
Setibanya di rumah, saat Keyna masuk ia melihat orang tuanya sedang duduk di sofa ruang tamunya. Keyna tidak ambil pusing, ia langsung berjalan menuju kamar dan mengabaikan keduanya. Di kamar, ia langsung rebahan diatas tempat tidur kesayangan nya, ia memandang bola lampu yang berada tepat diatasnya. Diangkatnya telapak tangan kanan mengarah ke bola lampu itu seolah akan meraihnya. Ia pun memandang tangannya, dan teringat kejadian tadi yang ia alami, hingga tidak lama kemudian, ia pun tertidur.
Ditengah malam, Ibu yang tanpa sengaja lewat depan kamar Keyna, mendapati lampu kamar Keyna yang masih menyala. Ia pun berniat masuk ke kamar itu untuk mematikan lampu, namun saat itu pintu Keyna terkunci. Ibu sedikit khawatir, ia mencoba mengetuk pintu kamar tetapi tidak ada respon. Kemudian ia berpikir untuk pergi mencari duplikat kunci kamar Keyna yang ia simpan. Tidak lama setelahnya, Ibu akhirnya bisa membuka pintu dan langsung masuk kamar Keyna.
Saat itu ia melihat putrinya yang sedang tertidur pulas. Ibu itu memandang putrinya, tanpa sengaja ia meneteskan air mata teringat bahwa kini putrinya yang dulu masih ia gendong kesana kemari sekarang sudah tumbuh dewasa dan berparas cantik, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa semakin putrinya tumbuh dewasa, ia merasa semakin khawatir jika nantinya putrinya bertemu dengan seorang pria yang tidak bertanggung jawab dan akan membuat putrinya terus menangis.
Ibu lalu duduk disamping Keyna dan mengelus rambut anaknya itu sambil bergumam,
"semoga kamu bisa jaga diri ya nak, dan selalu kuat dalam keadaan apapun," gumamnya.
Kemuadian memberikan Keyna selimut agar ia merasa hangat, lalu pergi mematikan lampu kamar dan kembali ke kamarnya sendiri.
......................
Kini hari sudah pagi, sinar matahari perlahan masuk melalui celah jendela mengenai sedikit wajah Keyna. Keyna pun perlahan membuka mata, dilihatnya silau cahaya matahari yang menunjukkan hari sudah pagi, lalu ia melihat jam dindingnya yang saat itu sudah menunjukkan pukul 07.00.
Keyna bergegas bangun untuk mandi, saat itu hari Minggu namun berpikir hari itu adalah hari senin. Setelah ia selesai mandi, terdengar suara dering dari ponsel Keyna. Dering itu bukan nada telepon panggilan melainkan nada alarm Keyna. Keyna pun bertanya-tanya, kenapa ia menyalakan alarm di jam segini?
Lalu, setelah ia melihatnya, ia akhirnya teringat bahwa itu adalah alarm yang ia setting beberapa minggu yang lalu untuk mengingatkannya kepada hari dimana buku novel karangan favoritnya edisi terbaru terbit di Gramedia. Ya, dan hati itu adalah hari Minggu ini.
Keyna merasa senang namun untuk saat itu masih terlalu pagi jika ia berangkat ke Gramedia. Keyna pun menunda waktunya untuk berdandan dan pikirnya ia akan sarapan terlebih dahulu.
Ketika ia didapur, seperti biasa ia selalu mendapati surat cinta dari ibunya yang diletakkan di meja makan dan tidak lama setelahnya datang Bi Ani.
"selamat pagi non," sapa Bi Ani.
"pagi Bi, bibi udah enakan?" tanya Keyna.
"sudah Non, non Keyna apa mau sarapan?" tanya Bi Ani.
"sudah Bi, ini tadi ditinggali ibuk roti panggang, Keyna sarapan ini aja," ucap Keyna.
"apa non Keyna tidak mau sarapan nasi?" tanya Lanjut Bi Ani.
"tidak Bi, ini aja Keyna udah kekenyangan," ujar Keyna.
"Baiklah kalo begitu non, habis ini Bi Ani mau belanja non, nom Keyna ada titipan?" tutur Bi Ani.
"seperti biasa aja Bi, beliin Keyna jajanan snack aja," jawab Keyna.
"oke non, non Keyna mau jus?"
"boleh Bi, eh bi ada melon nggak?"
"ada non, non Keyna mau jus melon?"
"iya Bi, hehe lagi pengen,"
"baik non, Bi Ani buatkan,"
Keyna mengangguk dan ia keluar dari dapur. Keyna menunggu di ruang tamu sambil membaca buku yang ia pinjam dari Perpustakaan. Karena sudah terlalu sering membaca buku, jadi itu sudah menjadi kebiasaan pengisi waktu luang Keyna.
"Ini non jusnya," ucap Bi Ani yang tiba-tiba datang membuat Keyna kaget.
"serius banget non bacanya sampai kaget gitu," lanjut ucap Bi Ani.
"seru Bi hehe, makasih ya Bi jusnya," ucap Keyna.
"Iya non, oh iya non, bibi ada bawa titipan dari Akbar,"
"huh? Titipan apa bi? Tumben?"
"sebentar non, bibi ambil dulu,"
Tidak lama setelahnya, wanita paruh baya itu kembali ke ruang tamu dan memberikan titipan Akbar kepada Keyna.
"ini non, kata Akbar non Keyna harus baca bukunya," ucap Bi Ani.
Ternyata titipan Akbar adalah sebuah buku motivasi untuk Keyna.
"owalah buku toh, iya bi makasih ya,"ucap Keyna sambil mengambil buku itu.
"iya non, apa ada yang dibutuhin lagi non? Bibi habis ini mau pergi belanja? Apa mau nitip sesuatu?"
"emm, kayak biasanya aja bi, beliin camilan aja sama buah,"
"oke non,"
"oh ya bi, habis ini jam 10an Keyna mau keluar ya ke toko buku, takutnya nanti Bi Ani nanti belum balik jadi Keyna kasih tau biar Bi Ani ga nyariin," ucap Keyna yang sudah biasa memberi tau Bi Ani kemana ia akan keluar dihari libur, tujuannya agar tidak diganggu karena jika Bi Ani khawatir maka ia akan mendapat spam telepon dari Bi Ani dan itu membuatnya merasa terganggu.
Bi Ani pun pergi berbelanja sementara Keyna masih duduk di sofa ruang tamu dan menikmati jus nya. Mata nya tertuju pada buku dari Akbar, karena penasaran Keyna pun membukanya, dan tepat dihalaman pertama, terdapat sebuah kertas kecil dengan tulisan yang ditempelkan menggunakan isolasi, Keyna pun membacanya,
"lo harus baca buku ini Key, menurut gue ini buku relate banget sama kehidupan lo, semoga bisa jadi motivasi, btw jaga baik-baik ya bukunya, ini buku favorit gue. -Akbar!"
Tulis Akbar dalam kertas itu. Keyna tertawa kecil dan berkata,
"ish.. Apaan sih dia," monolog nya.
Keyna pun meletakkan kembali buku itu dimeja dan melanjutkan membaca novel yang sebelumnya ia baca. Beberapa saat kemudian tiba-tiba Keyna teringat bahwa hari ini ia ada jadwal, ia mengambil ponselnya dan melihat jam, ternyata saat itu sudah pukul 09.40. Sangking seru nya baca Keyna seperti tidak ingin meninggalkan ceritanya dan ingin lanjut membacanya namun, ia juga tidak ingin kehabisan novel yang sudah lama ia nantikan.
Akhirnya Keyna pergi dengan membawa motor Varionya, tidak butuh waktu lama Keyna untuk berdandan, cukup memakai celana panjang+hoodie ditambah sepatu, topi, dan masker.
Ia merasa sangat bersemangat. Butuh waktu 20 menit untuknya sampai Gramedia di kota tetangga. Namun ketika tiba disana, rasa semangat nya sedikit turun dan berganti menjadi rasa pasrah karena melihat antrian panjang di kasir, dilihatnya hampir disetiap tangan mereka membawa novel terbaru itu.
Keyna pun bergegas menuju tempat dimana buku itu dipajang, ia mencari pelan-pelan sehingga akhirnya ia menemukan kannya. Keyna membuang nafas merasa lega melihat masih ada sisa 10 buku yang belum terbeli. Namun saat ia akan mengambil buku, tiba-tiba datang tangan orang lain sehingga tangan merek saling bersentuhan, Keyna pun menoleh ke arah orang itu, dan ia terkejut karena orang itu adalah Mei.
"Mei??" ucap Keyna kaget.
"Huh? Keyna??" ucap Mei yang juga kaget karena Keyna disampingnya.
Melihat ada orang lain yang berjalan menuju ke arahnya, Keyna berpikir orang itu juga akan membeli buku yang sama. Ia pun segera mengambil 2 buku lalu menggandeng tangan Mei untuk meninggalkan tempat itu dan mengantri.
"jadi, lo juga baca buku ini?" tanya Keyna.
"emm sebenernya gue cuman penasaran, seperti apa sih ceritanya, kok banyak banget yang beli bahkan baru dikeluarin aja udah di serbu," jawab Mei.
"ini buku seru tau, apalagi kalo lo baca dari edisi pertama, cerita mereka tu kaya berlanjut, isinya juga gak melulu tentang cinta," jelas Keyna.
"mereka siapa?" tanya Mei.
"ya tokoh utama di novel ini, coba deh baca, kalo bisa baca dari awal," ucap Keyna.
"lah ini edisi ke berapa?" tanya lanjut Mei.
"ketiga," jawab Keyna.
Sambil menunggu antrian, Mei dan Keyna mengobrol hingga saat mereka sudah didepan kasir. Beberapa menit kemudian, akhirnya proses mereka membeli buku pun selesai.
Karena Gramedia berada satu atap dengan Mall, jadi Mei mengajak Keyna untuk pergi membeli makanan sebelum mereka pulang.
"Key makan yukk, lo laper nggak?"
"Boleh, mau makan apa?"
"Kita muter-muter dulu aja yuk,"
"Oke,"
Mei tampak senang dan langsung menggandeng tangan Mei. Keyna juga merasa senang namun ia merasa sedikit janggal dengan sikap Mei. Tetapi Keyna mengabaikannya, ia terus mengikuti Mei kemanapun di dalam Mall itu. Mereka berdua bersenang-senang, bermain, berbelanja, hingga berfoto-foto. Hingga akhirnya mereka merasa benar-benar kelaparan.
"krukkk" bunyi perut Mei.
"sepertinya gue bener-bener laper sekarang Key hehe," ucap Mei.
"gue juga Mei, ayo cari makan," ucap Keyna.
"ayo Key,"
Akhirnya mereka berdua berhenti di sebuah stand yang menjual nasi ayam geprek. Mereka berdua pun makan disana dan lanjut bercengkrama.
"eh Mei, lo mau nonton gak?" tanya Keyna.
"emang ada film apa?"
" ada The Exorcist Believer,"
"film apa tu? Horor kah?"
"Iya hehe, lo takut?"
"takut sih, tapi gak papa penasaran juga gue,"
"serius?"
"iyaa"
"oke kalo gitu gue pesenin tiketnya dulu,"
"makan aja dulu,"
"nggak papa ini lewat Hp kok,"
Selang beberapa menit kemudian, mereka selesai makan dan langsung menuju bioskop.
"jam berapa mulai Key?" tanya Mei.
"jam 13.15 Mei," jawab Keyna.
Mei melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 13.05.
"oh 10 menit lagi Key," ucap Mei.
"nggak papa, kita tunggu aja disana," ucap Keyna.
"oke"
Mereka berdua menunggu jadwal tayang film, Keyna membeli pop corn dan minuman untuk mereka. Mei sedikit melamun melihat Keyna yang membawa popcorn dan minuman berjalan ke arahnya.
"ini.. Ini seperti kencan," batin Mei.
"Kenapa Keyna sungguh baik? Aku semakin menyukainya," Ucap Mei tanpa sadar.
"menyukai siapa Mei?" tanya Keyna yang baru saja sampai disamping Mei dan mendengar sedikit kata-kata Mei.
"hah? Emm menyukai filmnya, aku dengar tadi ada yang bilang bahwa filmnya mendapatkan rating bagus, jadi gue pikir akan menyukai filmnya," ucap Mei
"ohh semoga aja beneran bagus," jawab Keyna lalu duduk disamping Mei.
Mei terus memandang Keyna yang saat itu tampak keren berbalut Hoodie cream, dan topi hitamnya.
"Key.." panggil Mei.
"hmm?" jawab Keyna sambil menoleh ke arah Mei.
"emm tidak apa-apa," ucap Mei sambil memalingkan wajah dari Keyna.
"hah? Lo kenapa?" tanya Keyna yang menyadari sikap aneh Mei.
"nggak papa Key, gue ga sabar aja," jawab Mei.
Keyna memandang Mei, melihat cantiknya wajah Mei dan bibirnya yang sedang meminum minuman yang dibelinya tadi. Itu mengingatkannya kembali saat mereka berdua berciuman.