KKN

KKN
BAB 1 - TANTANGAN



..... Sambutan dari saya cukup sampai disini. " ujar seorang pria berbadan bidang dan tinggi serta rambut setengah botak. Tepuk tangan memeriahkan seisi lapangan sekolah.


"Sekarang, saya akan memberikan pengumuman penting." lanjut Kepala Sekolah. Murid dan guru menjadi tenang.


"SIAPA SAJA YANG BISA MENANGKAP SALAH SATU ANAK KKN, AKAN KU BERI UANG TUNAI 1 JUTA RUPIAH TIAP ORANG!" ucap Kepala Sekolah meyakinkan.


Murid, guru dan karyawan bersorak kegirangan. Sorakan tersebut menggelegar ke segala arah. Mereka mulai berpencar bekerjasama mencari salah satu KKN.


KKN adalah Kelompok Kecoa Nakal, julukan untuk 10 murid yang paling ditakuti di SMA Agung Jaya. Bagaikan kecoak yang tak mudah dibasmi dan menghebohkan setiap kali datang.


Ribuan kaki berhentakan keras memenuhi ruang SMA Agung Jaya. Tiap ruangan dilihat tak hanya satu-dua kali.


Murid-murid tanpa sadar telah membagi mereka sendiri menjadi kelompok kecil. Mereka berlari-lari dan mencari KKN menuju berbagai macam ruangan yang khas seperti Kantin, Perpustakaan, Aula Sekolah, Bengkel Sekolah, Laboratorium, Kelas Masak, Ruang Komputer, seakan menjadi wilayah kekuasaan anak KKN.


******


"OI!! DUA UDAH KETEMU! CEPET KESINI!"


Teriakan murid mulai terdengar dari arah Kelas Masak yang letaknya jauh dari lapangan.


Seorang laki-laki pendek memiliki rambut hitam legam tak sampai tengkuk lehernya. Bekas luka sayatan terlihat jelas di bawah telinganya, namun tak mengurangi wajahnya yang tampan imut layaknya bocah laki-laki, tengah asyik melahap makanan yang ada di meja bersama gadis mungil layaknya anak kecil dengan rambut digulung sedang asyik memasak di kompor yang menghadap ke Jendela luar Kelas Masak.


Keduanya berada membelakangi murid-murid seakan memberi celah untuk menangkap keduanya. Murid-murid berjalan mengendap-endap mengincar punggung laki-laki itu.


******


Di perpustakaan, murid-murid berbisik satu sama lain sambil mengintip dari jendela 2 murid yang tengah asyik membaca buku.


Lelaki berpostur tinggi besar dan rambut ikal membaca buku komik action sementara gadis ramping memakai rok panjang dengan rambut hitam di kepang dua berkacamata membaca buku tebal hitam dengan judul Bahasa Inggris. Keduanya duduk berhadapan di meja paling pojok seolah-olah meja tersebut dikhususkan untuk mereka.


"Oi, yang bener nih? Dari tadi mereka gak pergi dari perpus." Ujar salah satu murid di samping Perpus.


"Harusnya mereka denger ucapan Pak Kepsek, perpustakaan ini kan lumayan deket dari lapangan."


Selesai berdiskusi, satu persatu murid-murid memasuki ruang Perpustakaan dan membaca buku tebal di meja sambil mengawasi kedua anak KKN tersebut.


******


Menjadi penuntun para murid, Guru-guru menggunakan CCTV dan menghubungi siswa yang bisa dihubungi.


"Sekolah ini benar-benar bersemangat kalau soal duit." pikir Kepala Sekolah yang santai berkeliling sekolah sambil melihat gelagat muridnya.


"Tapi kalau tak seperti ini takkan ada kemajuan. Selama hampir 2 tahun, murid-murid dan guru-guru tersiksa dengan keberadaan anak KKN. Fasilitas sekolah tak bisa mereka pakai dengan sepenuhnya akibat keegoisan anak KKN...."


"Itulah tantangan dariku, sekarang apa yang kalian lakukan, KKN?" ucap Kepala Sekolah menyeringai.


******


GRAB! BROOTT!


"IKKHSAAANNN!!! UDAH KU BILANG JANGAN NGENTUT PAS LAGI MAKAN!" teriak gadis mungil sambil menutup hidungnya.


"HAHAHA MAAF RINI KELEPASAN. HABISNYA AKU KAGET!" Jawab Ikhsan sambil tertawa terbahak-bahak tanpa menyadari murid di belakangnya yang tersiksa.


"Kaget kenapa--" Belum selesai bertanya, Rini terbelalak setelah berbalik melihat murid-murid berlarian keluar sambil menutup hidungnya dengan kedua tangannya.


"Ada apa, Rini?" ucap Ikhsan bingung.


"Eng-gak papa."


"Kalo gitu aku tambah dong!"


******


Di Ruang CCTV, Layar CCTV tiba-tiba tidak memunculkan video melainkan hanya garis-garis rusak membuat guru kebingungan.


"Kenapa CCTVnya tidak menyala? Mas Joni yang biasanya disini mana?" Tanya salah satu guru.


"Tidak ada satupun yang lihat."


"AYO COBA HUBUNGI DIA!"


*****


Di Ruang Astronomi, seorang lelaki dengan rambut bergelombang hitam memakai hoodie hijau tengah mengetik di laptopnya dan gadis dengan rambut bergelombang berwarna pirang buatan dengan seragam atasan keluar dan rok span pendek sedang mengawasi mereka dengan teropong.


"Sepertinya guru-guru belum sadar. Syukur deh." Ujar laki-laki itu.


"Guru kita emang kudet, untung saja kita sudah amankan Mas Joni duluan." Jawab gadis itu tertawa geli.


"Jadi maksudmu mengamankan itu mengikatnya dan memasukkannya ke bilik Planetarium tanpa cahaya? Seberapa benci sih kamu sama cowok, Prity?" Ledek laki-laki itu.


"BERISIK! Itu bukan urusan lu! "


"Aku tahu sebesar apa kamu pingin balas dendam sama mantan-mantanmu tapi jangan lampiaskan sama cowok lain apalagi adik tirimu!"


"Bukannya bagus?"


"BAGUS DARI MANA?!"


"Karena sering ku siksa, kamu jadi lebih kebal sama cewek dan gak bakal takut lagi sama cewek."


"KEBAL DARI MANA? KAMU CUMA NAMBAH BEBAN HIDUPKU SAJA!"


"Cih dasar Aji lemah gak punya b***!"


"GW GAK LEMAH DAN GW PUNYA B***! Lagian dengan kamu nyiksa cowok gak bakal bikin lu dianggap cewek kuat. Yang ada kamu malah dibilang cewek ngrepotin yang stalking mantannya dan mukul dia waktu --"


PLAK!! Genggaman tangan Prity melesat ke pipi kanan laki-laki itu. Ia menahan jeritan kesakitan dengan kedua tangannya mengelus-elus pipi kanannya.


"SIAPA BILANG GW STALKING MANTAN GW!"


"Begini, kamu putus dari pacarmu lalu kamu blokir akun. Tapi kamu ngajak berteman lagi pakai akun fake buat mata-matain mantanmu kemana aja dia pergi setelah putus. Kamu bahkan diam-diam masih menyimpan barcode akun mantanmu untuk menyadap chat-nya. Dilihat bagaimana pun itu stalk--"


PLAK! Pukulan yang sama di tempat yang sama.


"Itu bukan stalking OKE! BUKAN STALKING!" ucap Prity sambil menunjuk pada Aji yang kesakitan.


*****


Sementara di Aula Sekolah, murid-murid kebingungan karena tak ada satupun orang di dalamnya.


"Kenapa ruangannya kosong melompong? Bukannya setiap pagi Lea selalu latihan nari di ruangan ini?"


"Di sekitar Aula juga gak ada!" Sahut murid dari luar.


"Aku curiga deh, jangan-jangan dia tahu bakal ada penangkapan ini."


"Coba tanya, Mbak Sri! Dia pasti lihat!"


Dua orang murid pergi menuju ruang OB (Office Boy) yang berada di belakang kantin tengah.


Sesampainya disana hanya terdapat seorang wanita memakai seragam OB biru berlengan pendek dan celana panjang dan berkacamata bulat dan tompel besar di dekat hidungnya. Ia menunjukkan wajahnya ketika kedua murid memanggilnya.


"Lea? Lea yang mana ya?" Jawab Mbak Sri sambil berusaha mengingat.


Mbak Sri adalah salah satu dari 4 Office Boy yang paling lemot otaknya tapi paling cepat kerjanya. Ia bertanggung jawab membersihkan ruangan besar seperti Aula, Ruang Astronomi, Perpustakaan dan lainnya selama 3 tahun.


"Itu loh, cewek yang suka ngomong sama joget sendiri di Aula."


"Oh Neng Lea? Sri ndak tau. Tadi pagi Neng Lea ndak masuk ke Aula."


Tidak berlama-lama kedua murid itu pamit pergi dari ruang OB.


"Lha kok banyak yang nyariin Neng Lea toh? Ono opo ya? Aku 'tak' lanjutke bersihin Perpustakaan, nanti kalo nemu Neng Lea ku bilangin." Ujar Mbak Sri menyeringai.


*****


Bengkel sekolah juga menjadi incaran murid-murid. Seisi bengkel dijelajahi begitu juga sekitarnya.


"SIAL! DI KELAS GAK ADA, DI BENGKEL GAK ADA, MANA SIH ANAK INI?!"


"Tas sekolahnya aja gak ada, dia pasti bolos hari ini!"


"Kalo gitu ayo kita--"


BRAAAKK!! AAAA!! Sebuah motor tiba-tiba memasuki bengkel dengan lelaki berseragam SMA duduk di atasnya. Rambut berantakan dengan poni menyamping juga semir merah, ia termenung di motor yang tampaknya dirakit sendiri dengan warna merah, jok dan knalpotnya yang sudah dimodifikasi. Ia terdiam di depan murid-murid yang terkapar setelah ditabraknya.


"Ah-- Sorry--" ucapnya dengan datar. Gerombolan murid itu menatapnya tajam.


"TANGKAP DIA!!!!"


"AAAA!!" Teriak lelaki itu dan kabur dengan menaiki motor di lingkungan sekolah beserta gerombolan murid di bengkel mengejarnya. Suara knalpot motor itu memancing murid-murid yang lain dan turut mengejarnya.


"(HEH! Apa ini? Kenapa tiba-tiba aku jadi berasa artis begini? Aku gak tau kenapa tapi seneng banget, salah satu mimpiku dikejar cewek terwujud, walaupun cowok juga ikutan.)" Pikir laki-laki itu.


"ADI! SINI LO!" Teriak salah satu murid yang mengejarnya.


"(Eh tunggu, apa jangan-jangan mereka ngejar gw karena semalam gw nginep di kostnya Chika kelas 3? Kalo gak salah Chika banyak yang naksir--)"


"ADI! BERHENTI DAN SERAHIN DIRI LO SEKARANG!"


"(TERNYATA BENAARRRR!! -- ****** gw! Jadi mereka udah tau! Gw harus keluar dari sini!)."


"DIA NAMBAHIN KECEPATANNYA!!" sahut salah satu murid


"Sial!"


*****


Di Laboratorium sekolah, gerombolan murid hanya mematung di depan pintu. Beberapa diantaranya gemetar sampai kakinya tak kuat menopang tubuhnya sendiri. Jauh di sudut gelap laboratorium, seorang gadis memakai seragam SMA dipadukan jas laboratorium dengan rambut terurai panjang hitam dan lurus berjalan santai membawa anjing jenis pitbul yang dirantai.


"Mohon maaf semuanya, karena sedang ada penelitian penting jadi tidak bisa diganggu oleh siapapun. Jadi untuk sementara Eva pinjam anjing sekolah untuk menjaga sekitar laboratorium, tidak apa-apa kan? Hehe." Ucap gadis itu sambil tersenyum.


Anjing pitbul itu menatap murid-murid sambil menggonggong keras.


"D-d-dia bawa anjing ke dalam laboratorium!"


"K-k-kamu bbbiisaa dihhuukuum lho!" Sahut murid-murid.


"Kenapa? Selama anjingnya tidak merusak fasilitas tidak apa-apa kan? Kalo rusak nanti Eva yang ganti. Tenang saja. Hehe."


*****


Perpustakaan yang tenang menjadi tempat jebakan bagi murid-murid. Cukup lama mengawasi keduanya, salah satu murid memberi kode penyerangan. Murid-murid dengan cepat mereka melesat dari kursi mereka ke meja kedua anak KKN itu. Untuk bisa masuk ke meja khusus itu, ada 2 lorong lemari buku yang bisa di lewati.


BRUKK!! Murid yang paling depan tiba-tiba tersandung tali yang dipasang sepanjang lebar ruang perpustakaan dan dekat dengan meja keduanya. Murid jatuh tersungkur diikuti murid-murid di belakangnya sehingga mereka terhimpit diantara lemari buku-buku membuat mereka kesulitan berdiri.


"Kalau kalian pikir kami tidak sadar, kalian terlalu naif."


"Kenapa bisa ada tali disini?" Tanya salah satu murid.


"Itu adalah karma. Karena membuat kami harus duduk di pojokan yang gelap. Aku kesulitan membaca buku disini. Tapi aku bersyukur karena posisi ini membuat kami untung. Walaupun ada lampu, perpustakaan tetap gelap karena lemari buku yang menutupi cahaya lampu sehingga tidak satupun dari kalian sadar bahwa di bawah lemari ada tali tambang panjang yang diikat." Ucap gadis itu.


"Terus, walaupun kami terjebak disini kalian sendiri juga terjebak bukan? Bagaimana kalian bisa keluar, Afi?"


Tiba-tiba murid-murid laki-laki sudah berhasil melepaskan diri dan berlari menuju mereka. Laki-laki kekar itu langsung mendorong mereka semua dengan bahu kirinya layaknya bermain Rugby dan menyudutkan mereka semua ke dinding Perpustakaan. Mereka merintih kesakitan akibat terhimpit lagi.


"Afi, Fernan sudah membuat jalan keluar." Ucap laki-laki kekar itu.


"Terima kasih, Fernan. Tapi aku mau coba lewat jalan lain." Jawab Afi.


Afi berjalan menuju murid perempuan yang masih berhimpitan. Ia mengangkat rok panjangnya layaknya Putri Raja dan berjalan di atas punggung murid perempuan. Mereka semua terkejut sementara Afi menyeringai. Afi disusul Fernan keluar dari perpustakaan.


"DASAR CEWEK S*****! DIA MENGINJAK BADANKU!"


"APA-APAAN TUH CEWEK SEENAKNYA JALAN DI ATAS KITA!"


"BADAN KEREMPENG KAYAK SEDOTAN AJA BELAGU!"


*****


Sementara itu di sisi lain sekolah, gadis berseragam SMA dipadukan stoking panjang dan sepatu semi boots, rambut Bob berwarna hitam mengintip dari lubang kawat jeruji di atas rooftop sekolah.


"Sudah kuduga ini akan terjadi."


Gadis itu membalikkan badannya menatap 5 orang murid berdiri dengan membawa barang seperti sapu dan tongkat.


"Kalau begitu, serahkan dirimu, Eni!" Ujar laki-laki paling depan.


"Aku tidak sudi kau menyebut namaku, Ketua Osis!" Cetus Eni.


"Padahal aku suka namamu."


"Mati saja sana!" Ucap Eni sinis.


"Kalau aku mati siapa yang akan jadi Ketua Osis?"


"Itu bukan urusanku!"


"Kalau kau yang jadi Ketua Osis, aku tidak masalah mati sekarang!"


"Kkkeettuua,, kenapa kau bilang begitu?" Sahut murid di belakangnya.


"Ya Tuhan, kenapa orang aneh sepertimu jadi Ketua Osis? Pergilah! Baik kau atau temanmu takkan bisa menangkapku hanya dengan uang 1 juta."


"Kalau begitu, aku akan dapatkan 1 juta dan juga kamu." Ucap Ketua Osis tegas.


Eni terkejut dengan mata terbelalak. Tiba-tiba Ketua Osis melempar kantung kecil berisi tepung ke arah Eni. Pandangan Eni teralihkan, memberi kesempatan Ketua Osis dan murid lain menangkap Eni. Eni kesulitan melihat dan juga bernafas karena tepung yang masuk ke hidungnya. Tiba-tiba dua murid memegang kedua tangannya, Eni menarik tangannya dan membenturkan kedua wajah mereka.


Intuisi Eni yang terlatih membuatnya mampu merasakan kehadiran musuh. Ia menendang murid di belakang kirinya yang hendak memukulnya dengan tongkat. Tongkat itu jatuh, Eni menangkapnya dan mengayunkannya ke sisi kanan tempat murid yang hendak memukulnya juga. Eni berlari keluar dari asap tepung, membuatnya berhadapan tepat di depan Ketua Osis yang sedang tersenyum dan pandangan tajam pada Eni.


Eni membenturkan kepalanya pada Ketua Osis. Ketua Osis jatuh sambil memegang kepalanya yang sakit, sementara Eni tak bisa mengontrol langkah kakinya dan menyadari ia tak lagi berdiri di rooftop sekolah


"EEEEENIIIIIIIII!!!!!!!!!"