
"Keren juga. Aku terjatuh dari tebing sangat tinggi tetapi hanya pingsan dan tak sakit hehehe aku seperti superhero saja," ucapnya dengan bangga.
Hara pun melanjutkan perjalanan melewati semak belukar ini, sembari membawa kendi yang ia peluk saat terjatuh tadi, Hara pun bersiap menghadapi segala rintangan yang ada di depan.
"Tolong," suara berat yang samar terdengar.
"Tolong ..."
'Tidak Hara! Ini pasti ilusi semata, jangan pernah kau menghiraukan suara itu sampai kau menemukan orangnya!' Batin Hara sembari mengamati suara meminta bantuan.
"Tolong," suara berat itu pun semakin terdengar jelas dan benar saja ada seseorang bertubuh gempal terperosok dari tebing sama seperti Hara.
'Aku bantu atau tidak ya?' Batinnya.
"Tolong!" ucap seseorang itu sembari menunduk dan memperhatikan bawah jurang.
Tangan kanannya menggenggam erat baru besar yang masih kokoh tertanam di tanah, sedangkan tangan sebelahnya memegang guci ⚱ sedang agar tidak jatuh bersama dengan dirinya.
'Tapi bagaimana mungkin aku membantunya? Tubuhku sepuluh kali lebih besar darinya, mana mungkin aku bisa menarik tubuh gempalnya ke permukaan ini?'
'Sial! Hara, mengapa kau tidak berfikir jernih?! Pasti ada cara untuk menyelamatkan orang itu.'
Hara pun mengerutkan dahinya dan ia berfikir cukup lama setelah itu, Hara bergegas menolong orang yang tubuhnya sepuluh kali lipat darinya.
"HEI PAK!" ucap Hara dari atas.
"Hoh?" Orang itu mendongak ke atas sembari memberi senyum lebar.
"Tolong aku Nak," ucapnya lagi.
"Iya mari aku bantu kau naik ke atas sini!" Ucap Hara mengulurkan akar pohon beringin yang menjuntai dekatnya.
"Iya, tapi bagaimana kau menolongku?" Tanya pria itu.
"Ambillah akar itu, aku akan mengikatnya di sebuah pohon besar itu." Hara menunjuk ke arah pohon yang sedikit condong ke arah jurang.
"Apa kau serius nak?" Ucap pria itu lagi.
"Iya, aku serius."
"Baiklah aku akan menyerahkan guci ⚱ ini ke dirimu agar bisa sampai di permukaan lebih dulu," Ucap pria gempal ini.
"Baik, aku akan mencoba menariknya."
Hara mulai meraih guci ⚱ yang cukup besar dengan sekuat tenaga dan dengan sekuat raga ia menariknya sampai ke atas permukaan.
"Huaaaaaaa, Huaaaaaaaa...."
Brugh!
"Huh ... akhirnya aku berhasil menarik guci ⚱ ini," gumam Hara.
"Pak, sekarang naiklah aku akan menjaga akar ini agar tidak putus." Hara meyakinkan pria gempal ini dengan menunjukan ibu jarinya.
"Baiklah nak!"
Mereka pun berjuang demi membantu satu sama lain. Hingga 2 jam lamanya, akhirnya Hara dan pria gempal ini sekarang berada di posisi yang sama.
"Huh ... huh ... huh ..."
"Terima kasih nak sudah merepotkan perjalanan mu," ucapnya.
"Iya pak, tidak apa. Aku suka menolong orang jadi aku tidak merasa di repotkan." Hara menjawab dengan senyuman lebar.
"Kau benar-benar baik."
"Hehehehe, yasudah kalau begitu aku akan jalan lebih dulu ya pak, permisi." Hara pun mengambil gucinya dan melangkah lebih dulu.
Namun baru saja Hara melangkah, pria itu pun menahan langkah kakinya, " Tunggu nak!"
Hara terdiam dan menengok ke arah belakang sembari bertanya, "Ada apa pak?"
"Bisa kita jalan bersama, aku khawatir kau menemukan masalah besar saat perjalananmu."
"Tidak masalah, aku sudah terbiasa walaupun tempat ini sedikit aneh aku mulai terbiasa." Hara menjawab dengan penuh percaya diri.
"Baiklah nak, aku akan berjalan di belakangmu saja."
"Aku lelah, bisa kita beristirahat sebentar?" Tanya pria gempal itu.
"Baiklah, aku pun sama. Kaki ku sudah tak sanggup rasanya untuk berdiri."
Mereka pun beristirahat di sebuah tanjakan kecil sembari mengatur nafas mereka dan juga pandangan mereka.
Setelah 10 menit berlalu, mereka langsung bergegas melanjutkan perjalanan mereka hingga jalan datar pun terlihat jelas.
"Akhirnya kita sampai di atas juga!" Ucap Hara gembira.
"Akhirnya, tetapi apa aku bisa pulang?" Ucap pria ini.
"Memangnya ada apa pak?" Tanya Hara penasaran.
"Ini hari ke tiga belas aku melakukan misi dan besok hari ke empat belas. Aku telah gagal menjalankan misi ku," ucap pria gempal ini dengan lesu.
"Tidak apa, yang penting kau sudah berusaha melakukan misi dengan baik. Jadi kalau aku kita lanjutkan perjalanan kita!" Hara yang periang memberikan semangat untuk dirinya sendiri dan juga pria itu.
Perjalanan pun berlanjut hingga akhirnya mereka mendengar suara teriakan kecil dari seorang perempuan.
Tepatnya di distrik Air. Mereka berdua telah sampai di tempat mereka akan mencari ikan yang di minta.
"Haraaa!"
"Haraaaa, apa kau disini?" Ucap Nei sembari membawa tas besar milik Hara.
"Iya aku disini."
Deg!
Nei tidak mau menengok belakang karena ia tidak mau hal yang serupa terjadi lagi dan misi ini gagal seketika.
Nei hanya diam mematung di tempat, sembari membaca feeling serta aura, Nei sama sekali tidak dapat mengenali Hara.
Karena distrik ini banyak menyimpan aura mistik, orang-orang penuh dendam dan juga arus angin yang bertabrakan.
Puk!
Pundak Nei tiba-tiba saja ada yang menepuk dan aksi beladiri yang di miliki Nei pun mulai keluar.
Nei menyerang Hara secara membabi buta sehingga Hara terluka sedikit di bagian lengan kiri.
"Argh!"
"Cukup, cukup," ucap pria gempal yang ada di belakang.
"Siapa kalian?" Ucap Nei sembari menyodorkan kunai kecil miliknya.
"Ini aku Hara!" ucap Hara sembari memegangi lengannya yang terluka.
"Apa kau bisa menipuku? Tidak! Kau tidak perlu berpura-pura seperti Hara!" Ucap Nei menatap Hara tajam.
'Sial aura Nei sangat marah, padahal aku benar-benar Hara. Huhuhu bagaimana aku bisa meyakinkan dia kalau aku ini benar-benar Hara?' Batin Hara.
Nei mendengar Batin Hara dan Nei pun mulai yakin kalau orang yang ada di depannya ini benar-benar Hara.
'Tetapi siapa laki-laki bertubuh gemuk yang ada di belakang sekarang?' Batin Nei sembari melirik tajam pria itu.
"Aku Mon. Hara membantu ku saat aku berada di tepi jurang saat hendak mengambil bunga Edelwis ini." Pria gempal ini mengelakan dirinya ke Nei.
"Apa pedulinya aku terhadap dirimu?" Ucap ketus Nei sembari berjalan lurus kembali.
"Kau ini Nei, tidak bertanggung jawab sama sekali! Sudah melukai tanganku, lalu jalan lebih dulu tanpa mengobati luka ini," gumam Hara.
"Suruh siapa kau tiba-tiba menepuk pundakku?" Ucap Nei saat di perjalanan.
"Padahal aku sudah berusaha mengejar suara dan menjawab panggilan mu tadi." Hara merengut selama di perjalanan.
Koneksi kuat di antara mereka bertiga mulai terjalin dan raut bahagia pun nampak jelas di wajah Nei karena ia bisa berkumpul kembali dengan Hara.
"Sebaiknya kita beristirahat di goa itu agar tidak terkena badai," ucap Pak Mon sembari menunjuk Goa bercahaya di depan sana.
"Baiklah."
Bersambung....