Heliene

Heliene
Rossalia



Rossa menikmati sore


harinya di taman belakang rumahnya. Ditemani teh melati, Rossa memandang taman


bunga miliknya dengan cerah. Suasana hatinya hari ini sangat baik. Ia


memejamkan mata dan menikmati suasana sore yang begitu nyaman.


            “Menikamti soremu?”


            Seorang laki-laki paruh baya menghampiri Rossa dan duduk


di sebelah Rossa. Laki-laki itu terlihat tampan meskipun kerutan-kerutan


diwajahnya tampak jelas, menandakan bahwa laki-laki itu sudah menua. Tetapi,


penuaan itu tidak bisa menghilangkan ketampanan laki-laki itu.


            “Yahh, seperti yang ayah lihat. Suasana sore hari ini


sangat nyaman, sangat disayangkan jika aku melewatkan suasana ini.”


            Laki-laki itu memandang Rossa sambil tersenyum tenang.


Anaknya kini telah menjadi wanita dewasa dan anggun. Sebentar lagi anaknya itu


akan menikah dan meninggalkan rumah ini. Waktu berlalu begitu cepat, ia merasa


seperti baru kemarin dirinya itu menggendong Rossa yang selalu menangis tersedu


sambil mengadu padanya. Rasanya baru kemarin ia mendongengkan cerita pengantar


tidur untuk Rossa. Tak terasa, ia akan segera menggandeng tangan anaknya itu


untuk ia serahkan kepada suaminya.


            “Ayah masih tidak percaya. Rasanya baru kemarin ayah


memegang kedua tanganmu dan mengajarimu berjalan. Kini, tanggung jawab itu akan


segera diemban oleh suamimu. Dan kau akan memulai hidup baru bersama suamimu.”


Laki-laki itu mengambil tangan Rosa dan mengusapnya sayang. “Ayah sangat senang


jika kau bahagia. Kau adalah putri ayah satu-satunya. Apapun akan ayah lakukan


untuk kebahagiaanmu. Jika nanti, suamimu berlaku kasar padamu atau bahkan


membuat putri ayah ini menangis, ayah akan menghancurkan suamimu dan


mengambilmu kembali ke pelukan ayah.”


            Rosa membalas genggaman tangan ayahnya itu, ia ternyesum


ke ayahnya.


            “Ayah tak perlu khawatir. Aku berjanji kepada ayah, bahwa


aku akan selalu bahagia. Jangan pernah berfikir bahwa Rossa akan meniggalkan


ayah. Tidak, meskipun Rossa akan menjadi istri orang nanti, Rossa tetaplah


putri ayah. Tidak akan ada yang mengambil Rossa, karena Rossa hanya milik


ayah.”


            Laki-laki itu membawa anaknya ke dalam pelukannya. Ia


mengelus rambut Rossa sayang. Matanya berkaca-kaca. Ia sekuat mungkin untuk


menahan tangisnya. Anak yang ia besarkan bersama mendiang istrinya, kini


menjadi anak yang dewasa dan membanggakan dirinya. Tak pernah sekali pun Rossa


mengecewakan dirinya. Karena itu, ia merasa berat untuk melepas Rossa di hari


pernikahannya nanti.


            “Ayah jangan menangis, ibu akan menertawakan ayah diatas


sana.” Laki-laki itu tergelak dan terkekeh mendengar penuturan anaknya.


            “Dari mana kau tau jika ibu akan menertawakan ayah?”


            “Tentu saja aku tau. Bahkan saat dulu bersama kita pun


ibu selalu menertawakan ayah.”


            “Dan kau juga akan ikut menertawakan ayah.” Keduanya


kemudian tertawa bersama. Mereka tetap berada pada posisi itu sampai suara


seseorang mengalihkan perhatian mereka berdua.


            “Sepertinya aku melewatkan sesuatu.”


            Seorang pria tampan menghampiri keduanya. Rossa


melepaskan pelukan ayahnya dan beralih memeluk tunangannya itu. Ya, pria yang


baru saja datang itu adalah tunangan dari Rossa. Laki-laki yang tak lama lagi


akan menyandang gelar suami dari Rossalia.


            “Lihat, melihat kau datang dia lansung mencampakkan pak


tua ini dan lansung berlari kearahmu.” Ujar sang ayah.


            Pria itu tertawa menanggapi calon mertuanya itu. Pria itu


balas memeluk Rossalia dari samping.


            “Ada apa kesini?” Rossa mengabaikan ayahnya dan memilih


untuk bertanya maksud kedatangan tunangannya itu.


            “Kau lupa sayang? Kita harus mencari cincin untuk


pernikahan kita nanti. Kau masih ingin dipasangkan cincin olehku, kan?”


            “Oh haruskah? Kita tidak pakai cincin yang kau gunakan


untuk melamarku? Kupikir kita akan memakai cincin itu.”


            “Tidak sayang, kita harus membeli cincin baru untuk


pernikahan kita. cincin yang kugunakan untuk melamarmu, kau simpan saja.”


            “Aaahh begitu, baiklah. Aku akan bersiap dulu, kau tunggulah


disini dan temani ayah.”


            “Yaa, sebaiknya kau harus cepat. Sebentar lagi akan


malam. Aku tak bisa mengembalikanmu kesini lebih dari jam 8 malam. Bisa-bisa


kita batal menikah nanti.”


            Mendengar perkataan calon menantunya itu, ayah Rossalia


berdehem sekali untuk menyadarkan mereka berdua.


            “Jika kita batal menikah, aku akan membawamu kabur sejauh


mungkin dan kita akan menikah ditempat pelarian kita.”


            Setelah mengatakan itu, Rossalia berlari masuk kedalam


rumahnya menghindari kekesalan ayahnya. Sedangkan tunangannya itu tertawa keras


mendengar perkataan Rossalia.


            “Dasar anak licik. Tau begitu, aku tak akan


menikahkannya.” Kata sang ayah.


berfikiran sama seperti Rossa.” Kata pria itu.


            “Dasar anak muda.” Laki-laki itu menggelengkan kepalanya


dan tersenyum kecil.


*


*


*


            Rossa dan tunangannya itu kini tengah berada disalah satu


toko perhiasan yang ada di mall terbesar di Jakarta. Rossa dan tunangannya itu


tengah sibuk memilih-milih cincin pasangan yang cocok untuk mereka.


            “Kau ingin yang seperti apa?” Tanya tunangannya itu.


            “Yang sederhana saja. Tak perlu yang mewah-mewah, yang


terpenting cincinnya terlihat cantik di jari manis ku.” Jawab Rossa


            Sang tunangan memilihkan beberapa cincin couple dan


membiarkan Rossa untuk memilih dari ketiga cincin couple yang ada di hadapan


mereka. Rossa melihat ketiga cincin couple itu. Cincin yang pertama sesuai


dengan kriterianya. Hanya saja, cincin itu terlalu polos. Cincin kedua terlihat


elegan di mata Rossa. Cincin itu hanya mempunyai satu permata untuk


masing-masing cincin, namun Rossa tidak terlalu suka dengan desain cincinnya.


Sedangkan cincin yang ketiga desainnya begitu indah dimata Rossa. Dengan desain


seperti spiral dan hiasan bunga mekar serta kuncup di masing-masing ujung


cincin. Rossa menyukai cincin itu.


            Sang tunangan tersenyum melihat Rossa yang begitu


berbinar melihat cincin spiral itu.


            “Kau ingin cincin ini?” Tanya sang tunangan


            “Ingin sekali. Tetapi ini tidak cocok untuk dijadikan


cincin pernikahan. Jadi aku pilih cincin yang kedua saja. Tidak buruk, cincin


yang ini terlihat elegan.”


            Sang tunangan mengangguk membenarkan ucapan Rossa. Lalu


ia menyuruh sang pramuniaga untuk membungkus cincin yang dipilih Rossa. Tak


lupa ia juga meminta sang penjual untuk membungkus cincin yang satunya. Rossa


yang melihat seorang pelayan membawa dua cincin pasangan berkerut bingung.


            “Kenapa kita membeli dua?” Tanya Rossa.


            “Satu untuk pernikahan kita, dan yang satunya untuk


dirimu. Kau begitu menginginkan cincin spiral itu. Jadi aku hanya membeli yang


hanya untuk dirimu saja.” Kata tunangannya itu.


            Rossa tersenyum manis kearah tunangannya itu. “Terima


kasih banyak”


            Tunangannya itu mencubit hidung Rossa gemas. Mereka


berbagi senyum satu sama lain. Mata Rossa tak sengaja menangkap sebuah gelang


yang sangat cantik. Gelang rantai silver dengan gantungan seekor angsa kecil


berwarna hitam. Rossa mendekati gelang itu dan tersenyum melihatnya.


            “Permisi, aku ingin membeli gelang ini juga.” Kata Rossa


pada salah satu pelayan.


            “Tentu nona.” Jawab Pelayan itu.


            Pelayan itu mengeluarkan gelang itu dari dalam etalase.


Sang tunangan menghampiri Rossa dan melihat gelang yang ingin dibeli Rossa.


            “Kau ingin membeli ini juga?” Tanya sang tunangan.


            “Hmmm, aku ingin membelinya.”


            “Kalau beli belilah. Sekalian jadikan satu dengan cincin


kita.”


            “Tidak tidak, aku akan membayar sendiri untuk yang ini.”


            “Terserah kau saja kalau begitu.”


            “Tolong bungkus gelang ini secantik mungkin. Ah! Apakah


kalian melayani jasa pengiriman ke luar negeri?” Tanya Rossa


            “Tentu nona,” jawab pelayan itu.


            “Kalau begitu tolong kirim gelang ini ke alamat ini,”


Rossa menyodorkan sebuah kertas berisikan alamat rumah. “Dan juga, kirim gelang


ini untuk minggu depan.”


            “Baik nona.”


            Setelahnya pelayan itu membawa gelan terebut beserta


alamat yang diberikan oleh Rossa. Melihat Rossa yang menyodorkan sebuah alamat


kepada pelayan tadi, tunangannya itu menatap bingung kearah Rossa.


            “Untuk siapa gelang itu? Bukan untukmu?”


            Rossa menoleh kearah tunangannya itu, “Untuk temanku,


Renata. Dia tinggal di Jepang sekarang. Kebetulan bulan ini dia menggelar


Fashion Show ke-duanya. Jadi aku mengirimkan gelang ini sebagai hadiah.”


            “Renata? Sahabat kecilmu itu?”


            “Hm, sahabatku, Renata. Kau tidak ingat padanya? Kita


dulu pernah berada di kelas yang sama waktu SMA?”


            “Aahh, Renata! Yah aku mengingatnya. Kupikir Renata yang


mana.”


            “Memangnya siapa lagi sahabatku yang bernama Renata kalau


bukan dia.”


            Tunangannya itu tersenyum sekilas. “Aku lupa, kau hanya


memiliki satu sahabat yang selalu kau sayangi. Kalau begitu, aku akan membayar


pesanan kita dulu, setelah itu aku akan mengantarmu pulang.”


            “Hmm, aku akan menunggumu diluar.”