangkapnya? Setidaknya kita tahu dia tidak melacak kita? Kita cuma perlu mencari tempat lain untuk bersembunyi!" sahut Afi masih ragu.


"OI OI!! TIDAK SEMUA ORANG DISINI KAYA SEPERTIMU, AFI!" Prity meledek Afi.


Afi adalah anak keturunan keluarga Prancis kaya raya yang sudah lama bergelut di bidang Seni Pertunjukan. Orang tuanya adalah pelukis terkenal di masanya dan kedua saudaranya juga sudah meniti karir sebagai penyanyi seriosa dan komposer lagu.


"Aku benci setuju pada Prity, tapi bagimu, memang mudah mencari rumah baru. Tapi buat kami yang tempat rahasianya sudah diketahui oleh Pak Agus, kita tetap gak bisa meninggalkan rumah itu dan menggelandang seperti buronan!" Lea ikut menyuarakan pendapatnya.


"Kecuali kalau kamu mau menyembunyikan kami semua di dalam rumah barumu!" Ujar Adi menyeringai.


Yang lain pun ikut menyetujuinya. Afi tampak kerepotan.


"HAH! Kenapa aku harus menampung kalian?!" bentak Afi mulai naik pitam, tiba-tiba Fernan menyentuh pundak Afi. Dia terkejut menatap Fernan yang juga menatapnya serius.


"Jika Afi mencari tempat baru untuk bersembunyi, bagaimana dengan sekolah? Bagi Fernan, sekolah itu penting. Apa bagi Afi tidak?" Fernan mengatakannya dengan terbata-bata namun serius. Afi tersentak mendengarnya.


Mereka terbelalak mendengar ucapan Fernan. Bagi mereka kecuali Afi, ini pertama kalinya melihat Fernan berbicara. Bahu Afi mulai turun, Afi mengambil nafas panjang.


"Benar Fernan! Sekolah lebih penting. Terima kasih sudah mengingatkanku, Fernan." Balas Afi dengan senyum membuat mereka terbelalak oleh pemandangan langka tersebut.


"Hentikan!" Aji menahan Prity yang sudah menempelkan ponselnya di telinganya.


Prity selalu iri melihat pasangan bermesraan di depannya apalagi mantannya yang punya pasangan baru, meskipun belum pasti apakah itu pasangannya atau bukan. Ia akan menghubungi orang bayarannya untuk mengganggu pasangan tersebut. Aji sebisa mungkin melarangnya.


Aji melirik ke jam dan memperingatkan Eni.


"ENI! 1 MENIT LAGI!"


"Oke sekarang kita akan pergi ke dalam sekolah untuk mengambil foto saat aku membawa kalian ke sekolah yang masih pingsan. Setelah itu kita bersama-sama pergi ke rumah Pak Agus untuk menyergap nya." Jelas Eni.


"Bagaimana kalau di rumahnya ada penjaganya?" tanya Afi.


"Itu mudah." Eni membunyikan jemarinya. Afi hanya mengiyakan saja.


"30 detik lagi, Eni." Aji mengingatkannya lagi.


"Sekarang kita buat foto di sekolah dulu, sambil menunggu hitung mundur Aji." Ujar Prity.


Semuanya setuju. Mereka berlari menuju ke wilayah sekolah. Eni membuka pintu dengan kunci cadangan yang diberikan Pak Agus padanya. Mereka pun tiba di dalam sekolah. Aji mulai menghitung mundur dari 10, di saat mereka bersiap pura-pura pingsan di detik-detik terakhir, dan waktu pun habis. Tak lama, Eni menerima panggilan lagi dari Pak Agus.


"Eni, sekarang kamu dimana? Aku kehilangan kontak selama 5 menit. Kamu tidak sedang mencoba kabur kan?" Pak Agus terdengar sangat marah.


"Aku tidak mengerti bapak bilang apa, aku sudah di dalam sekolah bersama mereka. Membawa mereka masuk satu per satu itu sulit." Ujar Eni berpura-pura lelah. Eni juga mengirim foto mereka yang pura-pura pingsan. Pak Agus terdiam sejenak.


"Baguslah kalau begitu. Masukkan mereka ke ruangan secepatnya. Ingat! Jangan coba-coba kabur dariku!" Ancam Pak Agus.


"Terserah!" Ucap Eni memutar matanya. Eni memberi kode unruk mulai keluar pelan-pelan dari sekolah. Mereka mengikuti arahan Eni dan pergi menuju rumah Pak Agus. Mereka berlari menuju ke rumah Pak Agus. Dalam 15 menit, mereka pun sampai.


Rumah Pak Agus adalah rumah kompleks dimana rumah tersebut memiliki tata ruang yang sama setiap rumah dan bisa dicari denahnya (kecuali sudah di renovasi), sehingga Aji bisa mencarinya di internet dan memperkirakan keberadaan Pak Agus. Eni terus mengajaknya ngobrol sampai dia bisa memastikan Pak Agus sedang ada dimana.


Berdasarkan hasil konfirmasi Eni, Pak Agus berada di sebuah ruangan yang terdapat kursi lipat dan papan tulis sesuai dengan decitan kursi dan Pak Agus yang terbiasa mengetuk-ngetuk papan tulis.


Berbondong-bondong mereka memasuki halaman rumah. Eni mengeluarkan sebuah kawat yang dibentuk sedemikian rupa lalu memasukkannya ke lubang kunci. Pintu berhasil dibuka.


"Eni keren! Bener-bener kayak mata-mata!" Takjub Ikhsan.


"Ternyata kamu bakat maling ya, Eni!" Ledek Prity. Eni hanya membalas dengan senyuman.


Mereka berhasil masuk, rumahnya sangat sepi dan gelap. Tak peduli berapa kali mengusap-usap matanya, tetap saja hanya hitam yang menusuk mata.


"Gelap banget sih!" Cetus Prity dengan nada kesal.


"Ada yang bawa senter?" tanya Ikhsan.


"B****! Kalo pakai senter, Pak Agus bakal sadar." Bentak Eni.


"Sebelum itu, Pak Agus bakal sadar kalau kalian tetep berisik!" Sahut Afi.


"Selain itu, aku mencium bau yang aneh? Kalian cium gak sih?" ujar Lea.


"Bau apa?" Adi berusaha mencium juga.


"Aku gak cium bau apapun." Sahut Aji.


"Mungkin itu bau badanmu? Tak ada yang sebau kamu sih!" Prity meledek Lea.


"Apa lu bilang?!" Lea tersinggung. Fernan ingin menghentikan Prity dan Lea namun suaranya terbata-bata sehingga tak bisa dimengerti.


"Kalian berhentilah! Fernan sampai kerepotan!" Bentak Afi.


"Oohh!! Aku mencium bau seperti logam yang berkarat!" Sahut Rini.


"Tuh kan! Sudah ku duga!" Suara Lea memuncak membuat yang lain menyuruh Lea diam bersamaan. Suasana menjadi hening dalam sekejap.


Suara tawa seorang gadis memecah kesunyian di antara mereka. Rini menjauh dari suara itu, mencengkram siapa saja yang didekatnya. Yang lain juga ikut menjauh sebisa mungkin.


"Siapa yang ketawa itu?" Ucap Adi dengan lantang juga gemetaran.


"Oh.. maaf." Jawab Eva meredakan ketegangan.


"Astaga Eva! Bikin takut aja!" Cetus Prity.


"Eva! Tadi Eva kan?" Adi memastikan lagi.


"Maaf ya Adi, teman-teman juga."


"Haha.. Eva emang suka ketawa!" Ujar Ikhsan sambil tertawa terbahak-bahak.


"Sekarang bukan saatnya ketawa, Ikhsan! Eva juga!" Bentak Afi.


"Ssstt.. jangan berisik! Aku nemu pintu!" Ucap Eni yang terdengar memegang gagang pintu.


Semua terfokus padanya. Perlahan Eni membuka pintu tersebut. Yang lain pun mengintip dari balik pintu, hanya tampak jendela yang memantulkan sinar rembulan ke dalam ruangan yang luas dan juga kosong.


"Kenapa harus gelap juga sih!" Adi mulai kesal.


"Takut, siapa aja tolong pegangin aku!" Rini merengek meminta perlindungan.


Prity meraba-raba dinding sekitar pintu, dinyalakannya lampu ruangan itu. Tak ada apapun selain kumpulan kursi lipat, sebuah meja yang tinggi dan papan tulis besar di dindingnya. Sebuah komputer dipojok ruangan dan LCD menggantung di langit-langit ruangan. Satu persatu masuk ke dalam.


"Ini ruangan apa?" Rini penasaran.


"Kayak ruang kelas." Sahut Aji.


"Berarti info kalau dia jadi guru itu benar?" Ucap Afi spontan.


"Hah? Kenapa kamu ngomong gitu?" Prity bingung.


"Itu--" Afi terhenti saat mendengar pintu ruangan itu dikunci oleh seseorang dari luar. Prity, Aji dan Adi berlari ke pintu dan berusaha membuka namun tak bisa.


"SIAPA LO! BUKAIN PINTUNYA!!!" teriak Prity masih berusaha membuka.


"Percuma, gak bisa dibuka!" Aji menunjukkan wajah cemas.


"Hahahaha.. Sepertinya kalian cukup kerepotan!" Suara Pak Agus dari sebuah speaker yang terpasang di langit-langit ruangan. Mereka tercengang.


"OH! JADI ELU YA, BOTAK!!" Bentak Ikhsan.


"Hei! Begitu caramu manggil Kepala Sekolah mu sendiri? Pantas saja Kepala Sekolah yang lama gak mau ngurusin kalian!"


"Si****! LEPASIN KITA!" ancam Prity.


"Kenapa harus ku lepasin, kalau kalian sendiri yang datang kesini? Ya tapi kalau bukan karena Eni, kalian gak bakal bisa ku tangkap semudah ini." Ujar Pak Agus tertawa geli.


"Apa maksudmu?" tanya Lea bingung.


"Rencana Eni buat menyergap Pak Agus cuma bohongan. Dia bermaksud membawa kita semua kemari supaya Pak Agus lebih mudah menangkap kita. Itulah kenapa aku berusaha mencegahnya!" Afi menjelaskan situasinya. Mereka pun terkejut.


"ENI S*****!! JADI DIA NIPU KITA!!" Lea menghujat Eni.


"Padahal dia manis, kenapa dia harus sejahat ini??!!" Adi menjadi panik, Rini dan Aji ikut panik.


"Gawat ini..." ucap Eva menutup mulut dengan salah satu tangannya sambil tersenyum masam sementara Fernan membatu karena shock berat.


"JADI KAMU SUDAH TAHU? LALU KENAPA KAMU GAK BILANG? TERUS JUGA KENAPA KAMU MALAH NGIKUT AJA?!" protes Prity sambil memegang pundak Afi. Afi memundurkan tubuhnya hingga terlepas dari pegangan Prity.


"Itu karena aku tahu Eni yang sebenarnya." Jawaban Afi membuat semuanya bingung.


"Oh iya, aku baru sadar Eni gak ada!" Ucapan Rini menyadarkan semuanya.


"Eni tidak ada?! Sejak kapan?" Aji terkejut.


"Sepertinya sejak kita memasuki ruangan." Eva menambahkan.


"Jangan-jangan yang menutup pintu tadi, Eni!" Adi mulai menduga-duga.


Percakapan mereka terdengar oleh Pak Agus.


"Eni tidak ada disitu?!" Ujar Pak Agus panik. Ia juga menghubungi Eni lewat ponsel tapi tidak tersambung.


"Sekarang kamu paham kan, Pak? Eni berusaha terlihat seolah-olah dia terhasut dan mengikuti semua perintahmu. Tapi dia bukan orang yang seperti itu! Dia itu..... tidak percaya pada siapapun." Afi menjelaskan tentang Eni.


********


Sementara itu, Eni sudah melarikan diri sangat jauh dari rumah Pak Agus. Ia menaiki, melompati gedung per gedung layaknya atlit Parkour yang sudah ahli. Ia berdiri di atap gedung, sambil memandang rumah Pak Agus dari kejauhan.


*******


Pak Agus terdiam mendengarkan Afi. Ia teringat saat terakhir Eni menjawab pertanyaannya saat masih di ruang Kepala Sekolah (baca ulang di Bab 2).


"Jadi itu maksudnya, dia cuma mau membalas kalian yang meninggalkan dia di Ruanganku tapi berniat kabur diam-diam saat aku sibuk mengurung kalian." Kata Pak Agus mengambil nafas panjang.


"Tapi meski kamu sudah tahu niatannya, kenapa kamu masih kemari, Afi?" tanya Pak Agus.


"Soal kenapa aku ikut kemari, tidak perlu dipikirkan. Bukankah lebih baik Bapak mencari Eni sebelum pergi jauh?" bujuk Afi.


"Dan meninggalkan kalian disini? Gak mungkin." Pak Agus menertawakannya.


"Terserah. Tapi aku cuma mau mengingatkan. Eni itu paling pintar bersembunyi. Bapak boleh kirim banyak orang untuk mencarinya, itu pun kalau Bapak punya uang yang cukup." Ledek Afi membuat Pak Agus tertawa terbahak-bahak.


"Afi, aku suka cara berpikirmu! Tapi kamu itu TERLALU MEREMEHKANKU!" Kata Pak Agus dengan serius membuat guncang seisi ruangan itu. Afi pun termakan oleh auranya.


"Kalau kamu kira aku bisa terhasut supaya mencari Eni dan meninggalkan kalian disini, kalian salah! Jangan menganggap aku sama seperti orang yang mudah kamu hasut, Afi! Aku bisa membayar satu kota untuk mencari Eni kalau kau mau tahu!"


Pak Agus terus-menerus menyebarkan aura ketakutan dari ucapannya. Sampai-sampai Rini pun bersembunyi dibalik tubuh Ikhsan saking takutnya.


"Dan aku yakin kamu sudah tahu, Afi! Bahwa hanya ada satu orang yang pantas untuk membawa Afi padaku."


Afi terbelalak mendengarnya.


********


Tiba-tiba terdengar sesuatu melesat ke arah Eni. Refleks Eni menghindari tembakan itu. Ia terkejut melihat Ketua OSIS memakai baju hitam dengan pistol bius di tangannya.


"Seperti biasa kamu lincah banget, Eni. Tapi kalau gak gitu, gak bakal seru!" Ucap Ketua OSIS menyeringai.


"Astaga, kenapa dari semua orang, harus kamu yang dibayar Pak Agus?!" keluh Eni.


"Heehh!! Harusnya kamu senang aku disini! Kita bisa lanjutkan yang di rooftop." Ujar Ketua OSIS.


"Bukankah kamu sedang banyak pekerjaan, Ketua OSIS menyebalkan!"


"Jangan panggil Ketua OSIS saat di luar sekolah. Panggil namaku, Prima! Lebih bagus kalau Prima Ganteng!" goda Ketua OSIS.


"M*ti sana!"


"Hahahaha.. aku paling suka saat kamu marah. Sama seperti dulu."


"Aku gak ngerti, kenapa kamu selalu bilang seperti dulu! Kita gak pernah ketemu!" Eni menegaskan.


"Memang. Dulu kita gak ketemu. Tapi dulu, kamu pernah mengharapkan kedatanganku."


Eni menyipitkan matanya.


"Apaan wajah itu?! Kamu gak percaya padaku?!"


"Tolong deh, kalau mau ngehalu jangan di depanku!"


"Aku gak ngehalu!!" protes Prima. Eni melirik ke pistol bius yang dibawanya.


"Hei, apa kamu yang menyelamatkanku saat jatuh di rooftop?" tanya Eni menjadi serius. Prima tak menjawab sepatah katapun meski tadi ia banyak bicara.


"Terima kasih." Jawab Eni lembut membuat Prima terbelalak.


"Kalau begitu biarkan aku menangkapmu sebagai rasa terima kasihmu untukku!" Prima mengeluarkan tali tambang kecil yang terpasang di pinggangnya.


Tak mengucapkan sepatah katapun, Eni berlari melompati gedung per gedung. Prima mencoba mengejarnya.


**********


Sementara itu Afi masih berusaha menghasut Pak Agus supaya pergi dari rumah.


"Kamu kira cuma Ketua OSIS cukup untuk menangkap Eni? Walaupun Eni dan Ketua OSIS sudah sering main kejar-kejaran tapi Eni selalu berhasil mengalahkannya."


"Prima memang kurang tangkas dan terlalu percaya diri. Tapi dibandingkan siapapun, cuma dia yang lebih dulu berhasil menemukan Eni, bahkan saat sayembara kemarin itu. Diberi perlengkapan sedikit, dia pasti sudah bisa menangkap Eni."


"Apakah itu perlengkapan yang sama dengan yang Bapak pakai untuk menangkap kami saat itu?" serobot Prity. Pak Agus menyeringai.


"Oohh.. sepertinya Prima sudah berhasil menangkap Eni." Ujar Pak Agus sambil membuka ponselnya.


"SECEPAT ITU?!" teriak Aji tak percaya.


"Aku harus segera menemuinya. Kita ketemu besok ya?" Pak Agus mematikan speakernya. Afi tak sanggup menghentikannya.


********


Pak Agus membuka pintu rumahnya, berdirilah Prima sambil membawa Eni yang pingsan dengan panah bius masih menempel di bahunya.


"Terima kasih atas kerja kerasmu. Biar ku bawa dia, aku sudah mentransfernya ke rekeningmu, Prima." Ujar Pak Agus.


"Apa bapak sengaja?" tanya Prima serius.


"Apanya?" Pak Agus kebingungan.


"Bapak sengaja minta aku yang menangkapnya supaya Eni mengira aku yang menyelamatkannya saat jatuh?"


"Entahlah. Tapi bukannya itu bagus. Kamu jadi dapat nilai plus dari dia."


"Iya, dia berterimakasih padaku... Yang seharusnya buat Bapak."


"Tidak apa-apa, ambil saja. Aku tidak butuh perhatian seorang gadis di bawah umur." Ucap Pak Agus sambil menggendong Eni layaknya Putri.


"Bisa menangkap secepat ini, kamu pasti sudah terbiasa dengan pistol ya?" Ledek Pak Agus.


"Aku sering bermain Survival Game bersama teman-temanku. Tapi memakai pistol bius beneran, ini pertama kalinya. Apa boleh untukku?" Prima memohon.


"Memang mau kamu buat apa?"


"Aku ingin membius Eni lalu membawanya ke kamarku." Canda Prima.


"Kalau gitu, aku akan telpon polisi."


"Hahaha bercanda Pak." Ucap Prima.


"Sebenarnya kenapa kamu terobsesi sekali dengan Eni? Apa kamu menyukainya?" tanya Pak Agus menatap serius. Prima menyeringai.


"Sebelum itu, Bapak harus menjawabku, apakah Bapak benar-benar Kepala Sekolah biasa? Mana ada Kepala Sekolah punya peralatan berbahaya dan uang sebanyak ini?" Prima membalikkan pertanyaannya. Pak Agus mengalihkan pandangannya ke langit malam.