Heliene

Heliene
Rubby and Swan



  Di sebuah gedung megah dengan artistic yang modern, berdiri sebuah


panggung besar yang di hiasi bulu-bulu angsa putih di setiap jalannya. Gedung


itu dipadati oleh berbagai wartawan, awak media dan para artis-artis papan atas


dari seluruh dunia. Ya benar, malam ini adalah acara Tokyo Fashion Week edisi


Spring Summer dari Ren’s Collections. Kemegahan dan kemeriahan acara itu


menghiasai kota Tokyo yang penuh dengan gemerlap lampu malam.


Renata sedang berada di backstage,


lebih tepatnya di ruang make up. Ia sedang menyemangati dirinya dan meyakinkan


dirinya sendiri bahwa malam ini pasti berjalan dengan lancar. Sejak mendapat


kabar dari Rossalia seminggu lalu, Renata mengubah jadwal acara Fashion Week


yang harusnya diselenggarakan akhir bulan nanti menjadi malam ini. Ia tak ingin


mengecewakan temannya, jadi ia berusaha keras untuk mengadakan acara ini malam


ini. Walau terkesan cepat dan buru-buru, tetapi ia yakin bahwa hasilnya nanti


akan sama memuaskannya seperti acara tahun lalu. Ini adalah karya keduanya


semenjak ia merintis karir di dunia desaigner. Setelah merintis Winter Fall


edition bersama Channel tahun lalu, sekarang ia menggandeng brand besar lainnya


seperti Dior dalam Spring Summer edition.


Renata menarik nafas pelan. Ia


melakukannya sebanyak tiga kali untuk menenangkan dirinya. Dirasa sudah lebih


tenang, Renata duduk di kursi dan menyambar ponselnya. Ia membuka aplikasi chat


dan melihat apakah ada balasan dari Rossa. Tetapi sayangnya, sudah satu jam ia


mengabari temannya itu, Rossa tidak merespon chat darinya. Bahkan dibaca pun


tidak. Renata menjadi kehilangan semangatnya untuk malam ini. Padahal ia ingin


mendapatkan semangat dari Rossa. Apa dia tidak melihat berita malam ini?


Acaranya ini pasti diliput banyak media internasional, pastinya pemberitaannya


juga ada di Indonesia. Atau mungkin dia sedang berkencan malam ini? Secara ini


adalah malam minggu. Jika memang benar, Renata ingin membatalkan acaranya malam


ini dan diundur untuk besok saja. Ia sedikit menyesal karena telah memilih di


hari sabtu.


Tetapi ia tak bisa melakukannya,


karena ia harus professional dengan pekerjaannya. Ia menaruh kembali ponselnya.


Ia berkaca sebentar, merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi dari tadi.


Ia melihat kembali hasil riasannya. Setelah dirasanya sempurna, Renata keluar


dari ruang make up dan bergabung bersama para model yang akan tampil malam ini.


Ia akan menaiki panggung untuk di akhir acara bersama para model yang akan


menjadi pengiringnya.


“Okay girls!!! Kita akan mulai 10


menit lagi, stand by di posisi masing-masing!!”


Teriak seorang staf laki-laki


membuat para model dan penata rias masing-masing bersiap di posisi mereka.


Renata juga telah siap di posisinya.


“Ready for this night?” Tanya


seorang staf pada Renata.


“Of course” jawab Renata dengan penuh


keyakinan.


Seketika lampu di seluruh ruangan


itu padam. Lampu sorot menyala menyoroti panggung catwalk para model.


“Ready, start!!”


Lampu yellow warm menerangi seluruh


ruangan, helai-helai bulu hitam bertebaran dari atas panggung bersamaan dengan


para model menaiki panggung. Para media tak lupa mengambil gambar untuk bahan


berita mereka. Blitz kamera tak hentinya menyoroti para model. Tak hanya para


artis yang terpesona dengan penampilan malam ini. Tetapi, para desaigner pun


terpukau dengan busana-busana yang di suguhkan. Malam itu acara berjalan dengan


meriah.


Akhirnya sampai pada Renata yang


akan menaiki stage. Ia begitu gugup dan terharu. Seorang penata rias memberinya


sebotol air dan menata kembali dress yang di kenakan oleh Renata. Ia bersiap di


balik panggung. Saat layar LED terbuka, tampak lah Renata yang berdiri dibalik


layar itu. Ia berjalan dengan anggung menyambut para penonton, tamu undangan


dan media. Ia seperti dewi malam yang begitu mempesona. Tak lupa Renata


menampilkan senyum manisnya dan membungkuk sesekali pada para penonton. Ia


berdiri di depan dengan para model yang berada di belakangnya.


“Terimakasih untuk semua yang sudah


hadir dalam acara malam ini. Aku begitu bahagia dengan hasil karyaku. Aku


berharap karya ini menjadi karya yang indah bagi kalian semua. Selebihnya,


terimakasih.”


Acara itu pun berakhir dengan


taburan helai angsa putih dan hitam sebagai pengantar para model untuk kembali


ke back stage. Tepuk tangan meriah terdengar jelas mengiringi malam bertabur


bintang itu.


Renata kembali ke backstage dan


lansung disambut tepuk tangan selamat yang ditujukan ke Renata. Renata tak bisa


membendung air mata kebahagiaannya. Ia tak menyangka bahwa acara malam ini


berjalan begitu sempurna. Pelukan selamat ia dapatkan dari para staf, model, serta


semua yang telah berkontribusi pada acara itu.


Seorang wanita menghampiri Renata


dan memberikan pelukan hangat serta sebuket bunga pada Renata. Renata menerima


buket bunga itu dengan senang hati.


“Aku sungguh terpukau dengan


karyamu. Acara malam ini begitu memukau. Betapa terkesannya aku dengan karyamu.”


Kata wanita itu


“Terima kasih banyak. Tanpamu aku


tak bisa menggelar acara ini. Aku berterimakasih karena kau mau bergabung


bersamaku untuk mensukseskan acara ini.” Kata Renata


“Oh sayang, kau begitu berbakat.


Mana mungkin aku melewatkanmu begitu saja. Aku jadi ingin bekerja sama denganmu


untuk kedepannya.”


“Dengan senang hati kuterima.”


berpelukan sekali lagi. Dengan berakhirnya acara malam ini, kini Renata bisa


memulai karirnya di dunia Internasional. Ia tak bisa membayangkan ketika ia


akan berdiri dengan kedua kakinya saat ia tengah menacapai tujuan dari


impiannya.


Setelahnya mereka berpisah, Renata


kembali menyambut para tamu undangan dan beberapa desaigner lain. ia begitu


sibuk untuk berbincang-bincang dengan mereka. Setelah dirasa cukup, Renata


kembali ke ruang rias miliknya. Ia lansung menjatuhkan dirinya ke sofa yang ada


di ruangan itu. Namun, ia bangkit kembali ketika ia mengingat sesuatu. Ya,


ponselnya.


Renata mengecek ponselnya kembali,


berharap ada balasan dari Rossa. Tapi sayangnya, ia harus kembali kecewa karena


Rossa tak melihat pesannya sama sekali. Di hari bahagianya ini, ia membutuhkan


ucapan selamat yang biasanya selalu ia dapatkan dari Rossa. Tetapi, entah


mengapa hari ini, Rossa tidak memberinya kabar maupun ucapan selamat sekalipun.


Tok


Tok


Tok


Renata menoleh kearah pintu. Ia


melihat seorang staf perempuan masuk membawakannya 2 buah kotak hitam yang tak


ia tau apa isinya.


“Nona Ren, ada kiriman hadiah


untukmu.” Kata staf itu.


Renata mengerutkan keningnya. Ia


berharap buka dari seseorang yang selama 5 tahun ini selalu mengiriminya


hadiah.


“Letakkan saja di meja. Terimakasih”


kata Renata


Staff itupun menaruh 2 kotak itu di


meja rias Renata. Setelahnya, staf itu meninggalkan Renata sendiri di


ruangannya. Renata menatap kedua kotak itu. Ia mengambil salah satu kotak yang


kecil. Ia membukanya, dan didapatinya sebuah gelang rantai silver dengan bandul


angsa hitam kecil. Gelang yang sangat cantik.


Renata mengambil sepucuk kertas yang


terdapat di dalam kotak.


Untuk sahabat tercintaku, Renata


Jangan marah karena aku tidak


menghubungimu seharian ini. Aku tau kau akan kecewa padaku, tapi itu memang


tujuanku ahahahaha. Anyway, selamat untukmu. Aku bangga padamu Ren, kau adalah


desaigner terhebat yang pernah aku kenal. Selamat atas keberhasilanmu. Kau tau


aku menyayangimu kan? Jadi jangan marah padaku , oke. Buing.


Renata tersenyum membaca surat dari


Rossa. Perasaan sedih dan kecewanya lenyap begitu saja. Temannya itu selalu


mempunyai seribu cara untuk tak membuatnya kesal. Renata mengambil gelang itu


dan memakainya di pergelangan tangannya. Gelang itu begitu cantik di tangannya.


Ia senang dengan hadian dari Rossa.


Renata menatap kotak yang lebih


besar yang belum ia buka. Mungkin saja kotak ini hadian lain dari Rossa. Ia


lansung membukanya dan sebuah kalung Rubby terpampang dihadapnnya. Kalung ini


tak kalah cantik dari gelang pemebrian Rossa. Matanya tak sengaja melihat


kertas yang terselip. Ia berfikir sebentar. Apakah mungkin Rossa menulis surat


lain?


Kau tau aku masih mencintaimu sampai


saat ini. Kalung ini kupersembahkan untukmu. Wanita tercantik yang telah


mencuri hatiku.


Yang


mencintaimu selalu,


Ares


Renata menatap datar pada surat itu.


Seharusnya ia sudah tau, bahwa orang itu tak akan pernah berhenti untuk


mengganggunya. Renata menutuk kotak itu kasar. Ia membaung surat itu dan


membawa kotak itu untuk ia buang ke luar. Matanya tak sengaja melihat seorang


staff perempuan yang akan melewatinya. Renata menyegat staff itu.


“Ada yang bisa kubantu nona Ren?”


Tanya staff itu.


“Ini untukmu.” Kata Renata sambil


menyodorkan kotak hadiah itu.


Staff itu menerima kotak pemberian


Renata dan membukanya. Ia begitu terkejut saat matanya menangkap sebuah kalung


Rubby yang bisa ia tebak sangat mahal harganya. Seketika ia merasa tak pantas


untuk menerima kalung ini.


“Nngg nona, kurasa aku tak bisa


menerima ini.” Kata staf itu


“Ambillah. Ini dariku. terima kasih


karena telah berusaha keras untuk mala mini.” Kata Renata


“Tapi, nona ini-“


“Ambil saja. Aku tak pernah


mengambil kembali barang yang telah aku beri pada orang lain.”


Dengan segan staff itu menerima


hadiah pemebrian Renata. “Kalau begitu, terimakasih nona” staff itu membungkuk


sopan pada Renata.


“Sama-sama.”


Lalu staf itu pergi meninggalkan


Renata. Renata menatap kepegian staf itu. Ia menetapkan hatinya untuk kembali


jatuh untuk kedua kalinya. Ia tak ingin mengulang rasa sakit yang pernah ia


rasakan dulu. Cukup di masa lalu saja merasakannya, tidak untuk saat ini


ataupun untuk waktu mendatang.