Ishara

Ishara
• 4 •



Drap! Drap! Drap!


'Langkah kaki itu ada lagi! Pasti itu yang mengintai kami tadi,' batin Nei.


'Semoga tidak ada yang masuk ke dalam Goa ini dan semoga tidak ada yang menemui kami.'


Nei tidak bisa tertidur dengan nyenyak karena tempat ini terlalu lembab dan juga ada banyak bahaya mengintai mereka.


...----------------...


"Ishara!!" Teriak seseorang dari belakang.


"Eh? Ini dimana?" Tanya Ishara kebingungan.


"Oy Ishara mengapa kau diam?" Tanya seorang teman laki-laki bernama Ryo.


Drap!


Laki-laki itu langsung merangkul dengan tersenyum manis dan jalan pulang bersama.


Di tengah-tengah perjalanan menuju simpang.


"Nanti kita mengerjakan soal matematika ini bareng oke!" Ajak Daiono.


"Oke akan kami tunggu di tempat biasa ya!" Sahut Ryo.


Namun Ishara hanya diam dan matanya berkaca-kaca karena ini sungguh nyata, ini memang nyata ini ... "Apa ini nyata?" gumamnya.


"Aku harus pulang!" ucap Ishara langsung berlari ke dalam rumahnya.


Tap .. tap .. tap ...


"Aku pulang!"


"Ibu, nenek, kakek, paman, kakak sepupu?" Panggil Ishara dari depan pintu namun tidak ada yang menjawab panggilannya.


"NENEK?! KAKEK?!" Teriak Ishara sembari mencari sudut kamar, sudut toilet, dapur, ruang keluarga, kebun belakang rumah, bahkan seluruh isi rumah.


"Hiks ... hiks ... hiks ... mengapa mereka semua tidak ada? Ini tidak adil! Mengapa setelah aku pulang mereka semua tidak ada? Ini sungguh bukan hal yang Nyata ini sungguh bukan hal yang nyataaaa!" Ishara benar-benar kesal.


Tangisannya tumpah di dalam rumah bahkan ia tak sanggup untuk keluar dari rumah. Bahkan ia tidak datang ke gubuk untuk belajar bersama.


"Aku ingin pulang, tetapi aku ingin semua mereka ada disini!" Ucapnya.


"Aku ingin kembaliiii!"


...----------------...


'Kasian sekali,' batin Nei.


"Oi Hara! Cepat bangun kita akan segera melanjutkan perjalanan sebelum surya panas muncul," ucap Nei yang sedang bersiap-siap.


"Hoam ... apa sudah pagi?"


"Sudah! Ayok cepat."


Tap ... tap ... tap ...


'Ternyata ini hanya sebuah mimpi. Mimpi yang entah nyata atau tidak tetapi aku ingin sekali pulang dalam keadaan mereka semua ada disana.'


Perjalanan pun berlanjut dan jalanan yang mereka lewati semakin menukik, bahkan jurang pun hanya berjarak beberapa meter saja dari langkah kaki mereka.


Perlahan tapi pasti mereka berjalan. Di tengah-tengah gunung mereka terkena badai yang cukup kuat sehingga mereka hanya bisa berpegangan satu sama lain hingga badai berlalu.


Dan saat ini, jalan di Gunung ini hanya berjarak 2 kaki saja. Mereka pun harus berhati-hati dalam melangkah. Jika tidak, mereka akan jatuh ke jurang yang entah apa isinya.


"Hati-hati lah Nei, aku akan di belakang mu untuk menjagamu," ucap Hara sedikit dengan Nada keras.


"Iya kau juga! Berhati-hatilah dalam melangkah!" Nei mengingatkan.


Mereka saling berpegangan satu sama lain karena gunung ini sangat berbahaya sekali. Bukan karena sesuatu yang menyeramkan, melainkan bahaya saat menginjakan kaki.


"Nei!" Panggil Hara.


"Apa?"


"Apa kita masih lama untuk sampai di tujuan?" Tanya Hara.


"Sebentar lagi kita akan sampai." Hara menjawab dengan tenang.


"Dari mana kau tau?"


"Panah yang ada di ujung gunung, itu bertanda jalan kita sebentar lagi selesai dan akan sampai tepat waktu."


"Oh begitu baiklah aku akan berhati-hati," jawab Hara dengan fokus penuh.


Jalan yang mereka lewati semakin menukik dan kini mereka bertemu dengan orang-orang yang mengejar mereka saat mulai menaiki gunung ini.


Dham! Dham! Dham!


Langkah kaki mereka bak manusia raksasa yang ingin mengejar makanan nikmat di hadapan mereka.


Kini jalan yang mereka injak bergetar dan perlahan-lahan mulai runtuh hingga akhirnya jalan yang berada di belakang manusia raksasa itu pun putus.


"Nei cepatlah! Jalan ini sudah mulai runtuh," teriak Hara.


"Ada beberapa orang-orang bertubuh besar mengejar kita!!" Lanjut ucapan Hara.


"Apa?"


"I-iya aku akan berjalan cepat!" Nei pun langsung berjalan dengan cepat dan perlahan-lahan sampai di tempat tujuan.


"Ayok cepatlah Hara! Raih tangan ku!" Teriak Nei sembari mengulurkan tangannya.


Dan tak lama kemudian ....


Bruk ...


Bruk ...


Bruk ...


Bruk ...


Terdengar jelas runtuhan jalan dari ujung sana dan tak lama kemudian terdengar suara teriakan orang yang mulai berjatuhan ke jurang.


"Aaaaaaaa!"


"Aku tidak ingin matiii!!"


"Aaaaaaa aku tidak ingin menjadi reinkarnasi!"


Teriakan orang-orang yang mulai jatuh dan Teriakan dari Nei pun mulai terdengar.


"Hara cepatlah! Tangkap tanganku!"


"Iya tunggu!"


"Tidak-tidak, tidak!" Hara bergumam.


"Aaaaaaaa Aaaaaaa!"


Crak!


Hap!


"Aku tangkap!"


"Nei!" ucap Hara sembari berkaca-kaca.


"Cepatlah naik bodoh! Jangan menangis dulu! Kau itu lebih berat dariku jadi cepatlah naik!" umpat Nei sembari menarik tangan Hara dengan tangan mungilnya.


"Aku juga sedang berusaha!" Hara mulai mencoba naik ke atas di bantu oleh Nei.


Ting!


"Woa woa woa woaaaaaaaaa!" Teriak Hara tiba-tiba saja melayang bak ada kekuatan super memenuhi tubuhnya.


"Hei! Mengapa kau melayang?" Ucap Nei terheran-heran.


Dan Hara pun turun secara perlahan-lahan entah apa yang membuatnya bisa melayang tetapi gravitasi sepertinya tidak memihak ke tubuh Hara selama beberapa detik.


Brugh!


"Aw!"


"Kenapa aku jatuh tiba-tiba? Haduh ..." Keluh Hara sebari menggaruk kepalanya.


"Ahahaahaha ahahaha! Bunyi kau jatuh seperti pepaya sudah busuk tau hahaha." Nei tertawa bahagia.


"Yasudah kita sudah sampai di sini mari kita lanjutkan perjalanan lagi." Nei lalu berjalan lurus.


"Dasar! Bukannya membantu aku kau malah berjalan duluan," keluh Hara.


"Jangan banyak bicara kita tidak punya banyak waktu lagi sekarang!" jawab Nei.


"Kau ini dasar," umpat Hara sembari menarik tas miliknya.


Perjalanan pun di mulai dan mereka saat ini sudah berada di daerah yang cukup landai tidak ada tanjakan lagi apalagi musuh raksasa seperti tadi.


"Dimana biasanya bunga itu berada?" Tanya Hara.


"Aku tidak tahu, yang aku tahu hanya daerah ini tempat tumbuhnya bunga Edelwis itu."


"Dan kita bisa mendirikan tenda disini karena tempat ini cukup aman dari bahaya," lanjut ucapan Nei.


"Ya baiklah."


...----------------...


Di tengah-tengah perjalanan mereka, Nei melihat segumpalan awan hitam menggulung mendekati mereka.


'Astaga badai besar datang!' batin Nei.


Nei pun langsung lari sembari menarik tangan Hara ke sebuah Goa yang tak jauh dari gulungan badai itu.


"Hei ... hei ... hei... mau kemana kita?" Ucap Hara yang merasa dirinya terseret-seret oleh Nei.


"Entahlah, kau diam saja!"


"Hah? A ... apa? Ini ... itu ada awan hitam!" Hara syok berat.


'Kita harus bisa sampai di tempat itu sebelum ... Sial! Sial! Sial!' umpat Nei dalam hatinya.


Bruk!


Wosh ... wosh ... wosh ....


Gluduk ....


Gluduk ....


Ctar ....


Bersambung....