
Lalu lintas kota saat ini sedang tidak terkendali. Ramainya orang yang berkerumun mengakibatkan kemacetan panjang. meski garis polisi sudah terpasang tetap saja ada beberapa orang yang melewatinya dan mengambil gambar dari dekat.
"Gimana Rin?"
"Oh Kay. Kamu lihat disana? Ibu-ibu daster merah berbunga? Dia pemilik toko di depan tempat kejadian. Saat ini saksi mata yang ada cuma dia karena kondisi jalan masih sepi waktu kecelakaan terjadi"
"Sudah dapat rekaman CCTV-nya?"
"Belum. Tapi sudah diproses"
"Oke"
Kecelakaan yang terjadi pukul 04.12 dini hari ini melibatkan dua orang pengendara sepeda motor dan dua buah mobil pribadi. Terdapat satu korban jiwa yang dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk diotopsi.
"Permisi, Bu. Ini laporan yang kami dapatkan dari keterangan saksi mata" Kata seorang anggota polisi sambil menyerahkan sebuah buku sesampainya Rin dan Kayla di kantor polisi.
"Oh, iya. Terimakasih"
"Tersangka sudah ditahan di ruang khusus, Rin. Aku sudah dapat izin untuk interogasi dia secara langsung" Kata Kayla.
"Ayok kesana"
Ceklek.
Polisi membukakan pintu ruang khusus untuk mereka berdua. Di dalam ruangan berbentuk persegi itu hanya terdapat sebuah meja, dua buah kursi, dua buah lampu dan dua buah CCTV di sudut ruangan.
Seorang pria dengan sebagian rambut yang memutih duduk di salah satu bangku disana. Usianya sekitar 40 tahun.
"Halo, Selamat.... pagi, ya? Kami mau minta waktunya sebentar pak" Ucap Kayla sambil tersenyum.
Ia berjalan menuju bangku kosong di seberang pria itu dan duduk disana. Pria itu hanya tunduk tak bersuara. Tangannya yang diborgol mengepal hingga lengannya bergetar.
Tok.. Tok.. Rin mengetukkan pulpen yang dipegangnya ke meja. Pria itu mengangkat kepalanya melihat Rin.
"Saya minta maaf mbak. Sungguh saya tidak sengaja" Ucapnya.
"Nama bapak siapa?" Tanya Kayla.
"Saya Ilham mbak. Saya mohon mbak saya harus keluar. Anak saya masih kecil gak ada yang urus"
"Saya hanya akan menanyakan beberapa hal saja pada bapak. Gak lama kok pak" Kata Kayla tak memperdulikan ucapan Ilham.
"Apa benar kecelakaan itu tidak disengaja pak? Dari rekaman CCTV terlihat bapak sudah ada di sekitar tempat kejadian 40 menit sebelum kecelakaan terjadi. Apa yang bapak lakukan?" Lanjutnya.
"Saya gak melakukan apapun mba. Memang kebetulan saya ada disana dan kecelakaan itu terjadi begitu saja"
"Benar begitu pak? Bapak beberapa kali melihat jam di warung kopi dan sempat mengangkat telfon sebelum pergi kan?"
"Saya tidak melakukan itu mbak sumpah. Saya hanya mengangkat telfon dari tetangga saya karena anak saya terbangun. Itu saja"
"Rin" Rin yang mengerti tatapan Kayla pun meletakkan handphonenya ke atas meja.
"Halo, mas Ilham. Posisi anda dimana sekarang?"
"Saya sudah di jalan xxx mas"
"Bagus. Target kita mobil Honda Brio berwarna hijau putih. Dia akan tiba disana 5 menit dari sekarang"
"Baik mas. Saya siap-siap sekarang"
Biip.
"Nggak!! Itu bukan saya sungguh!! Saya tidak tahu apapun mbak!!!!" Wajah pria itu sudah memucat. keringat dingin keluar dari dahinya.
"Ssssttt...!!" Rin meletakkan telunjuknya di bibirnya meminta Ilham untuk tenang.
"Tak apa pak. Saya paham. Saya kasih bapak kesempatan untuk mengatakan siapa orang ditelfon itu. Kalau bapak mengatakannya sekarang, hukuman bapak akan diringankan" Ucap Kayla.
Ilham menelan ludahnya dan terdiam. Ia menatap kembali handphone Rin.
"Sungguh mbak. Saya gak tau itu siapa" Kata Ilham memelas.
"Bapak yakin? Ini rekaman panggilan yang kami dapat langsung dari handphone bapak"
"Benar mbak. Saya gak tau"
Kayla menyipitkan matanya menatap Ilham. Yang ditatap pun menunduk.
"Apa bapak tau? Yang bapak tabrak itu seorang gadis perempuan yang masih SMA. Apa bapak gak berfikir kalau putri bapak bisa mengalami hal itu juga saat ia SMA nanti?" Ucap Kayla sinis.
"Mbak... Mbak... Tunggu mbak! Saya mohon!! Tolong keluarkan saya dari sini!!!!"
Ceklek. Pintu ruangan kembali dikunci.
"Perempuan, Kay? Bukannya laki-laki ya?" Tanya Rin.
"Ya. Korbannya memang laki-laki kok. Asal aja tadi. Coba hubungi nomornya, Rin"
"Sudah. Nomornya gak terdaftar"
"Sudah? Kapan?"
"Di dalam tadi?" Kayla menatap Rin sambil menyipitkan matanya.
"Oh" Balas Kayla.
"Polisi sudah mencoba melacak posisinya dari panggilan terakhir. Tapi belum ada hasil" Kata Rin.
"Hmm, dia memang sudah persiapkan rencananya ya? Suara tadi juga bukan suara asli kan?" Kata Kayla.
"Tebakanku si penelfon ini Laki-laki usia sekitar 25-40 tahun"
"Hey. Itu tebakan angka yang terlalu luas" Protes Kayla.
"Ya, gak tau juga kan"
"Jadi sekarang gimana, Kay?"
"Kita kembali ke kantor dulu"
"Oke"
...*****...
"Jadi, pak Ilham yang tadi itu suruhan dari orang yang gak dikenal buat nyelakai si anak cowo ini. Siapa namanya tadi?"
"Farhan" Jawab Kayla.
"Mobil yang dipakai itu mobil rental Kijang Innova warna hitam, dan dia sendiri juga yang nyewa itu. satunya Honda Brio Hijau sama dua pengendara motor yang kebetulan ada disana. Mereka gaada kaitannya sama ini" Lanjut Kayla.
"Sampe hancur bagian depan Brio-nya"
"Jelas hancur, Rin. Ditabrak langsung dari depan kecepatan 140km. Tapi kok pak Ilham itu selamat ya?" Tanya Kayla.
"Mungkin disuruh Tuhan tanggung jawab dulu. Kamu lihat korbannya tadi gak?"
"Iyaa. Seram banget kaki kirinya sampe putus loh" Kayla bergidik ngeri mengingat kembali kondisi jenazah Farhan.
"Iya kan. Gak nyangka aku orang setega itu padahal dia juga punya anak. Korbannya ini perjalanan mau ke bandara kan?"
"Sudah deh, Rin. Kita ghibah disini" Tegur Kayla.
"Tapi memang parah loh setega itu sama anak muda yang umurnya belum sampai 20 tahun"
"Motifnya apa ya sampai ada orang dewasa yang merencanakan pembunuhan untuknya" Tanya Kayla.
"Entahlah"
"Besok kamu ada waktu, Rin?"
"Jam berapa?"
"Besok kita ke pemakaman Farhan. Mungkin kita bisa dapat info disana atau dari teman sekolahnya"
"Hmm... Bisa"
"Pemakamannya besok jam 10. Kita berangkat bareng dari sini. Kamu masuk jam 9 aja karna pulangnya agak telat kan. Kasian anakmu nanti"
"Makasih, Kayla. Muachh" Rin bergaya memberikan ciuman dari jauh untuk Kayla.
"Jijik ih apasih" Balas Kayla.
"Hahahaha"
...*****...