
Rossa menikmati sore
harinya di taman belakang rumahnya. Ditemani teh melati, Rossa memandang taman
bunga miliknya dengan cerah. Suasana hatinya hari ini sangat baik. Ia
memejamkan mata dan menikmati suasana sore yang begitu nyaman.
“Menikamti soremu?”
Seorang laki-laki paruh baya menghampiri Rossa dan duduk
di sebelah Rossa. Laki-laki itu terlihat tampan meskipun kerutan-kerutan
diwajahnya tampak jelas, menandakan bahwa laki-laki itu sudah menua. Tetapi,
penuaan itu tidak bisa menghilangkan ketampanan laki-laki itu.
“Yahh, seperti yang ayah lihat. Suasana sore hari ini
sangat nyaman, sangat disayangkan jika aku melewatkan suasana ini.”
Laki-laki itu memandang Rossa sambil tersenyum tenang.
Anaknya kini telah menjadi wanita dewasa dan anggun. Sebentar lagi anaknya itu
akan menikah dan meninggalkan rumah ini. Waktu berlalu begitu cepat, ia merasa
seperti baru kemarin dirinya itu menggendong Rossa yang selalu menangis tersedu
sambil mengadu padanya. Rasanya baru kemarin ia mendongengkan cerita pengantar
tidur untuk Rossa. Tak terasa, ia akan segera menggandeng tangan anaknya itu
untuk ia serahkan kepada suaminya.
“Ayah masih tidak percaya. Rasanya baru kemarin ayah
memegang kedua tanganmu dan mengajarimu berjalan. Kini, tanggung jawab itu akan
segera diemban oleh suamimu. Dan kau akan memulai hidup baru bersama suamimu.”
Laki-laki itu mengambil tangan Rosa dan mengusapnya sayang. “Ayah sangat senang
jika kau bahagia. Kau adalah putri ayah satu-satunya. Apapun akan ayah lakukan
untuk kebahagiaanmu. Jika nanti, suamimu berlaku kasar padamu atau bahkan
membuat putri ayah ini menangis, ayah akan menghancurkan suamimu dan
mengambilmu kembali ke pelukan ayah.”
Rosa membalas genggaman tangan ayahnya itu, ia ternyesum
ke ayahnya.
“Ayah tak perlu khawatir. Aku berjanji kepada ayah, bahwa
aku akan selalu bahagia. Jangan pernah berfikir bahwa Rossa akan meniggalkan
ayah. Tidak, meskipun Rossa akan menjadi istri orang nanti, Rossa tetaplah
putri ayah. Tidak akan ada yang mengambil Rossa, karena Rossa hanya milik
ayah.”
Laki-laki itu membawa anaknya ke dalam pelukannya. Ia
mengelus rambut Rossa sayang. Matanya berkaca-kaca. Ia sekuat mungkin untuk
menahan tangisnya. Anak yang ia besarkan bersama mendiang istrinya, kini
menjadi anak yang dewasa dan membanggakan dirinya. Tak pernah sekali pun Rossa
mengecewakan dirinya. Karena itu, ia merasa berat untuk melepas Rossa di hari
pernikahannya nanti.
“Ayah jangan menangis, ibu akan menertawakan ayah diatas
sana.” Laki-laki itu tergelak dan terkekeh mendengar penuturan anaknya.
“Dari mana kau tau jika ibu akan menertawakan ayah?”
“Tentu saja aku tau. Bahkan saat dulu bersama kita pun
ibu selalu menertawakan ayah.”
“Dan kau juga akan ikut menertawakan ayah.” Keduanya
kemudian tertawa bersama. Mereka tetap berada pada posisi itu sampai suara
seseorang mengalihkan perhatian mereka berdua.
“Sepertinya aku melewatkan sesuatu.”
Seorang pria tampan menghampiri keduanya. Rossa
melepaskan pelukan ayahnya dan beralih memeluk tunangannya itu. Ya, pria yang
baru saja datang itu adalah tunangan dari Rossa. Laki-laki yang tak lama lagi
akan menyandang gelar suami dari Rossalia.
“Lihat, melihat kau datang dia lansung mencampakkan pak
tua ini dan lansung berlari kearahmu.” Ujar sang ayah.
Pria itu tertawa menanggapi calon mertuanya itu. Pria itu
balas memeluk Rossalia dari samping.
“Ada apa kesini?” Rossa mengabaikan ayahnya dan memilih
untuk bertanya maksud kedatangan tunangannya itu.
“Kau lupa sayang? Kita harus mencari cincin untuk
pernikahan kita nanti. Kau masih ingin dipasangkan cincin olehku, kan?”
“Oh haruskah? Kita tidak pakai cincin yang kau gunakan
untuk melamarku? Kupikir kita akan memakai cincin itu.”
“Tidak sayang, kita harus membeli cincin baru untuk
pernikahan kita. cincin yang kugunakan untuk melamarmu, kau simpan saja.”
“Aaahh begitu, baiklah. Aku akan bersiap dulu, kau tunggulah
disini dan temani ayah.”
“Yaa, sebaiknya kau harus cepat. Sebentar lagi akan
malam. Aku tak bisa mengembalikanmu kesini lebih dari jam 8 malam. Bisa-bisa
kita batal menikah nanti.”
Mendengar perkataan calon menantunya itu, ayah Rossalia
berdehem sekali untuk menyadarkan mereka berdua.
“Jika kita batal menikah, aku akan membawamu kabur sejauh
mungkin dan kita akan menikah ditempat pelarian kita.”
Setelah mengatakan itu, Rossalia berlari masuk kedalam
rumahnya menghindari kekesalan ayahnya. Sedangkan tunangannya itu tertawa keras
mendengar perkataan Rossalia.
“Dasar anak licik. Tau begitu, aku tak akan
menikahkannya.” Kata sang ayah.
berfikiran sama seperti Rossa.” Kata pria itu.
“Dasar anak muda.” Laki-laki itu menggelengkan kepalanya
dan tersenyum kecil.
*
*
*
Rossa dan tunangannya itu kini tengah berada disalah satu
toko perhiasan yang ada di mall terbesar di Jakarta. Rossa dan tunangannya itu
tengah sibuk memilih-milih cincin pasangan yang cocok untuk mereka.
“Kau ingin yang seperti apa?” Tanya tunangannya itu.
“Yang sederhana saja. Tak perlu yang mewah-mewah, yang
terpenting cincinnya terlihat cantik di jari manis ku.” Jawab Rossa
Sang tunangan memilihkan beberapa cincin couple dan
membiarkan Rossa untuk memilih dari ketiga cincin couple yang ada di hadapan
mereka. Rossa melihat ketiga cincin couple itu. Cincin yang pertama sesuai
dengan kriterianya. Hanya saja, cincin itu terlalu polos. Cincin kedua terlihat
elegan di mata Rossa. Cincin itu hanya mempunyai satu permata untuk
masing-masing cincin, namun Rossa tidak terlalu suka dengan desain cincinnya.
Sedangkan cincin yang ketiga desainnya begitu indah dimata Rossa. Dengan desain
seperti spiral dan hiasan bunga mekar serta kuncup di masing-masing ujung
cincin. Rossa menyukai cincin itu.
Sang tunangan tersenyum melihat Rossa yang begitu
berbinar melihat cincin spiral itu.
“Kau ingin cincin ini?” Tanya sang tunangan
“Ingin sekali. Tetapi ini tidak cocok untuk dijadikan
cincin pernikahan. Jadi aku pilih cincin yang kedua saja. Tidak buruk, cincin
yang ini terlihat elegan.”
Sang tunangan mengangguk membenarkan ucapan Rossa. Lalu
ia menyuruh sang pramuniaga untuk membungkus cincin yang dipilih Rossa. Tak
lupa ia juga meminta sang penjual untuk membungkus cincin yang satunya. Rossa
yang melihat seorang pelayan membawa dua cincin pasangan berkerut bingung.
“Kenapa kita membeli dua?” Tanya Rossa.
“Satu untuk pernikahan kita, dan yang satunya untuk
dirimu. Kau begitu menginginkan cincin spiral itu. Jadi aku hanya membeli yang
hanya untuk dirimu saja.” Kata tunangannya itu.
Rossa tersenyum manis kearah tunangannya itu. “Terima
kasih banyak”
Tunangannya itu mencubit hidung Rossa gemas. Mereka
berbagi senyum satu sama lain. Mata Rossa tak sengaja menangkap sebuah gelang
yang sangat cantik. Gelang rantai silver dengan gantungan seekor angsa kecil
berwarna hitam. Rossa mendekati gelang itu dan tersenyum melihatnya.
“Permisi, aku ingin membeli gelang ini juga.” Kata Rossa
pada salah satu pelayan.
“Tentu nona.” Jawab Pelayan itu.
Pelayan itu mengeluarkan gelang itu dari dalam etalase.
Sang tunangan menghampiri Rossa dan melihat gelang yang ingin dibeli Rossa.
“Kau ingin membeli ini juga?” Tanya sang tunangan.
“Hmmm, aku ingin membelinya.”
“Kalau beli belilah. Sekalian jadikan satu dengan cincin
kita.”
“Tidak tidak, aku akan membayar sendiri untuk yang ini.”
“Terserah kau saja kalau begitu.”
“Tolong bungkus gelang ini secantik mungkin. Ah! Apakah
kalian melayani jasa pengiriman ke luar negeri?” Tanya Rossa
“Tentu nona,” jawab pelayan itu.
“Kalau begitu tolong kirim gelang ini ke alamat ini,”
Rossa menyodorkan sebuah kertas berisikan alamat rumah. “Dan juga, kirim gelang
ini untuk minggu depan.”
“Baik nona.”
Setelahnya pelayan itu membawa gelan terebut beserta
alamat yang diberikan oleh Rossa. Melihat Rossa yang menyodorkan sebuah alamat
kepada pelayan tadi, tunangannya itu menatap bingung kearah Rossa.
“Untuk siapa gelang itu? Bukan untukmu?”
Rossa menoleh kearah tunangannya itu, “Untuk temanku,
Renata. Dia tinggal di Jepang sekarang. Kebetulan bulan ini dia menggelar
Fashion Show ke-duanya. Jadi aku mengirimkan gelang ini sebagai hadiah.”
“Renata? Sahabat kecilmu itu?”
“Hm, sahabatku, Renata. Kau tidak ingat padanya? Kita
dulu pernah berada di kelas yang sama waktu SMA?”
“Aahh, Renata! Yah aku mengingatnya. Kupikir Renata yang
mana.”
“Memangnya siapa lagi sahabatku yang bernama Renata kalau
bukan dia.”
Tunangannya itu tersenyum sekilas. “Aku lupa, kau hanya
memiliki satu sahabat yang selalu kau sayangi. Kalau begitu, aku akan membayar
pesanan kita dulu, setelah itu aku akan mengantarmu pulang.”
“Hmm, aku akan menunggumu diluar.”