
"Gila! Dia benar-benar sudah gila!"
"Menikah dengan laki-laki yang bahkan baru ku temui belum lebih dari satu hari? Astaga, salah apa aku?"
Ayla benar-benar terlihat seperti orang gila, berjalan mengelilingi kamar kost nya yang tidak terlalu besar itu. Rambutnya yang hitam tergerai, bukan terlihat rapi tetapi terlihat seperti singa yang tengah mengamuk.
Tangannya tiba-tiba saja menyentuh bibir pink yang siang tadi di kecup oleh Gean, pipinya kembali merona. Ciuman pertama yang dibanggakannya dicuri begitu saja oleh laki-laki itu, laki-laki gila yang mengajaknya menikah tanpa lamaran.
Lihatlah bagaimana keadaan kamarnya saat ini, hampir seperti terkena dampak angin ****** beliung. Sangatlah berantakan, sama dengan hati dan otaknya saat ini. Semuanya porak-poranda, hanya karena ide gila laki-laki itu. Andai saja dia tidak seceroboh itu meminta tanggung jawab untuk ganti pekerjaan, tidak mungkin dia akan terjebak dalam situasi konyol seperti tadi siang.
"Kalo ibu tau gimana dong, bisa-bisa dia heboh sekampung tau semua aku nikah"
"Gak boleh, mereka gak boleh tau. Aku malu banget kalo nanti orang-orang kampung ikutan ke sini"
Ayla menjatuhkan diri di kasur, menutup wajahnya dengan frustasi. Benar sekali gadis itu benar-benar frustasi saat ini, ia terlanjur memikirkan banyak hal.
Baru saja membaringkan tubuh kecilnya, suara ketukan pintu yang nyaris terdengar seperti gedoran tak sabaran itu mengganggunya. Ayla berdecak sebal, bangkit lalu pergi membukakan pintu.
"Ayla! Dasar anak kurang ajar, mau nikah itu bilang sama ibu! Jangan tiba-tiba suruh calon suamimu datang melamar"
"Coba aja kalo tadi ibu masih di sawah, duh! Mau taruh dimana muka ibu bertemu calon besan bajunya kotor"
Ayla masih belum paham dengan semua ocehan wanita setengah baya tersebut, sedangkan kedua laki-laki yang mengikutinya dibelakang hanya menggelengkan kepalanya. Minah–ibu Ayla benar-benar tidak bisa berhenti mengoceh, entah terlalu bahagia atau kesal dengan putri bungsunya.
"Sudah buk, mungkin Ayla belum sempat mengabari kita"
"Tapi calon suamimu, tampan loh nduk!"
Ayla masih diam berkedip-kedip tidak percaya dengan semua perkataan mereka.
"Sebentar buk, pak, sama mas Andi diam dulu, Memangnya ada apa sih kalian tiba-tiba saja datang kesini?"
Mereka bertiga saling melirik satu sama lain, merasa jika Ayla memang tidak terkoneksi dengan percakapan mereka. Yanto–terkekeh pelan, memecahkan keheningan sekilas tadi.
Disusul Andi yang juga ikut tertawa meramaikan kamar kost Ayla yang masih berantakan, hanya ibu yang diam. Wajahnya sumringah seperti sejak baru datang tadi, sepertinya disana hanyalah Ayla yang tidak terlihat sama bahagianya.
"Kamu pura-pura tidak tau, apa memang sengaja gak mau kasih tau kami Ay?" tanya Andi.
"Apasih? Siapa yang mau nikah?"
"Kamu kan nduk? Orang tadi sore kita nerima lamaran kamu kok"
Uhuk.. uhuk..
Ayla tersedak salivanya sendiri mendengar perkataan bapaknya, menerima lamaran? Dari Tuan Gean? batin Ayla.
Ibu mengulurkan segelas air putih padanya, dengan cepat ia menerima lalu menghabiskannya dalam satu tegukan. Ayla mendesah pelan setelah menghabiskan minumnya, perasaan lega pada tenggorokannya yang teraliri air dingin itu.
"Kamu ini kenapa nduk?"
"Yang melamar ku orangnya seperti apa, Pak?"
"Gean pak, nama calon mantu sendiri kok lupa. Bapak itu gimana?"
Kedua mata Ayla lagi-lagi membola, memperlihatkan keterkejutannya dengan hal gila yang tadi ia pikirkan. Ia tidak tahu jika ternyata Gean telah bertindak cepat dengan pernikahan konyol mereka, mungkin karena takdir telah membuat mereka bersatu dalam sebuah pernikahan.
.
.
Setelah dikejutkan dengan hal gila lainnya dari seorang Gean–CEO tampan, cerdas, dan terkenal tersebut. Ayla kini tengah duduk diantara kedua keluarga yang terlihat bahagia, gadis dengan dress batik itu tampak mempesona.
"Kamu gila!" bisik Ayla tepat ketika Gean sudah duduk disampingnya, Gean justru terkekeh pelan. Seakan setuju dengan hal yang dikatakan Ayla.
Kedua keluarga tersebut tengah saling mencari tanggal baik untuk pernikahan, semuanya tampak begitu antusias dengan pernikahan tersebut. Hanya Ayla dan mama Gean yang terlihat diam saja, tidak ikut berbicara panjang lebar. Mama Gean hanya berbicara sesekali ketika ada yang mengajaknya berbicara.
Ayla juga harus menanggung malu dengan sikap ibunya yang terus saja terpesona dengan keindahan rumah keluarga Wijaya, baginya rumah itu terasa seperti istana. Maklum saja orang kampung yang hanya melihat rumah seperti kediaman Wijaya ditelevisi, akan terlihat katrok namun bagi Ayla itulah resiko mengenal seorang pengusaha kaya.
"Bagaimana jika bulan depan saja? Agar persiapannya lebih matang lagi" usul Andre yang terlihat sangat bersemangat.
"Saya ikut saja lah, jika putri saya sudah siap"
Ayla bergeleng lemah, jelas dia tidak siap dengan segala kemungkinan dalam pernikahan itu. Dia tidak kenal lebih jauh dengan Gean, begitu pula sebaliknya.
"Gean setuju pa, dua minggu lagi acara pertunangannya. Sekaligus anniversary Elang sama Aletha yang ke lima"
Kata Gean yang sama sekali tidak pernah mengendurkan senyumnya, entah ada keterpaksaan atau tidak. Tetapi, Gean melancarkan sandiwaranya dengan sangatlah apik. Berbeda dengan Ayla yang tersenyum masam mendengar perkataan Gean, ia mendengar pembicaraan tentang pernikahan lebih terasa seperti sebuah rencana kematian saja.
"Bagaimana ma?"
"Terserah papa sama Gean, mama ikut aja" Terdengar helaan nafas berat sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya, ia bisa apa jika semuanya lebih setuju dengan Ayla.
"Kamu beneran gila, kamu bahkan tidak bilang lebih dulu tentang lamaran itu" bisik Ayla.
"Sudahlah, ini pekerjaan yang terbaik. Hanya pasang senyuman terindah, lakoni sisanya sebaik mungkin!"
Ingin sekali Ayla merobek mulut Gean, bagaimana bisa ia berpikir jika pernikahan adalah sebuah sandiwara? Lebih buruknya lagi, Ayla menjadi tokoh utamanya dalam kisah pernikahan konyol ini.
Entah sudah berapa kali gadis itu mendengus kesal dengan jawaban Gean, dia terlihat seperti seorang laki-laki yang akan menikah dengan cinta. Tapi Ayla? Gadis itu bahkan masih menganggap pernikahan yang akan dilakukannya adalah sebuah lelucon saja.
Gean sempurna, tampan, cerdas, kaya, terkenal, dan masih banyak lagi kelebihannya. Seakan tidak pantas untuk bersanding dengannya yang hanya setitik kecil, yang tanpa sengaja mengotori jalan Gean.
"Aku penganut menikah sekali seumur hidup, aku tidak ingin pernikahan seperti ini" bisiknya lagi.
Gean menoleh padanya dengan sorot mata tajam menusuk, sepertinya Ayla salah bicara tadi. Setelah terdiam cukup lama, mengabaikan pembicaraan pernikahan yang lebih lanjut Gean membisikkan satu kalimat yang akan merubah semuanya.
"Jadi, belajarlah mencintaiku. Aku tidak peduli ini akan jadi pernikahan yang pertama dan terakhir kalinya untukku atau bukan. Yang ku butuhkan saat ini , kamu menyetujui pernikahan ini Ayla!"
"Apa aku harus mengulanginya untuk kesekian kalinya?"