
Tak.. Tak.. Tak.. Tak..
Suara pisau bergerak cepat membuat potongan-potongan kecil sosis. Suasana pagi hari yang masih sepi membuatnya semakin terdengar jelas.
Gedubrak!!!
"Anak-anak? Suara apa itu? Kalian baik-baik saja?" Teriaknya.
"Iya mamaaaaa... Kakak cuma tersandung"
"Hati-hati sayang"
Cup. Kecupan singkat Andrian mendarat di puncak kepala Hye Rin, istrinya.
"Morning. Sarapan apa kita hari ini?"
"Morning, babe. Maaf, aku sedang buru-buru. Cuma sempat bikin nasi goreng"
"It's okay. Masak apa aja tetap enak kok" Ia mendudukkan dirinya di kursi meja makan. Memperhatikan istrinya yang bergerak cepat menyiapkan sarapan.
"Kamu menikmati pekerjaanmu ya?" Tanya Andrian.
"Tentu saja. Kamu tau aku sangat menginginkan ini kan?"
"Hmm..."
"Mamaaaaa.... Mamaaaaa.... Topi adek hilang..." Ucap si gadis kecil sambil berlari menuju dapur.
"Adek, jangan lari-lari di tangga nanti jatoh. Kok bisa hilang, adek sudah cari yang bener gak? Mama sudah taro di lemari kemaren"
"Sudah mama. Adek sudah cari kemana-mana"
"Ya ampun anak papa ini. Seragamnya kok berantakan gini. Sini papa bantu cari" Andrian menggendongnya kembali ke kamar.
"Mah... Mah... Mama ikut antar sekolah gak?" Ucap si kakak sambil menepuk-nepuk pinggang mamanya.
"Huaaaa!!! Kakakk!!! Kakak dari kapan disini?! Mama kaget loh"
"Hehee... Baru aja"
"Gak bisa sayang. Mama buru-buru ke kantor pagi ini"
"Yahh... Yauda dehhh"
"Maaf yaa... Besok mama anter deh sama papa"
"Okey"
"Mamaaaaa... Sudah ketemu. Papa yang cari, hehee"
"Nah itu ada. Sini duduk dulu adek, ayok sarapan"
"Lemari adek berantakan lagi, ma. Diacak sama dia" Saut papa.
"Haduhhh.... Sudahlah nanti mama bereskan"
Hye Rin menyajikan sepiring nasi goreng untuk masing-masing orang di meja makan.
"Mama ga makan?" Tanya si adek.
"Nggak sayang. Mama makan di jalan nanti. Dihabiskan makannya yaa..."
"Oke, mama"
"Pah, nanti piringnya taro di wastafel ya. Mama duluan"
"Iya. Hati-hati yaa..." Andrian mengecup singkat dahi istrinya.
"Dadah sayang"
...****...
"Apaa?!! Pembunuhan?!! Bukannya ini kota yang damai ya? Nggak, nggak, ini gak mungkin dong"
"No no no!! Itu baru kemungkinan Rin. Aku juga gak tau. Menurutku ini cuma kecelakaan biasa. Tapi kalo dilihat dari kesaksian sopir rasanya ada kesengajaan disana"
Rin menggigit bibirnya tipis. Menurutnya ini juga hanyalah kecelakaan biasa. Tapi bagaimana jika memang ini pembunuhan yang direncanakan?
"Lalu aku ditugaskan buat kerjasama denganmu untuk kasus ini, Kay?"
"Ya, begitulah" Jawab Kayla. Seorang wanita berusia 32 tahun dengan tubuh ramping dan rambut sebahu. Teman kerja Hye Rin.
"Penduduk disini damai-damai aja kan, Kay. 15 tahun sejak aku pertama kali kesini baru ini ada laporan pembunuhan semacam ini"
"Aku yang lahir tumbuh besar disini juga merasa aneh, Rin. Kuharap gaada masalah besar nantinya"
"Yasudah, aku mau sarapan dulu. Nanti aja diomongin lagi"
"Memang kamu sarapan dimana?"
"Di kantin bawah mungkin? Sekalian beli minum"
"Ohhh oke"
Rin berjalan keluar ruangan menelusuri lorong kantor menuju kantin di lantai bawah. Sudah lewat 15 tahun sejak ia dan keluarganya pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia. Saat itu ia berusia 18 tahun. Dan adik laki-lakinya Kim Ye Joon yang berusia 15 tahun.
Entah kenapa orang tuanya memutuskan untuk pindah dari negara asal mereka di Korea Selatan. Ia pun tidak pernah menanyakan alasannya. Sejak tinggal disini, orang-orang biasa memanggilnya dengan nama Rin dan Rani karena lebih mudah dalam pengucapannya.
Karena ketertarikannya pada dunia hukum, Rin melanjutkan studinya di Universitas Indonesia jurusan hukum. Di sanalah ia bertemu Andrian. Senior kampus yang saat ini menjadi ayah dari anak-anaknya.
2 tahun setelah pernikahannya dengan Andrian di usianya yang ke - 24 tahun, keluarganya kembali ke kampung halaman mereka di Korea. Namun Rin memutuskan untuk tetap tinggal lalu merubah kebangsaannya menjadi warga Negara Indonesia.
Kini ia sudah berusia 33 tahun dan memiliki 2 anak. Anak pertama bernama Dilan, laki-laki berusia 9 tahun. Dan Hana, si gadis kecil berusia 6 tahun. Keduanya memiliki wajah yang manis mirip sekali dengan Rin.
Drrrt... Drrrt...
"Yeoboseyo, Hye Rin-a. Apa kabar?"
"Halo, eomma. Aku baik-baik aja. Eomma apa kabar?"
"Eomma baik. Rin, minggu depan ulang tahun Hana kan? Apa dia pernah bilang apa yang dia mau?"
"Ah, iya. Aku lupa minggu depan Hana sudah 7 tahun. Eummm... Entahlah, ma. Kurasa dia akan menerima kado apapun yang mama berikan. Dia sangat merindukan neneknya, ma"
"Ya ampun cucuku yang manis. Eomma belum bisa kesana tahun ini, Rin"
"Iyaa tak apa. Oh iya, ma. Akhir-akhir ini Hana suka sekali dengan aksesoris rambut"
"Jinjja?! Baiklah, eomma akan mengirimkan aksesoris yang cantik untuknya. Anak gadis memang suka berdandan ya, seperti kamu dulu"
"Hahaha, eomma tolong jangan bahas masa kecilku. Aku malu"
"Haha.. Baiklah. Baiklah"
"Yasudah, ma. Aku mau lanjut kerja"
"Iyaa. Semangat ya!! Saranghae Rin-a!! Nanti telfon mama lagi ya"
"Okey, ma"
Rin menyimpan handphone-nya di kantong setelah sambungan telepon terputus. Ia menghabiskan minumannya sebelum kembali ke ruang kerjanya. Saatnya memulai penyelidikan.
...*****...