
Pengamanan berlapis-lapis. Untung saja aku membawa dokumen bertanda tangan kakekku, namanya Rob Robinson. Aku tidak mengenalnya sama sekali, tapi sepertinya semuanya sudah diurus.
Aku dan mobil Alphard ku bisa melewati pos penjagaan. sangat moderen, sebenarnya biasanya ada sensor khusus mobil penghuni Nirvana Avenue, dan berbagai hal teknis untuk mempermudah akses.
Tapi karena aku 'Calon Penghuni Baru' Orang-orang marketing memang sengaja memperketat pengamanan untuk menunjukkan seberapa serius mereka bekerja.
Aku mengenakan Atasan Silk berwarna Hijau tua, Rambut merahku begitu membara, serta Sepatu kulit buaya begitu membuatku kelihatan seperti orang yang tahu cara bergaya tapi tidak terlalu kamopungan.
Sampailah aku di Gedung Office Nirvana, seperti hotel, tidak bahkan seperti laboratorium super canggih dengan sentuhan estetik marmer dan lukisan kontemporer.
Tidak peduli seberapa mahal semua materials dan pengerjaan bangunan ini, tatapan mereka masih sama. Para budak kapitalis dengan tatapan sinis yang menggerogotimu sampai ke usus, Diam-diam mereka senang menghujat setiap pengunjung dan penghuni, merasa seolah mereka paling hebat dan orang-orang sepertiku tidak level berada dengan mereka yang walaupun hanya pekerja.
menjijikkan.
Tapi tidak hari ini, Aku sangat percaya diri, bukan hanya karena aku memang kaya, tapi karena aku sudah dewasa jauh berbeda dari 14 tahun lalu. Aku pintar, dan dengan kepintaranku aku akan menjatuhkan mereka semua yang berani mempermalukanku.
Aku tiba di Receptionist, paling sombong diantara semua. Tidak ada senyum, siap membuat orang yang bukan siapa-siapa mundur dan kembali pulang.
"Apa ada yang bisa saya bantu" ia bahkan tidak menatap mataku.
"Aku ingin tinggal disini" ujarku.
"Nama anda nyonya? " ia sepertinya mencari namaku di data komputer.
"Aku ragu kamu akan menemukan namaku disitu, tapi aku membawa dokumen yang diperlukan, dan bisakan hari ini langsung untuk di proses? karena aku punya banyak kerjaan dan ingin cepat menyelesaikan semuanya" ujarku pura-pura ramah.
wajahnya kelihatan sekali sangat malas, ia benci membaca dokumen satu-persatu dan meladeni orang yang kelihatan tidak begitu tajir sepertiku.
Tapi bodo amat, aku malas bertele-tele. Dan untungnya sudah ada rekomendasi dari salah atu penghuni disini juga, tanda tangan kakek sangat membantu.
tapi kenyataan aku boleh diterima atau tidak tinggal disini tetap dari persetujuan orang Nirvana yang akan menginterview ku.
"Sebenarnya biasanya kami harus membuat janji terlebih dahulu" ujarnya seolah akan menolakku.
"Bisakah untuk hari ini saja? aku sudah jauh-jauh kemari" dasar sok jual mahal, bisikku dalam hati.
akhirnya ia seperti menelpon seseorang, walau aku tahu tidak ada siapapun di telpon itu. Akal akalan marketing.
"Baiklah, tolong tunggu sebentar ya" ujar si receptionist.
Aku tersenyum lalu berbalik. Wajahku langsung berubah setelah ia tidak melihat, memang menjijikkan tempat ini.
- - -
"Tunggu disini ya nyonya, sebentar lagi pewawancaranya akan tiba" lalu si mbak-mbak receptionist nya menghilang.
Ruangan ini sangat kuno dibanding semua tempat yang lain, memang memberikan kesan Aristroktat jaman dulu. Banyak Piala dan sertifikat internasional dipajang. Beberapa petinggi serta artis ternama dipanjang fotonya selama tinggal disini, tidak ada artis baru sih, kebanyakan sudah tidak terkenal.
sepertinya mereka juga kesulitan mendapatkan hati anak-anak muda. Ya wajar saja, dengan pelayanan mengerikan semacam ini pasti mereka lebih memilih tinggal di apartemen mahal dan perkotaan yang glamor.
"Sialan Lama sekali sudah 30menit! " aku mulai jengkel.
hingga akhirnya aku mendengar suara dari luar,
"Aku tidak suka waktuku dipakai untuk mewawancara orang!" suara lelaki.
"Anda bisa mewawancaranya seadanya lalu pergi saja" itu suara si receptionist tadi! So rude!
"Haah... memangnya dia siapa? " tanya si pria sudah sangat tidak tertarik.
"Bukan siapa-siapa" balas si receptionist.
oke receptionist itu akan ku tulis sebagai orang yang mesti kuberi pelajaran. mengerikan sekali.
dan sebelum ku ketahuan menguping lewat pintu, ku lari dan duduk dengan anggun.
"Akhirnya ada yang datang juga" ujarku seolah semangat.
"Ah" ia sedikit terkejut dan menatapiku, "Ya, nyonya calon penghuni yang sepertinya sudah tidak sabar untuk tinggal disini" ujarnya.
"Ya betul, maaf mengganggu waktu Anda yang berharga" jawabku sambil tersenyum polos.
"ya?" ia seperti tidak paham
"Aku sedikit mendengar kalau Anda tidak suka menginterview orang dan ada hal lebih penting lain yang mesti dilakukan" oke sarkasme ku keluar juga.
dia tertawa "Tidak tentu tidak, maaf membuat nyonya menungguku, sebuah kehormatan".
Tapi setelah aku berusaha menatap pria yang akan menginterview ku, aku menyadari satu hal. Dia orang yang kutemui! di Pemakaman ben!
"Jadi, anda mendapat bagian dari tuan Robinson. Beliau pria yang sangat menakjubkan" pujinya basa basi.
lagipula ternyata dia juga bagian dari Nirvana Avenue, sungguh menyebalkan. Walaupun ia sangat tampan.
"Jadi mengapa Anda ingin tinggal disini? " tanya si pria itu.
"Karna saya membenci tempat ini" ujarku sambil tersenyum.
pria itu sepertinya tertarik ia juga ikut tertawa terbahak-bahak.
"Sunggu alasan yang sangat jarang, nona-"
"Embun Mentari" jawabku.
ia mengangkat sebelah alis, "Benar, nyonya mentari. Nama yang indah sekali- unik"
"Oh! aku lupa memperkenalkan diri, "
ya dimana sopan santun tuan pengintervirw Nirvana avenue???
"Gunther Cunninghan"
eh-.
Gunther Cunninghan?
"Kita sepertinya pernah bertemu sebelumnya, wajah Anda sangat khas nyonya Mentari" ujar Gunther.
Aku masih tidak percaya pria yang menjadi musuh bebuyutan adalah pria di depanku ini! tepat di depanku!
Apa yang harus aku lakukan? Tunggu apa dia tidak mengingatku setelah apa yang dia lakukan padaku 14 tahun yang lalu???
Sialan, baginya aku bukan siapa-siapa yang perlu diingat.
"Kita bertemu di pemakaman ben Bentley, sir Gunther"
Pria itu mengangguk, lalu mulai membaca portofolioku.
"Hmm Anda memiliki riwayat yang menarik, dan sepertinya memiliki bisnis yang sangat menjanjikan. Sungguh menakjubkan seorang seperti Anda mampu naik hingga saat ini" ujarnya.
aku memasang wajah senyum palsu dan sedikit masih tidak percaya, rasa benci menyelimuti ku sekarang. Apa yang harus ku lakukan?
yang kulakukan hanya menatap tajam seperti menyampaikan kebencian.
"Apa Anda berniat untuk tinggal lama disini? " tanyanya.
"Tidak juga, entahlah aku sebenarnya datang kemari untuk mengingat betapa mengerikannya perumahan ini dan betapa menyebalkan orang-orang yang kerja di sini" oke aku sepertinya mulai agak jujur berlebihan.
"Oh ya? " ia masih berlagak ramah.
"Betul, seperti tidak ada pilihan lain. lagipula mr. Robinson juga memberikanku kesempatan tinggal lagi disini. ya kita lihat saja apa ada perubahan atau lebih buruk dari sebelumnya".
kali ini Gunther mulai tidak nyaman. ia tidak langsung merespon.
" Terutama orang-orang seperti Anda" huuuf aku dimakan emosi.
" Oke nyonya, spill it out. aku tahu Anda terus memandangiku seperti ingin mencabik-cabikku hidup-hidup. Apa sebenarnya maksudnya semua ini? "
sepertinya ia mulai kehilangan kesabaran.
"Aku ingin tinggal disini sesuai hak-ku" ujarku.
"Tapi Anda sadar bahwa dari tadi tidak ada alasan yang bagus untuk menerima Anda? nyonya sadar kalau saya tidak memperbolehkan nyonya untuk manu ke tahap berikutnya, nyonya tidak dapat tinggal disini?" Gunther Cunninghan mulai tegas terhadapku.
oke aku memang sedikit kekanak-kanakan, harusnya aku bisa menjaga temperku.
Tapi prideku juga lumayan besar. yang ada aku malah mengacau
"Kalau begitu tidak masalah" balasku.
"Apa Anda betul mengerti?" Gunther Cunninghan semakin geram.
aku mengangguk, berdiri dari kursiku, dan dengan lantang bicara "Tidak perlu repot-repot tinggal disini, jika anda tidak menerimaku aku akan pergi"
ia hanya menghela napas panjang, "Silahkan keluar jika nyonya ingin mengakhiri sesi ini" ujarnya.
Aku juga jadi geram, lalu langsung keluar dari ruangan dan Nirvana avenue secepatnya.
dalam hati aku sedikit tertekan dan makin kesal, bagaimana mungkin? mereka menolakku? astaga apa yang aku lakukan!? yasudahlah lagipula aku memang tidak ingin tinggal disini!
ibu maaf ya,,,
---whan gonna happen next???