
"Miss.Mentari"
aku menoleh, mataku tidak bisa berbohong. Gunther Cunninghan memiliki mata yang begitu indah, terlebih aroma parfume yang sangat sexy serta suara pria dewasa yang selalu membuatku sedikit mabuk karenanya.
"Mr.Cunninghan" balasku sopan.
Anette menyapa sepupunya, "Friedrick kenalkan ini sahabat kuliahku, Embun Mentari. Embun kenalkan ini sepupu jauhku Friedrick Tillbury dan... sepertinya kalian sudah saling kenal? "
Apa? Friedrick Tillbury???!! Satu lagi Tukang bully 14 tahun yang lalu muncul dihadapanku!
Tidak dapat dipercaya mereka berdua masih dekat! Dan sungguh tidak dapat dipercaya mereka bahkan tidak mengenaliku!!!
"Oh, hi" ujar Friedrick. Ya, kita bisa melihatnya dengan jelas. Friedrick Tillbury adalah sosok pria yang tidak tahu adab. ia sama sekali tidak tersenyum atau tertarik padaku.
keparat, kalian berdua akan menyesalinya.
Anette sepertinta mulai menyadari tense yang tidak begitu baik, "Seperti takdir saja ya! hahaha dunia kecil sekali, apa kalian juga kenal dengan Jane?? " Anette berusaha mencairkan susana.
Sementara aku? Oh ya, Mataku terbakar amarah, bahkan Es besar yang ada disampingku sekarang ikut meleleh.
Gunther Cunninghan bahkan tidak memiliki alasan untuk membahas apa yang terjadi di antara kami beberapa hari yang lalu.
"Kami mengenal Moria, klub olahraga" Ujar Tillbury seadanya.
Aku kenal dengan Friedrick Tillbury, saat aku bersekolah di dekat Nirvana Avenue, kami satu kelas. Karena rambutku hitam panjang sekali saat waktu itu, ia sering memainkan rambutku dan mengejekku seperti kuda di rumahnya. Setiap hari ia juga selalu berteriak padaku seolah aku adalah pembantunya.
sedangkan Gunther? Ia sering memberikanku jadwal pelajaran yang salah, menukar bukuku lalu melemparnya ke bak sampah. Ada juga satu ketika saat pelajaran olahraga, ia sengaja menyuruh semua anak kelas untuk tidak ada yang mau berkelompok denganku.
mengingat masa-masa itu aku jadi ingin menangis.
aku tidak pernah bercerita pada ibu, karena ibu juga punya banyak masalah.
Mungkin Mereka tidak sadar karena aku memiliki rambut merah menyala dengan dandanan wanita moderen. Tidak kusangka bahkan mereka berdua tidak mengingat dosamya sendiri!
"Anette, aku akan ke toilet sebentar. Sisihkan Cheese tartnya untukku ya! " aku harus bersikap dewasa, setidaknya menghindar dulu dari dua setan berseragam mahal itu.
kakiku berjalan menuju toilet. Tapi tidak terasa, tanganku gemetar, bulu kuduk ku berdiri, bibirku seperti menahan listrik yang menyengat seluruh wajahku. Aku berusaha agar tidak jatuh dan muntah, badanku bersandar ke dinding sambil berusaha meraih smartphone ku.
"Miss.Mentari apa Anda tidak apa-apa? "
dia Gunther Cunninghan, berusaha membantu? palsu!
"Tidak, aku tidak apa-apa" kataku tanpa melihat wajahnya.
Tapi Gunther berusaha menarik lenganku yang gemetar "Tapi wajah Anda begitu pucat-"
"AKU BILANG TIDAK APA-APA! " akhirnya aku berteriak dan menimbulkan perhatian pengunjung yang hadir.
ah,,, aku benci situasi semacam ini. kenapa mereka menatapku begtiu? seperti 14 tahun yang lalu... kenapa?
apa kalian semua begitu membenciku.
Kepalaku terasa berat sekali
sampai akhirnya badanku tidak bisa lagi menopang semuanya.
blank out. aku tidak bisa melihat apa-apa.
sepertinya aku terjatuh.
Ibu... tolong embun...
Seketika aku kembali ke masa kanak-kanak. mengenakan baju kedodoran dan celana cokelat kubas pemberian orang.
Lebih parahnya aku bersekolah di lingkungan Nirvana Avenue, perumahan elit tempat para anak konglomerat dan anak orang kaya bersekolah. Sedangkan aku, adalah anak kecil upik abu yang tersesat diantara gemerlap generasi terelit yang pernah ada.
"Aku bilang minggir! " seseorang mendorongku dari kursi kantin. Dia anak lelaki yang paling sering mendorongku, dimanapun, kapanpun.
"Hahaha! hari ini kau bawa apa? Ikan dan nasi lagi?" Anak-anak lain sama saja, tukang ejek dan mencari celah untuk mempermalukanku.
tapi bisa apa aku usia 10 tahun itu? jangankan membela diri, menyelamatkan tempat duduk saja tidak bisa.
"Hei lihat! hari ini dia membawa benda aneh! " satu lagi anak lelaki mengambil kantong bekal dari tanganku.
Aku selalu berusaha tidak menangis, selalu berusaha tidak berteriak, apa lagi mencari masalah. Aku tahu ibu sudah sulit memasukkanku ke sekolah ini agar aku tidak perlu bersekolah jauh-jauh.
oh tidak! aku cuma punya itu untuk makan siang!
"Beri-ka" ujarku gemetar.
mataku berusaha menatap kumpulan anak lelaki itu, dua diantaranya adalah bos mereka.
"Apa? kamu mengatakan sesuatu? " ujarnya sambil maju mendekat.
aku berusaha memberanikan diri "KEMBALIKAN BEKAL KU! " Akhirnya keluar juga. teriakan pertamaku.
Oh, Anak lelaki satunya mengatakan sesuatu pada temannya. lalu tidak lama "Ide bagus! "
Oh tidak! Anak lelaki itu berusaha melempar bekal KU!
aku berusaha meraihnya sebelum terlambat.
"Ambil bekalmu" lalu ia mengayunkan tangannya dan melemparnya jauh melalui jendela lantai 2.
Aku berusaha mencari keberadaan bekalku, dan ia mendarat di atas pohon. Dan sudah berceceran.
"Menjijikkan makanan apa itu? " Anak-anak lain tidak memiliki hati, mereka senang merasa superior.
semua hanya ada ejekan, bisikan sinis, dan kalimat-kalimat merendahkan.
aah aku lapar sekali padahal... di rumah juga ibu pasti belum pulang karena kerja... aku juga tidak punya uang untuk membeli sesuatu.
aku lapar sekali, perutku sakit... ibu... ayah... siapapun...
Bell istirahat berakhir anak-anak berlarian menuju kelas, sementara aku mengambil gelas dan meminum air dari keran. Air mataku terjatuh ke pipiku, sambil aku minum aku merasakan air mataku sendiri. Supaya tidak ada yang melihatnya aku selalu mencuci muka-ku dan berusaha menutupinya.
ia benar...
itu adalah satu dari hari-hariku selama bersekolah di Nirvana Avenue...
si anak miskin yang kebetulan bisa bersekolah disana.
tapi selalu...
selalu mendapat
perlakuan yang tidak mengenakkan
berapa kali aku sering menyembunyikan tangisanku saat itu???
oh
aku tidak ingat lagi
karena setiap hari memang selalu begitu...
"EMBUN! " Anette berteriak tepat di depan wajahku.
Aku bisa membuka mataku dengan perlahan, "Sakit telingaku kau tahu? aku pingsan bukan tuli" mataku sambil mengelus dahi.
"Syukurlah... aku kaget mendengar-mu tiba-tiba pingsan di tangga, untung ada Mr. Cunninghan yang langsung menangkapmu! " Anette berkaca-kaca.
Ah.. Gunther Cunninghan,,, salah satu anak lelaki itu. Ia yang mengambil bekalku... sialan untuk apa dia berpura-pura baik padaku? apa dia benar-benar tidak ingat padaku??
"Aku menemukan ini, ponsel Anda terjatuh" Gunther Cunninghan memberikan smartphone ku.
Aku tidak melihat pria itu sama sekali, berusaha berdiri tapi kepalaku masih pusing.
sementara itu, Friedrick Tillbury... sahabat satu persetanan dengan Gunther Cunninghan ia berdiri, bersender di depan pintu.
sepertinya aku dibawa ke kamar hotel, karena pingsan. Ruangannya bagus juga.
Tapi, aku tidak mau berlama-lama tinggal disini, melihat mereka berdua terlalu lama membuatku muak.
"Aku akan pulang Anette, terimakasih semua" ujarku sambil memasang heels ku yang untungnya tidak rusak.
"Apa kau yakin? kamu bisa menyetir? apa tidak berbahaya? " Anette selalu sama, dia orang yang sangat peduli padaku sejak kuliah.
Aku tersenyum padanya, "Tidak, aku sudah baikan. lagipula rumahku tidak jauh dari sini"
"Biar kuantar, aku yang akan mengendarai mobilmu" ujar seorang pria
----Siapa yang berbaik hati membantu??