
Bruk!
Wosh ... wosh ... wosh ....
Gluduk ....
Gluduk ....
Ctar ....
"Aw! Hey kenapa kamu melempar aku hah?"
"Apa kau tak punya mata? Lihat itu kita terna badai tau!" Nei mengomel.
"Ya aku tau, tapi kenapa kamu harus melempar aku seperti baju kotor ke cucian!"
"Ya memang kau kotor, lihat saja dirimu penuh dengan debu dan pasir," ucap Nei ke Hara.
"Hah? Ih iya juga baju yang aku pakai terasa kusam sekarang!" gumam Hara.
"Bukan terasa, tapi memang kusam." Nei menyeletuk lagi.
"Kamu ini bisa tidak kalau berbicara tidak membuat orang sakit hati?!" Umpat Hara.
"Rasanya hatiku seperti tertusuk pisau tajam," gumamnya.
Mereka pun menunggu lagi badai yang sedang bergemuruh di Gunung Grom dan setelah menunggu hampir 1 jam lamanya, badai pun hilang, lenyap tak tau pergi kemana.
"Ayok! Kita sudah tidak ada lagi waktu untuk bermalas-malasan." Nei masih memimpin jalan hingga akhirnya mereka menemukan ujung jalan yang di penuhi semak.
'Aku rasa ini bukan hanya sekedar semak,' ucap Hara dalam batinnya.
'Tunggu sebentar! Aku tau tanaman ini. Tanaman inilah tempat bunga Edelwis berada tetapi dimana bunga itu?' batinnya sembari mengecek tanaman ini satu persatu.
"Nah itu dia!" Ucap Hara kala melihat bunga Edelwis berada di tepi jurang dengan kemiringan hampir 90°.
"Apa?" Tanya Nei.
"Bunga itu ada disana! Aku akan mengambilnya!" Ucap Hara langsung menaruh tas yang ia bawa.
Hara mengeluarkan Tali dan mengikutinya di sebuah batu besar karena ia tak mau Nei membantunya untuk memagang tali itu.
'Jika aku meminta bantuan Nei, maka tangan mungilnya akan terluka dan aku tidak mau sampai itu terjadi.'
"Hara, kau gila ingin turun kesana?"
"Kita bisa mencari bunga itu tepat di dataran seperti ini tau!" Lanjut ucapan Nei.
"Aku tau di sana pasti ada banyak, tapi kamu tau tidak mitos bunga ini yang melambangkan kesetiaan?"
"Bunga ini hanya bisa di ambil di tepi jurang dengan ketulusan dan cinta penuh dari seseorang yang ingin mengambilnya."
"Tidak banyak orang yang bisa mengambilnya karena memetiknya harus memiliki ke ahlian khusus" Hara menjelaskan tentang bunga Edelwis ini ke Nei sembari memasang tali lain mengelilingi tubuhnya.
"Tapi apa kau yakin?" Tanya Nei khawatir.
"Iya, aku yakin sekali."
"Baiklah aku akan berdoa untukmu disini."
'Perlahan-lahan, ingat kata oma. Untuk mengambilnya kau perlu cinta dan ketulusan agar bunga yang di ambil terlihat sempurna.'
Nei pun perlahan-lahan menuruni tebing ini walaupun hanya dengan tali dan pisau.
'Aku pasti bisa!' Hara menyemangati dirinya sendiri.
"Ya! Kau pasti bisa," jawab Nei.
"Ini tidak sulit hanya melihat alur dia tumbuh dan .... Yak! Aku mendapatkannya." Hara melihat kebahagiaan dari raut wajah Nei.
'Ini pertama kalinya dia tersenyum sangat manis,' batin Hara.
'Apa? Siapa? Siapa yang ia bilang manis?' Tanya Nei ke dirinya sendiri.
"Sial, mengapa orang ini semakin manis terlihat?" Gumam Nei.
Hara pun menyimpan bunga itu kedalam kendi kecil yang hanya cukup untuk bunga cantik ini saja dan Hara mulai menaiki gunung Grom lagi agar bisa sampai ke dasarnya.
Crek ...
"Hmm?"
'Aku seperti mendengar sesuatu, tapi apa?' Batin Nei.
Crek ...
"Hmm? Suaranya seperti tali putus ya? Tapi tali ap ... a?" Nei bergumam sembari badannya berputar 180° dan akhirnya Nei melihat sesuatu.
"Tidak! Jangan putus dulu," Ucap Nei sembari menarik tali.
"Ada apa?" Tanya Hara.
"Cepat naik! Tali ini akan segera putus dan kau tidak punya banyak waktu untuk naik ke tempat ini lagi."
"Baik!" Hara pun langsung bergegas naik ke gunung Grom dan Nei masih terus menahannya.
Saat pijakan kaki Hara tinggal tiga langkah lagi, tiba-tiba tali terputus dan ...
"Aaaaaaa," Teriak Hara jatuh ke bawah jurang.
Sreek ...
Awh ...
Brugh!
----------------
"Hara!" Teriak Nei dari atas.
"Hara? APA KAMU MENDENGAR SUARA KU?" Nei berteriak.
"HARA?! JAWAB AKU JIKA KAMU MASIH BISA MENDENGARKAN AKU!"
Namun tetap saja tidak ada jawaban sama sekali, hingga akhirnya Nei bergegas sendiri menyusuri jalur gunung ini.
'Tuan?' Ucap Nei dalam batinnya.
Nei mulai berkomunikasi lagi dengan Tuan berjubah putih namun suaranya terdengar kecil dan sedikit samar.
'A ... da ... pa ... anak ... ku?' Jawab Tuan.
'Hara terjatuh ke jurang, bagaimana aku membantunya melanjutkan misi ini?'
'Ikuti saja jalan gunung ini dan kau bantu dia untuk menemukan benda selanjutnya.' Tuan menjawab.
'Tetapi aku tidak tau dia ada dimana dan bagaimana aku bisa pergi?' Tanya Nei sedikit dengan isak tangis.
'Tetaplah berjalan dan ingat dulu kau pernah seperti ini, kau bisa berjalan sendiri tanpa bantuan dan aku yakin Hara mampu berjalan walaupun tanpa arah.'
'Kau juga dulu bilang seperti itu tuan. Tetapi aku tidak bisa menyelesaikan misi ini dan akhirnya aku tetap berada disini selama 3 tahun lamanya.' Nei mulai menangis.
'Aku hanya bisa memberitahu itu saja Nei karena Hara sudah berhasil mengambil bunga Edelwis. Setelah ini kita tidak dapat berkomunikasi kembali setelah kau dan Hara kembali ke Goa ini.'
'Sial! Aku tidak bisa tau! Aku tidak bisa!' Nei menangis sembari bersandar di tepi batu besar.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ... Aku tidak bisa!" Nei menangis sejadi-jadinya.
"Hei nak!"
Deg!
"Aku tertangkap!" gumam Nei sembari mendekat air matanya.
----------------
Hara saat ini sedang tidak sadarkan diri lagi dan ia sedang melihat sesuatu dalam mimpinya. Seperti ada yang berubah tapi ...
"Aku pulang," ucap Hara saat hendak pulang sekolah.
"Sayang," Ucap sang ibu sembari memeluk tubuh hangat Hara.
"Ibu? Dimana nenek? Kakek? Dan Kakak?" Tanya Hara kebingungan karena ia berada di pintu rumah yang bukan rumah neneknya.
"Nenekmu sudah meninggal sayang, kakek mu juga sama. Sedangkan kakak, dua pergi meninggalkanmu. Jadi sekarang ibu akan merawatmu dan membesarkanmu dengan penuh kasih sayang," ucap ibu.
"Aku tidak mau!"
"Aku ingin nenek!"
"Aku ingin tinggal bersama mereka!"
Hara merengek bak anak kecil yang tak di belikan permen oleh sang mamah.
Dengan air mata yang jatuh dan penuh membasahi wajahnya, ibu Hara tiba-tiba saja memukulnya dengan kayu pohon besar.
Plak!
Bugh!
"Diamlah!" Ucap ibunya sembari memukuli tubuh Hara.
Ctak!
Plak!
"Awhhh!!"
"Aaaaaaa," Hara pun kembali sadar dan ternyata dirinya sedang tidak di pukuli tetapi ranting kayu pohon dan juga semak belukar sedang memeluk tubuhnya.
"Awh! Sial aku mimpi aneh lagi."
"Tapi? Mengapa ini tidak sakit? Rasanya seperti orang kesemutan, seperti hilang rasa." Hara meremas luka-luka yang ada di tangannya.
"Sama sekali tidak sakit! Apa mungkin mimpi bisa masuk kedalam mimpi?"
"Hah? Kau ini bicara sih Hara?"
"Aku harus fokus untuk misi dan sekarang bagaimana aku bisa naik ke atas?" Ucapnya sembari melihat tebing ia terjatuh tadi.
"Keren juga. Aku terjatuh dari tebing sangat tinggi tetapi hanya pingsan dan tak sakit hehehe aku seperti superhero saja," ucapnya dengan bangga.
Hara pun melanjutkan perjalanan melewati semak belukar ini, sembari membawa kendi yang ia peluk saat terjatuh tadi, Hara bersiap menghadapi segala rintangan yang ada di depan.
Bersambung ....