
"Bye, bye."
"Sampai jumpa besok," ucap perpisahan tiga orang remaja yang baru saja pulang dari sekolah.
Mereka merupakan siswa Sekolah Menengah Pertama dan baru saja menginjak kelas 2.
Mereka bertiga tinggal di sebuah desa yang berada di atas gunung dengan lokasi yang berbeda, mereka selalu berkumpul di sebuah gubuk untuk belajar bersama.
Hari itu anak yang bernama Ishara pulang lebih awal karena kakak sepupunya menjemputnya saat mereka asyik berdiskusi.
"Kenapa kamu terburu-buru menjemput aku?" Tanya Ishara sembari mengembangkan langkah sang kakak.
"Ada suatu hal yang ingin ibumu bicarakan tentang sekolahmu."
"Apa?" Tanya Ishara lagi.
"Lalu mengapa ibu kembali? Bukankah dia sudah tidak mau hidup bersama ku? Aku tidak akan pulang!" ucap Ishara lalu menghentikan langkahnya di tengah jalan raya.
Kakak sepupunya pun berhenti dan jarak mereka 4 langkah dari Ishara berdiri. "Oh ayolah Hara! Ini demi kebaikan dirimu," ucap kakak sepupunya.
"Aku tidak mau, pokoknya tid-"
Brak!
"Haraa!" Teriak kakak sepupu Ishara yang terdengar samar-samar.
Tut ... tut ... tut ...
...----------------...
Hah ... hah ... hah ... hah ..
Nafas yang sedikit terpenggal menyulitkan Ishara bernafas dengan baik.
"Apa ini? Sial! Mengapa aku berlari?" ucapnya pada diri sendiri.
"Lalu ... Dimana ini?"
Ishara terjebak di sebuah hutan yang dia sendiri tidak tau arah mana yang harus ia ambil.
Tetapi neneknya pernah berkata, " jika suatu saat nanti kau terjebak di sebuah hutan rimba, maka carilah aliran sungai lalu kau ikuti aliran tersebut."
"Gunanya untuk apa oma?" Tanya Ishara.
"Gunanya untuk menemukan pemukiman warga karena sepanjang aliran air pasti akan bertemu dengan rumah warga."
"Jika tidak menemukan air?"
"Ikutilah arah matahari terbenam, maka kau akan tau arahnya pulang. Tetapi kau harus hati-hati karena jika kau terlalu fokus dengan matahari kau pasti tidak melihat jalannya."
"Selain matahari ada lagi oma?" Tanya Ishara penasaran.
"Ada. Carilah lumut di sebuah pohon besar. Lalu lihat arahnya, jika sebelah dari pohon tidak ada lutut, maka itu bisa menjadi arah jalanmu untuk pulang."
"Oh begitu."
...~▪︎~...
"Iya benar aliran sungai, aku harus mencarinya."
Ishara menyususi hutan sembari melihat pohon yang berada di sekitarnya, memandangi langit namun aneh, "mengapa matahari tidak nampak sama sekali?" ucapnya.
Ishara mengira hari sudah semakin sore karena matahari sama sekali tidak menampakkan diri di langit.
"Aku harus cepat menemukan jalan keluar!"
Ishara pun mulai sedikit berlari agar dapat bisa keluar dari hutan rimba ini namun saat ia mulai mendengar suara percikan air, tiba-tiba saja Ishara tergelincir di jalan menurun.
Sehingga kaki Ishara terkilir dan perjalanan pun sedikit melambat. Hingga 3 jam berlalu, Ishara pun sampai di tepi Sungai yang ia dengar tadi.
"Sial! Bagaimana caranya aku dapat menuruni tebing ini?"
Ishara meratapi dirinya dan duduk di sebuah batu besar yang ada di pinggir sungai ini.
"Apa-apaan ini mengapa aku bisa sampai disini? Bukankah tadi aku sedang belajar bersama Nino dan Deva?! Mengapa sekarang aku ada di tengah hutan?"
Ishara bergumam sendiri sembari melemparkan batu-batu kerikil yang ada di sekeliling batu besar ini.
Plup!
Plup!
"Aku lapar, aku mau pulang," ucap Ishara sembari memegangi perutnya yang sudah mulai berbunyi.
"Oh iya kata nenek pelepah pisang bagian terdalam bisa di makan. Maka akan aku cari pohon pisang di dekat sini."
Ishara mulai bangkit dari duduknya. Perlahan-lahan tapi pasti ia menuruni batu-batu besar untuk bisa sampai di tepi Sungai.
"Awh! Mengapa kaki ini tidak sembuh-sembuh astaga!" umpatnya saat hendak turun.
Tap ... tap ... tap ...
Bruk!
Ishara terjatuh lagi karena kakinya masih terkilir dan perlahan-lahan ia bangkit kembali sembari menopang dirinya di sebuah batu.
"Apa itu?" Tanya Ishara sembari menatap jalan di ujung.
Ishara melihat sebuah cahaya terang yang berbeda dari biasanya dan Ishara berfikir, "itu pasti jalan keluar menuju rumah warga, persis seperti yang Oma ucapkan."
Ishara pun berjalan mendekati cahaya di balik semak-semak berduri itu dengan kaki pincangnya.
Saat hendak membuka semak-semak itu dengan ranting kayu, tiba-tiba cahaya membesar dan sangat-sangat menyilaukan mata.
Bruk!
"Eh?" Ishara terheran-heran mengapa dirinya bisa terduduk di hamparan hijau yang membentang luas ini.
"Sangat indah. Tapi yang tadi? Itu?" Tanya Ishara sembari membalikan badannya kebelakang berharap hutan rimba itu masih ada di belakangnya.
Tapi sayang, hutan rimba yang ia lewati tadi tidak ada sama sekali. Bahkan satu tangkai daun saja tidak tersisa disana.
Ishara hanya melihat hamparan hijau dan bukit-bukit kecil mengelilinginya. Di iringi desiran angin yang amat kencang, membuat dirinya sedikit kedinginan.
Ctak!
'Bukankah ini ranting pohon yang aku pakai untuk membuka semak?' Tanya Ishara dengan dirinya sendiri.
'Berarti hanya barang yang aku bawa saja yang masih tersisa disini. Lalu kaki ku?'
Ishara menghentakan kaki yang terkilir tadi dengan melompat-lompat dan berguling-guling tapi tidak ada yang sakit di bagian kaki.
"Apa ini sulap? Mengapa kaki ku tidak sakit sama sekali?"
"Apa jangan-jangan cahaya itu adalah obat penawar dari kaki aku yang sakit ta-" ucapan Ishara terpotong kala mendengar suara orang menyaut dari arah Timur.
"Oy! Berisik!"
"Eh? Si-siapa itu? ucap Ishara sembari menoleh kanan dan kiri."
"Aku! Mengapa kau sangat berisik? Kau menganggu tidur siangku tau!" tutur seseorang yang mulai menampakkan tubuhnya.
'Apa? Dia seorang gadis kecil? Bagaimana bisa dia ada di tempat seperti ini juga?' Batin Ishara.
"Tak perlu kau tanya bagaimana aku bisa ada disini." Orang itu tiba-tiba menjawab pertanyaan batin Ishara.
Sontak Ishara langsung menutup telinganya dengan kedua tangan, lalu berganti menjadi menutup mulutnya, lalu berganti lagi menutup perutnya.
"Ba-bagaimana kau bisa tau aku berbicara seperti itu?"
"Kau ini terlalu berisik. Sudahlah ayok ikut aku!" ucap gadis kecil ini.
"Siapa namamu?" Tanya gadis itu.
"Aku ... Ish-" ucapan Ishara terpotong kala mengingat ucapan Oma tersayang.
'Jangan pernah memberi nama mu secara lengkap Hara. Berilah nama Hara untuk orang lain agar mereka tidak menyalah gunakan nama kamu nanti.'
"Ish? Namamu Ish?" Tanya Gadis itu.
"Bu-bukan!" ucap Ishara sedikit kebingungan harus menjelaskan bagaimana.
"Aku ... aku Hara. Lalu namamu?"
"Nei."
"Nei? Satu kalimat saja?" Tanya Ishara heran.
"Sama seperti namamu!" jawaban singkat dari Nei membuat hati Ishara tertusuk.
Hara dan Nei melanjutkan perjalanan ke sebuah tempat tapi Hara sendiri tidak tau tempat apa ini.
"Nei?"
"Hmm?"
"Aku ingin bertanya tempat apa ini?"
"Apa kau tidak tau?" Tanya Nei lagi ke Hara.
"Tidak dan tidak sama sekali."
"Bagaimana kau menemukan tempat ini?" Tanya Nei.
"Tadi aku ...." Hara atau Ishara menjelaskan kejadian-kejadian janggal yang di alaminya hampir seharian ini.
Dan jawaban yang di berikan Nei membuat Hara sangat terkejut karena ini pertama kalinya ada seseorang yang menyebutnya dengan kata, "Bodoh!"
"Bodoh? Bodoh bagaimana?" Tanya Hara.
"Coba kau pikirkan saja sendiri."
Lagi-lagi Hara tidak menemukan jawaban terkait pertanyaannya.
Bersambung ...