
Didalam rumah megah yang hanya ditinggali oleh satu orang tuan dengan beberapa pelayan tersebut nampak atmosfer ruangannya terasa sangat dingin, tatapan tajam dari sang tuan benar-benar terasa ingin membunuh. Para pelayan yang berlalu-lalang untuk membersihkan rumah besar tersebut hanya diam, menunduk tidak berani melirik sang tuan yang beraura membunuh.
"Li~~!" teriak nya dengan keras, membuat laki-laki yang dipanggil berlari terbirit-birit untuk segera datang.
"Ya, Tuan?" laki-laki yang dipanggil Li tersebut menunduk hormat, tidak takut dengan aura gelap dari tuannya. Dia sudah terbiasa dengan tuannya, dia bekerja dengannya sejak tuannya masih menjadi tuan muda di keluarganya.
"Apa kau sudah menemukan gadis nakal itu? Bagaimana bisa dia dipecat dari perusahaan Ron's?"
"Sudah tuan, dia masih tinggal di kostnya yang lama. Untuk pekerjaannya, dia dipecat karena menggagalkan tender besar karena salah membawa dokumen laporan tuan"
Laki-laki itu menghela napasnya dengan kasar, memijit pelipisnya dengan pelan. Dia seolah tengah menghilangkan sakit kepala yang terasa begitu mencengkeram.
"Gadis bodoh itu"
"Lalu dimana dia? Kenapa tidak pernah datang kepadaku?"
Dengan takut Li mengatakan informasi yang dia ketahui, laki-laki itu menunduk takut. Tuannya pasti akan marah besar ketika mendengar apa yang akan ia katakan tentang mantan kekasihnya.
"Nona Ayla dia, akan menikah bulan depan tuan"
Prang!!
Gelas berisi cairan berwarna merah tua ditangannya dibuang sembarangan, kedua matanya yang tajam semakin berkilat menunjukkan kemarahannya. Li berjengit pelan ketika gelas itu pecah didepan kakinya, hanya berjarak dua senti membuat pecahan beling itu berhasil menebar diantara sepatunya.
"Siapa pria brengsek yang berani merebut gadisku?"
Li jelas sekali melihat kemarahan diwajah tuannya, dengan alot dia menelan ludahnya terlihat jakunnya bergerak turun dan naik kembali seiring dia menelan ludahnya.
"Geandra Renandra Wijaya tuan"
"Hahaha, pria menyedihkan itu? Saudara kembar dari adik iparku?"
Alexandre, atau yang lebih dikenal dengan Alec kakak kandung Aletha. Benar, dialah laki-laki yang saat ini menjadi semakin dingin semenjak kakeknya meninggal. Laki-laki itu merupakan mantan kekasih Ayla, dia masih belum rela jika gadis yang selalu dia anggap lemah itu berani meninggalkannya.
Alec tertawa terbahak, menutupi keterkejutannya tentang hubungan gadis yang ia cintai dengan Gean. Bibirnya terangkat sinis dengan kenyataan jika Tuhan selalu membuat seakan-akan dunia ini sempit, membuat takdir Ayla bertemu dengan Gean salah satunya. Kenapa bukan orang lain yang bisa dengan mudah Alec hancurkan? Lalu Gean? Bagaimana nanti pandangan Aletha kepadanya?
"Benar-benar merepotkan, pergi sana! Kau membuat moodku memburuk!"
Li mengangguk lalu undur diri, berjalan sejauh mungkin dari tuannya yang sedang galau. Sebenarnya Li ingin sekali tertawa saat ini, tuannya yang terkenal sadis itu galau karena gadis yang meninggalkannya dan tidak tahu harus bergerak kemana. Aletha dan Ayla adalah dua perempuan yang membuat tuannya sangat lemah.
Alec mendengus kesal ketika melihat seorang pelayan tengah membersihkan pecahan gelas didekatnya, dengan cepat ia meninggalkan sofa empuk itu. Tubuhnya begitu tegap, dengan tubuh yang begitu tinggi disempurnakan dengan wajah rupawan. Siapa yang akan menolak pesonanya? Sayangnya, Ayla menjadi salah satu gadis yang menolaknya. Seberapa menyedihkan seorang Alec? hanyalah seseorang dari masa lalunya yang tahu, bukan Ayla tentunya.
.
.
Ayla tengah bersantai, duduk diruang kerja Gean dengan satu buku ditangannya. Buku tebal berisi tentang pelajaran bisnis dan ekonomi suatu perusahaan, entah apa tujuan Gean membuatnya harus membaca buku.
Ayla bangkit dari tempat duduknya, melemaskan otot-otot tubuhnya yang terasa begitu pegal. Dia mengikat rambut panjangnya tinggi, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus. Hal tersebut tidak luput dari perhatian Gean yang teralihkan karena gadis asing diruangan nya. Gean masih menganggap bahwa Ayla gadis asing yang tiba-tiba ia ajak menikah, rasanya Gean ingin tertawa sendiri saat ini.
"Ay, kemarilah!"
"Apa? Kenapa menganggu kegiatan membaca ku?"
"Kamu pms? Galak banget"
Ayla memicingkan matanya tajam, Gean memang selalu membuatnya kesal kenapa Ayla menjadi galak. Apalagi siapa yang tahu jika Gean ternyata salah satu laki-laki kurang ajar dan mesum, seenaknya saja mencuri kecupan dan ciuman darinya.
"Enggak!"
"Pengen dicium ya? Sini mendekat!"
"Enak saja, kamu pikir mentang-mentang kamu calon suamiku kamu juga bisa seenaknya cium-cium aku gitu?"
Ayla terlihat selalu lucu dan menggemaskan didepan Gean, laki-laki itu tampak memunculkan sebuah senyuman jahil. Setelahnya ia menarik Ayla yang sudah berdiri tak jauh darinya, menjatuhkan gadis itu di pangkuannya.
Dengan cepat Ayla kembali berdiri dan segera menjauh dari laki-laki mesum berkedok dingin tersebut.
"Kenapa memangnya Ay? Kamu gak mau ngerasain euforia seperti kemarin?"
Ayla jelas bergeleng kuat menolak penawaran mesum Gean, membuat laki-laki itu tertawa geli melihat respons yang diberikan oleh Ayla. Gean tetap memandangi gadis yang saat ini benar-benar mengenakan pakaian tertutup, cuaca diluar memang lah sangat panas dan tidak cocok dengan pakaian Ayla. Tetapi, didalam ruangan klasik khas Gean, semuanya akan sangat cocok terlebih membuatnya terlindungi dari mata nakal Gean.
"Ya sudah kalau tidak mau, duduk disana! Temani aku bekerja"
"Memangnya sejak berjam-jam yang lalu, apa yang ku lakukan disini hah? jika bukan menemani mu bekerja!"
Kini Gean semakin yakin jika Ayla tengah pms, terbukti jika gadis itu sangatlah sensitif bahkan hanya karena Gean menyuruhnya dengan lembut.
"Baiklah-baiklah, kamu bisa duduk lebih dekat"
Sekalipun mendengus kasar, Ayla tetap mengikuti perintah Gean untuk duduk lebih dekat dengannya. Duduk pada kursi yang tak terlalu empuk didepan Gean, seolah tengah benar-benar menjaga jarak dengan calon suaminya.
Tingkah Ayla cukup membuat mood Gean membaik, setidaknya ada yang mau menemaninya sedang bekerja dengan dokumen yang membuat kepalanya pusing itu. Walaupun, gadis itu hanya diam dan terfokus pada buku yang Gean berikan padanya.
Mereka tidak tahu tentang masalah yang sudah menghadang mereka ditengah jalan, yang mereka tahu hanyalah pernikahan mendadak yang cukup membuat heboh. Gean tidak menyadari siapa gadis yang akan ia nikahi, hatinya terus bertanya-tanya seakan memberitahu sebuah informasi jika Ayla bukan gadis asing untuknya. Tetapi siapa? Gean pun tidak tahu.
Disisi lainnya, Alec tidak tahu harus mengambil langkah yang mana. Semuanya pasti akan terasa berat apalagi bukan hanya sekedar ia memperjuangkan gadisnya, tetapi juga mempertahankan harga dirinya. Dia buruk, bahkan sangatlah buruk, tetapi dia tidak ingin adik kandungnya tahu tentang keburukannya.
Kedua laki-laki itu sibuk dengan hatinya masing-masing yang terus berseru memberikan jawaban, namun keduanya sama-sama belum tahu langkah mereka. Hanyalah Ayla yang sama-sama menjadi masalah dipikiran dan hati mereka.
Lalu apakah yang Ayla pikirkan? Jawabannya di hanyalah Ayla yang tahu, tentang Gean atau Alec. Hanyalah gadis itu yang tahu.
. . .
Oke maaf kan saya yang terlambat update, saya kehabisan kuota 😪😅
Buat yang masih mampir cerita saya, terimakasih jangan lupa like, coment, fav juga. Kasih rate 5 yaa..
Ingin menyapa saya??
@birublerinaa_ tempatnya ig