Imperfectly Geandra

Imperfectly Geandra
Perjumpaan



Senja datang begitu cepat kali ini, bersiap untuk membawa sang rembulan untuk segera menduduki tahtanya. Gemintang bersiap menyambut dengan hormat, begitu pula dengan kegelapan.


Sore itu, Gean kembali lebih awal. Mengantarkan Ayla lebih dulu kembali ke tempat tinggalnya, kemudian segera pergi. Melajukan mobilnya diantara pengguna jalan lainnya, membelah jalanan kota yang ramai. Di persimpangan, ketika lampu merah baru saja berganti para pengemudi kehilangan kesabarannya. Asyik menekan klakson sekeras mungkin, mengabaikan pengguna jalanan lain. Mungkin karena lelah dengan pekerjaan mereka satu hari ini, membuat kehilangan kesabaran.


Tiba disebuah rumah mewah yang sudah menjadi saksi hidupnya selama seumur hidup, suara bising menyambutnya. Tidak ada senyuman ketika ia pulang, wanita separuh abad tersebut tengah menangis dan berlutut dihadapan sebuah keluarga kecil. Kedua mata Gean memicing ketika menyadari siapa mereka.


"Ada apa ini, Ma?"


Suaranya menginstruksi, dan membuat mereka mengalihkan perhatian pada Gean.


Kedua matanya melotot terkejut dengan siapa wanita yang tertutupi oleh punggung kedua pasangan suami istri tersebut, sosok wanita yang telah membuat dirinya terluka.


Sebisa mungkin Gean tetap terlihat biasa saja, dia tidak ingin menampakkan kesedihan dan sakit hati yang ia pendam karenanya.


"Berdiri ma!"


Renata berdiri dengan uluran tangan Gean, air matanya masih terus menetes seiring dengan tatapan mata sadis penuh kemarahan pada keluarga tersebut.


"Dasar tidak punya malu kalian! Menyuruh kami datang dari jauh hanya untuk membatalkan perjodohan?" kata laki-laki yang terlihat tengah berapi-api.


"Perjodohan?" gumam Gean, lalu ia menatap wajah mamanya dengan raut bertanya.


"Maaf mama tidak bilang, jika kamu akan mama jodohkan dengan Anna. Tapi kamu justru sudah memiliki calon waktu itu, jadi hari ini mama membatalkan perjodohanmu dengannya"


"Bagus jika begitu, aku tidak akan sudi lagi berhubungan dengan wanita seperti dia!"


Setelah mengatakannya Gean menuntun mamanya masuk, tidak menghiraukan tatapan kebencian dari Anna. Sudah pasti sejak awal jawabannya akan tetap sama, tidak Gean tidak ingin membuka lembaran lama.


Langkah kaki Gean terhenti dengan sebuah pelukan hangat dipunggung nya, laki-laki yang masih berbalut jas kerja berwarna hitam itu menegang. Tubuhnya terasa begitu kaku, otaknya terus menyuruh Gean untuk menggerakkan tangan kekarnya melepaskan pelukan tersebut. Namun, hatinya berkata lain. Hatinya merasakan hangat yang begitu menggebu, seakan ia teramat merindukan pelukan dari Anna.


"Gean, kamu gak suka aku kembali?"


"Aku merindukan mu"


Lagi, tubuh kekar Gean hanya menegang kaku. Seakan dia lemah dengan wanita yang memeluknya erat. Mungkin kali ini, otaknya yang akan menang. Terdengar helaan nafas kasar dari hidungnya, tangan hangat yang kasar miliknya melepaskan pelukan Anna.


"Tapi, aku tidak merindukan mu. Pulanglah, aku akan segera menikah"


Anna melepaskan pelukannya begitu saja, menatap Gean dengan marah. Air matanya lolos tanpa pamit, membasahi pipi tirusnya yang tertutup blash on.


"Kamu brengsek! Aku datang jauh-jauh dari Surabaya demi perjodohan kita, demi memperjuangkan cinta kita kembali!"


"Aku datang menepati janji"


Suaranya semakin lirih, air matanya semakin deras ketika pintu rumah itu tertutup dengan kasar. Anna merosot, terduduk dilantai marmer rumah mewah tersebut.


"Sudah lah, laki-laki seperti dia masih banyak. Tidak perlu kamu tangis–i, ayo pulang! Sungguh memalukan!"


Sekalipun enggan, Anna tetap tidak bisa menahan ego nya untuk tetap mencoba menemui Gean. Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatapnya dengan sendu. Seolah benar-benar ada kesedihan disana, Gean terus menatapnya hingga mobil sedan putih itu menghilang diluar gerbang.


Ia menghembuskan nafasnya lega, dadanya terasa sesak melihat wanita yang ia tunggu telah datang disaat dia sudah memutuskan untuk menikah dengan gadis lain.


.


.


"Enggak pa, Anna mohon sampai pada Tante Renata. Jangan batalkan perjodohan ini!" Anna terus meraung-raung, memohon agar perjodohan mereka akan berlanjut.


Namun, gelengan kepala dari papanya sepertinya sudah mutlak. Anna berteriak tidak terima, lagi-lagi ia dikalahkan oleh gadis lain. Dulu, Elang sekarang Gean.


"Sudahlah, papa akan mencari cara agar si brengsek kecil Gean mau menikah denganmu!"


"Benarkah pa?"


Sebuah anggukan kepala dari papanya membuat Anna menghentikan tangisnya, menyisakan bekas air mata dan mata yang memerah. Wanita lain yang memperhatikan mereka hanya diam, menghela napasnya pasrah dengan apa yang akan dilakukan suaminya. Dia bisa apa? Selain berdoa agar rencana apapun yang dimiliki suaminya bukanlah hal buruk.


Wanita itu memeluk erat sang papa, menggumamkan kata terima kasih dengan lirih.


"Ya sudah cuci muka sana, jangan sampai ketika adikmu datang wajahmu masih saja kusut"


"Baiklah pa"


Dia berjalan pelan, terlihat masih sama elegan dan anggun seperti lima tahun yang lalu. Hanya saja usia nya yang tidak muda lagi, usia yang seharusnya telah berumah tangga. Seharusnya juga ia sudah memiliki seorang keturunan, namun sayang sekali dia selalu mencintai seseorang dengan salah.


Wanita yang sudah terbiasa bekerja tersebut, memilih untuk pergi ke tempat usahanya yang sudah lama ia titipkan. Dengan cepat, ia telah mengganti gaunnya dengan setelan pakaian formal.


"Lebih baik aku melihat perkembangan cafe, setidaknya malam ini aku bisa mencari ketenangan"


Anna keluar diam-diam dari rumah lamanya, pergi dengan taksi online. Mencari sebuah ketenangan, yang mungkin saja bisa menghilangkan stress dikepalanya.


Mendengar Gean akan menikah saja sudah membuatnya hancur, dan sore tadi puncaknya ketika Gean terlihat seperti seorang laki-laki dingin. Laki-laki yang dulu mencintai nya kini menolaknya mentah-mentah. Lalu, siapa yang bersalah dalam hal ini? Dia sudah kembali memenuhi janjinya ya, tapi Gean justru berkhianat.


"Secantik apa gadis yang merebut Gean dariku? Sungguh aku tidak bisa membiarkan ini terjadi, aku benar-benar tidak siap melepaskan Gean!"


Lirihnya sambil mengepalkan tangannya kuat, membuat buku-buku tangannya memutih.


Siapa yang akan tahu kapan Tuhan akan kembali mempertemukan kisah cinta lama kembali? Akankah setelah ia memiliki masa depan, atau bahkan belum. Tuhan yang menggariskan setiap kejadian, kita yang harus bisa memilih dengan siapa kita akan menjalani masa depan.


Kita tinggal memilih jalan yang menuju ke masa lalu, atau masa depan. Semuanya memiliki akhir masing-masing, tidak ada yang tahu selain Tuhan.


...


Review-nya sekarang lama banget ya ampun, jadi maaf jika sering terlambat update. padahal harusnya ini bisa dibaca besok, tapi gak tau kalo review nya harus lebih dari satu hari.. Sering aku cek, siapa tau udah berhasil tapi lama ..


Happy reading!! Jangan lupa like, comment, fav, share, and rating 5..


Terima kasih untuk yang masih nungguin ceritaku,, Sapa aku di Ig


@birublerinaa_