I'M PREGNANT!

I'M PREGNANT!
Menjadi mainannya



Rasha masih terdiam, dirinya tak bisa berkutik rasanya begitu sulit untuk membuka sedikit suara pun. Alvan menatap tajam ke arah Rasha meminta penjelasannya. Kini tangan Alvan semakin mempererat cengkeramannya, Rasha meringgis kecil mendapati lengannya yang terasa begitu sakit.


"Aww, to, tolong lepasin," rintih Rasha,


Arga yang melihat itu lalu menarik Rasha dari genggaman Alvan. Alvan menatap tajam ke arah Arga dan Arga tak tinggal diam ia langsung saja berdiri di depan Rasha mencoba menghalangi Alvan.


"Maksud Lo apaan si Al?" tanya Arga dengan sedikit rasa kesal.


"Bukan urusan Lo! minggir!" balas Alvan, sembari menyingkirkan Arga dari hadapannya, hingga terlihat Rasha yang kini tengah berdiri ketakutan.


Arga yang hendak membantu Rasha di larang oleh Aldi dan Ergi, mereka tahu jika Alvan sudah semarah itu maka itu sudah berakhir tak ada cara untuk mencegah semuanya.


Alvan mendekati Rasha yang semakin ketakutan ketika jarak di antara mereka sudah semakin dekat.


"Gue tanya darimana Lo dapetin gelang itu!" geram Alvan, Rasha menelan ludahnya dengan susah payah.


"A, aku gak sengaja lihat di ruangan Loker Kak," Akhirnya, balas Rasha dengan suara kecil.


Alvan yang mendengar itu membawa lengan Rasha kembali dan melepaskan gelang itu dengan kasar.


"Aww," rintih Rasha lagi, ketika Alvan menarik gelang itu dengan paksa sehingga membuat goresan kecil di lengannya.


Alvan menatap tajam ke arah Rasha, ia menarik dan mendorong tubuh Rasha sehingga menabrak tembok di belakangnya. Alvan meletakkan satu tangannya di samping wajah Rasha, membuat tubuhnya bertompang pada tembok.


"Berani nya Lo pake gelang ini, hah!" ucap Alvan.


"Ma, maaf Kak a, aku gak sengaja," balas Rasha.


Alvan yang mendengar jawaban Rasha menggertakkan giginya geram, ia membawa wajahnya mendekat ke samping wajah Rasha, lalu,


"Gak sengaja kata Lo! dasar cewe gak tau malu! karena Lo udah lakuin hal yang gak sepantasnya Lo lakuin, mulai hari ini Lo gak akan bisa lepas dari gue!" bisik Alvan tepat di telinga Rasha, membuat Rasha bergidik ngeri.


Alvan melepaskan Rasha lalu menghadap ke arah para siswa-siswi yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua. Alvan tersenyum sinis lalu dengan pasti Alvan menarik lengan Rasha lalu menyimpan lengannya di bahu Rasha membuat Rasha berdempetan dengan tubuh Alvan.


Rasha membelakak, ia terkejut dengan apa yang Alvan lakukan.


"WOY, LO SEMUA DENGER! MULAI HARI INI DIA BAKALAN JADI CEWE GUE, ARTIAN GAK ADA SATU ORANG PUN YANG BOLEH NYENTUH DIA SELAIN GUE! NGERTI!" teriak Alvan, membuat semua orang terkejut terutama Rasha yang kini masih berada di gandengan Alvan.


Arga, Aldi dan juga Ergi membelakakkan matanya tak percaya dengan apa yang Alvan ucapkan.


Bagaimana bisa? seorang Alvan memilih Rasha seorang gadis culun sebagai kekasihnya. Itu membuat suatu kericuhan baru yang menjadi perbincangan banyak siswa-siswi SMA Anugerah.


Di sisi lain seorang gadis tengah mengepalkan lengannya dengan kuat ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.


'Gue cewe Alvan! bukan dia, kenapa! kenapa cewe culun itu bisa ambil Alvan dari gue! kenapa!' batin Caca kesal.


Alvan menatap Rasha yang kini masih terkejut akan perkataannya, ia tersenyum sinis lalu mendekatkan wajahnya lagi pada wajah Rasha.


"Mulai hari ini, hidup Lo gak akan pernah tenang, selamat udah bisa jadi cewe seorang Alvan Pratama, congrats." Bisik Alvan diakhiri dengan senyuman iblisnya.


Setelah itu Alvan langsung saja pergi dan meninggalkan Rasha yang masih membatu di tempatnya.


Aldi dan Ergi yang melihat Alvan pergi langsung saja mengejarnya, lain dengan Arga yang kini berjalan mendekat ke arah Rasha yang masih terdiam ditempatnya.


"Sha," panggil Arga, Rasha menoleh lalu tersenyum kecil.


"Kak, Kak Arga," balas Rasha, dengan nada paraunya.


"Lo gakpapa? gue minta maaf gabisa bantuin Lo tadi, tapi gue bakalan coba buat bujuk Al lepasin Lo, oke." Ucap Arga menenangkan Rasha, dan itu membuat Rasha tersenyum kembali ke arah Arga dengan manis.


"Aku gakpapa ko Kak, ini emang salah aku yang ceroboh, makasih yah Kak udah mau bantu aku. Tapi, mulai sekarang, biar Rasha yang beresin semuanya." Balas Rasha, ia masih saja dapat tersenyum di keadaannya kini.


Arga menatap ke arah lengan Rasha yang terluka, ia langsung saja meraih pergelangan lengan Rasha dan melihat sedikit luka goresan itu.


"Tangan Lo luka, biar gue obatin." Arga mencoba mengajak Rasha ke arah UKS, namun Rasha dengan cepat melepaskan genggaman Arga.


"Gakpapa Kak, ini cuman luka kecil ko, Rasha gakpapa." Tolak Rasha, tanpa menunggu balasan Arga ia langsung saja melangkah pergi meninggalkan Arga yang terdiam melihat dirinya yang menjauh.


Rasha bukannya tidak mau di bantu oleh Arga, tetapi ini mungkin jalan terbaik, Rasha berpikir bahwa memang tidak baik untuk terus menerus berurusan dengan Arga dan teman-temannya, lihat saja, kini Rasha harus mendapatkan sebuah masalah yang besar, dirinya harus berurusan dengan seorang Alvan Pratama, lelaki dingin yang kini berstatus menjadi kekasihnya.


Bukan rasa senang ataupun bahagia yang Rasha rasakan kini, melainkan rasa takut dan gelisah karena dirinya baru saja memasuki sebuah lubang hitam yang menjerumuskannya. untuk tak dapat keluar lagi, dirinya harus dengan cepat melepaskan diri apapun caranya, karena Rasha tidak mau menjadi mainan bagi seorang Alvan Pratama.


_ALJERA_


Seorang Alvan Pratama kini tengah membaringkan tubuhnya di atas ranjang king size nya, ia menghembuskan nafasnya kasar, Alvan menatap penuh ke arah lengannya yang menggenggam sebuah gelang.


"Sampai kapan Lo mau pergi dari gue Fel?" ucap Alvan dengan mata yang berkaca-kaca.


Siapakah orang yang dimaksud Alvan, apakah dia adalah pemilik gelang yang tengah Alvan genggam. Sepertinya orang itu sangat berarti baginya, karena sampai kini Alvan masih saja terus memikirkannya dan berharap seseorang itu akan kembali.


Alvan pun segera menghentikan aktifitasnya yang terus menerus menatap pada gelang itu, ia pun bersiap untuk segera pergi ke alam mimpi, karena besok ia masih harus bangun pagi untuk pergi ke sekolah dan besok adalah hari yang ditunggu tunggu nya, untuk bermain bersama dengan,


Mainan barunya.


_ALJERA_


Rasha tengah berjalan menuju kelasnya, ia berharap hari ini akan menjadi hari yang tenang. Hari kedua dirinya masuk ke sekolah elit ini, Rasha harap bisa bersekolah dengan baik, Rasha pun menyemangati dirinya sendiri, ia tersenyum penuh semangat, ia segera masuk ke dalam kelas dan langsung duduk di bangkunya.


Walau banyak tatap mata yang memandangnya, ia berusaha menghiraukan itu semua dan memutuskan untuk membaca sebuah buku yang sudah ia bawa dari loker tadi dan membacanya sampai Guru datang, ia rasa itu ide yang lebih baik daripada harus terus terganggu dengan para siswi lainnya.


Guru pun datang, Rasha menutup bukunya dan segera berdoa bersama dengan siswa-siswi yang lain. Setelah itu tak lama Pak Andre memberitahukan bahwa hari ini akan datang murid baru lainnya, lalu Pak Andre pun langsung saja memanggil nama murid itu, dan datanglah seorang siswi cantik berambut pendek yang sangat manis.


Rasha terpaku sebentar melihat kecantikan murid baru itu, dia begitu manis dan juga cantik apalagi dengan badannya yang bak model, juga senyuman manisnya, walau Rasha adalah perempuan tetap saja kecantikan gadis di depannya itu membuatnya terpaku.


Rasha yang ditunjuk membelakakkan matanya terkejut. Mana mungkin siswi baru itu mau duduk bersamanya.


"Ah, Rasha, kamu mau sebangku dengan Rasha, Rasha kamu tidak keberatan kan?" tanya Pak Andre pada Rasha,


Rasha mengendipkan matanya sekejap, lalu


"I, iya. saya gak keberatan kok Pak," jawab Rasha terbata karena terkejut dengan pertanyaan Pak Andre.


Natya tersenyum manis menoleh sebentar ke arah Pak Andre dan langsung melangkah ke arah bangku yang tengah diduduki Rasha. Hampir semua murid menatap tajam ke arah Rasha dan merasa aneh terhadap pilihan Natya yang mau saja duduk dengan Rasha yang culun itu.


"Hai, aku Natya, salam kenal." Ucap Natya memperkenalkan dirinya.


Rasha tersenyum membalas senyuman indah Natya, Rasha dengan ragu meraih tangan Natya yang menjulur kepadanya.


"Aku Rasha, salam kenal juga." Balas Rasha, Natya tersenyum manis sembari menggenggam lengan Rasha.


"Semoga kita bisa jadi temen deket yah, santai aja sama aku." Ucap Natya lagi, Rasha yang mendengarnya membalas dengan anggukan kecil tak lupa senyuman yang tak kalah manisnya dengan Natya.


Jam istirahat pun tiba, Rasha menghabiskan jam belajarnya dengan suasana yang berbeda, kini ada Natya yang siap menjadi teman sebangkunya sekaligus teman mengobrolnya.


Rasanya Rasha sangat senang dengan keadaannya kini, bisa berteman dengan Natya, seorang gadis manis, cantik, dan tidak hanya itu, Natya pintar juga baik, sangat sangat baik.


Natya yang mendengar bel berbunyi segera menutup bukunya lalu menatap Rasha dengan wajah berbinar.


"Ayo ke kantin!" ajak Natya yang begitu antusias.


Rasha yang melihat wajah antusias Natya tersenyum kecil lalu mengangguk. Namun, baru saja Rasha dan Natya melangkahkan kakinya untuk keluar kelas, mereka berdua dihadang oleh satu tubuh besar dan kekar seorang lelaki.


Natya dan Rasha pun segera menatap siapa orang yang tengah berdiri di hadapan mereka itu, dan,


"Kak Alvan," ucap Rasha dengan nada kecil.


"Kak Al!" begitu pula Natya, dirinya menyebutkan nama Alvan dengan raut wajah gembiranya, layak seseorang yang begitu mengenal Alvan.


"Ka, kamu kenal Kak Alvan?" tanya Rasha pada Natya, yang terkejut melihat Natya yang sepertinya mengenal Alvan.


"Ya iyalah, aku sama Kak Alvan udah Deket dari kecil, iya kan Kak?" jawab Natya dan balik bertanya pada Alvan ingin memastikan hubungannya.


Alvan juga sedikit terkejut melihat Natya yang kini tengah berada di hadapannya bersama Rasha, namun keterkejutannya itu masih bisa ia sembunyikan, Alvan hanya mengangguk kecil dengan raut wajah santainya.


Rasha yang melihat Alvan mengangguk hanya membenarkan perkataan Natya dan kembali menoleh kepada Natya.


"Kak Alvan mau ngapain kesini?" tanya Natya.


"Gue mau jemput mainan gue." Jawab Alvan dingin sembari menatap Rasha dengan tatapan yang tak bisa Rasha jelaskan.


"Ma, mainan? maksud Kak Al?" tanya Natya tak mengerti, sedangkan kini Rasha tengah menelan ludahnya yang sudah mengering.


Alvan membawa dagunya seakan akan menunjuk ke arah Rasha, membuat Natya menatap bingung ke arah Rasha.


"Rasha?" ucap Natya bingung.


"A, aku ke toilet dulu yah Nat, nanti aku nyusul aja ke kantinnya." Ucap Rasha tiba-tiba, dirinya ingin cepat cepat pergi dan terbebas dari suasana canggung itu.


Namun, ketika Rasha hendak melangkah sebuah tangan menghadang di depan wajahnya, tangan Alvan kini menghadang Rasha bertumpu pada sisi pintu.


Rasha terkejut dan terdiam, ia mengangkat wajahnya sedikit sehingga bertatapan dengan wajah Alvan yang kini menggeleng kecil sembari tersenyum iblis. Natya yang tak mengerti dengan keadaan yang kini terjadi menatap mereka berdua dengan tanda tanya.


Tiba tiba Caca datang dan langsung saja menerobos ke arah Natya dan Rasha memeluk tubuh kekar Alvan, membuat Alvan sedikit terdorong kebelakang sehingga tumpuannya terlepas, dan Rasha dengan segera memanfaatkan keadaan tersebut untuk pergi meninggalkan Alvan, Natya, juga Arga, Aldi dan Ergi yang sedari tadi berada di belakang Alvan.


"Kak Alvan, Kakak cari aku? aku kangen banget sama Kakak, kita ke kantin yuk, biar Caca temenin yah, Kak Alvan ayuk." Ajak Caca tiba tiba membuat sorot tajam tertuju padanya, Caca yang melihat itu semakin mengeratkan pelukannya pada Alvan yang sama sekali tidak berniat membalasnya.


Natya yang melihat itu langsung saja menarik kerah seragam Caca, membuatnya menjauh dari tubuh Alvan.


"Lo ngapain main nyosor kaya gitu! gatau etika banget, emang Kak Alvan siapa Lo sampe Lo peluk peluk kaya guling aja!" ucap Natya dengan sinis pada Caca.


Caca membalas tatapan tajam Natya ia melepaskan genggaman Natya pada kerahnya dengan susah payah, karena genggaman Natya yang begitu kuat.


"Bukan urusan Lo! lagian Lo harus tau disini gue pacar Kak Alvan!" bentak Caca pada Natya.


Natya memutarkan bola matanya tak percaya, ia menoleh sekilas pada Alvan yang kini menaikkan bahunya seakan menjawab pertanyaan Natya tentang perkataan Caca.


"Dasar Lo cewe ganjen! mana ada Kak Alvan mau sama Lo!"


Disaat Natya dan Caca sedang beradu mulut, Alvan malah menghiraukannya dan lebih memilih pergi mengejar Rasha, dirinya tak sabar ingin cepat bertemu dengan mainan barunya itu, sepertinya akan menarik.


"Kak Al! mau kemana?" teriak Natya, ketika melihat Alvan yang sudah pergi menjauh.


"Bye bye Natya cantik, jangan mau kalah yang sama inces Caca." Ucap Ergi ketika akan mengejar Alvan yang sudah berada jauh di depan.


Alvan yang tengah berlari kecil sembari tersenyum nakal, dirinya tengah memikirkan hal apa saja yang akan ia lakukan kepada Rasha, sampai sampai ia semakin mengencangkan larinya untuk segera bertemu dengan Rasha.


Begitu pula Arga, Aldi dan Ergi yang mengikuti Alvan di belakang.


"Woy Al! tungguin gue!"


"Alvan sayang! jangan tinggalin Bebeb Aldi dong!"


"Ayang Alvan, ayang Ergi cape nih ngejar ayang Alvan, pelan pelan dong larinya ayangkuuuu..."


Goda Aldi dan Ergi yang membuat siswa siswi yang mereka lewati tersenyum geli mendengarnya, bahkan kini Arga tengah menggeleng gelengkan kepalanya karena melihat kelakuan dua sahabat gilanya.