
"Diamlah!" Bisik Nei.
Drap! Drap! Drap!
Langkah kaki orang-orang yang entah datang dari mana berbondong-bondong untuk datang ke sebuah Goa.
"Apa kau yakin kita bisa hidup kembali?"
"Ya benar!"
"Asalkan kita bisa bertemu dengan penghuni Goa itu, kita akan hidup kembali."
"Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat bertemu dengan penghuni Goa itu."
Percakapan itu mereka dengar saat langkah-langkah kaki melaju ke arah sebuah Goa.
"Apa Goa yang di maksud adalah Goa tempat Tuan tinggal?" Hara bertanya ke Nei.
Namun Nei hanya diam dan tak lama kemudian Nei memejamkan mata entah apa yang sedang ia lakukan tetapi raut muka Nei sangat serius.
'Hati-hatilah Tuan, banyak orang berdatangan ke Goa untuk mencarimu. Jangan sampai mereka menemuimu!' Nei melakukan telepati dengan Tuan berjubah putih.
'Tidak akan semudah itu mereka menemuiku Nei, hanya orang-orang terpilihlah yang dapat menemuiku,' jawab Tuan berjubah putih melalui telepati.
"Kau sedang apa?" Ucap Hara sembari menatap wajah Nei dengan begitu serius.
"Hmm? Ti-tidak aku tidak melakukan apapun!" Jawab Nei begitu gugup karena ini kali pertama ia di tatap begitu dalam oleh seorang laki-laki.
"Sudah ayok kita lanjutkan perjalanan!"
Mereka pun akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Gunung Grom untuk mencari bunga Edelwis.
"Kira-kira berapa lama kita akan sampai di Gunung Grom?" Tanya Hara.
"Mungkin kita akan sampai 4 jam lagi di kaki Gunung Grom dan kita akan mendirikan tenda di sana untuk semalam," jelas Nei.
"Wah cukup lama juga perjalanan kita."
"Maka dari itu kita harus bergegas cepat dan sebisa mungkin kita menghindari orang-orang seperti tadi." Nei mengingatkan.
"Mangapa?"
"Jika kita berhadapan dengan mereka, maka kita akan dapat masalah besar dan kemungkinan besar kita tak bisa menyelesaikan misi yang di berikan oleh Tuan," jelas Nei sembari mengepalkan tangannya.
"Oh begitu. Baiklah ayo kita fokus pada misi yang di berikan oleh Tuan!" Semangat menggebu-gebu datang kembali membara jiwa Hara.
...----------------...
Sesampainya di kaki Gunung.
Hosh ... hosh ... hosh ...
"Berhenti sebentar! Aku tidak kuat lagi," ucap Nei.
"Baiklah kita akan beristirahat disini sebentar." Hara menuruti permintaan Nei.
"Bagaimana kau bisa sekuat ini?" Tanya Nei ke Hara.
"Karena aku tinggal di Gunung. Rumahku tepat di kaki Gunung dan sekolahku berada 800 meter dari rumah sehingga aku lebih sering naik turun gunung," jelas Hara.
"Kau hebat juga. Berarti pernafasanmu sangat bagus dan otomatis nilai larimu sangat bagus." Nei menyeletuk.
"Iya benar, nilai lariku hampir sempurna dan nilai olahragaku sangat-sangat sempurna dari satu sekolah."
"Wah kau benar-benar keren." Nei kembali terkagum dengan Hara.
"Yasudah kita lanjutkan lagi perjalanan ini agar kita sampai di bascamp secepatnya!" Ajak Nei.
"Baik."
Hara dan Nei kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai bascamp. Namun saat mereka sampai di bascamp ada yang aneh di sini.
'Semula tempat ini tidak kumuh seperti ini. Lalu mengapa? Mengapa tempat ini sangat acak-acakan?' Nei bertanya-tanya.
"Ada apa?" Tanya Hara.
"Tidak ada apa, ayok kita jalan lagi."
"Tidak mau beristirahat sebentar?" Tanya Hara.
"Tidak perlu, aku masih kuat untuk sampai di perkemahan." Nei memberikan alasan.
Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga sampai di bukit-bukit kecil. Pemandangan yang sangat bagus di kelilingi ilalang panjang.
Udara disini pun sangat bagus, sejuk dan ... 'Tidak ada sampah satu pun yang berserak di sini, bahkan tanah disini sangat bersih.'
'Hanya di tempat ini tanah yang memiliki aroma. Seperti hujan yang jatuh ke membatasi bumi, begitulah kira-kira aromanya,' Hara berdialog dengan dirinya sendiri.
Karena desiran angin tak sampai membuat ilalang ini berbunyi karena bergesek satu dengan lain.
'Ada yang aneh disini. Aku tidak tau apa yang sedang mengintai kami tetapi aku yakin ada 3 atau 5 orang yang sedang mengikuti dan mengawasi kami saat ini.'
Hosh ... hosh ... hosh ...
"Nei, dimana kita akan bermalam?" Tanya Hara.
"Sebentar, aku pun masih kebingungan," jawab Nei tiba-tiba saja diam dan kembali memasang ekspresi yang sama seperti tadi.
'Tuan?'
'Tuan aku ingin bertanya, apa kau masih bisa menjawabku?' Tanya Nei.
'Iya masih. Ada apa Nei?'
'Aku dan Hara benar-benar lelah. Tetapi aku tidak menemukan titik penginapan atau perkemahan. Lalu bagaimana kami beristirahat?' Tanya Nei melalui telepati.
'Dan dari tadi aku merasa seperti ada yang mengintai kami entah itu orang atau bukan aku tidak tau pasti. Tetapi aku dapat merasakan kalau tiga sampai lima orang sedang mengikuti kami,' jelas Nei lagi.
'Majulah 10 langkah lagi maka kau akan menemukan sebuah Goa. Berlindunglah disana secepat mungkin karena kali ini firasatmu benar,' ucap Tuan berjubah putih.
'Ada seseorang yang mengikuti perjalanan kalian. Untuk jumlahnya aku tidak tau pasti karena ... jarak samar-samar terbawa angin,' lanjut Tuan berjubah putih.
'Baik Tuan aku dan Hara akan segera ke Goa itu.'
"Cepatlah! Ikut denganku sekarang!" ucap Nei berjalan sangat cepat.
"Iya-Iya."
"Kemari! Kita akan bermalam disini!" ucap Nei.
"Di Goa ini?"
"Iya, karena jika kita mendirikan tenda di luar, besar kemungkinan kita akan di tangkap oleh orang-orang yang sedang mengintai kita," jelas Nei.
Deg!
"Tempat ini indah namun tidak aman," gumam Hara.
"Apa kamu tau mengapa hal ini terjadi?" Tanya Hara kembali.
"Nanti juga kau akan tau tempat apa ini," jawab singkat dari Nei.
"Lalu ... saat kamu diam tadi, kamu sedang memikirkan apa?" Tanya Hara.
"Aku sedang melakukan spirit untuk telepati dengan Tuan. Karena aku pun buta jalan setelah melewati tempat ini," jelas Nei.
"Maksudmu?" Hara bertanya penasaran.
"Kau juga akan tau nanti dan akan aku ceritakan setelah kita mendapatkan bunga Edelwis nanti."
"Baiklah kau hutang cerita denganku tau!" Hara langsung mengingatkan Nei tentang cerita tempat ini.
...----------------...
Malam pun tiba.
Nei dan Hara masuk lebih jauh kedalam Goa ini karena mereka akan menyalakan sedikit api untuk menghangatkan tubuh.
"Apa kau tidak lapar Nei?" Tanya Hara.
"Sedikit."
"Ini, aku sudah memeriksa ransel ini ternyata makanan untuk kita selama perjalanan dan aku bisa menghitung semua makanan ini cukup untuk 10 hari," tutur Hara sembari merapihkan ransel.
"Bagaimana kau tau?" Tanya Nei.
"Karena aku sering membantu nenek membeli bahan pokok di pasar dan aku ini jago matematika tau! Jadi semua ini sudah aku perhitungkan baik-baik."
Nei mengucapkan kata itu dengan bangga dan senyuman manis terpancar jelas dari wajahnya.
"Tetapi bukankah kita 13 hari perjalanan?" Tanya Nei.
"Kita bisa memakai hanya 11 hari karena kita bisa memakan ikan bakar saat kita mencari ikan Channa Striata nanti," jelas Hara.
'Waw, perhitungannya sangat bagus sekali.'
Setelah makan malam bersama seadanya, mereka pun tidur menggunakan selimut gunung. Mematikan api yang di hidupkan tadi lalu ...
Drap! Drap! Drap!
'Langkah kaki itu ada lagi! Pasti itu yang mengintai kami tadi.'
Bersambung ....