
"Halo, selamat pagi. Aku mencari detektif Brian. Apa bisa bertemu sebentar?" Ucap Rin.
Pagi ini ia langsung menuju kantor polisi dengan terburu-buru setelah mendengar berita semalam.
"Mohon maaf, mba. Pak Brian baru saja pergi. Mungkin agak lama. Nanti sekitar jam 11 siang mba bisa kembali lagi kesini" Jelas salah satu polisi.
"Oh, begitu" Rin menggigit jarinya sambil berfikir.
Rin tau siapa anak perempuan itu. Vika Belissa. Teman satu kelas Fahri. Hubungannya dengan Fahri pun cukup dekat sebagai seorang teman. Rin mengetahui hal itu saat kunjungannya ke SMA Gemilang.
"Yauda, pak. Nanti saya kembali lagi"
Rin keluar dari kantor polisi sambil mencari-cari handphone-nya di tas.
"Halo, Kay?" Sapa Rin di telfon.
"Oh, halo Rin. Aku hubungi kamu dari tadi malam gak bisa loh. Temui aku sekarang di Coffee House, ya"
"Oke, aku kesana"
"Oke oke"
Biip.
...+++++...
Tring... Suara lonceng mengisi keheningan di dalam cafe. Rin berjalan menuju etalase kue yang dipajang.
"Chocolate croissant-nya 1, sama caramel machiato 1"
"Baik, kak. Totalnya 65 ribu" Rin mengeluarkan selembar uang kertas berwarna merah.
"Saya terima uangnya 100 ribu ya, kak" ucap kasir tersebut.
"Iya"
"Ini kembaliannya, kak. Ditunggu sebentar pesanannya"
"Oke"
Rin menunggu pesanannya di kursi kosong di dekat meja kasir. Ia memperhatikan seorang barista yang sedang menyiapkan kopi pesanannya. Aroma kopi pun tercium di setiap sudut ruangan cafe.
"Atas nama kak Rin" panggil barista itu.
"Iyaa"
"Croissant chocolate satu sama caramel machiato satu, ya kak. Terimakasih"
"Sama-sama"
Rin membawa nampan berisi kopi dan kue itu ke meja Kayla. Dilihatnya sejak tadi temannya itu sibuk dengan laptop tanpa sekalipun menoleh mencarinya.
Tak.
"Serius banget neng geulis" sapa Rin.
"Oh, Rin. Lama banget ditungguin"
"Tadi juga udah ngebut kali"
Rin mendudukkan dirinya di hadapan Kayla. Ia mengambil cangkir kopinya dan menyeruputnya.
"Kamu sudah dengan berita kemarin, kan?" Kayla menyingkirkan laptopnya. Ia melipat tangannya di meja dan menatap Rin dengan tajam.
"Sudah. Karena itu aku ke kantor polisi pagi ini" Rin meletakkan kembali cangkir kopinya.
"Hmmm... Kasus ini diurus langsung sama Brian. Kalo gak salah dia yang mengajukan diri. TKP sudah dibersihkan, harusnya sekarang dia di kantor"
"Dia gak ada disana" balas Rin.
"Anak itu ada di daftar orang terdekat Farhan, loh"
"Iya. Aku khawatir. Kamu tau apa yang kupikirkan, kan?"
"Entahlah, Rin. Ini cuma perkiraan aja. Kasus juga sudah ditutup. Kita butuh alasan kuat untuk buka kasusnya lagi dengan bukti yang minim. Kasihan juga keluarga korban kalau diungkit terus"
"Tapi kita gak bisa diam aja setelah tau, kan"
"Belum ada kepastian juga kasus ini berhubungan sama yang kemarin atau nggak. Info dari berita aja gak cukup karena seringkali direkayasa" Kayla menghela nafasnya. Kota ini sedang tidak aman mengetahui ada orang yang bertindak sejauh itu untuk menghabisi orang lain.
"Ya. Memang harus tanya langsung ke Brian"
"Mm-Hmm"
Rin memandang keluar jendela cafe memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang diluar. Cuaca yang cerah diluar terasa hangat. Berbanding terbalik dengan ruangan ber-AC di dalam cafe.
Drrt... Drrt....
Rin menoleh ke handphone Kayla yang bergetar di atas meja.
"Hey, panjang umur. Aku lagi mikirin kamu" lanjutnya.
Kayla mendengarkan suara di seberang berbicara. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya perlahan di meja. Rin memperhatikan Kayla sambil menikmati kopinya.
"Oke. Sebentar aku kesana. Bay"
Biip. Telfon terputus.
"Siapa?" tanya Rin.
"Brian"
"Oh, ya? Kenapa?"
"Dia mau minta tolong ke kita soal kasus ini secepatnya. Ayo ke kantor" ajak Kayla.
"Oke"
Kayla mengemasi barang-barangnya bersiap untuk pergi.
...+++++...
Krietttt... Pintu kaca kantor polisi berdecit kala seseorang membukanya. Rin dan Kayla melangkah tergesa-gesa memasuki kantor polisi.
"Brian ada?" Tanya Rin.
"Ada, mba. Bisa ditunggu sebentar biar dipanggilkan"
"Hai, kalian. Wihh... lama gak keliatan makin cantik aja. Apa kabar?" Seorang pria berusia 32 tahun itu menyapa Rin dan Kayla dan menyalami mereka.
"Haha, baik" balas Kayla.
"Gatel amat mulut buaya. Jangan gitu nanti pacarmu minta putus lagi" kata Rin.
"Nggak dong. Kali ini dia sudah cinta mati sama ketampananku" balas Brian sombong.
Sejujurnya dia memang tampan. Meski usianya sudah menginjak kepala tiga tapi ketampanan itu tidak luntur dari wajahnya. Tubuhnya yang tinggi tegap berisi dengan dada bidang dan lengan kekarnya itu selalu menarik perhatian wanita.
Karena itu juga ia seringkali menyelesaikan kasusnya dengan cepat karena kesaksian para wanita yang tergoda rayuannya. Anehnya lagi sampai saat ini ia belum menikah.
"Jorok. Suamiku lebih menawan" kata Rin.
"Hahahaha" Rin dan Kayla mengikuti Brian ke ruangannya.
"So, apa yang harus kami bantu?"
"Aku sudah dengar soal kasus yang kalian tangani kemarin. Dan kebetulan gadis kecil ini berhubungan dekat dengan anak itu"
Brian meminta mereka duduk di sofa sambil menunggunya menyiapkan teh dan camilan.
"Aku mau minta kerjasamanya untuk berbagi informasi tentang itu"
"Ya. Tentu saja"
"Hei, Brian. Bisa kamu ceritakan tentang anak itu? Sejauh mana perkembangannya sekarang" Tanya Rin.
"Hmm?"
"Ya, sudah meninggal—"
Plakk! Sebuah buku menghantam wajah Brian.
"Bukan gitu!" kata Kayla.
"Aku belum selesai ngomong beby" Brian duduk di sofa di seberang Kayla.
"Memang terlihat seperti kasus bunuh diri biasa. Tapi ada bekas seperti dicekik seseorang di lehernya meski samar. Ada juga luka bakar di telinganya kemungkinan disundut rokok"
"Belum ada saksi mata yang ditemukan sampai saat ini" lanjutnya.
"Jejak kekerasan, ya" Kayla bergumam.
Rin dan Kayla menceritakan kasus tentang Farhan yang mereka tangani kemarin termasuk kenapa kasusnya ditutup. Brian menyimak dan mencatat setiap hal penting dari cerita itu.
"Dalam waktu dekat aku bakal pulang ke kampung. Mungkin kasus ini nantinya bakal dialihkan ke kalian"
"Kenapa?" Tanya Rin.
"Apanya? Ibuku masuk rumah sakit tadi malam"
"Owhh gitu. Cepat sembuh, ya"
"Thanks"
...+++++...