
"Bodoh!"
"Bodoh? Bodoh bagaimana?" Tanya Hara.
"Coba kau pikirkan saja sendiri," cetus Nei
Lagi-lagi Hara tidak menemukan jawaban terkait pertanyaannya.
'Mengapa aku selalu sial? Tadi saat di hutan rimba kaki ku terkilir, terjatuh berkali-kali, bahkan tersesat. Sekarang aku bertemu dengan gadis kecil yang sangat galak dan tempat ini sangat indah tapi perasaanku sangat tidak enak.'
'Eh? Sebentar, mengapa aku berbicara dalam hati? Bukankah gadis kecik ini bisa membaca pikiranku? Sial aku sangat malu.'
Hara mengomel sendiri dalam batinnya hingga ia sadar kalau Nei bisa membaca pikirannya dan hal itu membuat Hara sangat malu.
"Hoam, apa kita masih lama Nei?"
"Tidak, sebentar lagi kita akan sampai."
"Sebentar lagi? Aku rasa sudah hampir 5 jam sejak kita bertemu tadi tapi tidak juga sampai di tempat yang kau tuju."
"Diamlah, kau ini bisanya hanya mengeluh saja."
"Huh ..."
"Sampai."
"Eh? Akhirnya kita sam-" Hara tidak melanjutkan ucapannya karena Nei membawanya ke sebuah Goa dekat gunung yang tadi ia lihat dari jauh.
"Go-Goa? Mengapa kita kesini?"
"Sudahlah ikut saja!"
Hara hanya bisa menuruti kemauan gadis itu karena Hara memiliki prinsip perempuan harus ia jaga walaupun ia tak bisa apa-apa tetapi Hara tak mau meninggalkan gadis kecil sendiri di tempat ini.
'Sepertinya gadis ini tau banyak tempat disini.'
"Tidak juga."
"Eh??"
"Sudah ku duga kau membaca pikiranku lagi," Hara berjalan dengan lesu.
Tap ...
Nei tiba-tiba saja berhenti dan badannya sedikit menunduk di lorong Goa yang sangat gelap itu.
Lalu Nei mulai berbicara aneh dan hal ini membuat Hara sangat takut bahkan sedikit khawatir kalau Nei sebenarnya bukan orang waras.
"Aku telah sampai tuan. Orang yang kau maksud telah aku bawa."
"Bawa? Maksudnya aku? Hei Nei mengapa kau membawaku? Ke siapa kau membawaku? Tuan, tuan siapa?" Hara mulai panik bahkan suara Hara menggema di sudut lorong Goa.
"Hohoho, terimakasih Nei karena kau telah membawanya kemari," ucap seorang pria dari lorong Goa ini.
Hara bergidik merinding dan wajahnya saat ini sangat pucat bahkan rasa ingin mengompol pun ia rasakan.
"Jangan takut Nak, kemarilah agar aku bisa melihat wajahmu dengan dekat."
"Kemari kemana?" Tanya Hara ketakutan.
"Kemarilah," ucap seseorang dari lorong gelap itu.
"Cepatlah kau kesana bodoh!"
Dug!
Nei menendang Hara dengan kekuatan tinggi hingga dirinya melayang ke arah lorong gelap itu.
"HUAAAAAA SAKIT TAU! KAU INI MANUSIA ATAU ROBOT? MENGAPA KAU MEMILIKI TENDANGAN SEKUAT ITU?" Teriak Hara sembari menahan sakit di bagian bokong.
"Diam bodoh!"
"Hohoho kau sangat hebat bisa menahan tendangan dari Nei."
"Menahan apanya? Ini sangat sakit tau!" Mata Hara mulai sedikit berkaca-kaca karena sesungguhnya Hara merupakan anak yang sangat cengeng.
"Siapa namamu?"
"Hara."
"Nama yang bagus, aku yang membawamu sampai bisa datang ketempat ini?" Tanya orang berjubah putih ini.
"Mana aku tau, aku hanya ingin mencari jalan untuk pulang ke rumah."
"Kau ingin pulang?"
"Ya benar aku ingin pulang tapi aku malah tersesat di tempat ini."
"Jadi kau ingin pulang?"
"Iya!"
Wajahnya tidak terlihat hanya janggutnya saja yang berwarna putih dan senyuman hangat dari pria tua itu.
"Apa itu?"
"Carilah bunga Edelwis terbaik di Gunung Grom. Jika kau beruntung kau akan menemukannya lalu bawalah kemari."
"Itu mudah, tinggal petik bunganya saja lalu ambil dan bawa pulang. Aku sering memetik bunga Edelwis untuk para pendaki saat musim liburan," ucap Hara percaya diri.
"Lalu, bawakanlah aku bunga Tapak Dara ungu dan putih kemari agar aku dapat membuat penawar luka untuk peliharaan ku."
"Lalu apa lagi?" Tanya Hara begitu percaya diri.
"Jangan belagu dulu kau dasar bodoh!" cetus Nei.
"Bawakan aku ikan Channa Striata."
"Baiklah akan aku bawakan semua permintaanmu tuan,"ucap Hara lalu membalikkan badan.
"Tetapi kau harus ingat."
"Apa?" Tanya Hara sedikit heran.
"Kau hanya punya waktu 13 Hari untuk mencari semua yang aku minta. Jika dalam 13 hari kau hanya mendapatkan satu saja maka kau tak akan bisa kembali."
"Namun jika kau sudah mendapatkan apa yang aku mau, maka kembalilah secepatnya sebelum matahari terbenam dan akan aku pastikan kau bisa kembali pulang," jelas Tuan berjubah putih ini.
"Ya ya ya aku paham," jawab Hara sangat percaya diri.
"Ambillah ini dan pakailah ini untuk menjagamu nanti selama perjalanan. Kau akan di temani oleh Nei selama perjalanan nanti."
"Nei? Astaga, baiklah. Aku akan berangkat."
...~▪︎~...
Perjalanan pun di mulai Hara mencatat apa yang di perintahkan tuan berjubah putih tadi di sebuah daun kering dengan arang yang ia bawa.
"Nei, untuk apa arang, tombak, pisau dan daun kering ini? Mana tas dan pakaian ini sangat berat lagi." Hara mulai mengeluh.
"Nanti juga kau tau sendiri."
"Sejak kapan kau ada disini?" Tanya Hara ke Nei.
"Tahun lalu."
"Oh kau juga baru disini, mengapa kau bisa sampai sini?"
"Karena beberapa alasan aku bisa terpental ke tempat ini. Tapi apa kau bisa mendapatkan semua yang tuan minta?" Tanya Nei sedikit khawatir.
"Tentu saja! Kenapa kau tidak percaya?"
"Bukannya aku tidak percaya hanya saja ..." Nei tiba-tiba saja diam dan tatapannya sedikit tajam mengarah ke depan.
"Hanya saja apa?" Tanya Hara mengamati wajah Nei.
"Tempat ini sedikit kurang aman bagimu karena banyak sekali hal-hal berbahaya yang akan kau hadapi selama perjalanan ini."
"Aku tau, walaupun aku tidak memiliki keterampilan dalam beladiri, tetapi aku bisa sedikit memainkan tongkat ala-ala kungfu," jelas Hara.
"Dari mana kau belajar?"
"Televisi. Aku selalu menonton kungfu dan berlatih bersama teman-teman saat kami sedang berkumpul," jelas Hara membuat Nei sedikit terkagum.
"Lalu apa kamu bisa beladiri Nei?"
"Bisa hanya saja aku bukan ahli di bidang beladiri. Aku hanya pandai dasar-dasarnya dan aku hanya bisa memanah dari jarak jauh pun aku bisa," jelas Nei.
'Wah tak kusangka gadis kecil sepertinya mempunyai keahlian yang besar. Jika aku bertemu dengannya lagi setelah pulang nanti, aku yakin dia pasti akan jadi atlet panah yang hebat.'
Mendengar isi hati Hara, Nei hanya tersipu malu. Wajahnya memerah dan Nei memulai langkah dengan cepat karena ia sangat-sangat bahagia.
"Eh? Mengapa kamubyang memimpin jalan?" Tanya Hara menyusul Nei dengan cepat.
"Kau tidak tau tempat ini jadi biarkan aku yang memimpin jalan saat perjalanan ini," ucap Nei.
"Iyasih ada benarnya juga. Tapi kamu itu perempuan! Aku tidak mau kau kenapa-kenapa karena seharusnya laki-laki lah yang menjadi pemimpin," ucap Hara yang masih mengikuti langkah kaki Nei.
Hara masih saja menyeloteh sepanjang perjalanan hingga akhirnya Nei berhenti secara tiba-tiba dan ...
Dug!
"Awh! Mengapa kamu berhent-" Nei langsung menutup mulut Hara dan bersembunyi dengan cepat di balik batu besar.
"Adha Aaa?" Tanya Hara tak jelas karena mulutnya masih tertutup.
"Diamlah!" Bisik Nei.
Drap! Drap! Drap!
Bersambung ....