KEYNA'S LOVE JOURNEY

KEYNA'S LOVE JOURNEY
#16



Keesokan paginya, Keyna bangun dan langsung menghadap cermin, ia melihat matanya yang sembab akibat menangis semalam dan langsung tertidur. Keyna pun melihat ponsel, dilihatnya sebuah pesan dari Ibunya yang mengatakan,


"Key, Ibu berangkat! Jangan lupa pembahasan kita semalam, ibu harap kamu mengerti," tulis ibunya yang mengiriminya pesan jam setengah 5 pagi. Ibu dan Ayah Keyna memang selalu sepagi itu berangkat kerja di hari sabtu dan minggu, karena bisnis mereka adalah restoran.


Keyna mengabaikan pesannnya, Keyna tidak kaget karena ia sudah terbiasa ditinggal sedari pagi hingga petang bahkan berhari-hari. Ia meletakkan ponselnya di meja dan mengingat hari itu adalah hari sabtu dimana kelasnya libur. Keyna pun merasa tidak ada kegiatan dan ia langsung kembali berbaring ditempat tidurnya. Tanpa sadar Keyna melamun, matanya memandang ke atas sembari membayangkan jika dirinya itu bisa menggapai apa yang ia inginkan selama ini seperti memiliki orang tua yang pengertian, mendapatkan pekerjaan yang ia sukai, serta menjadi pribadi yang berbeda. Namun itu hanya angan-angannya saja. Teringat kembali kehidupannya yang sekarang ia langsung menarik nafas dan membuangnya.


Tidak lama setelahnya, perut Keyna merasa lapar, ia pun ingin memakan sesuatu untuk sarapan.


"apakah hari ini Bi Ani datang?" batinnya sambil memegang perutnya.


Setelahnya, ia mendengar sebuah percikan air dari westafel cuci piringnya.


"Ahh, aku pikir ia gak datang, mungkin ia sudah baikan," ujar Keyna merasa senang bahwa Bi Ani masuk kerja hari itu. Keyna pun langsung berjalan menuju dapur.


Sampai didepan pintu dapur, langkahnya berhenti. Bukan malah Bi Ani justru Keyna malah melihat sosok laki-laki memakai appron dapur yang sedang mencuci buah. Keyna pun berhati-hati berjalan masuk dapur. Ia terkejut bahwa sosok itu tidak lain adalah Akbar putra sulung Bi Ani.


"hey, ngapain lo disini?" ucap Keyna sambil pelan-pelan melangkah ke arah meja makan.


Akbar yang kaget mengatakan,


"Astaghfirullah, eh lo bisa gak sih jangan bikin kaget,"


"yee itumah diri lo sendiri yang kaget,"


"ibuk gue sakit, jadi dia nggak bisa dateng kerja hari ini, dan gue dimintain tolong buat gantiin dia untuk hari ini,"


"trus Mei?"


"dia ada matkul tambahan dari dosennya jadi dia pergi kuliah trus nanti diminta jagain ibuk,"


"oh gitu, iya sih kemarin gue liat dia udah pucat wajahnya mangkannya gue paksa pulang cepet tapi dia tetep gak mau,"


"ibuk emang gitu orangnya," ucap Akbar sambil meletakkan buah ke dalam kulkas.


"jadi, lo tau apa yang harus lo lakuin dirumah gue?" tanya lanjut Keyna.


"tenang, ibu gue semalem udah ngerangkum semuanya hehe, tapi mohon bantuannya juga ya," jawab Akbar sambil melihatkan sebuah catatan yang tidak lain adalah deskripsi pekerjaan dari yang harus ia kerjakan hari itu.


"sedetail itu nyokap lo ya," ujar Keyna.


"emang gitu orangnya," jawab Akbar.


"Lo gak sarapan Key?" tanya Akbar.


"gue udah masak sarapan nih buat elo, ibu gue bilang lo suka ayam-ayaman jadi gue tadi masak Ayam kecap," lanjutnya.


"hah? lo masak? Bisa?" tanya Keyna.


"hahaha masak adalah keahlian gue," ucap Akbar sambil mengeluarkan senyuman manisnya.


Keyna sedikit terkesan dengan Akbar, bagaimana tidak, pikirnya cowok jaman sekarang itu sangat-sangat jarang ada yang bisa memasak.


"mana coba sini, awas kalo gak enak ya," ucap Keyna.


Akbar pun mengambilkannya piring dan bertanya,


"porsi nasi lo seberapa?" ucapnya.


"apaan sih lo, gue bisa ambil sendiri!" sahut Keyna sambil merebut piring yang ada ditangan Akbar.


Akbar hanya tersenyum, melihat tingkah Keyna yang garang itu dan ia langsung menyiapkan lauk pauk nya diatas meja makan. Ketika Keyna sudah mengambil nasi, ia bertanya kepada Akbar,


"lo sendiri udah sarapan?" tanya Keyna.


"udah tadi sebelum berangkat," jawab Akbar.


"lo yang masak?" lanjut tanya Keyna.


"bukan, Mei" jawab cowo manis itu.


Keyna sedikit terkejut mendengar jawaban Akbar.


"bisa-bisanya semua orang dirumahnya bisa masak," batinnya


Keyna pun melanjutkan makannya. Dan Akbar meninggalkan dapur.


"Mei, seperti apa masakan nya?" batin Keyna, ia merasa penasaran dengan masakan Mei dan berharap suatu hari bisa merasakan masakan Mei.


Beberapa menit setelahnya, Akbar kembali ke dapur melihat Keyna belum beranjak dari meja makan. Keyna pun menoleh ke arah Akbar.