
Ketika mereka mengagungkan kata Cinta, aku justru membencinya.
~Geandra Renandra Wijaya
................
Malam itu, seorang pemuda tampan dengan pakaian santai duduk memandangi hamparan laut luas. Mengabaikan angin laut yang terus berhembus kencang, gelombang ombak pasang yang semakin jauh membawa air asin dari laut. Geandra atau lebih akrab disapa Gean, pemuda yang tidak seberuntung saudara kembarnya dalam hal asmara. Dikhianati kekasihnya, lalu dimanfaatkan oleh seorang gadis untuk mendapatkan perhatian saudaranya. Mungkin, Gean terlalu naif dalam percintaan.
Ia terlalu baik hingga dimanfaatkan para gadis diluar sana, diusianya yang sudah matang untuk berkeluarga ia justru trauma dengan hubungan asmara. Orangtuanya dengan konyol menjodohkan pemuda berwawasan luas itu dengan seorang gadis yang usianya lebih tua beberapa tahun darinya, entah apa alasannya.
Ditengah malam yang begitu sepi, Gean menghela nafasnya berkali-kali mencoba meringankan beban yang ia pendam. Ia bukan orang yang mudah mengutarakan sesuatu, tidak seperti Elang yang keras kepala dan mudah memaksa. Gean seperti kebalikan darinya, tetapi ia juga kebalikan dalam hal asmara ia selalu mendapatkan yang terakhir dari Elang.
Ponsel berdering nyaring memecah suara ombak yang menabrak karang, mengalihkan perhatian Gean.
Mama is calling...
"Halo ma, iya Gean datang setengah jam lagi"
Pemuda itu beranjak meninggalkan pantai, meninggalkan kesedihan tentang gadis yang ia cintai disana. Berharap asmaranya kali ini tidak berakhir dengan menyedihkan.
Mobil Pajero sport hitam itu melaju dengan kencang, meninggalkan jalanan sepi yang gelap dibelakang. Pemuda itu telah memutuskan untuk menikah dengan gadis itu, melupakan gadis yang beberapa tahun terakhir menjadi penghangat hatinya. Ia kembali akan merencanakan pernikahan. Kali ini ia berharap tidak akan gagal lagi.
"Papa sama mama becanda ya? Reina dijodohin?"
Gadis itu terlihat murka dengan keputusan kedua orangtuanya, ia tahu diusianya yang sudah berkepala tiga harusnya sudah memiliki keluarga. Tetapi, ia bukan tipe orang yang akan menghabiskan waktu dengan sebuah keluarga kecil bahagia. Ia seorang penulis, ia hidup dan. menjadi pasangan dari imajinasinya.
"Reina kan sudah bilang, Reina tidak mau berkomitmen apapun!" Serunya lagi sebelum ia terduduk diatas sofa empuk.
"Papa menjadi orang pertama yang tidak menyetujui keinginan kamu, jika perlu papa akan membuat kamu kehilangan profesi kamu sebagai penulis agar kamu sadar jika kamu sudah harus berkeluarga, Rei!" Reina menatap pria dewasa itu dengan tatapan berkaca-kaca.
"Ma" Rengeknya, memeluk lengan ibunya dengan erat memohon agar kali ini ibunya juga berada di pihaknya seperti sebelumnya.
"Papa benar Rei, mama juga ingin menggendong cucu. Apalagi kamu anak satu-satunya, mama sudah tua tidak tahu umurnya sampai kapan. Paling tidak sebelum mama meninggal nanti, mama sudah melihat cucu mama Rei"
Bahu kecil Reina mengendur lemas ketika mendengar perkataan ibunya, tidak ada pembelaan yang ia harapkan lagi. Gadis itu menunduk lesu, apakah ini akhir dari masa bebasnya yang panjang?
Reina seorang penulis novel romantis, dengan penjualan novel best seller terbanyak. Tetapi, berbeda dari cerita yang ia ciptakan gadis itu justru tidak pernah merasakan percintaan sejak lahir. Ia lebih suka dengan percintaan yang diciptakan oleh seorang penulis, yang akan berakhir bahagia. Usianya tahun ini genap tiga puluh dua tahun, usia yang tidak lagi muda. Ia menghabiskan sepuluh tahun untuk merintis karirnya menjadi seorang penulis, melupakan sebuah kewajiban untuk berkomitmen dan memiliki sebuah keluarga dan keturunan.
"Tapi, Reina tidak mau dijodohkan dengan laki-laki yang lebih muda! Apa kata teman-teman Rei nanti Pa!" Serunya dengan frustasi ketika mendengar fakta jika pemuda yang akan menikahinya lebih muda empat tahun.
"Itu mama mu yang pilih, katanya dia yang paling tampan dari semua kandidat yang papa ajukan"
"Iya sayang, dia tampan dan mapan. Dan yang lebih hebatnya lagi, dia anaknya sahabat mama waktu sekolah!"
Reina menggedikkan bahunya tidak peduli, gadis itu berjalan meninggalkan ruang keluarga. "Terserah mama sajalah. Rei pasrah, sudah tidak punya kekuatan tersembunyi untuk menolak perjodohan lagi!"
"Wah, bagus sekali. Pernikahan kalian bulan depan loh Rei!"
Sudah tidak bisa tergambarkan lagi bagaimana perasaan Reina, ia terduduk lemas di anak tangga. Sembari menatap senyuman lebar dari kedua orangtuanya.
*
Hening, berbeda dengan kedua pasangan suami-istri yang tengah heboh merencanakan pernikahan mendadak putra-putri mereka. Pemuda dan gadis itu justru sibuk dengan dunianya masing-masing, tidak berminat untuk memecahkan keheningan yang semakin meluas diantara mereka.
"Kau bisa menolaknya!"
Reina menoleh pada Gean yang tengah santai minum segelas jus yang dipesan, raut wajahnya benar terlihat marah. "Kau juga bisa menolak! Kau kira aku sudi menikah dengan pemuda seperti mu?"
Tentu saja keduanya berbicara dengan suara lirih, bahkan nyaris berbisik sekalipun tampak seperti adu mulut.
"Aku pemuda yang menghormati orangtuaku, jadi aku tidak memiliki banyak alasan untuk tidak menerima perjodohan dengan gadis tua sepertimu tahu!"
Reina memutar bola matanya dengan jengah, sungguh jika kali ini adalah kisah dari novel favoritnya sudab pasti Reina sangat bersemangat menyelesaikan dalam waktu sehari. Tetapi, masalahnya kisah perjodohan ini nyata. Dirinya menjadi tokoh utamanya, yang harus menikah dengan pemuda tampan didepannya.
"Kau pikir aku gadis yang tidak menghormati orangtua begitu?"
"Ku tebak seperti itu!" Senyuman tipis yang terukir dibibir tebal Gean sungguh membuat Reina jengkel, senyuman itu jelas tengah mengejeknya.
Jdug!
"Awh!" Jerit Gean mengalihkan perhatian kedua pasangan orangtua mereka.
"Ada apa Gean?" Tanya wanita yang tak lain adalah ibunya yang sangat bersemangat dalam perjodohan ini.
"Tidak ma, hanya tidak sengaja menendang kursi"
Mereka mengangguk percaya, lalu kembali pada tujuan mereka membahas pernikahan. Tidak peduli dengan kikikan gadis didepan Gean, gadis itu tampak sangat puas telah berhasil menendang tulang keringnya.
Reina tersenyum miring dan menaikan sebelah alisnya, mereka berdua tampak seperti ABG yang saling melemparkan kebencian.
Tanpa teras pertemuan singkat mereka berakhir, dengan hasil pernikahan mereka akan dilaksanakan bulan depan tepat hari ulangtahun Davin keponakan kesayangan Gean. Tidak ada lagi yang dapat dirubah kembali.
"Senang bertemu denganmu, ku harap kau terlihat cantik saat pernikahan!" bisik Gean saat berpisah dengan Reina. Gadis itu tanpa sadar tersenyum tipis, sebelumnya ia tak pernah merasa senang mendengar dirinya dipuji.
"Ku harap pernikahan ini tidak pernah terjadi"
Gean menggedikkan bahunya santai, berjalan meninggalkan Reina yang masih tersenyum tipis. Ia tidak menyukai perjodohan ini, ia tidak boleh menyerah begitu saja.
"Ayo Rei, sampai kapan kamu akan memandang punggung tegap Gean? Wah, bagaimana dia benar-benar tampan bukan?"
"Biasa saja, dia sedikit narsis!"
Reina meninggalkan kedua orangtuanya, berjalan dengan cepat dan menutupi wajahnya yang memerah karena godaan ibunya. Yang benar saja, Reina tidak mungkin tergoda dengan pemuda seperti Gean.