Imperfectly Geandra

Imperfectly Geandra
Calon



"Apa!!?"


Gean memutar bola matanya jengah, lalu melanjutkan acara makannya dengan pelan. Seolah tengah benar-benar menikmati nasi dengan ayam kecap suwir di piringnya, tidak peduli dengan banyak pasang mata yang tengah meminta penjelasan.


"Gean, mama sudah menjodohkan kamu dengan putri teman mama loh? Kenapa tidak bilang kalau sudah punya calon sendiri?"


Laki-laki tersebut hanya menggedikan bahu acuh, memberikan kedipan satu matanya pada Aletha yang tengah tersenyum jenaka. Aletha dan Elang tentu saja tahu jika gadis yang Gean ajak ke rumah bukanlah kekasihnya, atau "calon istri" seperti yang diributkan kedua orangtuanya.


"Aduh gimana dong Pa, mana mungkin kita batalkan?"


"Papa tidak ikut campur ma, sudah tahu sendiri Gean lebih keras kepala daripada Elang sekarang" Renata melongo mendengar perkataan suaminya sendiri.


Ekspresi wajah Renata sukses membuat Gean ingin meledakkan tawa sekarang juga, tapi cubitan kecil di paha kanannya membuat Gean mengalihkan perhatian. "Apa?" gumam Gean pada Ayla.


Benar, Ayla lah gadis yang berhasil membuat Renata kalang kabut. Entah memang sebuah takdir dipertemukannya Gean dengan Ayla beberapa waktu lalu ataukah hanya kebetulan, tetapi Gean tiba-tiba saja mendapatkan sebuah ide untuk rencana sang mama.


Ayla bergeleng kecil, menggigit bibir bawahnya bingung dengan situasi dimeja makan tersebut.


Cup.


Gean tersenyum tipis melihat kedua mata Ayla yang membola, tidak menyangka akan mendapatkan sebuah kecupan dadakan dibibir pink nya.


"Gean!!! Belum halal, gak boleh cium-cium sembarangan!"


Teriak Renata sambil menarik kuat-kuat telinga Gean, Aletha ikut membola melihat kelakuan Gean. Untung saja putra kecilnya tidak sedang bersama dengan mereka.


"Issh, sakit ma!"


"Suruh siapa kurang ajar begitu?"


Ayla masih tetap diam, wajah bulatnya dengan pipi chubby tersebut memerah seperti tomat. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya rapat-rapat, sungguh gadis itu terlihat sangat malu.


Tanpa Gean sadari, bibirnya melengkung ke atas. Laki-laki gagal move on tersebut terpesona dengan Ayla, hanya Andre-papanya yang menyadari senyuman di bibir Gean.


"Ekhm!" Dia berdeham keras, menghentikan kekacauan di meja makan karena ulah Gean.


"Sudah ma, kita cepat nikahkan Gean saja dengan gadis itu"


"N–nikah pa?" Ulang Gean, seakan tidak percaya dengan usulan papanya.


Dengan anggukan kepala mantap, Andre memberikan jawaban seakan mengamini kebohongan Gean. Kedua mata Gean berkedip tidak percaya, dia sama terkejutnya dengan yang lainnya. Niat hati hanya ingin membatalkan perjodohan , ia justru akan terikat dengan sebuah status pernikahan dengan gadis yang baru ia kenal?


"Tapi pa, teman mama gimana dong?"


"Itu tanggung jawab mama, papa gak ada ikutan kok"


Renata duduk kembali dengan lemas, wajahnya terlihat penuh dengan kebingungan. Sama halnya dengan Gean yang dia dipusingkan dengan rencana lainnya yang pada akhirnya sama saja, Gean harus melepaskan status lajangnya.


.


.


Selesai dengan acara makan siang, Gean dan yang lainnya tengah asyik menonton tayangan ulang pertandingan sepakbola. Tak jarang mereka kompak berteriak "gol" begitu tim kesayangan mereka berhasil memasukkan bola ke dalam gawang.


Ayla, dia ikut Aletha yang tengah menyirami bunga di taman belakang rumah. Mendengar celotehan Aletha tentang kesukaannya terhadap bunga mawar putih, juga tentang keluarganya.


"Berapa bulan kandungan mu, mbak?"


Aletha tersenyum tipis, mengelus perut yang baru menonjol sedikit dengan tangannya yang lain.


"Iya Al"


Malu-malu Ayla mengikuti keinginan wanita cantik disampingnya, kemudian dia ikut tersenyum.


"Kamu sudah kenal berapa lama dengan kak Gean?"


"Hah?"


Gadis itu berkeringat dingin, tidak tahu harus mengatakan apa. Dia juga tidak ingin kehilangan kesempatan bekerja, lama berpikir Ayla diam. Tidak menjawab pertanyaan Aletha.


Tangannya terasa begitu dingin, wajahnya pucat. Baginya pertanyaan Aletha terasa seperti sebuah interview yang menentukan pekerjaannya. "Kenapa diam? Ah, kamu pasti malu ya ditanya kapan bertemu dengan Kak Gean"


Ayla tersenyum kikuk, sambil mengangguk kaku kepada wanita didepannya yang tak hentinya menebarkan senyuman.


"Aku harap, kamu benar-benar akan mencintai Kak Gean seperti kamu mencintai orang tua mu Ay. Kak Gean sudah terlalu sering kecewa karena cinta dan perempuan"


"Dia kakakku, sejak kecil aku tahu dia adalah orang yang paling baik. Jadi, jangan sia-sia Kak Gean, Ay"


Sekalipun masih tidak paham dengan perkataan Aletha, Ayla tetap saja menganggukkan kepalanya. Dia kembali memperhatikan bunga mawar putih yang sejak tadi selalu menjadi perhatian Aletha, mungkin saja hormon ibu hamil pada Aletha membuatnya sangat mencintai setangkai bunga.


Mereka hanyut dalam pikirannya masing-masing, terutama Ayla yang masih belum menyangka jika hari ini dia bertemu dengan Gean. Tidak tahu jika rencana Tuhan akan membuat kehidupan nyata mereka berbeda dengan sebuah angan-angan.


Seutas benang merah ternyata akan mengikat sepasang manusia yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya, tetapi siapa pula yang akan tahu bagaimana masa depan mereka. Hanyalah Tuhan yang tahu, bagaimana nasib Ayla dengan keluarga Wijaya.


"Apa saja yang dikatakan Aletha?"


"Tidak ada, hanya bertanya kapan kita bertemu dan membahas tentang mawar putih" Bohong, Ayla berbohong jika Aletha tidak membicarakan hal yang lebih. Ia hanya belum siap dengan pengharapan Aletha tentang menjaga perasaan Gean.


Gean menggedikan bahu acuh, lalu terfokus pada jalanan yang sudah mulai padat pengguna jalan. Asap kendaraan berlomba-lomba untuk menciptakan polusi, Mobil hitamnya membelah jalanan seakan dialah sang pemilik jalan. Ditengah kepadatan dia masih bisa menerobos jalanan diantara kendaraan yang lainnya.


Di jok sebelahnya, terdiam Ayla. Entah apa yang gadis itu pikirkan, Gean tidak tahu dan tidak berniat untuk mencari tahu. Cukup informasi yang ia terima dari mulut Ayla saja yang harus ia ketahui.


"Lalu apa pekerjaan saya, Tuan?"


"Menjadi calon istriku, jangan memanggilku Tuan lagi. Dan bersiaplah untuk kemungkinan pernikahan denganku"


"A–apa?"


Terkejut? Tentu saja, Ia kira Gean akan berusaha untuk membatalkan rencana pernikahan yang telah diusulkan oleh papanya. Ternyata, Laki-laki yang telah menghancurkan pekerjaannya dengan beberapa rangkaian kalimat itu justru berkata lain.


"Apa anda yakin? Kita baru bertemu tadi pagi, lalu–"


"Ssst, diamlah. Aku hanya ingin mendengar kata iya dan pernikahan ini, jika kamu nantinya tidak benar-benar bisa mencintaiku. Kamu bisa mengajukan surat cerai, tapi ku harap tidak"


"Kamu bahkan tidak tahu, keluargaku semiskin apa Tuan"


Kedua mata Gean melotot pada Ayla, ia menghentikan mobilnya dipinggir jalan yang sepi. Ia tengah memperhatikan wajah gadis yang sejak tadi terus menolak dengan perumpamaan lain, gadis itu terlihat begitu gelisah.


"Aku tidak peduli, setelah mendapat rencana gila dari papa. Aku setuju untuk mengakhiri kesendirianku, kita akan mencoba menikah tanpa cinta! Kamu dengar bukan?"


"Tidak mungkin seorang CEO terkenal di perusahaan sebesar itu tidak memiliki kekasih yang bisa kamu ajak menikah?"


Gean terkekeh mendengarnya, kekasih? Gean lelah menunggunya, Dia yang telah berjanji dengan rangkaian kata-kata.


"Tidak!"