
Rasha kini tengah duduk di ranjang yang disediakan di UKS, dirinya mencoba meregangkan tubuhnya yang terasa pegal dan sakit, sepertinya akibat terjatuh tadi.
"Nih minum," ucap Arga, yang ternyata masih berada di UKS bersama dengan Rasha.
Rasha menatap ke arah Arga dan dengan ragu mengambil gelas yang berada di genggaman Arga.
"Ma, makasih." Balas Rasha, lalu dengan cepat meminum air itu.
"Gue Arga," Arga berucap mengenalkan dirinya, membuat Rasha yang tengah meminum air menatap Arga dan mengangguk kecil.
"Aku, Rasha. Salam kenal Arga," ucap Rasha, yang mendapat gelakan tawa dari Arga.
"Gue setahun lebih tua dari Lo, gue kakak kelas Lo, dasar bodo." Balas Arga membuat Rasha membelakak, dan merutuki dirinya yang tak bertanya lebih dahulu soal Arga.
"Ah, maaf, Kak Arga, Rasha kira seumuran." Rasha meminta maaf pada Arga yang kini masih tertawa kecil melihat tingkah lucu Rasha yang ketakutan akan kesalahan kecilnya.
Arga yang tak sadar kini membawa lengannya untuk bersinggah di atas puncak kepala Rasha lalu mengelusnya kecil, membuat Rasha terkejut dan membelakak dengan perlakuan Arga yang tiba-tiba.
Arga menarik kembali tangannya lalu tersenyum manis ke arah Rasha.
"Gue udah ijinin Lo ke Pak Andre, jadi Lo gak usah takut bakalan dimarahin atau apa. Juga Lo kedepannya gak usah takut sama si cewe cewe tadi tuh, kalo misal nanti tuh tiga cewe gangguin Lo lagi, bilang aja ke gue, oke?"
Rasha sedikit tersentuh dengan perkataan Arga, baru saja ia mengenal seseorang dan sebaik Arga yang mau membantunya dan membela nya, dengan keadaan Rasha yang berpenampilan culun ini. Rasha tersenyum manis ke arah Arga, membuat Arga yang melihatnya sedikit terpesona.
'Manis,' batin Arga, saat dirinya masih terdiam terpesona akan senyuman manis Rasha.
"Makasih Kak Arga, tapi insyaallah kedepannya aku bakalan baik-baik aja ko, Kak Arga gak perlu khawatir, makasih buat hari ini Kak." Ucap Rasha, membuat Arga terbangun dari lamunannya. Arga tersenyum kaku karena malu, baru saja ia terpesona kepada gadis berpenampilan culun di hadapannya ini.
"Ya udah, gue balik ke kelas dulu, Lo diem aja disini oke." Ujar Arga, Rasha mengangguk patuh. Arga yang melihat itu tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan Rasha di ruangan itu sendirian.
"Lah gue kenapa sih, ko bisa ngelamun kaya begitu di depan dia, Malu banget astagfirullah, Arga Arga kesambet apaan lu tadi." Ucap Arga kecil merutuki dirinya sendiri yang tadi malah terpesona akan kemanisan seorang Rasha, sambil berjalan menuju kelasnya.
_ALJERA_
"Woy, pangeran kesiangan dateng!" teriak Ergi ketika melihat Arga masuk ke dalam kelas.
Arga langsung berjalan ke arah Alvan, Ergi dan Aldi yang sudah duduk di bangku.
"Ngapa sih Lo!" ucap Arga sembari mengetuk pelan kepala Aldi. Aldi yang mendapati kepala diketuk seperti pintu saja membuat kerutan di kening sembari mengusap pelan kepalanya.
"Apaan sih Lo dateng-dateng malah ngetuk-ngetuk pala gue kaya pintu aje!" ujar Aldi merasa sedikit kesal, sedangkan Arga memperlihatkan tampang tak bersalahnya lalu membuat mimik wajah terkejut yang di buat-buatnya.
"Aduh sorry, gue kira tuh pala si Ergi taunya Pala Lo Di, hehe" ucap Arga dengan suara yang di buat-buatnya.
"Jadi gimana keadaan tuan puteri Lo Ga?" tanya Aldi, Arga memutarkan bola matanya lalu menoleh menatap Aldi.
"A, apa Lo bilang, apa? coba ulang?"
"T.U.A.N P.U.T.E.R.I." Eja Ergi, membuat Arga mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Bisa bisanya yah Lo ngejek gue, lagian emang salah gue bantuin dia? kan kasian tuh anak baru masuk dah di injek-injek aja sama incesnya babang Alvan, gue kan orang nya gak bisa gitu liat yang tertindas." Jelas Arga membuat Aldi dan Ergi tertawa terbahak-bahak.
"Incesnya Babang Alvan gak tuh! wkwkwk!" Aldi dan Ergi tak bisa berhenti tertawa, sedangkan Alvan kini masih asik dengan ponselnya seakan tak mendengar ocehan teman temannya itu.
"Inces Babang Alvan ternyata ganas, aurghhh..." goda Ergi pada Alvan, membuat tawa yang tak berhenti pada kedua temannya.
Para siswa-siswi yang lain, yang berada di dalam kelas yang sama dengan mereka ber empat hanya bisa menyimak bagaimana interaksi ke empat pangeran tampan SMA Anugerah itu. Alvan, Arga, Aldi dan Ergi sudah terkenal dengan kebobrokan dan ketampanan mereka yang sudah tak bisa di debatkan lagi.
Hampir semua Siswi di SMA Anugerah menaruh hati yang mendalam kepada 4 lelaki itu, bagaikan terbang ke atas langit jika bisa bertatapan juga berbicara kepada mereka, apalagi bisa menjadi kekasih dari 4 lelaki itu adalah impian semua gadis di SMA Anugerah.
"Jadi gimana nih bang Al, masih mau Lo pelihara tuh neneng ganas?" tanya Ergi, Aldi dan Arga tak henti-hentinya tertawa di setiap ucapan yang terlontar.
Alvan yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya akhirnya menoleh dan menatap ketiga temannya itu, lalu
"Bukan cewe gue!" ucapnya dengan nada datar, namun itu semua malah membuat suasana semakin pecah, Arga, Aldi dan Ergi tertawa terbahak-bahak.
"Savage! wkwkkw ..." ucap Ergi dengan nada lagu Blackpink,
"Auto buang aje dah buat babang Alvan mah! wkwkwk..."
"Yah inces ganas cuman bertahan 4 hari doang, wkwkkw ...."
Begitulah, mereka bertiga tak ada habis-habisnya menggoda Alvan, dan yang di goda malah cuek bebek kembali fokus pada ponselnya, memang begitu sifatnya, dingin bagai es tapi jangan salah, jika kalian mengusiknya sedikit saja, atas apa yang dia miliki, jangan harap kalian bisa hidup dengan tenang, Alvan bisa dibilang ketua dari 3 temannya yang bobrok tadi, tapi jangan juga remehkan 3 orang yang sedari tadi tertawa tak henti-henti, mereka sama menakutkannya ketika di usik.
_ALJERA_
Bel istirahat pun berbunyi, para siswa-siswi mulai berhamburan keluar kelas, ada yang menuju kantin, lapangan, toilet dan yah terserah mereka mau kemana disaat istirahat, yang paling penting disini adalah Rasha yang masih terbaring di ranjang UKS.
Saat mendengar bel yang berbunyi Rasha kemudia bangkit dari tidurnya dan duduk masih menetralisir keadaan.
'Ah, sudah jam istirahat.' Batin Rasha.
Rasha yang masih sedikit pegal meregangkan tubuhnya pelan, ia kemudian mencoba membuka ikat rambutnya, tak lupa ia melepaskan kacamata yang sedari tadi bertengger di wajahnya.
'Sepertinya tidak ada orang yang lihat,' batin Rasha lagi sembari menengok kanan kirinya.
Rasha sedikit mengacak acak rambutnya agar mengembang setelah di ikat, ia menghela nafasnya sebentar. Rasanya untuk hari pertama masuk sekolah ini terasa berat, namun Rasha bertekad untuk dapat melewatinya.
Ia memilih untuk diam sebentar lagi di UKS untuk menyegarkan tubuhnya dari dandanan culun yang sedari tadi ia pakai.
Rasha merogoh tasnya untuk mengambil ponsel miliknya, tetapi saat ia berjalan mendekati tasnya yang tersimpan di atas meja sesuatu terjatuh dari bajunya, gelang.
"Eh, gelang itu, hampir lupa kalo aku masih nyimpen gelang orang lain, ini punya siapa yah?" gumam Rasha, ia kembali membawa gelangnya itu dan kini dirinya memilih untuk mencoba memakainya.
"Gelangnya cantik," ucap Rasha.
Ketika tengah memperhatikan gelang itu Rasha tak sadar jika seseorang memasuki UKS.
"Udah baikan?" tanya seseorang yang tentu saja mengejutkan Rasha, apalagi kini dirinya tengah tak memakai kaca mata dan tak mengikat rambutnya, Rasha dengan cepat membawa kaca matanya ia terburu-buru memakainya.
"Wih, santai aja kali, lagian Lo kenapa buka tuh kaca mata? bukannya kalo mines jangan lepas pake lepas pake ya, nanti mata Lo makin burem noh." jelas Arga yang ternyata kini berada di hadapan Rasha.
Sebenarnya kaca mata itu memang tidak membawa banyak perubahan pada wajah Rasha yang cantik, namun ternyata Rasha memberikan sedikit bintik-bintik palsu pada wajahnya dan membuat wajahnya sedikit lebih gelap daripada aslinya.
Padahal jika saja Rasha tampil dengan wajah aslinya, ia akan menjadi primadona di SMA Anugerah.
Rasha menghembuskan nafas lega ketika Arga tak menyadari akan wajah aslinya. Rasha tersenyum kaku menatap Arga.
"Kak Arga kenapa kesini?" tanya Rasha.
"Gue mau ajak Lo ke kantin, lagian ini kan jam istirahat, ayo ikut gue." Ajak Arga membuat Rasha terkejut, bagaimana Arga bisa mengajaknya ke kantin, apa ia tidak malu bersama dengan Rasha yang berpenampilan begini?.
"Mmm, gakpapa ko Kak, Rasha makan disini aja, Rasha bawa bekal ko, lagian Kak Arga gak malu pergi bareng sama Rasha?" tolak Rasha sembari bertanya tentang sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Arga menaikkan satu alisnya setelah mendengar pertanyaan Rasha.
'Tampan,' batin Rasha.
"Apa? malu, ya ampun emang Lo apa sampe buat gue malu segala, gue cuman gak mau Lo di gangguin tuh cewe cewe gak tau akhlak itu lagi, makannya gue jemput Lo kesini, gak usah mikir aneh-aneh dah Lo." Jawab Arga.
Rasha tersenyum manis lalu menggeleng kecil walau niat Arga baik tapi sepertinya tak baik untuk terus berdekatan dengan Arga, tadi saja saat Arga membantunya Rasha mendapati banyak tatapan tajam dari para siswi lain, maka dari itu lebih baik Rasha menjauh dan tak berurusan lagi dengan Arga.
"Gak usah Kak, makasih banyak tapi Rasha bisa ke kantin sendiri, Kak Arga gak perlu khawatir." Tolak Rasha lagi, tetapi Arga bukannya menerima penolakan itu ia malah membawa tas Rasha dan berjalan keluar UKS, membuat Rasha terkejut dengan apa yang Arga lakukan.
"Kak, Kak Arga mau kemana, itu tas Rasha jangan di bawa Kak!" teriak Rasha sembari mengejar Arga yang berjalan menjauh.
Tentu saja banyak pasang mata memperhatikan tingkah Rasha yang mengejar Arga, padahal Arga hanya berjalan biasa namun karena langkahnya yang begitu besar sampai Rasha tak bisa mengejarnya.
Sampailah kini Rasha di depan kelasnya, Rasha melihat Arga masuk ke dalam kelas dan berjalan ke arah bangku yang kosong. Banyak orang melihat perlakuan Arga dan terkejut dengannya, bagaimana bisa Arga begitu perhatian kepada Rasha.
Apalagi tatapan tajam dari Caca yang masih berada di kelas.
"Kak Arga, Kak Arga cari aku? Kak Alvan nyuruh Kak Arga kah?" tanya Caca, sembari mendekati Arga yang tengah menyimpan tas Rasha.
"Gue kesini bukan buat Lo dan Alvan juga gak nyariin Lo, oh ya, jangan berani berani Lo megang tas ini, kali sedikit aja Lo pegang ini tas, urusan Lo sama gue!." Balas Arga dingin membuat Caca meneguk ludahnya, ditambah malu akan balasan Arga yang membuatnya menjadi bahan tawa orang yang masih ada di kelas.
"I, iya Kak."
Arga pun kembali keluar kelas mendapati Rasha yang masih terdiam di depan pintu, Arga langsung saja menarik tangan Rasha membawanya ke arah kantin.
"Arghhhh! tuh cewe kenapa sih pake dapet perhatiannya Kak Arga! padahal kan cuman cewe culun kaya begitu! Arghhhhhhh!" Kesal Caca, yang melihat perlakuan Arga pada Rasha.
_ALJERA_
Rasha dan Arga pun sampai di kantin, Arga terus membawa Rasha ke arah bangku yang sudah di duduki oleh Alva, Aldi dan Ergi, Rasha yang ditarik begitu saja tak bisa melepaskan diri kini dirinya hanya mampu mengikuti Arga dan menghiraukan tatapan tatapan tajam dari para siswi lainnya.
"Wih, babang Arga bawa siapa nih?" ucap Ergi dengan nada menggodanya.
"Bawa calon gebetanya nih..." balas Aldi sama sama menggoda Arga.
Arga tak menghiraukan godaan Ergi dan Aldi dirinya langsung saja menyuruh Rasha untuk duduk di antara 3 lelaki populer di SMA Anugerah itu.
"Duduk!" perinta Arga, Rasha awalnya enggan untuk duduk dan menggeleng tak mematuhi perkataan Arga, sampai Arga menatap tajam Rasha barulah ia mendudukkan bokong nya di bangku yang sama dengan 3 lelaki tampan lainnya.
"Hai, Rasha..." Sapa Ergi dengan nada yang menggoda.
"Halo dedek manis, kenalan dong..." Goda Aldi.
Rasha hanya bisa tersenyum kaku, dirinya merasa resah dan tak nyaman, bagaimana bisa tidak, kini Rasha menjadi bahan tontonan para siswa-siswi di kantin, dengan tatapan tatapan mematikan mereka semua, ditambah Aldi dan Ergi yang terus menggodanya.
"Mmm, Kak Arga, Rasha pindah bangku aja yah." Pinta Rasha, Arga yang mendapati Rasha merasa tidak nyaman kini memegang pundaknya dan menepuknya pelan.
"Gak usah, Lo diem disini, lagian Lo mau kemana, gak usah dengerin bacotan dua orang itu noh, emang gak ada akhlak mereka." larang Arga dan juga sindirian yang Arga tujukan pada Aldi dan Ergi yang langsung saling tatap tatapan.
"Gak ada akhlak bro!" ucap Aldi pada Ergi.
"Alhamdulillah gue tamat ko iqra 6." balas Aldi membuat gelak tawa antara mereka berdua.
Rasha yang melihat tingkah dua orang itu hanya bisa tersenyum kecil, memang lucu tapi kelucuan mereka masih kalah dengan rasa takut Rasha.
Alvan yang sedari tadi bungkam tengah menatap Rasha, dirinya tetap diam tanpa sepatah kata pun sampai akhirnya mata Alvan menangkap sesuatu yang tak asing. Matanya langsung membelakak, ia menarik lengan Rasha dengan kuat sampai membuat tubuh Rasha menabrak meja, karena mereka berdua yang duduk berhadapan.
"Aww," rintih Rasha kesakitan ketika tubuh mungilnya terbentur meja.
Arga, Aldi dan Ergi yang tengah asik tertawa kini menatap kaget pada Alvan yang tiba-tiba menarik lengan Rasha. Terlihat sorot tajam di kedua mata Alvan, tak ada lagi gelak tawa antara ketiga orang itu apalagi Rasha.
"Darimana Lo dapetin gelang ini!" ucap Alvan dengan suara geramnya.
Rasha yang mendengar pertanyaan Alvan masih terdiam, dirinya masih menetralisir keadaan yang ada, sembari meringgis akan lengannya yang di genggam keras oleh Alvan.
"JAWAB GUE!" bentak Alvan.
Rasha ingat, itu gelang yang ia temukan, bodohnya ia lupa melepaskan gelang itu ketika tadi mencobanya. Ingin sekali Rasha menjawab pertanyaan Alvan tapi seakan akan mulutnya berubah membatu, dirinya kesulitan untuk berbicara, Rasha menatap tatapan tajam itu, dirinya terpaku tak bisa melakukan apa apa lagi,
'Bagaimana ini,' batin Rasha.