
Ruang kerja seorang CEO tidak pernah terlihat kecil, namun bukan berarti harus mewah dan berisi dengan berbagai macam barang mahal. Ruang kerja Gean bahkan tampak sederhana, ruangannya memanglah luas dengan rak besar berisi buku-buku tebal dan map penting.
Disalah satu sudutnya terlihat sebuah brankas berwarna silver, dan beberapa tumpukan map besar lainnya.
Dindingnya dicat dengan warna putih dengan beberapa aksen coklat, terlihat klasik dan antik. Gean suka dengan warna putih, mengapa hampir semua ruangan pribadi sekaligus kantornya berwarna senada.
"Tuan, ada seorang gadis yang datang mencari anda" Gean menoleh ke sumber suara, disana sekertaris nya yang berpakaian rapi tanpa ada niatan menggoda tengah menunduk hormat padanya.
Hm.
"Bawa dia masuk!"
Wanita itu pergi dari ruangan Gean, meninggalkan detakan alas sepatunya yang terdengar semakin menjauh. Laki-laki itu sibuk mencoret-coret lembaran kertas didalam map, kedua matanya terfokus pada tulisan kecil berbaris disana. Sesekali keningnya terlihat berkerut, seakan melihat beberapa kekeliruan.
Begitu suara handle pintu bergerak, pertanda jika seseorang tengah masuk ke dalam ruangannya. Gean masih belum menoleh pada arah suara, tapi dia jelas tahu siapa yang mendatanginya. Ayla, gadis yang sudah hampir mati jantungan karena ulahnya tersebut berjalan dengan hentakan keras. Wajah cantiknya tertutupi dengan raut kesal, sesekali dia tampak menghela napasnya kasar.
"Kamu benar-benar mau buat aku mati jantungan?"
Gean hanya melirik sebentar ketika Ayla berteriak kesal padanya, jika kehidupan nyata mereka digambarkan sebagai komik di kepala Ayla sudah terdapat tanduk dan asap yang keluar dari kepalanya. Jika Gean tidak sedang sangat sibuk, ia pasti akan menghabiskan waktunya menjahili Ayla lebih jauh lagi.
"Ada apa?"
"Ada apa kamu bilang? Undangan yang sudah kamu sebarkan, astaga apakah kamu benar-benar sudah tidak waras?"
Ayla melotot sambil berteriak marah pada Gean, bayangkan saja pernikahan mereka bulan depan tetapi laki-laki tersebut telah menyebarkannya satu kota. Gean menghela napasnya berat, dia meletakkan pena mahalnya dan meninggalkan map yang sejak tadi ia kerjakan.
Gean berdiri dari kursi singgasananya menghampiri Ayla yang tengah marah, mengajaknya duduk di sofa empuk yang sengaja disediakan. Ayla menyambut uluran tangan Gean dengan terpaksa, setelah memutar bola matanya jengah lebih dulu.
"Setelah mengatai ku gila, sekarang kamu juga bilang aku tidak waras?"
Ayla mengangguk pasti, sungguh gadis itu terlihat masih kesal dengan semua rencana pernikahan dadakan Gean. Ayla pikir Gean suatu saat nanti akan mencampakkannya, terlebih mereka bukanlah sepasang kekasih yang menjalin cinta.
"Kamu memang sudah tidak waras! Kamu sadar kan? Aku ini hanya meminta pekerjaan, bukan minta dinikahi sama kamu!"
"Tapi aku tidak memiliki sebuah pekerjaan yang cocok untukmu, selain menjadi istriku!"
Ayla menolehkan kepalanya pada Gean, mencari kebohongan pada kedua mata hitamnya. Harus berapa kali lagi ia mendapatkan kejutan hingga ia akan benar-benar gila seperti Gean?
Ayla sama sekali tidak menemukan tujuan dari pernikahannya dengan Gean, sungguh ia takut akan menjadi seorang janda diusia muda ketika Gean telah bosan. Katakan saja ia lebih memilih menjadi seorang pelayan untuk laki-laki tampan didepannya, itu lebih mudah jika suatu saat nanti dia bosan. Ayla tinggal pergi dan mencari pekerjaan lainnya, lalu menikah? Jika Gean bosan dan bersiap meninggalkannya Ayla tidak akan pernah siap menjadi janda, bercerai dengan suaminya sekalipun mereka menikah bukan berdasarkan cinta.
Gean mengelus tangan kecil Ayla, lalu mengecupnya pelan membuat pemilik tangan itu terkejut bukan main dengan perlakuannya.
"Jika kamu berpikir aku menikahi mu tanpa alasan, makan jadilah kekasihku hari ini. Anggap saja aku ini adalah salah satu laki-laki yang jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu!"
"Bahkan itu lebih tidak masuk akal lagi" protes Ayla dengan lemah, ia rasanya ingin menangis saat ini juga.
.
.
Gean memperdalam ciumannya pada Ayla ketika gadis itu sadar dengan keterkejutannya membuat Ayla berusaha melepaskan diri, tapi Gean jelas lebih menguasai tubuh Ayla yang tidak seberapa.
Tangan kekar Gean mengelus punggung kecil Ayla membuat gadis itu meremang, merasakan sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setelah berhasil menjelajahi mulut Ayla dengan lidahnya, Gean menutup ciumannya dengan sebuah kecupan ringan dibibir dan kening Ayla.
"Jangan berikan bibir ini kepada orang lain, ini hanya milikku"
Entah apa yang terjadi dengan Ayla, gadis itu mengangguk kaku. Wajahnya bahkan sudah memerah seperti kepiting rebus, sebisa mungkin Ayla tidak menatap manik mata Gean yang tajam.
"Em, aku–aku lebih baik pulang dulu. Iya pulang"
"Baiklah, hati-hati dijalan"
Ayla berlari keluar dari ruangan Gean, setelah mendapatkan kesadarannya kembali gadis itu sangatlah malu dengan yang dilakukan oleh Gean.
Sepanjang jalan keluar dari perusahaan Gean, Ayla memegangi bibirnya. Sesekali ia tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, entah mengapa ia sama sekali tidak jijik dengan ciuman Gean. Atau dia sudah mulai menerima rencana Gean? Menikah dengannya dan membangun rumah tangga tanpa cinta?
"Yang benar saja, aku malu bertemu dengannya lagi"
"Mau ku taruh dimana wajahku, kenapa kamu bodoh sekali Ay. Kenapa kamu diam saja, kenapa tidak mengelaknya!"
Ayla duduk disalah satu cafe langganannya, duduk disana setelah memesan sebuah es frappuccino. Ia duduk dengan gusar, membayangkan bagaimana ia akan bertemu dengan Gean besok.
"Buk, gimana ini. Ayla malu!"
Ia tidak sadar jika perkataannya tadi membuat membuat beberapa pelanggan yang duduk dekat dengannya menoleh penasaran, tapi Ayla justru larut dalam kejadian dengan Gean. Kecupan, dan ciuman Gean terasa begitu lembut, seolah-olah dia memang telah mahir dengan sebuah ciuman atau yang lainnya.
Ayla mencoba menghilangkan bayangan Gean dengan beralih menikmati es frappuccino yang menyegarkan, ia mendesah perlahan ketika kerongkongannya basah dengan dinginnya air es tersebut. Membuat dahaga yang mengganjal hilang, terlebih ia melupakan kejadian memalukan tadi hanya karena minuman kesukaannya.
Namun, tanpa Ayla sadari seseorang tengah memperhatikannya dari jauh. Dia menyunggingkan senyumannya, sedetik kemudian orang itu menghilang entah pergi kemana. Ditelan ramainya pejalan kaki yang berlalu-lalang didepan cafe, Ayla sungguh sering kali tidak memperhatikan sekitar. Yang ia tahu, ia hanya memperhatikan dirinya sendiri yang terkadang sudah merepotkan.
"Akhirnya ketemu juga kau Ayla!"
Deg..
Ayla mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, mencari sesuatu yang terasa mengganjal. Tadi ia merasa ada seseorang tengah memperhatikannya, namun mungkin hanya perasaannya saja. Setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat tidak ada yang tengah memperhatikannya.
Ayla menggedikan bahu acuh, kembali menikmati minuman kesukaannya. Seakan tidak rela akan teranggur percuma didalam gelap panjang itu.