It's you

It's you
four



🔹when the day comes🔹


"Waktu terus berlalu.


*i**tu sebabnya ada waktu untuk berpisah dan meninggalkan sesal pada seseorang.


Jika kau menyayangi seseorang, beritahu mereka sekarang.


Sebelum waktu berlalu dan kau kecewa.


Pada akhirnya hadiah terbesar yang diberikan oleh waktu adalah kenangan,


bahwa kita pernah saling menyayangi.


Itu sebabnya, tepiskan malumu dan berikan pengakuan cintamu pada orang yang kau cintai sebelum terlambat*."


"apa yang lu omongin tadi gue ga denger,hujan noh."tanya feesa didapur arka sambil meminum teh hangat.


"gue udah jumpa bapak gue."jawab arka singkat.


"haahh,yang benerr lu?"tanya feesa seperti tidak percaya.


"terus,terus gimana,ibuk tau ga?"tanya feesa.


arka hanya menggelengkan kepala,arka tidak ingin ibunya tau bahwa dihari liburnya dia mencari bapaknya.arka takut ibunya akan marah padanya.arka ingin merahasiakan saja,arka hanya berbagi cerita ini bersama feesa.


hari selanjutnya arka,mengurung diri didalam kamar.feesa membantu ibunya menyiapkan katering kue.setiap ingin mengantarkan pesanan,feesa selalu melihat kearah jendela arka,feesa tau mungkin arka membutuhkan waktu untuk memikirkan sejenak hal yang ada di otak arka dan apa yang dilihat oleh arka.


"sa,sih arka kemana sih,ibu jarang liat dia keluar berapa hari ini."tanya ibu feesa sambil membereskan dapur.


"hah,ga tau Bu,mungkin dia istirahat kali capek kan sekolah mulu."jawab feesa sambil kecil.


feesa kekamar dan mencerna apa yang arka ceritakan padanya semalam.jujur feesa terkejut mendengarnya tapi sekaligus feesa senang akhirnya arka bertemu dengan ayahnya setelah 17 tahun lamanya.


feesa memutuskan untuk mampir kerumah arka,sambil membawa kue buatan ibu feesa.


"assalamualaikum,arkaa"panggil feesa dari pintu dapur.


"walaikumsalam,Masuk aja gue diatas"teriak arka dari kamarnya.


feesa meletakkan kue diatas meja dan naik keatas menuju kamar arka.


"ka,lu baik-baik ajakan?"tanya feesa.


"hmm"jawab arka pelan.


"lu butuh sesuatu atau bantuan?"tanya feesa khawatir.


"ga ada,bawel lu ah"jawab arka.


"iya-iya"ucap feesa.


"lu keknya lagi ga sehat deh ka."ucap feesa sambil melihat wajah arka yang pucat.


"ga gue baek-baek aja."jawab arka lagi lesu.


"kenapa lu mikirin bapak lu ya?"tanya feesa penasaran.


"hmm"arka hanya mendehemkan feesa.


"sa,gue pengen banget bicara sama bapak."ucap arka sambil melihat feesa.


"yaudah,gimana lu ketemuan sama bapak lu."ucap feesa sambil tersenyum.


"gue ga berani."ucap arka.


"harus berani."ucap feesa tegas.


"gimana kalau kita bikin surat aja."sambung feesa.


"kuno ah."ucap arka.


"buat temu janji kalau gitu."ucap feesa dengan kesal.


"ah lu mah mumet otak gue."ucap arka sambil mengambil memainkan robot kecilnya.


"ah serah lu,gue mau pulang dah."ucap feesa.


"kalau lu terpikir mau buat salah satu dari yang tadi kita omongin,lu bilang Ama gue,gue bantu free."sambung feesa langsung menutup pintu kamar arka.


arka mencerna kembali apa yang dikatakan feesa sedari tadi.feesa pulang kerumah dan beristirahat.


pada jam 12 siang arka keluar dari rumah mengendarai motornya,mendengar suara motor arka,feesa melihat kejendala dan memanggil arka tetapi tidak ada satupun jawaban dari arka.


arka pergi melihat bapaknya dari kejauhan,arka ingin menegurnya tapi entah kenapa sekujur tubuhnya merasa kaku.


arka berjalan mengikuti lelaki yang sangat ingin dikenalnya dari belakang.lelaki itu baru pulang berbelanja diwarung tempat arka bertanya waktu itu.


tiba-tiba ada seseorang berlari menabrak lelaki itu,dan barang belanjaannya terjatuh.arka bergegas berlari dan membantunya.


"pak,bapak ga apa-apakan?"tanya arka sambil membantu memasukkan barang yang terjatuh tadi.


"bapak ga apa-apa nak."jawab lelaki itu sambil berdiri.


"makasih ya."ucap lelaki,bergegas meninggalkan arka.


"pak sebentar."arka memberhentikan lelaki itu.


"ya."jawab lelaki itu .


"apa bapak kenal aku?"tanya arka.


"ah,maaf aku tidak mengenalmu, permisi."ucap lelaki itu bergegas meninggalkan arka.


arka memutuskan untuk kembali pulang.


sesampai dirumah arka memarkirkan sepeda motornya ditempat biasa,saat ingin masuk kerumah datanglah feesa yang berlari.


"arkaaa"teriak feesa.


"ga usah teriak."ucap arka dengan menatap sinis feesa.


"gue mau kepohon,ikut ga?"tanya feesa.


"ga."jawab arka singkat.


"siapa nyampe telat,pulang dia beli eskrim.ok."ucap feesa sambil berlari.


tak lengah,arka bergegas menyusul dari belakang,arka sudah tertinggal jauh dari feesa.ternyata feesa sampai dulu dipohon itu.


"waaaahh,gue menang"ucap feesa dengan nafas yang tidak stabil.


"gila lu."ucap arka


"kalau ga gila ga asyik lah ma bro."ucap feesa.


"iya deh."ucap arka sambil berbaring diajar pohon rindang itu.


"jangan sedih lagi,ayo kirim surat buat bapak lu,gue bantu."ucap feesa dari samping.


"ga ah."ucap arka kesal.


"udah jangan banyak cerita,pulang ini kita buat,besok antar barengan Ama gue."ucap feesa.


arka hanya terdiam.malam pun sebentar lagi ingin datang,feesa dan arka membeli es krim dijalan pulang.


"abis isya gue dateng."ucap feesa langsung masuk kerumahnya.


arka pun begitu ia bergegas masuk kerumah.dan merebahkan dirinya.arka terus berpikir apa yang akan dituliskannya saat menulis surat itu.selepas isya feesa datang kerumah arka.


"assalamualaikum,arkaaa."ucap feesa.


"walaikumsalam,ruang tamu nih gue."jawab arka.


feesa bergegas keruang tamu, sebelum itu dia melihat kondisi rumah.aman.


"udah mikir kan apa yang pen lu sampein."tanya feesa.


"noh,tulis selesai masukin ke amplop ok."sambung feesa memberikan amplop.


arka pun menuliskan apa yang diinginkan selama ini.feesa tidak ingin melihatnya karena itu privasi buat arka.feesa hanya menatap sambil mengunyah cemilan.


"gue tau lu pasti bisa."ucap feesa didalam hati.


"jangan menyerah,jangan sedih,gue bakal dukung Lo."sambung feesa didalam hatinya,sambil tersenyum.


setelah selesai,feesa pulang kerumah,feesa memikirkan semoga surat itu diterima oleh bapaknya.


pagi pun datang,feesa bergegas bersiap-siap sebelum itu dia membereskan rumah dan membantu ibunya.selepas itu dia mendengar klakson motor arka dari luar.feesa bergegas keluar.


"udah siap lu."tanya feesa.


"hmm"jawab arka menyakinkan diri.


sesampainya didepan rumah arka menitipkan surat kepada penjaga rumah,bapak nya arka.dengan penuh harapan.arka memberanikan dirinya.


"gue bangga sama lu."ucap feesa sambil mengusap kepala arka diatas motor.


setelah itu arka dan feesa tidak langsung pulang mereka nongkrong ditempat biasa.


tiba-tiba arka mendapat telepon dari seseorang yang tak dikenal,ternyata setelah diketahui bahwa itu adalah ayahnya arka,pak Alvin Sanjaya,ingin bertemu dengannya.


"sa,bapak gue mau ketemu sama gue."ucap arka dengan tersenyum.


"udah pergi sekarang apalagi,hari yang Lo tunggu udah datang."ucap feesa sambil merangkul arka.


"goodluck ka, hati-hati"sambung feesa sambil melambaikan tangan.


arka hanya membalasnya dengan senyum.


arka pergi ketempat bapaknya ingin bertemu disebuah cafe mungil.


sesampainya arka mencari pak Alvin,bapaknya,sosok yang ingin ditemuinya selama hidupnya.


"maaf,pak Alvin kan?"tanya arka dari samping.


"iya,silahkan duduk."jawab pak Alvin singkat.


sambil menyodorkan amplo warna ungu.dengan bertabur tulisan tangan dari arka.jelas itu surat yang tadi dia antar bersama feesa.


"pak,bapak udah baca?"tanya arka penasaran.


"tidak perlu baca,saya sudah tau."jawab pak Alvin tegas.


"maksud bapak,bapak tau kalau saya.."ucap arka terpotong.


"pertama kali saya liat kamu,saya tau kamu anak saya.jadi saya mohon sama kamu,jangan ketemu saya,mengirimi saya seperti ini,untung surat ini sampai ke tangan saya dulu,jauhi saya dan keluarga saya.mengerti."ucap pak Alvin panjang.


"iya pak."jawab arka langsung menunduk dan lemas.


"pak,aku cuma pengen bapak tau ,walaupun bapak menelantarkan aku dengan ibu,aku tetap sayang bapak sebagaimana seorang anak.aku memang marah,tapi aku menghargai bapak,asal bapak tau sampai sekarang ibu masih sayang sama bapak."ucap arka dengan wajah yang sedih.sambil *** surat yang pak alvin kembalikan padanya tadi.


"saya permisi."ucap pak Alvin langsung meninggalkan arka.


arka hanya bisa melihat punggung lelaki yang pergi meninggalkan nya.arka menahan air mata itu agar tidak jatuh,tapi bagaikan tembok yang runtuh.arka tidak dapat membendungnya