It's Only Me

It's Only Me
Farhan



Kringg... Kringg...


Bel sekolah berbunyi. Para murid berlarian keluar kelas tak lama setelahnya. Rin mengamati mereka dari dalam mobilnya. Lalu ia pun tersenyum dan keluar dari mobil.


"Kakakkk!!!" Panggilnya dari depan gerbang sekolah.


Seorang anak laki-laki menoleh ke arahnya dan berlari.


"Mamaaaa!!" Teriak anak itu.


"Halo ganteng. Kenapa tas nya kok dipegangi terus?" Tanya Rin.


"Gak tau, ma. Tas nya aneh talinya panjang sebelah"


"Yauda nanti mama benerin di rumah. Mana adek?" Rin mencari-cari di dalam sekolah dari pandangan matanya.


"Adek belum pulang? Yauda kakak cari ke kelasnya dulu. Mama tunggu dulu ya"


"Okee"


Rin tersenyum melihat anaknya berlalu pergi. Anak-anaknya memang jarang sekali bertengkar sejak mereka masih sangat kecil. Dilan sang kakak sangat memperhatikan adiknya. Dan Hana juga selalu menuruti perintah kakaknya. Sifat dan karakter mereka itu lebih mirip suaminya, Andrian dibandingkan dirinya.


Sekitar 3 menit kemudian akhirnya Dilan dan Hana muncul sambil berlarian.


Brukk!! Dilan menabrak Ibunya dengan sengaja sambil tertawa.


"Menangggg!! Hahahaha... haah... haah... capek"


"Ahhhh.... kakak curanggg!! Aku belum keluar kakak udah lari ahhhh!!


"Loh tadi kan kakak udah tunggu"


"Tapi aku belum salim gurunya ihhhhh!!"


"Iya iya.. maaf"


"Udah, udah. Ayok pulang dulu" Rin memotong obrolan mereka.


"Yok pulang yok. Nanti kamu ambil es krim kakak satu deh" Bujuk Dilan.


"Betulan yaa... aku mau yang mangga"


"Okey" Dilan tersenyum lebar membalas senyum manis Hana. Ia pun meraih tangan adiknya dan menggandengnya ke mobil.


Rin terus tersenyum senang melihat kedua anaknya sedang bermain suit selama di perjalanan. Ia memikirkan akan jadi apa mereka saat dewasa nanti. Hubungan mereka begitu erat. Melihatnya membuat Rin merindukan kakaknya. Bagaimana kabarnya sekarang?


...*****...


"Halo, Rin. Kamu dimana?" Rin mengaktifkan speaker di handphonenya.


"Udah di jalan, Kay. Ini bentar lagi sampe"


"Wahhh tumben cepat"


"Iya. Habis nganter anak-anak, sekalian aja langsung berangkat. Misua juga udah pergi"


"Owhhh... Jemput ke apart ku bisa kah?"


"Bisa. Aku otw ya"


"Okee. Kutunggu"


Biip. Panggilan terputus.


Rin mengubah tujuannya ke apartemen Kayla yang berlawanan arah dengan kantor. Untungnya apartemen Kayla tidak terlalu jauh.


"Halo, Kay" Sapa Rin di telfon.


"Oh, Rin. Sudah dimana?"


"Di bawah. Aku gak naik ya"


"Oh, oke. Aku turun sekarang"


Biip. Panggilan terputus.


Ini apartemen yang ia beli dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Karena masalah keluarga, Kayla memutuskan untuk tinggal terpisah dengan orang tuanya meski masih dalam satu kota.


Tok.. Tok.. Tok.. Kayla mengetuk kaca mobil Rin.


"Kayla. Masuk dah"


"Uwahhh capeknya. Nih, Rin. Aku bawakan Roti buatmu"


"Wow tengkyuu. Capek ngapain emang"


"Huhuu kucingku habis numpahin sirup di karpet. Sedih banget mana masih pagi"


"Yaampun. Sabar... Sabar... Btw kita kemana ini?"


"Keeee.... Nih maps-nya. Alamat rumah Farhan"


"Okey. Kita kesana"


...*****...


"Hiks.. Hiks.."


"Sedih banget loh mamanya. Anak cowoknya cuma si Farhan"


"Iya loh bu. Gak tega aku lihatnya"


Suara bisik-bisik tetangga terdengar. Jenazah sudah selesai dimakamkan di pemakaman umum. Namun di rumah duka masih ramai keluarga dan kerabat mendiang berkumpul.


Rin dan Kayla duduk mengambil tempat di dekat anak-anak muda yang berkumpul.


"Padahal tadi malam masi baik-baik aja ngobrol nongkrong sama kita loh" Kata seorang anak laki-laki.


"Memang bah, umur gaada yang tau" Balas si perempuan.


"Ini salahku juga. Aku gak nyangka bakal begini" Saut anak perempuan lain. Tatapannya kosong.


"Ya nggak lah, Ren. Gak ada hubungannya sama kamu"


"Memang sudah takdirnya aja dia"


"Mungkin mestinya dia gak pergi sendiri. Kenapa juga gak ada yang nganter ke bandara ya?"


"Gak tau itu"


Rin melamun mendengarkan obrolan para remaja itu. Mereka pasti teman-teman korban. Memang sangat disayangkan. Baru beberapa hari mereka merayakan perpisahan sekolah sekaligus kelulusan SMA namun tak disangka itu adalah acara perpisahan untuk teman mereka.


"Halo. Aku turut berduka cita atas kejadian yang menimpa teman kalian. Aku Kayla, detektif yang menangani kejadian itu. Aku boleh ikut ngobrol?" Rin terkejut melihat sikap Kayla yang tiba-tiba di sebelahnya.


"Oh, halo tante. Iya terima kasih" Balas anak perempuan berhijab dengan tubuhnya yang berisi.


"Teman kalian gimana selama di sekolah?"


"Gimana apanya, tan?" Tanya anak laki-laki.


"Dia di sekolah baik-baik aja kok" Balas anak lainnya.


"Gak pernah bermasalah sama orang lain? Kelai sama temannya mungkin?"


"Gak pernah. Dia baik tante di sekolah. Temen deket kita kita juga. Gak pernah dia bermasalah sama orang"


"Oh, begitu"


"Psst.. Kay" Bisik Rin. Namun Kayla tak acuh dengannya.


"Kayla" Panggil Rin.


"Oh. Kenapa Rin?" Balas Kayla.


"Ayo sini" Rin menarik Kayla membawanya pergi.


"Eh... Eh... Tunggu dulu. Maaf ya.. aku pergi dulu" Kata Kayla.


"Iya tante"


Rin menarik Kayla membawanya menjauh dari kerumunan.


"Kenapa sih, Rin?" Tanya Kayla bingung.


"Kamu yang benar aja, Kay? Jelas banget mereka itu teman dekatnya kan. Jangan spontan begitu. Hargai perasaan mereka gitu loh" Jelas Rin.


"Ohhh... Tapi mereka santai aja kok"


"Ya tetap aja, Kay"


"Okey" Balas Kayla.


"Kita cari keluarganya yok" Ajak Rin.


"Tadi aku lihat kakaknya di dalam. Omong-omong dia anak terakhir, Rin"


"Oh ya? Orang tuanya masi lengkap?"


"Lengkap. Ayahnya 2 mamanya 2 kakaknya 3" Jawab Kayla santai.


"Oh"


Mereka berjalan kembali ke rumah Farhan. Terlihat ibunya yang masih berlinang air mata dikelilingi kakak-kakak Farhan.


"Sudah kita pamit aja. Kasihan ibunya" Bisik Rin.


"Iya"


...*****...


"Besok kita kemana, Kay?" Tanya Rin di mobil. Mereka dalam perjalanan ke kantor setelah dari rumah Farhan.


"Ke sekolahnya? Dia gak pernah bermasalah sama orang sih. Dan lagi sudah 2 bulan semenjak dia lulus"


"Gak papa kali kita cari info disana dulu. Kita belum dapat petunjuk apa-apa soal orang itu"


"Oke. Kita ke kantor dulu"


Rin menambah kecepatan melewati jalanan kota yang lenggang. Orang itu harus segera ditemukan. Bagaimana mungkin seorang pembunuh bebas berkeliaran sedangkan keluarga korban terpuruk karena kehilangan.


...*****...