
BandarUdara Internasional Seokarno-Hatta
Seorang perempuan yang mengenakan stylist ternama dengan
kacamata hitam yang ia kenakan menambah kesan elegant pada dirinya. Perempuan
itu menyeret kopernya dan keluar dari Bandara. Ia melepas kacamatanya dan
menggantungkan kacamatanya ke bajunya. Ia menengadahkan kepalanya. Sinar
matahari yang menyilaukan menerpa kulit putihnya.
Renata, gadis itu menatap ke arah langit kota Jakarta
yang telah lama ia tinggalkan. Renata menolehkan kepalanya ke kanan dan ke
kiri. Ia mencari-cari orang yang seharusnya menjemputnya dan mengantarnya ke
Hotel.
Seorang pria yang berpakaian rapi mendekati Renata.
“Nona Renata” panggil pria itu.
Renata menatap seorang pria yang jauh lebih muda darinya
yang sedang berdiri di samping kanannya.
“Ya benar” kata Renata.
“Perkenalkan nona, saya Bastian. Saya yang akan mengantar
nona ke Hotel. Mari saya bantu membawa koper anda.”
“Ah baiklah, terimakasih”
Pria itu lalu mengambil alih koper Renata untuk ia bawa.
Pria itu berjalan terlebih dahulu dan menyuruh Renata untuk mengikutinya dari
belakang. Renata mengikuti pria itu ke tempat dimana mobil yang akan membawanya
ke Hotel di parkir.
Dalam perjalanan ke Hotel, Renata menatap pada jalanan
yang sudah sangat lama tak ia lalui. Tak ada yang berubah dari kota
kelahirannya. Semuanya masih sama seperti lima tahun lalu.
Saat sampai di Hotel, Renata lansung mengurusi Check in
dan lansung menuju ke kamarnya. Renata menjatuhkan tubuhnya ke Kasur empuk yang
ada di kamarnya. Renata menatap kearah jendela besar yang berada di sisi
kanannya. Ia bisa melihat gedung-gedung tinggi yang berjejer di samping gedung
Hotelnya.
“Selamat datang di kota kelahiranmu, Renata.”
Setelahnya Renata memejamkan matanya, membiarkan dirinya
mengistirahatkan diri dan jatuh tertidur.
***
Langit malam menghiasi kota Jakarta. Renata keluar dari
bathroom dengan mengenakan kimono putih yang memang sudah disediakan oleh pihak
hotel. Renata melihat jam di ponselnya. Sudah jam 8 malam. Renata berniat pergi
ke Mall untuk membeli dress baru yang akan ia kenakan di hari pernikahan Rossa.
Ngomong-ngomong tentang Rossa, ia belum mengabari
temannya itu bahwa ia sudah berada di Jakarta sekarang. Ia sengaja tak
memberitahukan Rossa akan kepulangannya. Ia ingin memberikan kejutan pada
temannya itu. Pernikahan Rossa akan diadakan 2 hari lagi di salah satu hotel
bintang 5.
Renata telah siap dengan penampilannya. Ia hanya membawa
dompet dan ponsel yang ia taruh di tas kecil yang ia pakai. Renata keluar dari
Hotel dan lansung memesan taxi untuk pergi ke Mall. Setelah menempuh perjalanan
kurang lebih 15 menit, Renata sampai disalah satu Mall besar di Jakarta.
Renata turun dari taxi dan ia memasuki Mall tersebut. Ia
melihat ke sekeliling Mall tersebut. Mall yang sangat besar dan juga tidak
buruk untuk dijadikan tempat hangout. Renata menuju ke lantai 4 dimana ia akan
membeli dress untuk menghadiri pernikahan Rossa.
Renata memasuki salah satu toko ternama dan mulai
memilih-milih dress yang cocok untuknya. Saat ia tengah memilih beberapa dress
yang ada, seorang wanita menghampiri Renata.
“Renata?” panggil wanita itu
Mendengar namanya disebut, Renata berbalik dan mendapati
seorang wanita yang tak ia kenal berdiri dihadapannya.
“Iya?” Tanya Renata
“Benar kau Renata. Aku Putri, kau masih ingat padaku? Aku
teman Ares.”
Renata mengernyitkan dahinya, mengingat-ngingat wanita
yang ada dihadapannya. Lalu dirinya teringat oleh seorang perempuan yang dulu
selalu menjadi orang ketiga antara dirinya dan Ares, mantan pacarnya. Ah, ia
tak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang sangat ingin ia lupakan.
“Aahh, ya aku ingat” kata Renata
“Kudengar kau tinggal di Jepang setelah lulus. Bagaimana
kabarmu? Ah, lalu sedang apa kau disini?” Tanya Putri
“Ah iya, aku tinggal di Jepang dan melanjutkan karirku
disana. Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Aku kembali hanya sebentar, untuk menghadiri
pernikahan Rossa.”
“Ah, teman sejatimu itu? Kudengar juga dia akan menikah.
Jadi kau pulang untuk mengahdiri pernikahan temanmu ya.”
“Ya begitulah.,”
“Aku tak menyangka Rossa akan menikah dengannya. Kupikir
dia masih bersamamu.” Rossa mengernyit bingung.
“Maksudmu?” Putri menatap Renata lekat. Ia mengangkat
alisnya sebelah lalu setelahnya ia tersenyum kecil.
“Jadi kau tak tau?” Tanya Putri
“Apa yang tidak ku ketahui?” Tanya balik Renata.
“Kurasa aku tidak mempunyai hak untuk mengatakan ini
padamu. Jadi, datang saja ke pernikahan Rossa, dank au akan mengerti maksud
dari perkataanku.” Putri tersenyum ke arah Renata.
“Kalau begitu, sampai jumpa di hari pernikahan Rossa.
Senang bisa bertemu denganmu kembali.”
Setelahnya, Putri meninggalkan Renata yang masih
kebingungan dengan perkataan Putri. Tetapi, Renata memilih untuk mengabaikan
perkataan Putri. Ia tak ingin memikirkan maksud dari Putri, karena ia juga
merasa hal itu tidak penting untuk ia pikirkan.
Renata kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda
cocok untuknya, Renata akhirnya membeli salah satu dress sederhana berwarna
peach yang menurutnya sangat lucu jika ia memakainya. Setelah membayar
belanjaannya, Reanta lansung keluar dari Mall dan lansung kembali ke Hotel. Ia
akan makan malam di Hotel saja untuk hari ini. Karena ia juga masih lelah
dengan perjalanan kemarin malam.
***
Hari ini adalah hari pernikahan Rossa. Renata sudah
siap-siap dari pagi hari. Acaranya akan dimulai jam 10. Sekarang masih jam
setengah 9, Renata masih memiliki waktu untuk sarapan sebentar, hanya untuk
mengganjal perutnya.
Sedangkan Rossa, saat ini dia tengah berada di kamar
hotel yang di sewa untuk dijadikan tempat riasnya. Di ruangan itu ada beberapa
perias yang tengah sibuk melakukan pekerjaan mereka. Rossa duduk di depan meja
rias. Ia memejamkan matanya dan membiarkan perias-perias itu mendandani
dirinya.
Setelah dirasa telah selesai, Rossa membuka matanya dan
melihat pantulan dirinya sendiri di kaca. Ia tersenyum melihat hasil riasannya
yang bagus. Dia juga berterima kasih kepada para penata rias yang telah merias
dirinya.
Setelah berdandan, Rossa berganti baju. Ia akan
mengenakan kebaya putih yang sangat indah. Di bagian belakang kebaya itu
menampilkan punggung mulus Rossa. Terlihat sederhana, tetapi juga elegant. Ia
memang tidak salah memilih kebaya sama persis seperti milik ibunya dulu. Setelah
berganti baju, Rossa lalu turn kebawah menuju tempat pernikahannya.
***
Renata turun dari taxi yang ia kendarai. Ia menatap
gedung hotel yang mewah di hadapannya. Ia memasuki hotel itu dan menuju ke
Ballroom Hotel itu. Di pintu masuk, terdapat beberapa penjaga yang memeriksa barang-barang
yang di bawa oleh para tamu. Acara akan dimulai sejam lagi, tetapi Ballroom
sudah ramai penuh dengan para tamu-tamu undangan.
Renata memberikan tas kecilnya untuk diperiksa. Setelah
melewati pemeriksaan, Renata memasuki Ballroom itu. Saat berada di dalam
Ballroom, Renata tak sengaja menangkap sosok laki-laki paruh baya yang
dikenalnya.
Renata mendekati laki-laki yang tengah sibuk berbicara
dengan para tamu. Setelah berada di dekat laki-laki itu, Renata menyapanya.
“Ayah.” Panggil Renata
Laki-laki itu menoleh dan mendapati Renata yang tengah
tersenyum manis ke arahnya. Seketika laki-laki itu terkejut bercampur senang.
“Renata, anakku.” Laki-laki itu yang diketahui dalah ayah
Rossa, lansung memeluk Renata. Teman kecil Rossa yang sudah ia anggap seperti
anak sendiri.
Renata membalas pelukan orang yang ia panggil ayah itu.
Betapa rindunya Renata pada sosok ini. Ia juga tak kalah eratnya memeluk sang
ayah. Setelahnya, mereka melepaskan pelukan mereka.
“Anak nakal. Bagaimana bisa kau tak menghubungi ayahmu
ini selama 5 tahun kebelakang. Kau sudah tak menyayangiku lagi ya?” cerca
ayahnya.
“Maafkan aku ayah, aku begitu sibuk dengan pekerjaanku
hingga lupa untuk mengabarimu. Aku sungguh tidak bermaksud untuk melupakan
ayah. Aku bersumpah bahwa aku masih menyayangi ayah, sampai kapanpun itu.”
Jawab Renata.
“Ayah tau itu.” Sang ayah menciumi wajah Renata,
memebrikan afeksi kasih sayang yang tak pernah ia hilangkan untuk Renata.
Renata merasa sangat bahagia bertemu dengan ayah temannya
yang juga ia anggap sebagai ayahnya sendiri. Rasanya ia ingin menangis. Di
dunia ini, ia hanya memiliki Rossa dan ayahnya sebagai keluarganya. Orangtua
kandungnya sudah meninggal dunia 5 tahun lalu.
“Jangan menangis, riasanmu bisa luntur nanti. Aku tak
ingin melihat anak kesayanganku jelek di hari bahagia saudaranya.” Kata sang
ayah
Renata tersenyum merespon perkataan ayahnya. “Ini tidak
akan luntur, karena ini waterproof ayah.”
“Ya ya baiklah. Kau sudah bertemu dengan Rossa? Dia baru
saja turun, sekarang dia ada di ruangan sebelah. Kau temuilah dia. Dari kemarin
ia selalu uring-uringan karena kau tak memberinya kabar sama sekali.”
“Baiklah ayah. Kalau begitu aku akan menemui Rossa dulu.”
Renata pergi dari hadapan ayahnya. Ia berjalan menuju ke
ruangan dimana temannya berada. Saat ia ingin memasuki ruangan tersebut,
dirinya menghentikan langkahnya. Matanya terpaku pada sebuah foto yang mana
memperlihatkan Rossa bersama seorang laki-laki yang sangat ia kenal. Seketika
dirinya merasa kosong setelah melihat foto itu. Foto 2 orang yang begitu ia
kenal. Rossa dan Ares.
Ya, Rossa dan mantan pacarnya, Ares. Ia tak menyangka
bahwa Rossa akan menikah dengan Ares. Laki-laki yang dulu ia cintai. Laki-laki
yang dulu pernah menjadi bagian dari kebahagiaannya.Laki-laki yang dulu ia
tinggalkan. Laki-laki yang sampai saat ini, masih mengejar dirinya.
“Renata”
Suara itu. Suara yang sangat ia ingat sampai sekarang.
Renata menoleh dan mendapati Ares dengan jas hitamnya, serta setangkai mawar
putih yang berada di saku jasnya. Ia menatap laki-laki yang telah ia tinggalkan
selama 5 tahun ini. Ia tak tau harus bereaksi bagaimana. Ia tentu sja terkejut
dengan ini semua. Seketika ia mengingat perkataan Putri dua hari lalu. Apakah
ini yang dia maksudkan?
“My Ruby,”
Benar. Ia mengerti sekarang. Ornag yang Putri maksudkan
adalah Ares.