I'M PREGNANT!

I'M PREGNANT!
Dasar culun



Alvan menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sesosok gadis yang sedari tadi ingin dia lihat, namun belum juga ia temukan. Jika tak salah dengar tadi Rasha berkata akan ke toilet, tapi setelah sampai di sana Alvan sama sekali tak menemukannya, ia bahkan memaksa masuk Ke dalam toilet wanita.


"Argh.." Kesal Alvan sembari mengacak kecil rambutnya.


"Udahlah Al, Lo biarin aja dia, lagian kemaren tuh cewe gak sengaja buat Lo marah gitu kan." Ucap Arga, mencoba membujuk Alvan agar melepaskan Rasha.


Alvan yang menoleh dan menatap Arga, lalu ia mengangkat ujung bibirnya sedikit, terlihat seperti senyuman yang tak ikhlas.


"Mau sengaja atau gak, Lo tau kan gue gak pernah lepasin orang yang udah buat masalah sama gue segampang itu, mau kecil atau besar." Balas Alvan sembari menepuk kecil pundak Arga dan berjalan menjauh, sedangkan kini Arga hanya dapat menghela nafasnya.


"Udahlah Ga, lagian Lo kaya gak tau gimana sifat si Al aja, biarin aja kali kalo udah bosen juga dia tinggalin sendiri." Ucap Ergi dengan menepuk pundak Arga seperti yang dilakukan Alvan.


"Ya udah yok, kita kejar si babang Alvan lagi, daripada nanti kita kena semprot." Ajak Aldi, mereka pun berjalan mengikuti Alvan yang sudah sangat jauh.


Di sisi lain Rasha tengah mengatur nafasnya, ia menunduk sembari memegang kedua lututnya, Rasha sesekali menoleh ke arah kiri dan kanan, takut jika saja Alvan mengikutinya.


"Aman," ucap Rasha.


Rasha pun bangun lalu berjalan ke arah bangku yang ada di sana, masih menoleh ke kanan ke kiri, untung saja sepertinya Alvan tidak tahu jika Rasha berada di taman belakang sekolah. Disini sedikit sepi karena jaraknya yang agak sedikit jauh dari kantin.


"Hhh, untung aja gak ketauan. Kenapa sih Kak Alvan pake ke kelas segala? gak bisa yah hidup tenang di sekolah ini? padahal kan cuman gak sengaja pake gelangnya doang, kenapa harus jadi gini sih." Rasha sedikit kesal dengan keadaanya kini, padahal dia hanya tidak sengaja memakai gelangnya tetapi malah harus masuk ke dalam lubang permainan seorang Alvan Pratama.


Tak disangka ketika Rasha tengah duduk di bangku taman, Alvan sedari tadi tengah berdiri tak jauh di belakangnya, tersungging senyuman yang seolah olah puas karena sudah menemukan mangsanya itu.


"Jadi Lo disini, bikin gue cape aja." Ucap Alvan kecil, lalu ia berjalan menuju ke arah gadis yang masih kelelahan itu.


"Berani yang Lo ngehindar dari gue." Ucap Alvan sembari memegang pundak Rasha, yang membuat tubuh Rasha seketika membeku.


Rasha mencoba menoleh ke arah belakang, melihat siapa orang yang tengah memegang pundaknya itu, apakah dia adalah orang yang sedari tadi Rasha hindari, dan benar saja.


"Kak, Kak Alvan," ucap Rasha terbata.


Alvan menyunggingkan senyuman iblisnya, seperti seekor singa yang siap menyantap mangsanya yang kini berada di hadapannya.


"Berani banget Lo tiba tiba pergi dari gue, Lo belum ngerti, kalo mulai detik ini Lo gak akan bisa lepas dari gue, hah." Alvan mendekatkan wajahnya ke wajah Rasha, membuatnya menelan ludah dengan kesusahan.


"Ma, maafin Rasha Kak, tapi apa gak bisa Kak Alvan lepasin Rasha, Rasha minta maaf kemaren gak sengaja pake gelang itu." Rasha meminta Alvan untuk melepaskannya dengan nada yang sedikit memelas.


Bukannya membalas Rasha, Alvan yang melihat wajah dengan tatapan tajamnya.


"Apa? lepasin Lo? Lo pikir bisa lepas dari gue? gak akan pernah bisa! ngerti Lo!"


"Daripada Lo terus terusan banyak omong kaya gini, sekarang ikut gue!" lanjut Alvan, Rasha pun mau tidak mau mengikuti Alvan dari belakang.


Saat sedang berjalan di belakang Alvan, Rasha sangat sulit menyeimbangkan langkahnya, karena kaki Alvan yang begitu panjang sehingga langkah nya pun begitu lebar, berbeda jauh dengan langkah Rasha, sehingga membuatnya agak sedikit berlari, namun bukan hal yang diharapkan Rasha, dirinya harus tak sengaja menabrak sebelah kakinya dengan kakinya sendiri, sehingga tubuhnya limbung dan menabrak punggung kekar Alvan.


"Arghhh..." teriak Rasha ketika jatuh ke punggung Alvan.


Alvan yang mendapati punggung yang tertabrak oleh tubuh Rasha dengan cepat berbalik dan menangkap Rasha yang sebentar lagi akan terjatuh mencium dinginnya lantai.


Kini Rasha berada dalam pelukan Alvan, dirinya membelakak penuh, terkejut dengan apa yang tengah ia lakukan kini, dengan cepat Rasha bangun dan berdiri sembari membenarkan kaca matanya.


"Ma, maaf Kak, Rasha gak sengaja." Ucap Rasha meminta maaf kepada Alvan.


Alvan kini hanya berdiri diam sembari menatap Rasha yang tengah terdiam kikuk.


"Dasar culun," ucap Alvan, Rasha yang mendengar hal itu menengadahkan wajahnya menatap wajah dingin Alvan yang tengah menatapnya dengan tatapan dingin.


"Maaf Kak," cicit Rasha lagi, Alvan tak menggubris permintaan maaf Rasha lalu berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Hhh, kenapa sih Sha, ko ceroboh banget." Ucapnya pada diri sendiri, sembari mengetuk pelan kepalanya dengan tangannya sendiri.


Rasha pun kembali mengikuti Alvan yang sudah menjauh. Kini Alvan dan Rasha pun sampai di Kantin, Rasha melihat Alvan berjalan menuju meja yang di sana sudah ada Arga, Aldi dan Ergi. Rasha menghembuskan nafasnya mencoba tenang, lalu ia berdiri tepat di samping Alvan yang kini sudah duduk di samping Aldi.


Alvan menatap Rasha yang berdiri di sampingnya, ia mengerutkan keningnya sebentar, lalu ia membawa tangannya menepuk bangku yang ada di sebelahnya. Rasha menatap Alvan dengan bingung.


Alvan menghembuskan nafasnya dengan kasar sebelum menarik lengan Rasha, sehingga Rasha duduk tepat di sebelah Alvan. Tatapan siswa siswi kini tertuju kepada Rasha dan Alvan, rasa cemburu pun mulai hinggap di hati para siswi, membuat iri saja.


"Wih, Adek Rasha darimana aja? Babang Alvan cape tuh dari tadi nyariin." Ucap Aldi, Rasha yang mendengar itu hanya dapat tersenyum kikuk.


"Kamu dari mana Sha? kamu gak papa kan? mau aku pesenin makanan?" Tanya Arga, Rasha kembali tersenyum dengan sebuah gelengan kecil.


"Gak papa ko Kak, gak usah Kak, Rasha gak laper ko." Balas Rasha lembut.


Alvan yang melihat kedekatan Rasha dan Arga menatap tajam Arga, sepertinya ia tidak suka dengan itu.


"Pesenin gue jus alpukat, es nya sedikit, susu nya yang putih jangan yang cokelat, gelasnya harus bersih, di sterilin dulu, juga pesenin bakso jangan pake seledri jangan pake mie sama garemnya sedikit aja." Ucap Alvan tiba tiba kepada Rasha.


Rasha yang mendengar penuturan Alvan kini hanya bisa termenung diam, mencerna apa saja yang sudah Alvan katakan.


"Woy!"


Rasha kembali tersadar lalu mengangguk kecil. Alvan pun memberikan uang seratus ribu kepadanya, Rasha pun dengan cepat menerima uang itu dan beranjak bangun dari duduknya.


"Lo gak salah Al, perasaan Lo gak kaya gitu dah biasanya, nyuruh Rasha beliin makanan aja sebegitu ribetnya, gue aja yang dengernya berasa lagi denger rumus matematika dah, ribet amat." Ucap Ergi, sembari menggeleng gelengkan kepalanya.


"Terserah gue." Balas Alvan cuek.


"Lo inget kan?" tanya Alvan kepada Rasha, Rasha yang belum pergi kemudian mengangguk kecil.


"Lo beneran inget?" Tanya Aldi dengan wajah tak percayanya. Rasha mengangguk kecil sembari tersenyum manis.


"Coba Lo sebutin, apa aja." Ucap Alvan.


"Emm, jus alpukat es nya sedikit, susunya pake yang putih, gelasnya harus bersih udah di sterilin, terus bakso gak pake seledri juga gak pake mie, garem nya sedikit aja." Tutur Rasha dengan lancar, membuat Aldi, Ergi dan Arga menganga dibuatnya, bahkan Alvan pun sama terkejutnya tapi masih bisa menyembunyikan wajahnya itu.


"Lo pantes aja dapet beasiswa, otak Lo encer sama kaya otak bayi, wow." Ucap Ergi sembari mengacungkan kedua jempol nya.


Rasha pun hanya tersenyum Pepsodent lalu berjalan menjauh untuk dapat memesan pesanan Alvan.


Setelah Rasha memdapatkan semua yang Alvan inginkan ia kembali menuju meja tempat dimana Alvan berada bersama teman temannya itu, terlihat mereka berempat tengah mengobrol, Aldi dan Ergi yang tengah bercanda ria, Arga yang ikut tertawa dengan candaan Ergi dan Aldi, dan si pengeran dingin Alvan Pratama yang menatap teman temannya dengan wajah bak es.


Rasha menarik nafasnya sebentar lalu kembali melangkahkan kakinya, ia menyimpan jus alpukat dan bakso yang sudah ia dapatkan, tak lupa Rasha memberikan uang kembaliannya kepada Alvan.


Alvan pun segera membernarkan posisi duduknya, lalu ia menatap Rasha yang masih berdiri diam di tempatnya.


"Udah kan Kak, sekarang apa boleh Rasha pergi?" tanya Rasha kepada Alvan, dengan wajah ragu.


Alvan bukannya menjawab malah menarik lengan Rasha membuatnya kembali duduk. Lalu ia menatap Rasha dan memberikan aba aba dengan dagunya agar Rasha melihat ke arah bakso di hadapannya.


"Suapin gue." Ucap Alvan sesingkat mungkin dengan nada tak bersahabat nya.


Rasha mengerutkan dahinya sekilas lalu tatapan tajam itu kembali tertangkap oleh mata Rasha, dengan cepat Rasha pun meraih sendok yang ada di depannya. Rasha menyendok satu bakso kecil yang siap ia berikan pada Alvan.


Saat sendok itu berhasil sampai di depan mulut Alvan, bukannya membuka mulut Alvan malah menggeleng gelengkan kepalanya. Rasha yang mendapati itu merasa bingung.


"Tiup." Ucap Alvan lagi sangat singkat.


Ketiga orang yang berada disitu semakin menganga dengan apa yang Alvan lakukan, Aldi, Ergi dan Arga tak menyangka dengan apa yang dilakukan seorang Alvan Pratama.


"Gue gak salah liat kan?" tanya Aldi, Ergi yang masih menganga menggelengkan kepalanya.


"Si es batu minta di suapin, Ya Allah baru kali ini gue liat singa minta di suapin, awas ke gigit Sha." Ucap Aldi.


Arga juga sama terkejutnya dengan sikap Alvan, walau sering berganti kekasih, Arga belum pernah melihat Alvan bertingkah seperti ini kepada mantan mantan kekasihnya, selain gadis itu.


"Gue laper, cepet." Ucap Alvan lagi ketika Rasha malah terdiam dan dengan cepat Rasha pun meniup kecil bakso yang ada di sendok lalu menyiapkan sendok itu ke mulut Alvan.


"Ahhh, jadi baper kan gue, Babang Arga, Egi juga lapew cuapin dong..." Goda Ergi sembari bertingkah manja kepada Arga dengan memukul mukul kecil dada Arga.


Rasha yang melihat hal itu tak bisa menahan senyumannya, ia tersenyum kecil melihat tingkah Ergi yang ada ada saja, bahkan kini Aldi ikut berpindah posisi ke samping kanan Arga dan melakukan hal yang sama seperti yang Ergi lakukan kepada Arga, membuat Arga menutup matanya jengah.


"Makannya Lo berdua jangan jomblo melulu, skincare an sana biar makin glow up biar tuh muka makin licin makin kinclong." Ucap Arga sembari mendorong Aldi dan Ergi.


Rasha kembali tersenyum kecil melihat tingkah mereka bertiga tak sadar jika sedari tadi Alvan tengah menatapnya, Alvan sebenarnya berniat untuk membuat gadis di hadapannya ini menyesal karena telah memakai barang berharganya itu, tapi entah mengapa ia seperti tak bisa melakukannya.


Maka dari itu Alvan melakukan hal gila ini, tapi ternyata Alvan sedikit menyukai hal ini, tidak seperti dengan gadis lainnya, Rasha memiliki daya tarik yang berbeda, Alvan seperti semakin tak ingin melepaskannya dengan mudah, apalagi melihat senyuman Rasha yang terlihat begitu manis, walau dengan wajah culunnya, Alvan tetap merasa senyumannya itu begitu manis.


Rasha yang tersadar kembali menyendok bakso dan berniat menyuapkannya lagi kepada Alvan, namun baru saja ia akan membawa sendok itu ke wajah Alvan, Rasha mendapati matanya dengan mata Alvan saling bertemu.


'Tampan.' Hanya itu yang ada di benak Rasha, wajah tampan Alvan.


Alvan pun terdiam menatap dua bola manik mata yang indah milik Rasha di balik kaca mata tebal itu, Alvan seakan tersihir.


"Wittwiyyy, ada yang maen tatap tatapan nih.." Ucap Ergi ketika melihat Rasha dan Alvan yang saling terpaku.


Rasha dan Alvan pun kembali sadar, tak lupa Alvan menatap tajam Ergi yang berani menggodanya, bukannya takut Ergi malah terus menggodanya dengan berpura pura ketakutan dengan memeluk Arga.


"Ahh, tatut! Babang Alvan jahat kaya singa garong!" Godanya, Alvan yang sudah biasa hanya bisa mendengus kecil lalu kembali menatap Rasha.


"Tambahin pedes." Ucap Alvan pada Rasha, Rasha pun dengan cepat meraih botol cabe di hadapannya dan menumpahkannya pada mangkuk bakso Alvan, namun tak sengaja Rasha menunmpahkannya sedikit lebih banyak, membuatnya membelakakkan mata sebentar lalu dengan cepat menyimpan botol cabe itu seperti tak terjadi apa apa. Rasha pun dengan cepat mengaduknya perlahan, lalu kembali menyendok satu bakso kecil dan menyuapkannya ke mulut Alvan.


Alvan melahapnya, lalu satu kunya dua kunyah, Alvan pun berhenti, pipinya berubah menjadi merah, Rasha yang melihat hal itu sudah sangat ketakutan terkena amukan Alvan.


"Kak, kak Alvan gak papa? kepedesan?" tanya Rasha, bukannya menjawab Alvan menggeleng kecil, padahal mulutnya sudah berasa seperti terbakar, tapi Alvan malu untuk berkata jujur, nanti malah Alvan di tertawa kan oleh ketiga temannya itu.


Dengan susah payah Alvan mengunyah dan menelan bakso itu, walau wajahnya sudah memerah.


"Lah Al, Lo kenapa? tuh muka udah kaya badut aja." tanya Ergi, Alvan tak menghiraukan itu, ia masih bersikap kuat dan meneruskan mengunyah bakso itu.


"Gue gak kenapa kenapa, emang kenapa, hah?" jawab Alvan dengan susah payah, kini keringat sudah membasahi sisi sisi wajah Alvan.


"Kak Alvan mau minum?" tanya Rasha. Alvan pun mengangguk kecil lalu dengan cepat Rasha memberikan jus alpukat yang sudah di pesan tadi.


Alvan dengan cepat meminum jus Alpukat itu sampai setengah gelas, membuat


"Lo kepedesan Al? bilang dong jangan pura pura kuat, biasanya juga gak suka pake pedes, baby Alvan kan jadi kepedesan tatian ..." goda Aldi dengan tawanya, kini Arga dan Ergi pun ikut tertawa melihat Alvan yang kepedasan.


"Sialan yah Lo pada." Kesal Alvan.


Kini Rasha tengah menatap Alvan dengan wajah bersalah nya karena dirinya yang ceroboh membuat Alvan kepedasan seperti itu, tak sadar Rasha mengambil tissue dan membawa tangannya ke arah kening Alvan, sontak Alvan yang juga terkejut dengan apa yang Rasha lakukan diam tak berkutik.


Alvan kini mengepal kuat lengannya di bawa meja, ia sadar kini gadis culun di hadapannya tengah bersikap sok perhatian dengan mengelap keringatnya, namun apa yang Alvan lakukan, hanya diam tak berkutik.


'Lo kenapa sih Al! Lo malah gak bisa apa apa di depan cewe culun kaya dia! argh!' batin Alvan sedikit kesal, namun memang tubuhnya yang berbanding terbalik dengan pikirannya.


Rasha yang sadar akan tatapan Alvan langsung saja menjauhkan tangannya itu, lalu meminta maaf.


"Emm, ma, maaf Kak," ucap Rasha, Alvan tak menghiraukannya dan kembali membawa gelas yang berisi jus alpukat dan langsung meneguknya sampai habis.


"Kak Alvan mau makan bakso lagi?" tanya Rasha dengan lembut, Alvan yang mendengar pertanyaan Rasha langsung saja melotot tajam ke arahnya.


"Tuh babang Al mau makan bakso nya lagi gak?" lanjut Ergi, Alvan pun menatap tajam ke arah Ergi.


"Buat Lo aja Gi, gue kenyang bukannya Lo suka yang makan makanan bekas gue, banyak vitamin nya." Balas Alvan sembari menyodorkan mangkuk baksonya, Ergi yang mendapati tawaran Alvan langsung saja menggeleng keras.


"Gu, gue kenyang Al, Lo mah kaya gak tau aja, gue lagi diet nih." Balas Ergi mengelak, namun semua itu tak membuat Arga dan Aldi tetap diam mereka langsung saja beraksi, dengan Arga yang memegangi tubuh Ergi dan Aldi yang menyuapkan satu demi satu bakso ke dalam mulut Ergi dengan paksa.


"Lo berdua kejam yah, kalo gue masuk rumah sakit harus di operasi gimana woy! gue belum punya pacar belum nikah belum punya baby! Lo semua kejam yah! udah njir! setan Lo berdua!"


Arga dan Aldi bukannya menyudahi malah semakin menyuapkan bakso itu, sembari tertawa terbahak bahak.


"Mamahhh .. tolongin Egi! Aldi sama Arga jahat! Mamahhh..." teriak Ergi, membuat semua orang yang ada di kantin tertawa melihat hal itu.


Rasha pun ikut tertawa kecil melihat hal itudan tak sadar jika sedari tadi Alvan tengah memperhatikannya. Sampai saat Rasha menoleh dan mendapati matanya bertatapan dengan manik tajam Alvan.


Ia menyunggingkan senyuman yang tak dapat Rasha artikan. Rasha hanya terdiam sembari terpaku akan ketampanan seorang Alvan.


"Jangan ngehindar lagi dari gue mulai sekarang! mulai besok Lo harus selalu ada di samping gue, makasih buat suapannya." Ucap Alvan sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Rasha sehingga membuatnya menahan nafas, lalu tak lupa senyuman andalan Alvan yang membuat Rasha semakin merasa tak karuan.


Alvan pun melangkah pergi meninggalkan Rasha diikuti Aldi, Ergi dan Arga.


"Wihh, Lo hebat banget dan bisa jadi mangsanya tapi kagak dia siksa, kayanya si Alvan suka sama Lo, teruskan bakat Lo yah." Ucap Aldi sembari mengedipkan sebelah matanya pada Rasha dan kembali berjalan mengikuti Alvan.


"Sha Lo masukin berapa banyak pedes sih? kalo Lo kasih ke si Alvan kagak apa apa, lah ini kenapa jadi gue yang apes, liat nih bibir seksi gue terbakar, sambalado hey, sambalado hey bibirku sambaladooo..." ucap Ergi dengan wajah memelasnya sembari menyanyi lagu Ayu tingting. Rasha merasa bersalah dan menatap Ergi dengan rasa bersalah.


"Maaf Kak, Rasha gak sengaja." Ucap Rasha, Ergi pun hanya membalasnya dengan kedipan mata.


"Gak papa ko, gue seterong, palingan besok masuk rumah sakit tekan, gak usah sedih kaya gitu, ya udah bye bye Rashanya Alvan." Lanjut Ergi, Rasha hanya tersenyum kecil sembari membalas lambaian tangan Ergi.


"Kamu gak papa kan, maaf yah Alvan memang suka gitu, tapi Lo beruntung dia gak terlalu berbuat hal yang aneh aneh, gue pun aneh sih tapi yah, untunglah, gue bakalan terus bujuk Alvan lepasin Lo ko, Lo yang sabar aja yah." Ucap Arga dengan senyuman manisnya mencoba menenangkan Rasha, Rasha kembali membalas senyuman itu dan Arga pun pergi meninggalkannya.


Kini hanya ada Rasha dan tatapan tatapan tajam dari siswi lainnya, daripada berlama lama Rasha pun dengan cepat membawa tubuhnya bangkit dan berjalan ke arah kelasnya.


"Dasar cewe culun sialan! harusnya yang siapin Alvan tuh gue bukan dia! liat aja berani beraninya Lo deketin cowo gue!" geram Caca di seberang meja yang sedari tadi di duduki Alvan dan Rasha.


Apakah Caca akan berbuat sesuatu kepada Rasha, padahal kan Rasha juga tak menginginkan hal tersebut, ini semua hanya ketidaksengajaan sehingga membuat Rasha terikat dengan seorang Alvan Pratama.