
Alesha menatap raut wajah Alvan yang sangat kesal kepadanya kini. Alesha pun hanya bisa menundukkan wajahnya itu, ia tak tahu lagi harus berbuat apa di hadapan lelaki yang begitu ia kagumi.
Alvan menghembuskan nafasnya kasar, dirinya tak pernah menyangka akan menjadi bahan tertawaan orang karena gadis gemuk di hadapannya.
Ia menatap gadis itu yang kini menundukkan wajahnya, seperti tak berani bertatapan dengannya.
"Bwahahahaha, makannya Lo mandi Al, jadinya kan di mandiin pake sup, hahaha..." ucap Aldi menertawakan Alvan.
Begitu pula dengan Ergi dan Arga yang sama tertawa melihat sahabatnya itu bermandikan sup.
Alvan hanya bisa mendengus kesal mendengar cemoohan teman temannya itu. Ia kembali menatap Alesha, dirinya melangkah maju mendekati Alesha yang masih menunduk.
"Woy!" ucap Alvan, dirinya memanggil Alesha dengan nada kesalnya.
Alesha yang merasa di panggil pun akhirnya mengumpulkan semua keberaniannya dan mengangkat wajahnya perlahan.
Mata sayu nya bertemu dengan sorot tajam mata Alvan, membuat Alesha bergidik ngeri. Alvan memejamkan matanya sesaat, lalu kembali menatap tajam Alesha.
"Gue gak mau tau pokoknya Lo harus tanggung jawab." Ucap Alvan lagi.
Alesha pun dengan cepat meraih baju yang dikenakan Alvan ia mencoba membersihkan baju Alvan dari sayuran sayuran yang menempel di bajunya.
"A, aku bersihin," ucap Alesha, tapi tangannya yang tengah mencoba membersihkan baju Alvan langsung saja Alvan tepis.
Alesha terkejut dengan tepisan itu, dirinya kembali mendapati tatapan tajam Alvan yang semakin menjadi jadi.
"Gue gak suruh Lo buat sentuh gue!" sinis Alvan, merasa risih ketika Alesha mulai menyentuhnya.
Alesha pun segera menarik balik tangannya, ia kembali merutuki perbuatannya yang membuat Alvan menjadi lebih kesal.
"Ma, maaf," Alesha meminta maaf kembali atas perbuatannya.
Alvan mendengus kesal, ia pun melepaskan pakaiannya lalu melempar pakaiannya itu ke arah Alesha. Alesha yang mendapati baju Alvan terlempar ke hadapannya langsung saja menangkapnya.
Ia terpaku melihat apa yang ada di hadapannya kini. Bukan hanya Alesha, bahkan hampir seluruh siswa siswi di kantin terpaku melihat sosok Alvan yang tak mengenakan baju.
Dada nya terlihat jelas, begitu pula dengan kotak kotak yang berada di perut Alvan. Membuat para gadis di SMA Anugerah tergoda dan kagum kepadanya.
Alesha meneguk saliva nya dengan susah payah, tatapannya lurus pada kotak kotak menggoda di hadapannya. Alvan yang melihat itu menyeringai sinis.
"Dasar cewek mesum!" ucap Alvan menyadarkan Alesha.
Alesha yang sadar akan tatapannya itu langsung saja kembali merutuki dirinya sendiri, bodoh sangat dirinya, menatap dengan jelas pada tubuh seorang lelaki.
"Cuci baju gue sampe bersih." Ucap Alvan lagi.
Alesha pun menengadahkan wajahnya melihat wajah Alvan. Alesha mengangguk kecil tanpa berniat membalas lebih.
Alvan pun menoleh ke belakang ia mendapati Aldi, Ergi dan Arga yang masih setia di belakangnya.
"Beliin gue seragam." Ucap Alvan singkat, menyuruh temannya untuk membelikan ia seragam baru.
"Beli? Sekarang?" tanya Ergi.
Alvan yang mendengar pertanyaan Ergi langsung saja memutarkan bola matanya jengah.
"Tahun depan aja Gi," balas Alvan kesal.
"Oh, tahun depan Al, tapi ko lama amat sih, keburu Lo lulus gitu mah Al, Al..." ucap Ergi lagi membuat Arga dan Aldi menggeleng gelengkan kepalanya sembari tertawa kecil.
"Bodo banget sih Lo Gi, ya kali Alvan nyuruh Lo belinya tahun depan, keburu badannya lumutan, wkwkwk..." sahut Aldi.
"Bentar gue beliin." Ucap Arga, Alvan pun mengangguk lalu Arga pergi ke koperasi untuk membelikan seragam baru.
Alvan membalikan tubuhnya dan terlihat Alesha yang masih diam di tempatnya dengan wajah menunduk dan seragamnya yang masih berada dalam pelukannya.
"Lo mau diem disitu sampe kapan?" Alvan kembali berbicara kepada Alesha.
Alesha menatap Alvan lalu ia menggaruk kecil kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Alesha memperlihatkan deretan giginya dengan kikuk, ia pun tersenyum lalu berniat melangkah pergi, namun sebuah tangan menghentikannya.
Alesha berbalik dan melihat tangan Alvan yang memegang lengannya. Alesha pun membelakak ketika tahu Alvan baru saja memegangnya.
Ada rasa senang ketika bagian tubuhnya bersentuhan dengan tangan seorang lelaki yang ia cintai, sedikit getaran yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Inget, jangan lupa bersihin baju gue. Gue tunggu besok." Ucap Alvan, Alesha pun mengangguk kecil. Setelah itu Alvan lalu pergi meninggalkan Alesha yang masih tersenyum kecil melihat kepergian Alvan.
Namun, senyuman Alesha pun pudar ketika sebuah tangan mendorong kepalanya dengan kasar. Alesha menutup matanya sejenak ketika sadar ada seseorang yang mendorong kepalanya.
Tidak salah lagi, orang itu adalah Lexa. Gadis yang sudah membuat Alesha menjatuhkan nampannya dan mengenai Alvan. Lexa lah penyebabnya, Alesha pun menoleh ke arahnya lalu menatap tajam Lexa sesaat.
Entah setan apa yang tengah merasuki Alesha sehingga dapat memberikan tatapan tajam itu kepada Lexa.
"Hah, apaan Lo liat gue kaya gitu! Berani Lo sama gue sekarang!" ucap Lexa sembari mendorong badan Alesha.
Alesha terdorong ke belakang, ia menghela nafasnya, mencoba menetralisir kekesalannya. Alesha sadar akan apa yang ia lakukan tadi, tapi dengan cepat Alesha pun mengubah raut wajahnya, dirinya enggan untuk sekedar berdebat dengan Lexa yang akan membuatnya menambah masalah yang sudah ada.
"Maaf," ucap Alesha.
Lexa malah tertawa keras mendengar penuturan kata maaf Alesha.
"Apa? Maaf? jadi Lo beneran udah berani sama gue sampe gimana tadi mata Lo, coba gue liat lagi!" balas Lexa sembari terus maju membuat Alesha melangkah mundur.
"Ng, nggak ko," balas Alesha.
"Berani yah Lo! mau gue congkel tuh mata! sini baju Alvan!" Lexa memaki Alesha sembari menarik baju Alvan yang tengah Alesha pegang.
Alesha yang mendapati baju Alvan ditarik tak menerima tarikan itu, ia harus menjaga baju Alvan, bagaimana pun Alesha harus bertanggung jawab atas kesalahannya.
Lexa menatap tajam Alesha yang tak memberikan baju Alvan kepadanya. Lexa pun. menarik baju Alvan semakin kencang.
"Lepasin gak! lepasin baju Alvan!" teriak Lexa.
Namun, Alesha tidak menyerah begitu saja ia tetap mempertahankan baju Alvan yang masih berada di genggamannya itu.
Sampai sampai, terdengar suara robek dari baju Alvan yang sedang mereka tarik. Aksi tarik menarik pun berhenti. Benar saja, baju Alvan kini bukan hanya kotor tapi juga robek.
Alesha membelakakkan matanya, ia terkejut melihat baju Alvan yang terlihat semakin parah. Lexa pun yang melihat hal itu dengan cepat melepaskan genggamannya pada baju Alvan.
Dirinya tersenyum sinis ke arah Alesha yang kini terdiam melihat baju Alvan yang sudah robek.
"Makanya kalo gue bilang lepas yah lepas! Jangan ngeyel, robek kan jadinya. Besok jangan lupa balikin ke Alvan yah." Ucap Lexa, dirinya langsung saja mengajak dua temannya yang sedari tadi berada di belakangnya untuk pergi.
Meninggalkan Alesha yang masih menatap lesu pada baju Alvan yang sudah sangat kacau.
'Ya Allah, gimana ini?' batin Alesha.
Dirinya semakin bingung, padahal baru saja tadi dirinya mendapat masalah karena kecerobohannya, kini Alesha sudah membuat masalah tadi menjadi masalah yang lebih besar lagi.
Bagaimana bisa Alesha mengembalikan baju Alvan yang sudah robek ini. Alesha benar benar bingung, padahal niatnya baik, dia hanya tak ingin jika Lexa berbuat yang tidak tidak, apalagi Alvan sudah berkata padanya untuk membersihkannya, maka dari itu Alesha terus mempertahankan baju Alvan.
Namun, baju Alvan malah semakin kacau. Alesha dibuat sangat kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan sekarang.
_impregnant!_
Alesha pun mencoba tenang, ia melipat baju Alvan, lalu ia pun melangkah pergi menuju kelasnya. Meninggalkan banyak pasang mata yang menatap risih Alesha.
Alesha berjalan menuju kelasnya dengan hati yang kacau. Ini benar benar hari yang sangat memusingkan. Alesha pun sampai di kelas dan langsung duduk di bangkunya.
Ia menatap sekilas baju Alvan yang berada di tangannya. Ia pun memasukkan baju itu ke dalam tas nya.
Alesha memberikan kepalanya di atas meja. Dirinya tak tahu lagi harus bagaimana caranya membereskan masalah baju Alvan.
'Apa masih bisa di jahit?' batin Alesha.
Dirinya masih memikirkan cara memperbaiki baju Alvan yang sudah berada di dalam tasnya. Lupa dengan perut keroncongannya yang masih kosong.
Bel pun berbunyi, menandakan bahwa jam istirahat sudah usai. Alesha kembali menghela nafasnya, ia bangkit dari tidurnya dan membawa buku dari dalam tas nya sembari menunggu Guru yang akan masuk dan memulai kembali kelas.
Kini tetap sekolah dan belajar yang paling utama, Alesha akan memikirkan cara memperbaiki baju Alvan nanti ketika waktu pulang sekolah saja.
Alesha pun tak berpikir panjang, ia langsung saja membuka bukunya dan kembali fokus dengan mata pelajaran.
Entah bagaimana dan cara apa yang akan ia lakukan untuk dapat mengembalikan baju seorang Alvan Pratama dengan baik kembali seperti semula besok.
Atau mungkin besok dirinya akan kembali mendapatkan caci maki dari seorang Alvan Pratama.
Alesha sudah sangat pasrah dengan apa yang akan terjadi besok, semoga saja Alesha bisa mendapatkan jalan keluar dari masalahnya ini, semoga.
_impregnant!_
Oke, udah masuk part ke dua aja, semoga suka yah. Walau masih banyak kesalahan, semoga pembaca terhibur dengan novel yang aku tulis ini.
Kalo ada salah kata atau apapun yang mengganggu kalian, tolong beri komentar saja yah, kritik dan saran kalian akan sangat berguna untukku yang menulis.
Semoga dengan adanya saran dan kritik dari kalian, aku bisa menulis dengan lebih baik lagi.
Terima kasih :D
_Adyul_