
"Gelap, tak ada cahaya sedikitpun. Apa aku masih pingsan?" pikir Eni kala membuka mata.
"Aku tak bisa menggerakkan badanku. Kenapa dingin sekali disini? Oh iya aku terjatuh dari atap sekolah. Tak ku sangka aku akan mati secepat ini. Ibu,.. ayah... maaf aku tak bisa menemui kalian lagi." Eni memejamkan matanya kembali yang lembab oleh air mata.
"AAAAAAAAAAAAA!!!!!"
Mata Eni terbuka lebar, ia melihat dirinya duduk di kursi dengan tangan terikat ke belakang. Eni menatap lurus ke depan, Rini dengan kondisi yang sama sepertinya masih berteriak keras melihat gadis berambut panjang menutupi wajahnya juga kondisi terikat.
"SETAAAANNNN!!! MM-MAMA TOLOOONNGGG!!!" Rini meronta-ronta hingga tak sadar menyenggol Aji yang terikat hingga Aji jatuh tersungkur bersamaan dengan kursinya.
"Aduh, sakit Prity!!" teriak Aji yang belum sepenuhnya sadar.
"Aku disini, Aji! Jangan seenaknya nuduh!" ucap Prity yang juga terikat duduk di samping Eni.
"Oh syukurlah, kukira aku sudah mati." pikir Eni menghela nafas lega.
"Kenapa berisik sekali? Hah? kenapa tanganku. diikat?" ucap Adi yang baru sadar.
"Enggak tau, waktu aku sadar kita semua udah terikat disini." jawab Prity.
"Apa kau tahu kita dimana?" tanya Eni.
"Ruang Kepala Sekolah." sahut Afi yang terikat duduk di samping Eva.
"Yang bener? Kepala Sekolah berhasil nangkap kita semua?" Prity ragu.
"Buat apa aku berbohong? Gak ada gunanya."
"Kamu lihat bagaimana Kepala Sekolah nangkap kita?" tanya Aji.
"Tidak."
"Kau yakin tidak lihat?" tanya Aji lagi.
"Aku gak harus ngasih tau kalian kan?" ucap Afi sinis.
"Oh iya aku lupa dia itu Afi Putri Sadis!" Aji dan Prity berpikiran sama.
"Fernan, kamu sudah bangun?" tanya Afi pada Fernan yang duduk terikat di belakangnya.
"Umm." ujar Fernan sambil mengangguk. Afi menghela nafas lega.
Prity melihat seorang gadis dengan rambut panjang bergelombang terikat dan wajahnya cemberut berat duduk tepat di sebelahnya. Tiba-tiba Prity menyeringai.
"OH COBA LIHAT SIAPA DI SAMPINGKU INI?" teriak Prity. Mereka menatap Prity sementara Aji tersentak hingga pucat.
"Oh, Mulai lagi deh." sosor Aji.
"SEPERTINYA KAMU TERSIKSA SEKALI. KENAPA? PERUTMU SAKIT? KARENA KAU KIRA KEPALA SEKOLAH TIDAK BISA MENANGKAPMU? KEMANA COWOK YANG BILANG BAKAL NGELINDUNGIN KAMU? APA MEREKA MENJUALMU DEMI SATU JUTA? AAAHHAAHA KASIHAN SEKALI!" ledek Prity tertawa terbahak-bahak membuat Lea naik pitam.
"HAAA?? SIAPA YANG BERANI MENJUAL GADIS CANTIK SEPERTI KU? KARENA TERPIKAT DENGAN KECANTIKANKU, KEPALA SEKOLAH MEMBAWAKU KEMARI." ujar Lea memperlihatkan wajah cantiknya. Prity mulai geram.
"GADIS CANTIK DENGAN MAKE UP SETEBAL 5 METER GAK PANTAS DIBILANG CANTIK!"
"NGACA WOY! MAKE UP 10 METER GAK CUKUP NUTUPIN JELEKNYA WAJAHMU! GARA-GARA KEBANYAKAN NYINYIR SIH MAKANYA RACUN NGUMPUL DI MUKA! DETOX DULU SANA!"
"MULUT LU AJA YANG DI DETOX, MUKA CANTIK TAPI MULUT LU BUSUK!"
"HAHA.. SEKARANG KAMU SETUJU AKU PALING CANTIK DARI KAMU!"
"GW GAK BILANG GITU!" Prity membentak.
"Sekali nyinyir mereka gak bakal berhenti." ujar Aji mengeluh.
Tak berhenti saling membentak, Eva tiba-tiba tersentak bangun hingga mengejutkan Rini.
"AAAA!! SETANNYA BANGUUUNNN!! ICCHHAAANNNN TOOLOOONNGG!!!!" teriak Rini tak karuan membuat pandangan mereka tertuju padanya kecuali Prity dan Lea yang masih berdebat panjang.
"TAMBAH AYAMNYA LAGI, RINI!" ucap Ikhsan ngigau.
"JANGAN TIDUR!" cetus Rini kesal.
"Tenang aja Rini, kasih garam aja nanti hilang."
"Oh oke." ucap Rini setuju.
"Bukannya pakai garam itu buat ngusir ular?" sahut Aji. Rini baru sadar ia masih terikat di kursinya.
"AAA!!! IICCHAAANN AKU MASIH DIIIKAT GIMANA INI?" Rini mulai panik.
"Kalau gitu pura-pura mati saja." jawab Ikhsan.
"LU KIRA SETAN ITU ELANG? CARA LU GAK ADA YANG BENER SEMUA!" sahut Aji naik pitam.
"Daripada mikirin itu, bisa tidur sambil jawab itu aneh kan? Ini bukan acara Hipnotis yang di TV itu kan?" ujar Adi ikut berkomentar.
Eva menoleh ke wajah Rini yang ketakutan setengah mati. Kemudian ia memiringkan kepalanya dan tersenyum manis.
"Jangan takut, aku tidak menakutkan kok." ucap Eva dengan lembut membuat Rini yang awalnya ketakutan berubah menjadi terpikat.
"Apa ini? kenapa dia jadi senyaman ini? walaupun gelap aku bisa melihatnya seperti ada cahaya meneranginya, bulu matanya kelihatan panjang, bibirnya yang tipis dan pink, suaranya lembut seperti......"
"MALAIKAATTT!!" teriak Rini dengan mata berbinar-binar.
"OI!! APAAN ITU? LU LUPA SAMA RAMBUT SEREM TADI? SEGAMPANG ITU BERUBAHNYA!" pikir Aji.
"LU JUGA! KEDIP BRO!" bentak Aji melihat Adi memandangi Eva sampai menetes air liurnya.
"OH SUDAH PADA SADAR YA?" suara dari balik pintu dalam ruangan itu. sesosok hitam besar berjalan memutari mereka. Mereka terpaku padanya hingga ia membuka jendela di hadapan mereka. Sinar matahari menyorot ke dalam ruangan gelap itu. Tiba-tiba Prity berbisik pada Aji.
"Apa memang seharusnya kayak gitu?"
"Apanya?" tanya Aji bingung.
"Ituloh.. itu!" ucap Prity sambil menunjuk. Aji bahkan semuanya ikut terfokus pada yang ditunjuk Prity.
Kepala Sekolah menyadari mereka sedang memperhatikannya.
"Kenapa mereka melihat ku begitu? Hmm... sepertinya mereka mulai mengagumi kehebatanku menangkap mereka." gumam Kepala Sekolah sambil tertawa kecil.
"Botak berkilau!" ucap mereka bersamaan.
"Jadi dari tadi kalian lihat kepalaku?" ujar Kepala Sekolah terkhianati.
"Oaahhmm.. wah udah pagi ya?" ucap Ikhsan yang terbangun dari tidurnya oleh sorotan sinar matahari.
"Pagi gundulmu! Ini udah jam 10." sahut Aji.
"Bukannya kamu udah sarapan pagi tadi!" ujar Rini.
Tiba-tiba perut Ikhsan berbunyi sangat keras.
"UDAH LAPER?!" teriak Rini.
Kepala Sekolah duduk di kursi besarnya dan menatap lurus mereka dengan serius. Mereka terdiam.
"Apa kalian tahu siapa saya?" tanya Kepala Sekolah. Mereka terdiam.
"Kenapa tanya ke kita? Masa nama bapak sendiri tidak tahu." ujar Ikhsan tiba-tiba. Kepala Sekolah juga lainnya tersentak ucapannya.
"OOII!!!, LU BE**!" ledek Aji geram.
"Sekarang bukan saatnya ngelawak, B***!" cetus Adi dengan paniknya.
"WOY! PELANIN DIKIT!" ucap Prity dan Lea berbarengan.
"JANGAN NGIKUTIN GW!" bentak Prity dan Lea berbarengan. Mata mereka saling adu dengan amarah semakin memuncak.
"NGAJAK BERANTEM LU HAH?!" teriak Prity dan Lea beradu mata. Wajah mereka saling mendorong satu sama lain.
"IICCHAAANN, KALIAN JUGA! TOLONG JANGAN BERISIK LAGI!" bentak Rini yang mulai ketakutan melihat reaksi Kepala Sekolah yang menatap tajam pada mereka. Eva tertawa kecil.
"Kenapa kamu malah tertawa begitu?" tanya Afi.
"Habisnya lucu sih." jawab Eva tersenyum.
"Apanya yang lucu?" ledek Afi. Fernan diam membatu.
Kepala Sekolah menatap tajam Ikhsan seolah-olah tembakan laser akan diluncurkan menuju targetnya. Tubuhnya yang bidang berjalan perlahan ke hadapan Ikhsan, yang mulai membuat Ikhsan gemetar ketakutan seperti lainnya.
"IKHSAN!" panggil Kepala Sekolah bergemuruh.
"PUSH UP 20 KALI!" lanjutnya. Ikhsan terdiam sejenak.
"TIIIIIDAAAAAAAAAKKKKK!!!" jerit Ikhsan sangat keras. Tak berhenti menjerit, Ikhsan melarikan diri dengan tangan masih diikat tetapi Kepala Sekolah memegang tangannya yang terikat dengan cepat dan kuat menghentikan Ikhsan yang meronta-ronta berusaha melepaskan diri.
"Cuma Push up kenapa panik begitu?" sahut Aji.
"AJI! PUSH UP 20 KALI!"
"PUSH UP 25 KALI!"
"TUNGGU PAK, KENAPA DI---"
"PUSH UP 30 KALI!" potong Kepala Sekolah. Aji semakin gemetaran oleh tatapan tajam Kepala Sekolah.
"Sudah lakuin aja, daripada ditambahin." ujar Prity sambil menahan tawa.
"PRITY, SQUAT JUMP 10 KALI!" perintah Kepala Sekolah.
"HEH! KENAPA--"
"SQUAT JUMP 15 KALI!"
"CURANG PAK! MASA CEWEK CUMA 15 KALI!" protes Ikhsan.
"IKHSAN S****N!" ledek Prity.
"IKHSAN, PUSH UP 25 KALI! PRITY, SQUAT JUMP 20 KALI!" Ikhsan dan Prity gemetaran. Lea tak sanggup menahan tawanya membuat Kepala Sekolah menyadarinya.
"LEA, SQUAT JUMP 10 KALI!" tuturnya. Lea terkejut sementara Prity senyam-senyum menahan tawanya.
"Tapi pak, kaki Lea masih sakit karena keseleo kemarin. Jadi boleh gak Lea gak dihukum?" tanya Lea.
Kepalanya menunduk sedikit dan pupil matanya membesar. Ia merapatkan kedua telapak tangannya untuk menggoda Kepala Sekolah.
"LEA, SIT UP 20 KALI!" ujar Kepala Sekolah tanpa goyah sedikitpun. Lea terkejut usahanya sia-sia. Prity
tertawa terbahak-bahak.
"PRITY, SQUAT JUMP 20 KALI!" ucap Kepala Sekolah. Kedua tangan terikat Prity menutup mulut Prity ketika ia hendak membalas.
Ruang Kepala Sekolah menjadi tenang. Rini dan Fernan terdiam dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Eni, Afi dan Eva diam dengan tenang. Adi diam dengan matanya melirik ke sana kemari.
"Akhirnya tenang juga." tutur Kepala Sekolah mendudukkan Ikhsan kembali ke kursinya. Kepala Sekolah berdiri di hadapan mereka dengan tegak.
"Nama saya Agus Priyanto, Kepala Sekolah baru kalian. Untuk 1 tahun ke depan, kalian akan diajari langsung oleh saya. Jadi mulai dari sekarang kalian harus terbiasa dengan metode pengajaran saya."
"Maksud bapak metode memberi hukuman?" tanya Ikhsan
"IKHSAN, PUSH UP 30 KALI!"
"Masih berlanjut?!" ceplos Ikhsan. Pak Agus menambahkannya jadi 35 kali, Ikhsan pun menjerit.
"Sekolah sebagus ini kenapa bisa menerima murid bodoh seperti dia?" pikir Eni dan Afi.
"Setiap jam 7 pagi kalian harus masuk ke ruangan tempat saya keluar tadi. Ruangan itu adalah ruang kelas kalian sekarang. Telat 1 menit saja dapat hukuman fisik 5 kali. Semua pelajaran akan saya ajarkan. Setiap masuk hanya membawa buku pelajaran, buku tulis dan alat tulis. Selama kalian masuk ke Ruang Kepala Sekolah, kalian tidak boleh berisik, bicara kotor dan bertengkar. Jika ada yang ingin bertanya, menyampaikan pendapat atau berkomentar ku beri waktu 15 menit sebelum waktu Istirahat. Sampai sini sudah paham?" ujar Pak Agus sambil menatap ke seluruh anak KKN. Semuanya mengangguk.
"Kalau ngomong lagi, nanti dihukum." gumam mereka.
"Dan ada satu lagi yang perlu ku beritahu. Mulai besok, kalian tidak diperbolehkan pulang ke rumah." ujar Pak Agus. Eva mengangkat tangannya yang terikat, instruksi bertanya.
"Maaf pak, maksudnya tidak pulang ke rumah?"
"KALIAN SEMUA HARUS TINGGAL DI SEKOLAH INI SELAMA 1 TAHUN PENUH!!!!!!!" perintah Pak Agus dengan tegas dan jelas.
"HAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHH!!!!!" suara mereka menggema seisi SMA Agung Jaya.
"Tungggu, tunggu, tunggu... gak boleh pulang gimana?" tanya Prity ngegas.
"Kalo gak pulang ke rumah terus kemana?" tanya Aji.
Mereka berkomentar terus-menerus tiada habisnya. Pak Agus mengambil map tipis di meja tepat di belakangnya lalu memukul cukup kencang kepala mereka yang berisik dengan map tersebut. Suasana menjadi tenang kembali. Pak Agus melanjutkan bicaranya.
"Entah kalian sudah tahu apa belum. Kalian, murid nakal yang disebut-sebut sebagai KKN, sudah memberikan masalah yang besar tak hanya bagi sekolah ini tapi juga bagi masyarakat. Berkali-kali saya menemukan rumor tentang murid KKN yang berbuat onar. Kepala Sekolah sebelumnya juga sudah memberikan catatan kenakalan yang kalian perbuat selama 2 tahun di sekolah ini."
Pak Agus mengambil map besar di mejanya dan membacanya di hadapan KKN dengan keras.
"Ikhsan, mencuri jajanan di kantin sebanyak 253 kali dan memecah kaca jendela kelas sebanyak 312 kali." Ikhsan nyengir.
"Prity, menjual kosmetik saat kelas berlangsung. Membully murid perempuan yang tidak membeli kosmetik darinya. Beberapa dari korban menjadi gila dan memilih pindah sekolah. Membayar orang untuk mencelakai murid di sekolah lain." Prity memainkan rambutnya.
"Eni, memukuli murid juga warga setempat dengan alasan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan." Eni memalingkan wajahnya.
"Aji, meretas website sekolah untuk mengubah nilai dan meretas akun sosmed murid juga warga setempat." Aji menguap.
"Adi, kepergok berbuat mesum dengan murid bahkan guru di sekolah, juga tidur di rumah wanita lajang yang sudah bekerja. Membolos jam sekolah dengan berkeliling menggunakan motor pribadi." Adi menatap Eva sambil menyeringai. Pak Agus melempar buku tepat di wajah Adi.
"Eva, mengunci ruang Laboratorium untuk kepentingan pribadi dan membebaskan anjing penjaga sekolah untuk bermain pada jam sekolah berlangsung. Murid yang menjadi korban gigitan anjing totalnya sebanyak 23 murid." Eva tersenyum kecil.
"Rini, mengotori Ruang Kelas Masak dan meledakkan gas kompor sebanyak 59 kali." Rini menunduk karena takut.
"Lea, membolos pada jam sekolah, membuat pertunjukkan di Aula sekolah tanpa ijin OSIS maupun Kepala Sekolah sebanyak 72 kali." Lea menjulurkan lidahnya sambil berkedip.
"Afi, membolos pada jam sekolah. memaki-maki siapa saja yang membicarakannya dan menegurnya." Afi membuka kedua telapak tangannya seperti tengah membaca buku.
"Fernan, membolos pada jam sekolah, mengancam murid perempuan dan berkelahi dengan murid laki-laki." Fernan menatap dengan seram.
"Ini sedikit dari kenakalan yang kalian lakukan. Mungkin masih ada kenakalan yang belum dicatat disini dan masih kalian sembunyikan. Ada korban yang menuntut salah satu dari kalian ke Jalur hukum namun entah mengapa kalian tidak dipanggil oleh Polisi. Polisi mengatakan bahwa bukti penangkapannya belum cukup."
"Polisi sudah jelas bilang tidak ada bukti. Bapak gak bisa nahan kita setahun cuma gara-gara gak ada bukti buat nahan kita!" Prity berkata dengan tegas. Siswa KKN menyemarakkan persetujuannya.
"Penahanan kalian di sekolah bukan karena membuat bukti untuk Kepolisian....." Mereka kembali tenang mendengarkan Pak Agus.
"..... tapi untuk mendisiplinkan kalian! Jika para guru bahkan polisi tidak bisa mengambil tindakan pada kalian, jadi harus Kepala Sekolah yang bertindak." jawab Pak Agus lebih tegas.
"Bapak gak bisa nahan kami gitu aja!" cetus Eni dengan beraninya.
SREK! Seutas tali terlepas dari ikatan tangan Eni. Tiba-tiba Eni melesat dengan cepat ke hadapan Pak Agus. Map terlepas dari tangan, Pak Agus langsung membentengi area perutnya dari tinju Eni. Eni terkejut Pak Agus menyadari sasarannya, memberi celah Pak Agus untuk menangkap kedua tangannya dan mengarahkannya ke atas.
Tubuh Eni ikut terangkat beserta kedua lengannya yang terlilit. Tanpa jeda sedikitpun, Pak Agus langsung menurunkan tubuh Eni dengan keras saat Eni berusaha menendang dirinya. Lilitan tangannya semakin kencang hingga Eni berteriak kesakitan.
Tiba-tiba Fernan memukul pipi Pak Agus sangat kencang. Pak Agus tidak menyadari kedatangan Fernan. Eni terlepas dari genggaman Pak Agus, namun juga membentur dinding. Tubuh Eni belum pulih sepenuhnya sehingga benturan kecil membuatnya pingsan.
Pak Agus yang terjatuh oleh pukulan Fernan berusaha bangkit. Ia melihat Afi sudah berdiri membuka pintu ruangan. Disusul Fernan, mereka melarikan diri dengan cepat. KKN lainnya mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri meninggalkan Eni yang masih terbaring di dalam. Pak Agus berjalan mendekati pintu. Ia menghela nafas panjang.
"Afi dan Fernan memang yang paling merepotkan dari mereka semua. Walaupun sudah ku ikat kuat, Fernan masih bisa melepasnya. Sembari mendengarkanku, ia melepas ikatan Afi dengan satu tangan dan tangan satunya menutupi seolah-olah masih terikat. Lalu saat Eni menyerangku, Fernan bersiap menyerangku. Dia juga tidak bersuara saat mendekat walaupun badannya cukup besar, seperti hantu." pikir Pak Agus sambil melihat-lihat kursi tempat Fernan duduk.
Pak Agus mendekati Eni, ia melihat sebuah silet di dekat Eni. Dilihatnya tali di kursi tempat Eni duduk, tali itu jelas terputus oleh benda tajam.
"Sesuai dengan catatan Kepala Sekolah sebelumnya, Eni selalu membawa tas kecil yang dia pakai dibawah roknya. Tas itu berisi alat dan bahan yang dipakai untuk perlindungan diri. Aku sudah mengamankan tasnya, tapi ternyata ia masih bisa menyembunyikan benda tajam di tubuhnya." Pak Agus memikirkan cara Eni menyembunyikan silet darinya.
"Aaaahhh!!! Mengesalkan! Kenapa baru jadi Kepala Sekolah sudah dapat PR? Walaupun sudah tertangkap satu, menangkap 9 anak nakal yang pintar menjaga diri itu kayak menangkap Singa lagi siaga." keluh Pak Agus sambil memegang kepalanya yang botak bersinar.
******
Eni membuka matanya. Ia mendapati dirinya terbaring di kursi kayu yang dijejerkan bersama dan sebuah meja melingkar di dekatnya. Papan tulis putih besar dan peralatan LCD juga tergantung sebagaimana mestinya. Tak ada jendela, hanya ventilasi berukuran sedang membuat ruangan menjadi cukup gelap.
Merinding yang Eni rasakan, ia melihat ke sekitar tak ada siapapun di dalam ruangan tersebut. Ia memeluk kedua tangannya berusaha menenangkan diri.
KLAK! Lampu menyala seketika. Eni memusatkan matanya ke sumber suara, tubuhnya terlempar ke kursi paling pojok. Tampak Pak Agus datang dari arah pintu sambil membawa teh hangat.
"Oh sudah bangun, Eni." tuturnya. Eni mengangguk.
"Ini minum dulu." Pak Agus memberikan teh hangatnya namun Eni tidak mau menerimanya.
"Tenang saja, bapak gak mungkin ngeracunin murid sendiri."
Meski ragu-ragu, Eni akhirnya menerima teh hangat itu. Pak Agus menyandarkan tubuhnya ke dinding saat Eni meminum tehnya.
"Tapi tetap saja teman-teman mu kejam sekali. Mereka kabur dan meninggalkanmu sendirian." ucap Pak Agus.
"Aku tidak peduli. Sejak awal mereka bukan teman-temanku." Eni membalas dengan santai.
"Bukan temanmu? Kalian kan satu grup."
"Orang-orang yang mengelompokkan kita, bukan kita."
"Walaupun begitu, apa kamu tidak merasa sakit karena ditinggal sendirian?" Eni tidak bisa menjawabnya.
"Gak cuma ditinggal sendirian, kamu juga sudah memberi celah untuk mereka supaya bisa kabur. Mereka berhutang banyak padamu." Pak Agus berterus terang.
"Apa Bapak baru saja berusaha memancingku?" Eni menatap Pak Agus serius. Pak Agus menaikkan bahunya sembari tersenyum.
"Tanpa harus memancingmu pun, kamu harus tahu kalau aku yang menyelamatkanmu hari ini. Aku menyelamatkanmu dari atas gedung juga kejadian barusan. Artinya kau berhutang banyak padaku. Dan semua orang tahu kalau hutang harus dibayar atau---"
"Iya aku tahu! Akan ku bayar hutangku." potong Eni. Pak Agus tersentak.
"Wah, tidak ku sangka ternyata kamu anak yang tahu diri."
"Bukan begitu." Eni menaruh teh di meja dan mencoba berdiri. Eni berjalan perlahan ke hadapan Pak Agus. Mata mereka saling bertemu.
"Aku gak terima cuma aku yang ditangkap." kata Eni. Pak Agus tersenyum menyembunyikan tawanya.
"Kalau begitu, biar Bapak bantu nangkap mereka."
Pak Agus dan Eni pun bekerja sama menangkap sisa KKN.