
Seorang gadis tengah terduduk di dinginnya lantai sekolah dengan banyak pasang mata yang menatapinya. Gadis itu hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar dan mencoba sabar, ia pun segera bangkit dari duduknya dengan susah payah.
Jika bukan karena gadis berambut pirang yang kini berada di hadapannya mungkin, dirinya tidak akan sepagi ini sudah membuat bokongnya mencium lantai.
Alesha, nama gadis dengan tubuh yang sedikit berisi juga wajah polos tanpa polesan make up yang berlebih yang kini tengah membersihkan rok nya dari debu debu yang ikut menempel dari lantai.
Alesha merasakan tatapan tajam kini tengah tertuju padanya, walau mungkin ini semua bukan salahnya. Namun, ia sudah tahu bahwasannya yang cantik akan selalu mendapat perhatian lebih, layaknya kini dirinya yang tak salah apa apa, malah mendapatkan tatapan menjijikan dari banyak siswa.
Lain dengan gadis berambut pirang yang sudah dengan sengaja menabraknya kini tengah berpura pura kesakitan, membuat Alesha memutarkan bola matanya jengah.
'Lah, perasaan gue yang jatuh kenapa dia yang sakit yah?' batin Alesha.
Memang dasar Ratu sinetron, tapi Alesha sudah biasa dengan itu semua. Lexa, gadis berambut pirang yang kini tengah berakting kesakitan di hadapannya, tak lupa pemeran figuran lainnya yang semakin mengada-ngada kejadian yang ada.
"Huh," desah Alesha.
"OMG! Sakit banget, dasar gajah! makannya kalo jalan liat liat dong, badan lu kan gede gak kaya gue, liat nih pasti bakalan bengkak!" teriak Lexa, memaki maki Alesha seperti biasa.
Memang kejadian seperti ini tidak hanya terjadi sekali, dua kali. Lexa sepertinya sangat suka menggoda Alesha yang sama sekali tak ingin berhubungan dengannya.
Di keadaan Alesha kini, dirinya hanya bisa diam dan mendengarkan segala caci maki yang Lexa dan teman-temannya ucapkan.
"Dasar gajah! Lo makannya kalo jalan tuh jangan di tengah, gak nyadar badan segede apaan!" ucap Meli teman Lexa dan masih banyak cacian yang teman teman Lexa ucapkan padanya.
Namun seperti tebalnya kulit gajah, begitu pula dengan telinga Alesha, sudah sangat kebal dengan segala caciannya. Alesha kini hanya harus menunggu mereka semua puas, dan pergi dengan sendirinya.
Naasnya, siswa siswi lain yang melihat hal ini tak ada satupun yang membelanya, mereka malah menatap jijik ke arah Alesha dan enggan untuk sekedar bertanya apa dia baik baik saja, atau pun menolongnya, dunia ini memang sudah sangat kejam.
Alesha yang tengah terdiam dengan segala cacian Lexa dan teman-temannya, menoleh ke kiri dan ke kanan, ia mencari sosok yang sedari tadi ingin ia lihat, dan.
Matanya membulat penuh, berbinar ketika melihat sosok yang ia tunggu tunggu. Sosok itu tertangkap kedua matanya, membuatnya begitu bahagia walau dengan cacian Lexa. Alesha tak melepaskan pandangannya dari sosok lelaki yang tak jauh darinya itu.
Sontak hal itu membuat Lexa mengerutkan keningnya, melihat Alesha yang tak lagi fokus dengan caciannya. Lexa pun menoleh ke arah Alesha menatap dan dirinya sama menangkap sosok yang begitu indah.
Lelaki tampan, sang pujaan hati SMA Anugerah. Lelaki most wanted yang selama ini selalu Lexa kejar dalam hidupnya, tak lupa tiga pangeran lainnya yang selalu mengelilingi si most wanted.
"Alvan!" ucap Lexa dengan mata yang tak kalah berbinarnya.
Lexa langsung saja melupakan keluh kesahnya kepada Alesha, dirinya langsung membawa tubuhnya ke arah dimana lelaki bernama Alvan itu berada.
"Akhhh... Ergi.... Aldi.... Arga.... AKHHHHHHHHHHH.... ALVANNNNN!" teriak para siswa lainnya yang begitu tergila gila dengan ke empat lelaki yang tengah berada di lapangan itu.
Sesaat kemudian Alesha pun sudah berdiri sendirian tak lagi di kelilingi tatapan tatapan tajam siswa siswi tadi. Mereka semua berpindah dengan wajah berseri ke arah empat pangeran SMA Anugerah.
Alesha hanya bisa menghembuskan nafasnya lega. Ia tersenyum manis ke arah Alvan, walau mungkin senyumannya itu tak akan pernah terlihat oleh seorang Alvan Pratama.
"Makasih," gumam Alesha, dengan tatapan yang tertuju pada Alvan.
Dirinya berterima kasih pada Alvan yang sudah membuatnya terbebas dari para siswa siswi tadi, walau nyatanya Alvan tak berniat menolong Alesha, tapi Alesha tetap berterima kasih layaknya seseorang yang sudah di tolong saja.
Alesha pun tak berlama lama menatap lelaki tercintanya itu. Ya, Alesha amat sangat menyukai Alvan, dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama sejak pindah ke SMA Anugerah. Alvan begitu tampan sampai sampai membuat Alesha terpanah.
Alesha adalah siswa berprestasi yang mendapatkan beasiswa sehingga bisa masuk menjadi siswa di SMA Anugerah. Dirinya selalu mendapatkan posisi pertama untuk seluruh siswa di SMA Anugerah dan selalu memenangkan perlombaan untuk SMA Anugerah.
Namun, karena fisiknya yang bertubuh gemuk dan juga latar belakangnya yang datang dari keluarga biasa saja, membuat Alesha harus tertindas oleh siswa siswi lainnya. Padahal ia tidak pantas di perlakukan seperti itu.
_impregnant!_
Bel telah berbunyi, menandakan kelas telah usai waktunya untuk para siswa dan siswi beristirahat. Alesha pun menutup bukunya, ia melemaskan seluruh otot di badannya, terasa pegal setelah duduk dan berpikir selama 2 jam penuh.
Alesha pun bersiap untuk segera pergi ke kantin seorang diri. Ya, dirinya tak mempunyai teman yang bisa ia ajak untuk pergi ke kantin bersama, bahkan Alesha tidak mempunyai teman sebangku, seperti enggan untuk siswa siswi berdekatan dengan siswa berprestasi seperti Alesha.
Alesha pun berjalan menuju kantin, dirinya langsung saja mengambil nampan dan mengambil nasi juga lauk yang sudah sangat membuat Alesha keroncongan. Setelah selesai membawa semua yang Alesha inginkan, ia pun segera mencari tempat untuk duduk.
Namun, selalu saja ada orang yang mengganggu kesenangan seorang Alesha. Ketika dirinya tengah berjalan, seseorang memanjangkan kakinya sehingga membuat Alesha yang tengah membawa nampan berisi makanannya goyah.
Alesha pun mencoba menyeimbangkan tubuhnya lagi, tapi semua sudah sia sia, tubuhnya ambruk ke hadapan seorang lelaki yang kini hanya bisa terdiam di tempatnya dengan tubuh yang sudah sangat kotor terkena makanan Alesha yang jatuh menghantamnya.
Alesha yang sudah terduduk di bawah lantai melihat siapa lelaki di hadapannya itu, ia langsung saja menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Tak lupa tawa dari siswa siswi yang keras menertawakan kecerobohan seorang Alesha. Bahkan ia sampai membuat lelaki nomor satu di SMA Anugerah begitu kotor.
Alesha membatu di tempatnya, ia sangat kesal dengan tingkah perempuan yang tadi menghalanginya sampai membuatnya terjatuh dan membuat Alvan terhantam makanannya. Namun, kekesalannya berubah dengan rasa takut dan membuatnya segera bangkit dan menatap Alvan dengan rasa bersalah.
"Ma, maaf," lirih Alesha.
Alvan masih terdiam di tempatnya dengan mata yang tertutup, terlihat raut amarah yang terpampang di wajah tampan Alvan, semakin membuat Alesha ketakutan.
Lain halnya dengan Aldi dan Ergi yang tengah menahan tawa melihat Alvan yang kini tengah bermandikan nasi juga sup.
Alvan dengan perlahan membuka matanya, dan langsung saja matanya menangkap kedua mata Alesha dengan sorot bersalahnya. Alvan mengepalkan lengannya kesal, ia menatap tajam ke arah Alesha, semakin membuat Alesha yang menciut.
'Ya tuhan Alesha harus ngapain?' batin Alesha.
Dirinya benar benar di buat membatu dengan keadaanya kini, ini lebih seram dan membuatnya gugup dibandingkan harus berhadapan dengan sejuta soal matematika yang mematikan.
'Alesha dasar bodoh!' batinnya lagi.
_impregnant!_
Hai, salam kenal semua :D
gimana yah kelanjutannya?
Apa Alesha bakalan kena marah seorang Alvan?
Kasian banget kan, makannya terus ikutin ceritaku yah, juga makasih banyak untuk support kalian :)
Semoga ceritaku bisa menghibur yah, walau masih banyak kesalahan :D
_Adyul_