
Rasha, seorang gadis yang kini tengah bersiap di depan cermin, ia mengikat rambutnya kebelakang, lalu mengambil sebuah kaca mata dan memakainya. Sebenarnya Rasha tidak mempunyai masalah apapun dengan matanya tapi, ia hanya ingin memakainya dan berdandan seperti bukan dirinya sendiri.
Tanpa polesan bedak atau yang lainnya, ia tampil sangat natural, berbeda dengan remaja di usianya, tetapi wajahnya memang sudah begitu cantik, walau tanpa polesan apapun dan dandanan culun yang ia berikan di wajahnya.
Rasha kemudian membawa tas yang berada di atas ranjangnya, ia kembali melihat isi tasnya. Sesudah yakin tak ada yang tertinggal, ia lalu membawa tasnya dan pergi keluar kamar.
Di dapur, terlihat seorang wanita paruh baya yang tengah menyiapkan sarapan, Rasha menghampirinya dan menepuk kecil bahunya membuat wanita itu menoleh ke arah Rasha.
"Bu," panggil Rasha pada wanita itu.
"Sudah mau berangkat nak? ini kan masih pagi, sarapan dulu yah." ucap wanita itu ketika melihat Rasha yang sudah rapih.
Rasha tersenyum ke arahnya lalu membawa pantatnya untuk duduk di salah satu bangku yang ada di dapur.
"Gakpapa Bu, Rasha berangkat sekarang, lagian ini hari pertama Rasha, sekolahnya juga lumayan jauh. Makannya Rasha bawa bekal aja yah sarapannya Bu," balas Rasha.
"Ya sudah, Ibu siapkan bekalnya yah, kamu tunggu sebentar."
Rasha bukannya patuh untuk menunggu, ia malah berdiri dan menggeleng kecil.
"Biar Rasha aja Bu yang siapin, Ibu lanjutin aja masaknya, Rasha minta maaf yah Bu, hari ini gak bisa bantuin Ibu." ucap Rasha dengan nada sedih.
Wanita itu tersenyum melihat Rasha, ia adalah Bu Ratna seseorang yang telah menjaga Rasha sedari kecil di Panti asuhan ini.
Iya, Rasha adalah seorang anak yatim piatu, dirinya di rawat oleh Bu Ratna sejak kecil, kini Rasha yang membantu Bu Ratna merawat anak-anak yang ada di Panti asuhan Mentari.
Namun karena adanya perpindahan sekolah dan jarak sekolah Rasha yang lumayan jauh, terpaksa hari ini Rasha harus berangkat lebih awal, dan meninggalkan aktifitas lamanya untuk membantu Bu Ratna di pagi hari.
"Gakpapa nak, Ibu juga bisa ko sendiri. Malah Ibu senang akhirnya kamu bisa pindah ke sekolah yang lebih memadai, Alhamdulillah." Ucap Bu Ratna sembari membawa tangannya Mengelus puncak kepala Rasha.
Rasha tersenyum hangat, kemudian memeluk Bu Ratna.
"Maaf yah Bu, juga doain Rasha yah Bu, semoga Rasha bisa raih cita-cita Rasha."
Bu Ratna melepaskan pelukannya ia menatap Rasha, dirinya sangat bangga pada Rasha, dia adalah anak yang rajin dan baik, walau hidup sebagai anak yatim piatu Rasha tidak pernah mengeluh dan selalu berusaha keras, sampai hari ini Bu Ratna melihat Rasha yang bisa meraih sebuah beasiswa untuk bersekolah di SMA ternama di kotanya, Bu Ratna sangat bahagia dan bangga.
"Ibu selalu doain kamu nak, ya sudah sebentar lagi jam 7, kamu cepet siapin bekalnya."
Rasha pun bergegas menyiapkan bekalnya lalu berpamitan kepada Bu Ratna. Ia pun segera mencari angkot yang berarah ke sekolah barunya itu.
Setelah beberapa menit, sampailah Rasha di depan gerbang yang bertuliskan SMA ANUGERAH, gerbang yang begitu tinggi menjulang di hadapannya. Rasha membawa kakinya melangkah masuk ke dalam sekolah terlihat bangunan megah yang begitu besar, Rasha terpaku melihat begitu besarnya sekolah ini, jika bukan karena kepintarannya Rasha mungkin masih harus bersekolah di dalam ruangan sumpek yang beratap bocor dan lagi fasilitas yang tidak memadai untuk Rasha belajar.
Kini Rasha tak perlu takut kehujanan ketika belajar, karena terlihat bangunan sekolahnya kini begitu kokoh dan atapnya juga masih sangat berkilau.
Rasha tersenyum ia begitu senang, tanpa disadari banyak siswa-siswi yang sedari tadi memperhatikannya. Mungkin karena penampilan Rasha yang terlihat culun, menarik banyak perhatian.
Rasha yang tersadar langsung menundukkan wajahnya dan membenarkan kacamatanya, ia kembali melangkahkan kakinya tak menggubris banyak tatapan siswa-siswi padanya, bahkan terdengar omongan-omongan yang sedikit menusuk hati Rasha.
'Dih siapa tuh, jelek banget sih, gak cocok banget masuk SMA Anugerah.'
'Lah murid baru? bapaknya pengemis apa? dandanannya gitu amat sih,'
'Anak baru culun, semoga gak sekelas, kan jijik kalo jadi temen sekelas!'
Rasha tetap berjalan, ia berusaha menutup telinganya rapat-rapat, dirinya tetap fokus untuk mencari jalan ke ruang guru. Sudah beberapa menit Rasha mengitari sekolahan ini dirinya belum juga mendapati dimana letak ruang guru. Dirinya berniat bertanya kepada salah satu siswi tetapi, karena tatapan yang ia dapatkan selalu tatapan mencemooh, Rasha mengurungkan kembali niatnya.
Dirinya terus berjalan sampai pada saat Rasha merasa kepalanya menabrak sesuatu yang begitu keras.
"Aww.." ucap Rasha kesakitan, sembari mengusap pelan dahinya.
Rasha membawa wajahnya menatap ke depan, melihat apa yang baru saja ia tabrak, tetapi bukan sebuah tembok atau hal lainnya yang tadi ia pikirkan, melainkan sebuah dada bidang seorang lelaki yang kini ada di hadapannya.
Rasha menelan ludahnya, ia melihat wajah seorang lelaki yang lumayan tampan tapi terlihat cuek, yang kini menatapnya tajam, membuat Rasha menundukkan wajahnya.
Rasha mencoba memberanikan diri ia kembali mengangkat wajahnya, ia menatap pria dengan bola mata hitamnya yang indah itu.
"Emm, ma, maaf gak sengaja," ucap Rasha mencoba meminta maaf akan kesalahannya yang ceroboh.
Bukannya membalas lelaki itu masih terdiam sembari menatap Rasha.
"Tuh Al, maaf katanya." ucap seorang lelaki yang ada di sampingnya.
'Oh, namanya Al.' Batin Rasha, ternyata lelaki yang ia tabrak bernama Al.
Sepertinya lelaki yang disampingnya itu adalah temannya, Rasha baru sadar di samping lelaki yang ia tabrak ada beberapa lelaki lainnya yang sepertinya adalah teman dari si 'Al' itu.
"Woy Al, maaf katanya, Lo diem aja dah. Maafin kaga?" tanya lelaki di samping kanannya.
Terlihat si lelaki 'Al' tersebut menghembuskan nafasnya pelan, ia lalu melangkah meninggalkan Rasha yang masih terpaku di tempatnya, begitu pula dengan teman-temannya yang lain, langsung mengikuti lelaki itu dan terlihat menertawakan Rasha.
Rasha baru sadar jika hal tadi membuatnya menjadi tontonan para siswa, kini ia tengah di tatap oleh banyak pasang mata yang menatapnya sinis.
Rasha menghembuskan nafasnya, ia semestinya harus dapat lebih terbiasa dengan tatapan ini, karena ia tahu dirinya baru saja memasuki area baru yang memang tidak sebanding dengan dirinya, maka ia harus mempersiapkan dirinya agar kuat dan tegar untuk menjalani hari demi hari di sekolah barunya ini.
Rasha pun tak berpikir panjang untuk terus diam di tempatnya ia kembali berfokus pada tujuannya, yaitu menemukan ruang guru.
Akhirnya Rasha sampai di satu ruangan yang terbilang mewah untuk ruangan guru, begitu rapih dan luas. Rasha melihat beberapa Guru yang tengah duduk di masing-masing mejanya, dirinya masih berada di depan pintu menengok sedikit ke dalam ruangan, ia pun memberanikan diri untuk mengetuk kecil pintu itu.
Dan, hampir semua Guru yang berada di ruangan menoleh ke arahnya, Rasha yang mendapati tatapan itu hanya dapat tersenyum penuh dengan kaku.
"Oh, kamu anak baru itu yah," ucap salah satu Guru pria yang mulai mendekatinya.
"Saya Andre Wali kelas kamu, panggil saja Pak Andre." ucapnya lagi sembari menepuk bahu Rasha.
Rasha tersenyum kecil lalu mengangguk patuh. Pak Andre pun mengajak Rasha untuk berjalan ke arah mejanya, untuk melihat beberapa berkas Rasha. Rasha pun mengikuti Pak Andre sampai di mejanya.
"Nah, ini Buku nya, kamu bisa simpan ini di loker yang sudah disiapkan sekolah ini," Pak Andre memberikan beberapa buku paket yang ia berikan kepada Rasha.
Rasha pun menerima buku-buku itu dengan telaten.
"Dan ini, ini kunci lokernya disitu tertera nomor lokernya, kamu tinggal cari saja." Lanjut Pak Andre, Rasha mengangguk.
"Terima kasih Pak, Kalo begitu saya pamit." ucap Rasha berpamitan tak ingin berlama-lama di ruangan ini.
Setelah pergi dari ruangan Guru itu, Rasha bergegas pergi mencari lokernya terlebih dahulu untuk menyimpan buku-buku yang di berikan Pak Andre tadi.
Tak butuh waktu lama, Rasha menemukan lokernya, ia dengan telaten memasukkan satu persatu bukunya itu, setelah selesai ia dengan cepat menutupnya dan bergegas untuk pergi mencari kelasnya, kebetulan Rasha masuk kelas 8A IPA, sepertinya kelasnya juga tidak terlalu jauh dari loker.
Saat akan pergi meninggalkan ruangan Loker itu Rasha melihat sesuatu di bawahnya, seperti sebuah gelang. Rasha pun mencoba untuk jongkok dan melihat apa yang tergeletak di lantai itu.
Benar saja, itu adalah sebuah gelang berwarna hitam, sepertinya ini sebuah gelang pasangan, karena gelang ini memiliki sebuah kunci yang tergantung di gelang itu dan juga sepertinya ini adalah gelang lelaki, siapa yang menjatuhkannya disini.
Rasha berniat membawa gelang itu, siapa tahu dia bisa bertemu dengan pemilik gelang itu dan mengembalikannya. Akhirnya Rasha pun membawanya dan memasukkannya ke dalam saku roknya.
Sesampainya di kelas 8A IPA, Rasha mendapat tatapan sinis kembali dari banyak siswa-siswi yang sudah berada di dalam kelas. Rasha tak menggubris pandangan itu dan lebih memilih untuk mencari bangku yang kosong.
Saat ia melihat bangku yang terlihat kosong di pojok kiri, Rasha pun berjalan ke arah bangku itu, tetapi saat baru saja akan mendudukkan bokongnya yang sudah lelah sedari tadi berjalan-jalan terus seseorang mencegahnya.
"Eits, mau duduk dimana Lo?" ucap seorang gadis yang berada di samping bangku yang akan Rasha duduki.
Seorang gadis dengan banyak polesan make up di wajahnya itu mencegah Rasha untuk duduk di bangku kosong itu. Rasha masih terdiam enggan membalas pertanyaan gadis itu.
"Lo gak berhak buat duduk di bangku ini," ucap gadis itu lagi, dengan suara tawa dari gadis lain yang berada di sampingnya.
"Emang Lo gak sadar diri yah? pantes gak sih cewe kaya Lo sekolah di SMA Anugerah?" ucap salah satu gadis lainnya.
Rasha menghembuskan nafasnya kecil, ia merasa jengah mengapa dirinya harus bertemu dengan siswi-siswi macam seperti ini.
"Mending Lo bawa tas jelek Lo itu balik deh, males banget gue harus sekolah bareng cewe culun kaya Lo!" balas lagi gadis di sisi lain.
Rasha sangat enggan untuk membalas, ia berharap seorang Guru secepatnya datang dan memberhentikan tingkah kekanak-kanakkan tiga gadis itu.
Iya, tentu saja Rasha menganggap tingkah ketiga gadis itu begitu kekanak-kanakkan ketika mereka sudah berusia belasan tahun tapi masih mencemooh dan mencela seseorang seperti itu, bukankah itu adalah sikap kekanak-kanakkan.
"Woy, Lo gak bisa ngomong yah, malah diem, gue nyuruh Lo pergi, bukan diem!" teriak gadis awal.
Rasha semakin kesal dengan perbuatan mereka tetapi ia tak ingin mencari masalah di hari pertamanya, jadi dia lebih memilih untuk tetap sabar dan memendam dalam emosinya.
"Maaf, tapi aku diterima di sekolah ini, jadi aku juga berhak untuk duduk di bangku ini, kalo kalian gak percaya bisa tanya Guru atau Kepala Sekolah di sekolahan ini." ucap Rasha mencoba membalas.
Ketiga gadis tadi yang mendengar jawaban Rasha saling tatap menatap sekilas lalu tertawa keras seperti mencemooh jawaban Rasha, bahkan siswa-siswi di kelas itu pun ikut mentertawakan Rasha.
Rasha memejamkan matanya sesaat, ia harus sabar dengan semua ini. Sampai terasa sebuah jambakan di rambutnya, Rasha terbelakak dan melihat gadis di sebelah kirinya tengah menjambaknya dengan kencang.
"Ahh..." teriak Rasha kesakitan, ia mencoba melepaskan diri dari jambakan itu, sedangkan siswi lain hanya tertawa melihat Rasha yang kesakitan, memang keterlaluan.
Bukan hanya sekedar jambakan kini Rasha merasa tubuhnya di dorong dengan kuat sehingga ia terjatuh ke atas dinginnya lantai kelas bukan hanya itu, ia merasa kini tubuhnya berasa disamping kaki seseorang.
Rasha berusaha dengan sisa tenaganya mencoba menengok siapa orang yang berada di sampingnya ternyata,
"Kak Alvan," panggil gadis yang baru saja mendorong Rasha.
Rasha merasa sakit di seluruh badannya, ia menatap ke arah lututnya yang terasa begitu sakit, ternyata terlihat beberapa luka lebam di kaki dan lututnya mungkin terbentur disaat ia terjatuh tadi.
Rasha mencoba bangkit dari duduknya, ia melihat sosok lelaki yang dipanggil Alvan itu adalah lelaki yang sama di koridor tadi yang ia tabrak.
Ada rasa kesal ketika tak ada orang yang mau menolongnya, begitu kejam para siswa-siswi yang ada di sekolah ini, sampai saat seorang lelaki berjongkok di hadapannya.
"Lo gakpapa?" Tanyanya, Rasha mencoba tersenyum kecil, menahan sakit di tubuhnya.
"Gakpapa, makasih." balas Rasha sembari mencoba berdiri.
Tak disangka lelaki itu membantunya untuk berdiri, ia memegang kedua bahu Rasha membuat Rasha sedikit terkejut, ditambah tatapan tajam dari beberapa siswi di kelas itu. Setelah Rasha berdiri, ia mencoba melepaskan pegangan lelaki itu di bahunya.
"Makasih," ucap Rasha lagi.
"Lo apa apaan sih Ca, gak punya attitude banget!" ucap lelaki yang baru saja menolong Rasha.
Rasha yang melihat lelaki itu tengah membelanya lalu dengan cepat menggeleng, ia tidak mau masalah ini di perpanjang.
"Aku gakpapa ko, udah gakpapa." Ucap Rasha, membuat si lelaki itu mengerutkan keningnya.
"Gakpapa kata Lo? Lo takut sama dia?" balas lelaki itu sembari menunjuk Caca, Rasha menggeleng kecil,
"Kalo gitu Lo jangan mau ditindas kaya boneka." ucap lelaki itu sedikit marah kepada Rasha.
"Woy Al, Lo bilangin tuh cewe Lo! jangan seenaknya ngerendahin orang, seengganya Lo cari cewe yang punya attitude bukan yang suka buat sok sok an!" jelas lelaki itu kepada Alvan.
Rasha melihat tiga gadis yang tadi telah mengusiknya kini tengah tertunduk dengan wajah takut dan salah satu gadis tengah bergelayut manja di lengan pria bernama Alvan itu.
"Ayo ikut gue ke UKS," Ajak si lelaki tiba-tiba membuat Rasha terkejut. Rasha menggeleng kecil, ia menolak uluran tangan lelaki itu.
"Gakpapa ko, lagian sebentar lagi masuk." Balas Rasha.
"Gue ijinin, Lo gak usah banyak omong, ikutin kata gue." ucap lelaki itu sedikit memaksa.
"ga, gakpapa ko, beneran," tolak Rasha lagi, tapi kini ia mendapati tarikan di lengannya dari si lelaki itu yang membawanya paksa keluar dari kelas menuju UKS.
Sedangkan kini banyak tatapan tajam dan cemburu yang tertuju pada Rasha karena mendapatkan perhatian dari Arga, yah lelaaki yang sedari tadi membantu Rasha adalah Arga. Salah satu dari lelaki populer di SMA Anugerah setelah Alvan si lelaki dingin.
Kini Alvan terlihat mengepalkan tangannya, ia melepaskan genggaman tangan Caca si gadis yang telah mendorong Rasha, ia menatap tajam Caca membuat Caca merasa takut.
"A, aku gak sengaja kak Al, a, aku cuman gak suka aja dia duduk di sebelah aku," ucap Caca dengan wajah memelas, bukannya menjawab, Alvan dengan cepat membalikkan badan dan pergi meninggalkan kelas itu tanpa menggubris nya.
Alvan pergi diikuti 2 temannya, mereka mengikuti Alvan yang berjalan menuju kelasnya.
"Gila sih, cewe Lo kaya singa Al, Hahaha." Ucap Aldi teman Alvan yang kini mengikuti Alvan.
"Wkwkwk, gila Lo Al, pacarin cewe kaya begituan." Balas Ergi salah satu teman Alvan, mereka berdua Aldi dan Ergi tertawa geli melihat kelakuan Caca yang notabene adalah kekasih Alvan.
"Bukan cewe gue," ucap Alvan akhirnya mengeluarkan suara, enggan untuk mengaku bahwa Caca adalah kekasihnya, membuat Aldi dan Ergi semakin tertawa terbahak-bahak.
"Njir, mana ada bukan cewe lu, keliatan aja jeleknya langsung Lo buang, wkwkw." Aldi dan Ergi pun kembali tertawa di sepanjang jalan menuju kelas mereka.