
Gunther Cunninghan menahanku, badannya jauh lebih besar daripada saat ia masih bocah ingusan. Jika kalian mampu melihat betapa khawatir raut wajahnya saat ini, aku yakin kalian pasti ingin memperbolehkan pria ini membantu. "Aku bisa mengantarkamu pulang, nona embun"
Tapi sayangnya Embun Mentari tidak boleh terbohongi oleh wajah yang telah memberikan beban di masa lalu, aku tidak mungkin mengulanginya lagi.
"Aku membawa mobilku sendiri" jawabku "aku bisa pulang sendiri".
Friendick Tillbury langsung menarik kunci mobil yang kugang dengan erat tanpa membutuhkan kekuatan yang berlebihan, "Katakan saja dimana kau memarkir mobilnya"
Aku tidak habis pikir! mereka kira mereka keren? apa maksudnya mengambil barangku, aku langsung menarik lengan Friedrick, "Jangan ambil barangku seenaknya" mataku berapi-api.
Pria itu menghela napas panjang, "Gunther, aku akan mengikuti kalian dari belakang. Kau yang setir" ia langsung melemparkan kunci mobil mentari pada sahabatnya itu.
Anette memelukku "Embun, tolong biarkan mereka mengantarkamu,,, aku tidak mau kamu kecelakaan atau apalah.. tolong" oh wanita ini memang begitu lembut.
aku menggangguk dan sambil memasang wajah kesal melangkan duluan, tapi tepat sebelum itu Friedrick memasangkan jasnya padaku.
"Apa ini!" ujarku spontan. "Tidak Perlu galak begitu, bajumu kotor karena terjatuh tadi." Friedrick langsung berjalan bertolak belajang dari mentari dan Gunther.
Gunther memberikan lengannya padaku, "Lebih baik anda berpegangan pada saya,,,".
seketika jantungku berdetak dengan kencang, mereka seperti orang-orang yang tulus. Apalagi dengan-- Ah! lupakan!
----
Kami sekarang berada di mobil yang sama, mobilku dengan berbagai bajuku yang tidak sempat kurapihkan di kursi belakang, serta ada sisa marshmellow dan samyang di depan deck mobilku. Oh keparat.
"Maaf...mobilku tidak begitu menyenangkan, akan kubuang nanti" ujarku malu.
Gunther menyembunyikan senyumannya sambil mengalihkan padangannya dariku, tapi sialam! aku tahu ia menganggapku konyol!
"Mie dan Marshmellow, apakah taste mu begitu petualang?" ujarnya dengan wajah berseri-seri.
Aku tidak mampu mengendalikan wajahku yang memerah, "Setiap kali makan pedas aku butuh yang manis, bukan berarti kumakan bersamaan" balasku.
Gunther Cunninghan sambil menyetir, ia membenarkan sandaran kursi, dan meraba-raba di tempat duduknya. Lalu ia menarik sesuatu dan mengeluarkannya "ah..." Gunther terdiam.
Oh ****! itu Thongs yang sempat kubeli dan tidak ketemu dimanapun! ternyata terselip saat kumemindahkannya! Astaga!
Aku langsung menarik thongs sutra itu dari genggaman si Gunther keparat.
Oh habislah diriku, padahal aku tidak ingin lagi berurusan dengannya! Atau aku ingin membuatnya sadar bahwa aku sudah menjadi wanita yang patut disegani! Tapi kenapaaa,,,
Tuhan, tolong lakukan sesuatu agar aku bisa cepat keluar dari mobil ini.
Gunther berusaha memulai obrolan "Aku tidak tahu anda begitu-" "Tidak peru dibahas" potongku.
"Apa itu tadi bersih?" tanyanya spontan dengan nada mengejek. "Tentu saja! itu masih baru dan aku baru saja ingin mengenakanny---" opps... aku kelewatan. Wajahku langsung berubah menjadi merah padam dan langsung duduk kembali dengan posisi membelakangi pria itu.
Lalu tidak lama aku mendengar suara tawa terbahak-bahak, "Kamu jauh lebih menarik seperti ini" ucapannya membuat bulu kudukku berdiri.
Apa maksudnya gunther cunninghan? apa kamu akhirnya mengingatku di masa lalu? atas semua caramu memperlakukanku dulu?
Aku berusaha memperbaiki sikap, dia tetaplan ENEMY! musuh yang aku harus jatuhkan! setidaknya sampai ia mengantarkanku pulang dengan selamat.
Gunther terlihat melirik ke belakang menggunakan kaca spion, "Maaf jika temanku membuatmu kesal, dia tidak bermaksud demikian. Dia pria yang sangat baik" Gunther berusaha menjadi sopan.
Aku sih tidak begitu percaya, justru Friendrick adalah otak dari pemBully-an semasa aku kecil. Those Little Rascals tidak mungkin tiba-tiba berubah menjadi malaikat! Tapi, kalau dilihat-lihat, kedua pria ini hebat juga ya masih bisa bersahabat sampai sekarang? apa mereka sungguh sedekat itu?
"Nona?" Gunther meletakkan telapak tangannya di dahiku, ya ampun tidak bisa bohong, tangannya yang kekar membuatku menahan napas "Apa masih ada yang sakit? perlu kita ke rumah sakit?" tanyanya khawatir.
Aku menepis tangannya sambil menepuk kedua pipiku, "Tidak! Ya semua baik-baik saja, aku ingin cepat pulang dan langsung minum Jamu!" .
"Jamu ini semacam ramuan?" Tanya gunther penasaran.
Giginya terlihat begitu indah, rapih, rahang yang lebar, coba saja bayangkan jika kamu dicium oleh orang semcam ini- Eh! Otak! apa yang kamu bayangkan! menjijikkan!
"Indonesia ya? dari situkah anda mendapatkan begtu banyak keunikan ini?" gunther terus menyetir sambil melanjutkan perbincangan.
selama perjalanan kami sibuk membicarakan Jamu dan berbagai makanan khas indonesia lainnya. Jangan salahkan aku, mungkin ia memang musuh, tapi menariknya lebih dalam ke lautan keragaman indonesia itu adalah cara yang tepat, biarkan ia masuk dan terjerembab dalam kekayaan kita wahai warga indonesia lainnya. Siapa yang tidak bawel ketika membicarakan tanah kelahiran yang begitu eksotis? oh ya aku juga begitu.
akhirnya kami sampai, Home Sweet Home.
tepat sebelum aku membuka pintu, seseorang telah membukanya terlebih dahulu. Matanya menatapku dengan tajam, Friedrick. Aku keluar tanpa membalas apapun.
"Ini kunci mobilmu nona, jangan sampai ketinggalan" Gunther melemparkannya padaku.
"Nice catch!" pujinya.
Jarang sekali ada pria yang begitu santainya berada bersamaku, menyenangkan juga bisa ngobrol dengan musuh seperti ini.
Kaki Gunther berhenti sebelum masuk ke mobil Friedrick. ia berbalik lagi lalu mendekatiku dengan berjalan layaknya pria penuh dengan kepercayaan diri.
"Soal Nirvana Avenue, apa kita masih bisa membicarakannya?" oh lontaran yang tidak kusangka sebelumnya.
Aku berusaha menyembunyikan wajah bahagia atas kabar baik ini, tapi mari kita berpura-pura kecewa dulu, "Mohon maaf Mr.Cunninghan" ujarku dengan mata sendu. Tanganku mengitari badanku dan menghela napas tersedak, "Aku tidak mau dianggap sebagai kaum rendahan pendatang baru di lingkungan Nirvana Avenue, sungguh aku pikir aku tidak pantas".
Gunther Cunninghan menelan ludahnya, dan berusaha meyakinkanku dengan, "Aku rasa anda sudah sangat cukup pantas, terlebih dengan surat referensi dari Sir Robinson aku yakin anda akan diterima dengan sungguh hangat oleh para warga" ujarnya sambil berusaha meyakinkanku.
Aku tidak menyangka hanya karena aku bercerita Jamu, temulawak dan berbagai hal random dari Indonesia dapat mengantarkanku lulus sebagai warga dari lingkungan ter-elit diseluruh negara federal ini.
Tapi, Friedrick yang dari tadi bersandar di sambil Mobil Fortuner Hitam miliknya akhirnya melontarkan kalimat, "Lagipula kau juga pernah tinggal disana bukan? tidak perlu bermain drama, tidak ada yang menakjubkan dari perumahan menyilaukan itu" ujarnya dengan nada sarkastik.
Aku memicingkan mataku, aku harus mengontrol emosiku, jangan sampai terpancing.
"Tunggu, anda pernah tinggal di Nirvana Avenue sebelumnya? Betul, benar juga ya, saat itu aku tidak begitu memerhatikan karena anda memberikan tatapan penuh pertikaian padaku" kata Gunther yang sebenarnya memang betul.
"Ya, tapi itu sudah lama sekali, dan sebenarnya tidak begitu penting. Kupikir Nirvana Avenue adalah tempat yang tepat untukku, sepertinya tidak. Apa lagi seperti yang anda katakan Tuan Cunninghan, tidak ada alasan yang bagus untuk menerima seorang Embun Mentari yang bukan siapa-siapa ini,,, jadi Gentlemen, saya pamit untuk beristirahat di tempat tinggal yang sederhana dan ramai dengan kejahatan akhir-akhir inni" beberapa langkah setelah aku mengucapkan pernyataanku, tiba-tiba.
"Besok apa anda ada waktu kosong? Saya akan mempersiapkan berkas-berkasnya dan anda bisa melihat tempat tinggal baru anda" Gunther Cunninghan megucapkannya dengan sangat lantang!
Oh demi tuhan! Wajahku tidak dapat ku kontrol! untung saja badanku berbalik dari mereka, tapi saatnya kembali menjadi anggun embun mentari.
Perlahan aku menoleh kebelakang, tersenyum dengan wajah penuh haru dan mengatakan, "Terimakasih Mr.Cunninghan" mendekatinya, lalu meraih kedua tangannya "Aku tidak sabar untuk menempati rumah terbaik di Nirvana Avenue" sambil tersenyum lebar.
Lalu sambil berlari masuk membuka pintu apartemen kecilku, "Sampai jumpa besok!".
Yass!! jadi begitulah! akhirnya! akhirnya aku bisa masuk lagi dan memulai rencana penghancuranku lagi!
Tidak adakah yang lebih baik dari ini?
Ngomong-ngomong, Friendrick sempat mengatakan "Lagipula kau juga pernah tinggal disana bukan? tidak perlu bermain drama, tidak ada yang menakjubkan dari perumahan menyilaukan itu" aku yakin ia mengucapkannya dengan sangat lantang. Lihat saja dirinya!
Aku membuka sediki penutup jendela dan memperhatikan kedua pria itu masuk ke mobil mereka, Friedrick Tillbury, apa yang sedang kamu mainkan? jika ia memang mengingatku? kenapa tidak membocorkannya pada sahabatnya sendiri? bagaimana mereka berdua menghancurkan hidupku saat itu! Huft! pokoknya apapun itu, Friedrick Tillburry harus menjadi Highlight penting, jangan sampai ia justru mempermainkanku lagi.
"Lihat saja Gunther Cunninghan dan Frederick Tillburry! kalian akan kupermalukan dann tidak akan pernah melupakannya seumur hidup kalian!" aku berpose layaknya pemeran antagonis di film kartun "Bwahahahahaha!!!".
Besok, apa yang harus kukenakan ya?
menurut kalian?
perlukah aku tampil elegant dan mahal
atau bergelora dan seksi?
Hmmm Lets seee