
"Jadi ini sekolahnya"
Rin dan Kayla menatap bangunan sekolah di hadapan mereka. Bangunan itu berwarna biru putih. Terdapat sebuah tulisan " SELAMAT DATANG DI SMA GEMILANG" di dindingnya.
Kemarin.
"Kalian habis dari mana?"
"Oh, Pak Irwan. Kami habis dari pemakaman korban pak" Kata Kayla.
"Oh, begitu. Iya bagus. Saya juga prihatin soal kejadian ini. Sayang sekali korbannya masih remaja, bahkan lebih muda dari anak saya" Kata seorang pria bertubuh besar dengan perutnya yang membuncit. Usianya sekitar 50 tahunan.
"Ini laporan yang saya terima dari Arham. Saya minta dia ambil gambar dari cctv jalan kemarin. Ada beberapa berkas info pribadi korban. Tolong selesaikan kasus ini ya. Saya gak tega kalo sudah berhubungan sama anak-anak" Lanjut Pas Irwan.
"Iya, Pak"
"Yasudah saya pergi dulu. Kalian jangan lupa makan siang"
"Baik pak. Jawab Rin dan Kayla bersamaan.
Saat ini.
"Ayo masuk, Rin"
"Ayo"
Mereka berjalan menuju bangunan paling depan yang berwarna biru itu. Suasana sekolah terlihat sepi karena sedang jam belajar mengajar.
"Berdasarkan laporan berkas dari Pak Irwan kemaren, korban dari Jurusan Ipa angkatan yang lulus tahun ini dua bulan yang lalu. Wali kelasnya Bu Naya" Kata Rin.
"Okey. Kita cari Bu Naya itu dulu"
Mereka menghampiri seorang wanita dengan seragam hitam putih yang sedang lewat.
"Permisi. Maaf mbak. Kami detektif dari Kejaksaan Kota C. Kami sedang mencari Bu Naya, apa beliau bisa ditemui sebentar?" Kata Kayla.
"Oh. Iya mba. Saya panggilkan dulu. Mba-nya silahkan tunggu dulu disini" Kata wanita itu sambil mengarahkan Rin dan Kayla untuk duduk di sofa di ruang tunggu. Lalu wanita itu pun pergi.
Rin bangkit dari tempat duduknya memperhatikan sekitar. Banyak piala terpampang di balik lemari kaca. Paling banyak terlihat piala dengan bentuk orang yang sedang menendang bola.
Kriettt.
"Iya, mba. Selamat pagi, saya Bu Naya" Tiba-tiba datang seorang wanita berkerudung hitam.
"Oh, ibu. Perkenalkan bu. Saya Kayla dan ini Rin. Kami dari Kejaksaan Kota, Bu. Mau minta waktunya sebentar boleh?"
"Iya, boleh mba. Saya juga sudah diinfokan kemarin" Kata Bu Naya sembari duduk di seberang Rin.
"Sebelumnya, kami turut berduka cita ya bu. Kami juga prihatin atas kejadian yang menimpa Farhan. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Tuhan" Rin bersuara.
"Iya mba. Aamiin. Terimakasih"
"Saya 3 tahun jadi wali kelasnya mba. Anak murid saya satu kelas memang nakal-nakal tapi gak pernah ada yang bermasalah sama orang diluar kelas. Gak pernah sama sekali mba termasuk Farhan juga" Lanjutnya.
"Memang saling peduli sama temannya gitu ya bu"
"Apa Farhan pernah bermasalah sama guru bu? Atau dapat kasus besar di sekolah?" Tanya Rin.
"Nggak mba. Nakalnya Farhan juga kayak biasa nakal-nakal anak remaja. Telat masuk sekolah, gak ngerjakan tugas"
"Anak itu gak pernah bermasalah sama orang mba. Kelai sama orang selama di SMA ini juga gak pernah. Pulang pergi juga bawa kendaraan sendiri pergi sama temannya" Kata Bu Naya.
"Maaf mba saya gak bisa kasi info apa-apa. Saya gak nyangka anak murid saya baru lulus sudah pergi" Bu Naya terisak mengingat kembali Farhan.
"Iya, gak papa bu" Kayla menyodorkan sekotak tisu untuknya.
Bu Naya mengambil selembar tisu dan mengusap air matanya. Ia merogoh kantongnya mengambil handphone dari sana.
"Ini saya ada nomor kontak teman dekatnya. Beberapa anak murid saya juga yang sering main bareng sama Farhan ini mba" Jelas Bu Naya.
"Saya minta nomornya ya bu"
"Iya, silahkan" Rin pun mencatat nomor-nomor tersebut.
"Yang paling dekat sama Farhan ini. Rayan sama Diki. Sering saya lihat kemana-mana mereka bareng juga" Sela Bu Naya.
...*****...
"Rin, Pak Irwan nelfon" Ucap Kayla. Rin mengecilkan volume musik di mobilnya.
"Iya halo. Kenapa Pak?"
"Halo Kayla. Kamu dimana sekarang?"
"Di jalan pak. Baru aja pergi dari SMA Gemilang" Kayla menatap Rin bingung.
"Kenapa?" Bisik Rin.
"Tolong kembali ke kantor secepatnya ya. Ini ada orang datang ke kantor mencari kalian"
"Orang siapa ya, pak?" Tanya Kayla.
"Sudah kamu kesini aja dulu. Cepat ya"
"Iya pak"
Biip. Panggilan terputus.
"Kenapa Rin?"
"Ayo balik ke kantor" Balas Kayla.
"Ada orang nyari kita di kantor" Lanjutnya.
Rin menambah kecepatan mobilnya. Orang siapa itu?
...*****...
Krieett.... Seorang satpam mebukakan pintu untuk mereka.
"Kemari mba. Anda berdua sudah ditunggu" Kata sambil menuntun Rin dan Kayla.
Terlihat seorang wanita paruh baya dengan kerudung coklat duduk di sofa di ruang tunggu sambil memegang secangkir teh hangat.
"Permisi bu. Ini ibu Rin dan Kayla yang ibu cari" Kata satpam itu.
Ibu itu langsung menoleh. Ia meletakkan cangkir yang ia pegang lalu berdiri. Rin langsung mengenali wanita itu. Ia bertemu dengannya kemarin di rumah duka. Ibu kandung Farhan.
"Mba, mba, tolong ya mba tolonggggg... sudah mba berhenti" Ibu itu tiba-tiba menghampiri Kayla sambil menangis.
"Terimakasih ya mas" Ucap Rin. Satpam itu pun pergi.
"Mba, saya mohon mba tolonggggg.... sudah cukup jangan lanjutkan penyelidikan anak saya" Ucap ibu itu sambil terisak.
"Tolong mba tolonggggg" Ia memegang erat lengan Kayla dan berlutut.
"Ah, ibu tunggu dulu bu" Kayla membangunkannya dan menuntunnya untuk duduk kembali di sofa.
"Kenapa ya bu?" Tanya Kayla. Ibu itu menggelengkan kepalanya.
"Saya mohon mba. Farhan anak kesayangan saya. Sudah lama saya menyesal mba, saya tinggalkan dia sejak dia masih SD. Saya biarkan dia dibawa Ayahnya hiks... hiks..."
"Tapi masalah anak ibu–"
"Saya tau mba. Saya tau. Ayahnya melaporkan kasus ini tanpa persetujuan saya sebagai ibu kandungnya." Tegas ibu Farhan.
"Sudah cukup mba tolong jangan mencari tahu lagi tentang kasus anak saya. Saya ikhlas mba kalau anak saya memang sudah ditakdirkan dipanggil Tuhan lebih dulu dari saya. Saya gak mau tau ada apa-apa lagi soal kasus anak saya. Saya mohonnn..."
Rin dan Kayla terdiam. Dalam hatinya Rin paham apa yang dirasakan Ibunda Farhan karena ia juga seorang ibu. Mengetahui kematian anak saja sudah menyakitkan terlebih jika ternyata kematian anaknya disengaja. Rin yakin ia tidak akan bisa menahan emosinya.
"Iya, bu. Saya paham. Kasus anak ibu akan kami tutup. Ibu tunggu beberapa hari, nanti akan saya infokan" Kata Rin. Kayla terkejut mendengarnya. Ia menatap Rin seolah bertanya 'apa maksudnya?'
"Terima kasihhhh... Tolong sampaikan ke pihak pelapor dari ayahnya ya mba. Sudah cukup saya gak mau tau apa-apa lagi" Kata ibu Farhan sambil terisak.
"Iya bu. Akan kami sampaikan" Kayla mengusap punggung tangannya untuk menenangkannya.
...*****...